Gara-Gara Kamu

Gara-Gara Kamu
Bab 79. Siapakah Dirimu


__ADS_3

Bab 79. Siapakah Dirimu


"Halo," sapa Ardo lesu.


"Halo, Nak. Mama mau minta tolong, apa kamu bisa menjemput Mama di rumah sakit? Mama di tempat prakteknya dokter Randa sekarang. Bisa sayang?" terdengar tanya dari Aruna di seberang.


"Tadinya Mama datang bersama Papa. Tapi Papa sudah pergi meeting. Sebenarnya Mama sih bisa naik taksi. Tapi Mama inginnya kamu yang jemput," sambung Aruna lantaran belum ada jawaban dari Ardo.


"Iya, baiklah. Aku ke sana sekarang." Ardo menutup teleponnya, kemudian bergegas keluar dari ruangannya.


Padahal mereka memiliki supir pribadi, namun entah mengapa sang mama malah ingin ia yang menjemput. Tak ingin membantah, dan lagipula bukan sebuah pekerjaan yang berat, ia menuruti permintaan sang mama. Yang mungkin sedang ingin dimanja oleh putra satu-satunya.


Tak butuh waktu lama bagi Ardo untuk sampai di rumah sakit yang disebutkan Aruna.


Ardo melangkah menyusuri koridor rumah sakit dengan pandangan menunduk. Sepasang mata dibalik kacamata hitamnya malah terfokus pada layar ponsel di tangan. Sebab tak begitu memperhatikan jalan, alhasil ia menabrak seseorang tanpa sengaja.


"Maaf, maaf." Cepat Ardo membungkuk, memungut selembar kertas kecil yang terjatuh dari tangan seorang wanita.


Ardo melihat sekilas selembar kertas hasil USG tersebut sebelum ia serahkan kepada wanita pemilik kertas tersebut.


"Ini punya Anda, bukan?" Namun Ardo terdiam begitu pandangan terangkat. Antara terkejut dan hati bertanya-tanya. Wanita yang tengah berdiri di hadapannya saat ini menatapnya takut.


...


Usai memeriksakan kandungannya juga berbincang dengan dokter, Gloria bergegas hendak ke ruang praktek Randa. Mungkin lantaran pikirannya yang melanglang buana, membuatnya sedikit tak fokus.


Ia baru saja keluar dari ruang praktek dokter kandungan saat seseorang menabraknya. Membuatnya terkejut, hingga menjatuhkan selembar foto hitam putih hasil USG nya.


Namun ia lebih terkejut lagi ketika orang yang menabraknya mengangsurkan foto tersebut kepadanya.


Richardo


Saking terkejutnya, Gloria bahkan sampai tak bisa berkata-kata. Hanya degup jantung yang kian menghentak, memukul dadanya kuat.


Ardo melepas kacamata hitam yang membingkai wajah tampannya. Tetapi sayangnya wajah tampan itu terlihat tegang dengan sepasang mata menatap tajam Gloria.


Gloria bahkan hampir tak bisa bernapas saat ini. Jika boleh, ingin rasanya ia menghilang detik ini juga. Andai ia memiliki sihir.


"Kamu..." Belum sempat Ardo berucap, cepat Gloria memutar tubuhnya, hendak menjauhi Ardo.


Namun gerakan tangan Ardo jauh lebih cepat. Pergelangan tangan Gloria telah lebih dulu diraihnya sebelum Gloria mengambil langkah seribu.


"Kamu mau ke mana?" tanya Ardo berdebar-debar serta jantung menghentak-hentak. Ardo baru menyadari setelah mengecek kembali foto USG tersebut, dimana tertera jelas nama Gloria disana. Serta tak jauh dari tempat mereka berdiri terdapat ruang praktek dokter kandungan.


"Tolong lepaskan aku." Gloria meminta sembari menarik-narik tangannya dari genggaman Ardo.


"Ini punyamu bukan?" Ardo menunjukkan foto USG di tangannya, yang tak sempat diambil kembali oleh Gloria.


