Gara-Gara Kamu

Gara-Gara Kamu
Bab 94. Morning Kiss


__ADS_3

Bab 94. Morning Kiss


Senyuman manis di pagi hari terbit di wajah Gloria. Menatap wajah Ardo, membuat sekelebat bayangan semalam melintas. Masih terbayang di pelupuk mata, bagaimana hangat dan lembutnya sikap Ardo memperlakukannya semalam. Membuat hatinya berdebar bahagia.


Menatap wajah itu tak pernah membuatnya bosan. Seolah sejuta keindahan ada di sana. Lalu tanpa ia sadari, mungkin terdorong oleh perasaan berbunga-bunganya, hingga ...


CUP


Gloria terbelalak. Semula memang ia berniat memberi kecupan di pipi Ardo. Tetapi tak ia sangka, justru Ardo yang lebih dulu mengecup bibirnya. Membuatnya refleks menjauh.


Namun sayangnya, Ardo menahan tengkuknya. Ardo hendak memberi kembali kecupan, tetapi jemari Gloria ternyata lebih cepat bergerak menutup bibir Ardo.


"Kamu curang ah," gerutu Gloria manja. Tetapi sebetulnya ia merasa malu. Ia mengira bila Ardo masih tertidur lelap. Sehingga menimbulkan keberaniannya untuk mencuri kecupan.


Menggeser jemari Gloria, Ardo tersenyum-senyum. "Yang curang itu kamu, Sayang. Lain kali kalau mau nyium, jangan disaat aku masih tidur."


Gloria malu tertangkap basah. Ia hendak turun dari tempat tidur. Namun gerakan tangan Ardo jauh lebih cepat meraih pinggangnya. Menariknya kuat, sampai ia terbaring kembali.


Cepat Ardo bangun, mengungkung tubuh Gloria, mengunci pergerakannya. Ia tak memberi Gloria celah untuk melawan, apalagi menghindar.


"Sekarang, kamu bebas melakukan apa pun yang kamu mau pada suamimu ini. Mau nyium? Nih ..." goda Ardo memberi pipi kanannya.


Sedangkan Gloria terlihat malu-malu.


"Atau kamu mau nyiumnya di bagian ini?" Ardo memanyunkan bibirnya, mirip bebek mau nyosor. Sehingga membuat Gloria tergelak.


Gloria sungguh tak bisa menahan tawanya melihat tampang lucu Ardo. Yang walaupun terlihat lucu, tetap saja tak bisa menghilangkan pesona pria itu.


Gloria tertawa-tawa sambil membekap mulutnya. Ia menggeleng, menolak melakukan apa kata Ardo.


"Tidak. Aku tidak ingin melakukan apa-apa. Aku tidak mau," ucap Gloria sambil menggeleng.


"Came on Baby. Ini kesempatan terakhirmu. Jika tidak, aku yang akan melakukan apa pun yang aku mau padamu. Karena kamu itu istriku." Sambil mulai mendekatkan wajahnya.


"Tidak. Jangan lakukan, Ardo. Jangan, aku tidak mau." Berpaling muka, berusaha menghindari serangan bibir Ardo.


"Panggil aku Sayang. Mulai saat ini, aku tidak mau mendengar namaku kamu sebut. Paham kamu?"


"Iya, aku paham. Tapi tolong, minggir dulu. Aku mau mandi, setelah itu aku mau sarapan."


"Kalau mau sarapan, tinggal minta tolong bibi dibawakan ke kamar ini. Tidak perlu kamu yang turun ke bawah." Kamar Ardo berada di lantai dua. Terkadang bila ia malas turun ke bawah, ia selalu meminta sarapannya di bawakan ke kamarnya.


"Tapi aku mau sarapan bersama Papa dan Mama di bawah."


"Oke. Tapi berikan sesuatu dulu untukku." Akhirnya Ardo mengalah, tapi dengan satu syarat.


"Apa itu?" sambil tersenyum-senyum, Gloria menatap Ardo.


"Morning kiss (ciuman pagi). Apa kamu pernah mendengar istilah itu?"

