Gara-Gara Kamu

Gara-Gara Kamu
Bab 47. Siapa Kamu?


__ADS_3

Bab 47. Siapa Kamu?


Makan dengan tenang meski hati bertanya-tanya. Itulah yang dilakukan Gloria. Ia tak berani mengangkat pandangan. Bahkan tak ingin membuka obrolan sedikitpun. Hanya Bary yang sesekali meliriknya.


Ungkapan perasaan yang dituturkan Bary beberapa saat lalu membuatnya cukup shock. Bahkan tak percaya bila Bary berubah secepat dan sedrastis ini.


Denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring terdengar jelas. Keadaan masih hening. Baik Gloria, juga Bary, bergelut dengan pikiran masing-masing.


Selama tiga hari tanpa Gloria di rumah ini, membuat Bary kesepian. Tiga hari Gloria tak berada di sisinya membuat Bary rindu setengah mati. Tanpa hadirnya Gloria membuat Bary akhirnya menyadari arti Gloria dalam hidupnya.


Semula, wanita itu sedikitpun tak berarti baginya. Ia menikahinya hanya sekedar untuk pemuas naf su bejatnya semata. Setelah merasa bosan ia campakkan demi mencari yang lebih darinya. Semisal wanita seperti Reina. Yang lebih agresif dan lebih memuaskan di atas ranjang. Tidak seperti Gloria, yang terlalu kaku bahkan membosankan.


Namun, selama tiga hari ini tanpa sosok Gloria, ditambah lagi dengan kelakuan Reina yang akhirnya membuatnya muak, ia akhirnya bisa melihat kelebihan yang dimiliki Gloria, istrinya.


Tidak hanya berparas cantik, penyabar, tidak pernah memaksakan keinginannya, Gloria juga wanita yang setia. Setia berada di sisinya meski ia berkali-kali menyakiti wanita itu.


Bukan hanya memperlakukannya buruk, bahkan dengan teganya ia menjadikannya seorang wanita penghibur. Walaupun sebetulnya, ia tak benar-benar ingin bila wanitanya dijamah oleh lelaki lain.


Baru sekarang ia menyadari arti seorang Gloria di sisinya. Seorang wanita yang tidak sepantasnya dicampakkan dan disia-siakan. Gloria adalah wanita yang pantas untuk ia cintai, sebagai belahan jiwa, bagian dari hidupnya. Sebab Gloria adalah wanita yang akan mendampinginya untuk seumur hidupnya.


______


Sekali lagi, perhatian yang Bary tunjukkan membuat Gloria merasa risih. Bary menawarinya tumpangan begitu ia keluar dari pekarangan rumah, bermaksud menunggu taksi yang ia pesan melalui aplikasi. Saat ia akan berangkat bekerja pagi hari ini.


Menurunkan kaca jendela mobil, Bary berseru, "ayo naik. Aku antar kamu hari ini," ajaknya mengulum senyum ramah.


"Tidak usah, makasih. Aku sudah pesan taksi," tolaknya halus.


Bukannya ia bermaksud tidak menghargai niat baik Bary. Hanya saja ia tak ingin Bary melihat Ardo nantinya. Apalagi kalau sampai Bary tahu bila Ardo adalah atasannya di kantor. Bisa-bisa Bary memintanya berhenti bekerja. Ia bahkan sudah berbohong kepada Bary perihal kerja lemburnya di kantor beberapa waktu lalu.


"Tolonglah, Glori. Biarkan aku melakukan peranku sebagai suamimu kali ini," mohon Bary berwajah memelas.


"Tapi aku sudah terlanjur memesan taksi."


"Cancel saja. Bisa kan?"


"Tapi ..." Ia hendak menolak untuk kesekian kali saat sebuah mobil Avanza berwarna hitam datang dan menepi tepat di depannya. Ia hendak naik ke mobil itu, namun Bary menghentikannya. Bary memberikan selembar uang kepada supir sebagai ongkos meski ia tak sempat menumpang mobil itu.


Bary lantas menarik pergelangan tangannya. Mendesaknya naik ke mobilnya begitu ia membukakan pintu mobil.

__ADS_1


Kalau sudah begini, ia bisa berbuat apa lagi? Jelas ia tak bisa menolak. Apalagi kalau sampai melayangkan protes atas tindakan Bary. Alhasil, ia hanya bisa menurut. Duduk diam di samping Bary yang fokus mengemudi. Tak sepatah kata pun ia lontarkan walau hanya sekedar gurauan. Mendadak, suasana berubah canggung. Canggung baginya, namun entah bagi Bary.


______


Tiba di pelataran kantor, Bary menepikan mobil tak jauh dari depan pintu masuk.


"Makasih," ucap Gloria datar namun sungkan. Sebab ini adalah yang pertamakali nya Bary mengantarnya. Walaupun sebelum-sebelumnya pernah menolak tawaran serupa.


"Mulai sekarang, setiap kamu berangkat dan pulang bekerja, aku yang akan mengantar dan menjemputmu," ucap Bary bernada lembut namun tegas.


Loh, apa-apaan ini? Mengapa mendadak semuanya terasa sulit saja? Bagaimana bila ia ketahuan telah menjalin hubungan dengan Ardo?


"Tidak perlu repot-repot. Aku bisa pulang pakai taksi kok. Lagipula, setiap hari aku bakalan lembur. Bukannya kamu juga sibuk di Club? Aku hanya tidak mau merepotkanmu saja." tolaknya lagi dengan memberikan alasan.