Gloria salah tingkah. "Bu-bukan." Sembari menggeleng takut. Bahkan wajahnya mulai memucat, disertai buliran keringat dingin mengucur perlahan dari pelipisnya.

__ADS_1


Bertemu Ardo tanpa terduga seperti ini membuat Gloria malah ketakutan. Takut bila yang ia sembunyikan diketahui Ardo.


Namun yang mengusik benaknya, akankah Ardo mengakui serta menerima bayi yang ia kandung?


"Bukan? Lalu kenapa kamu berkeringat? Bukankah foto USG ini bukan milikmu?" Ardo bukan anak kemarin sore yang bisa dikelabui dengan mudahnya. Jelas-jelas dalam foto itu tertera nama Gloria. Yang artinya foto itu milik Gloria. Yang berarti pula bila saat ini Gloria sedang ...


"I-iya. I-itu bukan milikku." Gloria bahkan tergagap menyahuti, saking gugupnya.


Ardo menyeringai, tersenyum sinis menatap Gloria tajam. Bola matanya liar menelisik paras pucat Gloria. Yang membuatnya yakin bila Gloria tengah menyembunyikan sesuatu darinya.


"Tolong lepaskan aku. Biarkan aku pergi." Kembali Gloria meminta sambil menarik-narik tangannya. Yang malah digenggam Ardo semakin erat.


"Glori, kamu pikir kamu bisa berbohong padaku?" Semakin kuat dugaan Ardo bila Gloria sedang menyembunyikan sesuatu darinya saat ini.


"Ayo ikut aku." Ardo menarik kuat pergelangan Gloria. Hendak menyeretnya, membawa Gloria untuk ikut bersamanya.


Namun Gloria memberontak, menolak menuruti ajakan Ardo.


"Tidak. Aku tidak mau. Aku tidak mau mengecewakan mama mu. Mama mu memohon padaku agar aku menjauhimu," ucap Gloria melawan.


"Ikut denganku dengan tenang, atau kamu mau bila sekali lagi aku dilaporkan atas kasus penculikan? Apa kamu mau aku dipenjara? Itukah yang kamu mau?"


Gloria menggeleng pelan dengan wajah ketakutan. Sungguh ia tak ingin bila Ardo terpisah darinya.


"Kalau begitu, ikut aku."


Gloria tak bisa membantah. Juga tak bisa memberikan perlawanan saat Ardo kembali membawanya ikut bersama.


...


"Sebaiknya kita akhiri saja hubungan kita."


Ardo malah tertawa mendengar permintaan Gloria. "Kamu seperti anak kecil. Yang cepat menyerah saat menemui rintangan. Apa kamu pikir aku akan memenuhi permintaanmu?"


"Aku hanya tidak mau merusak masa depanmu. Aku ini bukan wanita yang pantas untukmu."


"Kalimat seperti itu hanya cocok untuk pecundang."


Gloria berpaling muka. Menatap keluar jendela mobil. Sebisa mungkin ia menahan sesak di dada. Apa yang dikatakan Ardo memang benar adanya. Bahwa ia hanyalah seorang pecundang. Pecundang yang mencoba lari dari kenyataan.


"Katakan padaku yang sejujurnya, apa yang tidak aku ketahui tentangmu," ucap Ardo bermaksud menyinggung soal foto hasil USG.


"Tidak ada. Tidak ada apapun yang perlu kamu tahu."


"Kamu pikir aku ini anak kecil, Glori? Kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu sedang hamil?"


Gloria tersentak. Lalu menoleh, menatap sepasang mata hitam Ardo yang mulai berkaca-kaca.


"Ini ..." Ardo menunjukkan foto USG tersebut di depan wajah Gloria. "Ini milikmu. Lihat, ada namamu di sini?" sambil menunjuk nama Gloria yang tertera.

__ADS_1


"Aku bukan anak kecil yang bisa kamu bodohi, Glori. Aku tahu kamu hamil," sambung Ardo.