__ADS_1


Gloria mengernyit, kemudian menggeleng.


"Morning kiss dipercaya bisa membangkitkan semangat serta vitalitas pria di pagi hari. Dan, pria yang rutin mendapatkan morning kiss dari wanitanya dipercaya akan berumur panjang."


"Oh ya? Apa ada istilah seperti itu?" Gloria membulatkan matanya tak percaya. Ia tahu jika ini hanyalah akal-akalan Ardo saja, yang ingin mengambil keuntungan darinya.


"Jadi ... Apakah aku bisa mendapatkan morning kiss ku?" goda Ardo tersenyum culas. Bukan Ardo namanya bila tak lihai memanfaatkan kesempatan.


Gloria balas tersenyum. Kemudian melingkarkan lengannya di pundak Ardo. "Baiklah, kalau itu yang kamu mau. Sekarang, tutup dulu dong matanya," pinta Gloria. Bukan hanya Ardo saja yang bisa usil, ia juga bisa melakukannya.


Saking senangnya, Ardo menurut. Ia lantas memejamkan matanya. Menunggu tak sabaran satu kecupan dari Gloria.


Satu menit ...


Dua menit ...


Ardo merasakan rangkulan Gloria pada pundaknya mulai meregang. Ada sedikit kecurigaan dalam kepala, namun ia menepisnya. Sebab tak mungkin sang istri mempermainkannya.


"Ayolah, Sayang," tuntut Ardo masih tak sabaran. Sebab belum ada pergerakan apa pun dari Gloria.


Sampai beberapa menit berlalu, masih juga tidak ada kecupan yang ia tunggu-tunggu. Justru keadaan yang terasa hening. Sampai akhirnya malah terdengar bunyi pintu kamar mandi yang dikunci.


KLEK


Sontak Ardo membuka matanya. Dan mendapati ranjang kosong di depannya. Sang istri tercinta sudah tidak berbaring lagi di bawahnya.


"Haaah ... Sial!" Ardo mendesah kecewa. Rupanya Gloria malah mempermainkannya. Padahal ia sungguh berharap bisa mendapatkan morning kiss dari Gloria. Apalagi, mereka adalah sepasang pengantin baru.


"Glori ... Buka pintunya!" pinta Ardo mengetuk pintu kamar mandi.


"Tidak. Aku mau mandi dulu," sahut Glori dari dalam bersamaan dengan bunyi keran air yang dibuka.


"Ayolah, Sayang. Kamu curang." Ardo memelas. Sengaja ia perdengarkan agar Gloria merasa iba kepadanya.


Namun yang ia harapkan, ternyata tak kunjung ia dapatkan. Sebab Gloria malah terkesan tak peduli kepadanya.


Di dalam kamar mandi, Gloria lebih memilih melanjutkan kegiatannya membersihkan diri. Mulai dari memakai sampo, kemudian membilasnya. Tak ia pedulikan suara rengekan Ardo di luar kamar mandi. Ia tahu bila Ardo berniat mengambil keuntungan darinya.


Ardo memiliki banyak alasan untuk berpura-pura. Sehingga dengan mudahnya pria itu melancarkan aksinya.


Tetapi kali ini, Gloria ingin memberinya sedikit pelajaran. Bahwa akal bulusnya tak selalu berjalan mulus.


"Sayang, ayolah buka pintunya. Aku mau pipis sebentar." Terdengar suara Ardo dari luar, disertai suara ketukan pada pintu kamar mandi.


"Tunggu saja sampai aku selesai mandi. Baru kamu boleh masuk." Gloria tersenyum-senyum sambil mulai menuang cairan sabun mandi diatas shower puff.


"Ayolah, sudah di ujung ini. Apa kamu mau melihat suamimu ini ngompol?"


"Ha ha ha ... Aku tidak peduli. Ngompol saja sekalian." Gloria terbahak-bahak, masih tak peduli dengan rengekan Ardo. Malah terdengar lucu baginya. Mana mungkin juga Ardo pipis di celana. Ia tahu, hal itu hanyalah akal-akalan Ardo saja.