Bary hendak menyahuti ucapan Gloria, namun urung lantaran di depan pintu masuk, sebuah mobil sport berwarna merah baru saja menepi. Mobil yang sangat familiar di matanya. Bahkan pemilik mobil yang baru saja turun pun sangat tak asing baginya.


Bary mengerutkan dahi begitu melihat sosok pria tampan yang baru saja turun dari mobil itu.


"Ardo?" gumam Bary lalu bergegas turun. Ia seperti mendapat kejutan tak menyenangkan pagi ini. Kejutan yang membuat aliran darahnya mendidih mengalir di nadinya.


Gloria tak sempat menahan Bary begitu Bary beranjak menghampiri Ardo. Bary pernah mewanti-wantinya untuk menjauhi Ardo. Bagaimana reaksi Bary nanti bila mengetahui Ardo adalah atasannya? Apalagi mereka telah menjalin hubungan?


Ia mempercepat langkahnya menyusul Bary sebelum terjadi kesalahpahaman yang nantinya akan mengacaukan segalanya.


_____


Ardo baru saja turun dari mobil, menyerahkan kunci mobil kepada tukang parkir, lalu hendak memasuki gedung itu saat tiba-tiba terdengar suara yang memanggil namanya.


"Ardo."


Ia mengehentikan langkahnya, lalu menoleh, memandangi sosok pria tinggi kekar melangkah cepat menghampirinya. Pria yang tak asing lagi baginya.


"Hai, kawan," sapanya mengulum senyum menatap Bary yang memasang wajah tak suka.


"Sedang apa kamu di tempat ini?" tanya Bary.


Ia terkekeh, "seharusnya aku uang bertanya, sedang apa kamu di tempat ini?"


"Mengantar istriku," sahut Bary to the point. Bary lupa sebelumnya ia mengakui Gloria sebagai saudara sepupunya di depan Ardo. Hingga menumbuhkan keberanian Ardo mendekati Gloria.

__ADS_1


"Istri?" Ia menaikkan jidat, berlagak kaget.


"Istri yang mana?" sambungnya bernada remeh.


"Glori. Dia istriku." Kali ini Bary tak ingin menyembunyikan status mereka lagi. Terserah jika Ardo ingin menertawainya ataupun mencelanya. Sebab sempat tak mengakui Gloria sebagai istrinya. Bahkan Ardo pernah menjadi pelanggan khusus Gloria beberapa waktu lalu. Sadar tak sadar, hal itu telah menjatuhkan martabat Bary sendiri sebagai seorang suami. Ibarat kata, seperti anjing yang melempar tulangnya kepada anjing lainnya. Suami mana yang tega menjual istrinya sendiri.


"Lalu kenapa kamu mengatakan hal itu padaku?" Ia menarik sudut bibir membentuk senyuman sinis. Lalu pandangannya bergulir kepada Gloria yang datang menghampiri dengan wajah cemas.


"Agar kamu tahu bahwa Glori itu sebenarnya adalah istriku. Waktu itu aku terpaksa berbohong padamu. Dan kamu tidak perlu tahu alasannya."


"Lalu?" Ia masih memandangi Gloria yang mulai memucat. Ia tahu bila Gloria merasa takut. Takut akan ketahuan oleh Bary.


"Jangan pernah mendekati istriku lagi. Apalagi berniat mengencaninya. Karena bisa aku pastikan, kamu tidak akan pernah bisa lagi melihat matahari terbit," tegas Bary bernada mengancam.


Namun Ardo malah menertawai Bary. Baginya, ancaman Bary terdengar lucu.


"Kunci mobil Anda, Pak." Petugas parkir menyerahkan kembali kunci mobil ke tangan Ardo. Kemudian beranjak kembali ke tempatnya semula.


Bary menautkan alis melihat hal itu. Yang mengundang rasa penasarannya sejak tadi.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku. Sedang apa kamu di tempat ini? Siapa kamu sebenarnya?" tanya Bary penasaran.


Ardo tersenyum sinis. Sementara Gloria tengah menahan napasnya kuat lantaran disergap kecemasan dari berbagai arah. Banyak hal yang membuatnya takut. Diantaranya ia takut ketahuan Bary akan kebohongannya.


"Kamu bertanya siapa aku?" Ardo melirik Gloria sejenak.


"Aku ini ... Adalah ..." sambungnya menggantung hingga membuat Gloria tegang. Bahkan bernapas pun serasa sulit.


"Pak Ardo, Pak Dirut sedang menunggu Pak Ardo di ruangannya." Andre, asisten Dicko tiba-tiba datang menghampiri.


"Pak Dirut sedang bersama tamu penting sekarang dan meminta Pak Ardo segera menemuinya," sambung Andre.


"Baiklah," ucap Ardo menoleh Andre sejenak.


"Sorry kawan. Aku ada pertemuan penting dengan pimpinan perusahaan ini. Kalau mau tahu siapa aku sebenarnya, tanyakan saja pada Glori. Permisi." Ardo pun beranjak, melangkah panjang memasuki gedung itu. Di susul oleh Andre yang kemudian mensejajarkan diri berjalan di sampingnya.


Kini tatapan tajam Bary mengarah kepada Glori. Ucapan Ardo itu seolah menyiratkan bahwa Glori sudah sangat mengenal Ardo. Yang membuatnya kian penasaran adalah kedatangan Ardo ke perusahaan ini.


"Apa maksudnya, Glori?" tanya Bary menatap tajam serasa menusuk jantung.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2