Begitu cepat perasaan haru itu meyeruak, memenuhi ruang dada. Hingga tak mampu Gloria menyembunyikannya. Kedua matanya berkaca-kaca. Lalu pada akhirnya, pertahanannya jebol. Air mata itu pun berderai membasahi pipinya.


"Apa kamu percaya kalau anak yang aku kandung ini adalah anakmu?" Tak bisa memungkiri, ada perasaan cemas mengusik, bila nanti Ardo tak mau mengakui anak yang sedang ia kandung.


Namun ternyata, prasangkanya justru berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada. Bukan hanya mengakui, Ardo pun sangat bahagia mengetahui bila Gloria sedang hamil.


"Aku percaya. Bahkan aku sangat yakin, Glori. Hati kecilku berkata, bahwa anak yang sedang kamu kandung itu adalah anakku. Buah cinta kita berdua." Sembari membawa kedua tangannya, merangkum wajah Gloria.


"Asal kamu tahu, aku sangat bahagia, Glori. Sangat, sangat bahagia. Hadirnya anak itu, yang berarti bahwa Tuhan memberi kita peluang untuk bisa bersama. Hm?" sambung Ardo dengan luapan perasaan bahagianya.


Senyuman manis pun terukir di bibir Gloria. Yang disambut dengan kecupan hangat berlabuh di keningnya.


...


"Kenapa Ardo lama sekali, ya? Katanya udah jalan ke sini. Tapi kok belum sampai juga?" gumam Aruna sembari mengedarkan pandangan, mencari-cari sosok Ardo diantara orang-orang yang berlalu lalang.


Namun pandangannya terhenti pada mobil sport berwarna merah yang perlahan meninggalkan pelataran parkir.


"Loh, itu kan mobilnya Ardo? Kenapa dia malah pergi?" Aruna membawa langkahnya cepat menyusul mobil Ardo. Tetapi sayangnya, langkahnya kalah cepat dari mobil sport tersebut.


Aruna mengambil ponsel dari tas nya. Ia mencoba menghubungi ponsel Ardo. Namun panggilannya malah ditolak. Bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali Ardo mereject panggilannya. Membuat cemas mendadak mendera. Serta hati diselimuti tanya.


"Kok malah di reject sih?" gerutu Aruna berbalut tanya.


"Pak, Pak." Aruna menyetop ojek yang baru saja menurunkan penumpang.


"Ojek, Bu?"


"Ikuti mobil merah itu," titah Aruna menunjuk mobil sport berwarna merah yang hampir menghilang dibalik padatnya jalanan.


...


Ardo tertegun memandangi dua makam yang berdampingan. Sejumlah tanya mengusik benaknya. Seba beberapa bulan lalu, ayahnya pernah mengajaknya mengunjungi makam tersebut. Dan memberitahunya bahwa makam tersebut adalah makan sahabatnya.


Setelah saling bercurah kasih, Gloria meminta Ardo menemaninya ke sebuah tempat. Yang kata Gloria, dimana kedua orang yang paling disayanginya tinggal selama ini. Ardo sudah menduga bahwa tempat itu adalah makam kedua orang tua Gloria.


Namun yang tidak Ardo duga sebelumnya, bila makam itu adalah makam Darma Dharmawan serta istrinya, Maharani Ayu.


Bila Gloria berkata bahwa kedua makam itu adalah makam orang tuanya, berarti bahwa Gloria adalah ...


"Glori ..." panggil Ardo begitu Glori berdiri, setelah menaruh buket bunga di kedua makam tersebut.


"Iya?" sahut Glori mengurai senyum.


"Siapa kamu sebenarnya?" Ardo semakin berdebar-debar kala mengingat ayahnya pernah berkata. Bahwa dahulu ibunya sempat ingin menjodohkannya dengan putri Darma Dharmawan. Artinya orang itu adalah ...


"Loly?" terdengar suara lembut seorang wanita memanggil.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2