__ADS_1


Jika ia membukakan pintu kamar mandi untuk Ardo, maka bisa dipastikan sesuatu hal pasti akan terjadi di dalam kamar mandi. Dan ia hanya ingin menghindari hal itu terjadi.


Dan lagipula, perutnya sudah berdemo sejak tadi, meminta jatahnya pagi ini. Jadi, secepatnya ia harus menyelesaikan mandinya. Untuk kemudian segera mengisi perutnya. Agar dede bayi dalam perutnya tidak akan kelaparan.


Gloria masih tak menghiraukan Ardo yang terus merengek di luar sana. Sesegera mungkin ia menyelesaikan mandinya. Sampai akhirnya tiba-tiba ...


"Aw! Aduuuh!" Suara pekikan Ardo terdengar. Menghentikan kegiatan Gloria seketika. Cemas pun mendadak mendera.


"Apa yang terjadi dengan Ardo?" gumam Gloria, meraih cepat handuk yang menggantung di sudut kamar mandi.


Cepat Gloria membuka pintu kamar mandi. Melangkah keluar dari kamar mandi sambil berseru,


"Sayang, kamu kenapa?"


Namun, bukan jawaban yang Gloria dapat. Tubuhnya justru ditarik paksa memasuki kembali kamar mandi. Hempasan kuat membuat punggungnya membentur pintu kamar mandi.


KLEK


Pintu kamar mandi di kunci. Dan Ardo sudah berada tepat di hadapannya, mengungkungnya. Membuatnya terkejut, menahan napasnya sejenak.


"Kamu? Bukannya tadi kamu__"


"Sudah aku duga, kamu pasti mencemaskanku," sela Ardo tersenyum culas.


"Jadi kamu hanya pura-pura kesakitan?" Sungguh Gloria tak menyangka, betapa mudahnya Ardo mengibulinya.


Sementara Ardo, tersenyum culas. Ia puas bisa membohongi Gloria dengan berpura-pura kesakitan. Sehingga Gloria membuka pintu kamar mandi. Dan disitulah kesempatannya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.


Melihat tampilan Gloria dengan rambut basahnya yang tergerai, ditambah lagi aroma sabun mandi yang menyeruak memenuhi indera penciumannya itu semakin membangkitkan hasratnya. Sungguh ia tak bisa menahan gejolak gai rahnya.


"Salahmu sendiri tidak mengabulkan permintaanku. Dan sekarang, jangan salahkan aku jika aku ingin melakukan apa yang aku mau. Kamu terlalu menggoda, Sayang." Ardo mulai merayu-rayu sembari mendekatkan wajahnya. Jemarinya meraih dagu Gloria. Menekannya, sampai kepala Gloria mendongak.


"Dasar nakal!" kesal Gloria.


"Nakal terhadap istri sendiri itu wajar, Sayang. Tidak berdosa, malah akan mendapatkan pahala. Dan, bukankah menyenangkan hati istri itu juga dinilai pahala?"


"Ish, dasar gombal. Sejak kapan kamu suka berdalil seperti ini?"


"Sejak sekarang."


"Tapi Sayang, aku__"


Belum sempat Gloria menuntaskan kalimatnya, Ardo telah lebih dulu membungkamnya. Gloria hanya bisa pasrah, menyerah dengan kelakuan suaminya. Yang terkadang romantis, bahkan terkadang pula nakal.


Seperti saat ini. Bukannya Gloria selesai dengan mandinya, kini ia malah bermandikan peluh karena ulah suaminya.


Tak ada lagi yang bisa Gloria perbuat selain memasrahkan keadaan. Membiarkan Ardo memimpin permainan, hingga hasratnya terpuaskan.


Mau bagaimana lagi. Memiliki suami yang terlalu pandai merayu seperti Ardo, tak urung pun sebetulnya membuat Gloria bahagia. Ardo melimpahinya cinta dan kasih sayang. Memperlakukannya lembut, sehingga bayang-bayang masa lalu benar-benar menghilang dari memorinya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2