Gara-Gara Kamu

Gara-Gara Kamu
Bab 45. Kenyataan Yang Menghempas


__ADS_3

Bab 45. Kenyataan Yang Menghempas


Bukan Ardo namanya bila tak bisa mengatasi keadaan. Ia sudah bisa memperkirakan waktu berdasarkan jarak dari depan rumah sampai ke kamar Leni.


Bergegas ia turun dari tempat tidur, memunguti pakaiannya yang berserakan tak karuan di lantai kamar itu. Lalu mengenakannya kembali dengan terburu-buru.


Setelahnya ia keluar kamar secepat kilat. Kemudian mengambil duduk di sofa, di depan TV. Ia lantas meraih remote dan menyalakan TV. Ia memasang tampang bosan sambil berpura-pura menggonta-ganti saluran TV.


Sementara Gloria, ia perintahkan mengenakan kembali pakaiannya. Lalu berpura-pura telah tertidur lelap dibawah selimut tebal itu. Dengan begitu, Leni tidak akan menaruh curiga terhadap mereka berdua. Lantaran di dalam rumah ini, hanya tinggal ada mereka berdua saja. Yang mana, biasanya, pihak ketiga akan ikut hadir memberi godaan dahsyat.


Pihak ketiga itu ialah Syaitan.


Tidak ada yang tahu selain mereka berdua, bahwasanya, sesungguhnya syaitan telah berhasil menggoda dan menjerumuskan mereka ke dalam jurang dosa. Jurang yang penuh kenikmatan, namun sarat akan dosa dan nista.


Cukup hal itu menjadi rahasia mereka berdua saja. Tidak ada yang perlu mengetahuinya. Terkecuali syaitan.


Derap langkah terdengar semakin jelas menghampiri. Ardo berpura-pura tak terusik. Ia masih berpura-pura menggonta-ganti saluran TV saat Leni mengambil duduk di sampingnya.


"Kak Ardo, aku tungguin lama banget datangnya. Katanya mau nyusul, tapi kok tidak datang-datang juga?" rajuk Leni berwajah cemberut. Sumpah, sedari tadi ia menunggu-nunggu kedatangan Ardo, tetapi Ardo samasekali tak menampakkan batang hidungnya. Bahkan sudah berkali-kali ia menghubungi ponsel Ardo, malah operator yang menjawabnya. Sehingga membuatnya kesal.


"Tiba-tiba aku pusing. Tidak tahu kenapa. Maaf ya?" Sembari mengulum senyum tipisnya.


"Oh ya, yang aku minta ada?" tanyanya. Sebelumnya, sebelum mengetuk pintu kamar, ia sempat mengirimkan pesan kepada Leni. Bahwa ia meminta dicarikan gelang cantik yang akan ia berikan sebagai oleh-oleh kepada ibunya.


"Ada. Nih, Kak, gelangnya." Leni menyodorkan sebuah kotak beludru berwarna hitam ke tangan Ardo. Yang diterima Ardo sambil mengulas senyum.


"Makasih, ya?" Lalu membuka kotak itu. Begitu terbuka, tampaklah sebuah gelang dengan batu permata indah berwarna pink. Sesuai seperti yang diinginkannya. Leni sangat pandai dalam memilih aksesori. Mungkin ukurannya juga sesuai dengan pergelangan tangan wanita dambaannya. Sengaja ia membohongi Leni, agar Leni mau mencarikannya untuknya. Jika Leni tahu bila gelang itu ingin ia berikan kepada Gloria, mungkin saja Leni akan menolak membelinya.


"Gimana, bagus kan? Pilihan aku emang the best kan, Kak?" tuntut Leni.


Ardo mengangguk. "Pilihan kamu memang yang terbaik. Sekali lagi, makasih."


"Kenapa kamu tidak jadi pergi Nak Ardo?" tanya Chika datang dari arah depan.


"Tiba-tiba saja aku pusing Tante. Tidak tahu kenapa," sahut Ardo sambil berpura-pura memijit-mijit pelipisnya.


"Mungkin kamu kecapean, Nak. Sudah minum obat?"


"Sudah, Tante. Baru saja."


"Ya sudah. Kalau gitu, kamu istirahatlah. Tante tinggal ya?" Kemudian beranjak ke kamarnya.


"Sini, Kak. Aku pijitin," tawar Leni bersiap memijit kepala Ardo.


"Tidak usah, Leni. Aku sudah tidak apa-apa."

__ADS_1


Otomatis Leni cemberut dengan penolakan Ardo. Sedangkan Ardo, masa bodo. Ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan. Jadi, cukup sudah ia memanfaatkan Leni.


_____


Sementara di dalam kamar Leni, Gloria tengah berbaring dibawah selimut yang menutupi tubuhnya. Ia terkejut begitu Leni masuk, lalu menghempas kasar tubuhnya di atas tempat tidur itu.


"Kamu sudah pulang, Len?" tanya Gloria demi menutupi kecemasannya. Cemas bila nanti Leni mengetahui apa yang ia lakukan bersama Ardo di atas tempat tidurnya beberapa saat lalu.


"Hm," sahut Leni malas.


"Gimana bazar nya? Rame?"


"Rame sih. Tapi aku lagi dongkol."


"Loh, kenapa?"


"Kak Ardo sudah janji akan menyusul. Katanya tadi dia harus rapat dadakan dengan Uncle. Aku tungguin dari tadi, Kak Ardo tidak datang-datang juga. Begitu pulang, katanya dia sakit kepala."


"Wajar kan, orang sakit mana bisa pergi ke bazar. Yang ada malah tambah sakit." Ingin rasanya ia tertawa melihat tingkah Leni. Leni tidak tahu saja, apa yang sudah Ardo lakukan kepadanya saat Leni sedang kesal menunggunya.


Leni beranjak dari tempat tidur menuju lemari pakaian. Leni mengeluarkan sepasang pakaian yang hendak dipakainya untuk tidur.


Gloria hendak memejamkan kembali matanya saat terdengar dering ponselnya yang tergeletak di nakas. Ia memanjangkan tangan, meraih ponsel itu. Yang menampilkan jelas nama Bary sebagai penelepon.


Sontak ia pun bangun dari berbaringnya. Belum juga hilang kecemasannya, kini jantungnya yang mulai berdegup kencang.


Tegang?


Iya.


Ia tegang. Sekaligus gugup, juga takut. Takut bila Bary mengetahui apa yang telah ia lakukan bersama Ardo.


Ia lantas menyibak selimut, lalu turun dari tempat tidur. Ia bergegas membawa langkahnya keluar dari kamar. Namun terkejut begitu mendapati Ardo tengah duduk di depan TV.


Ponselnya masih berdering, sampai ke telinga Ardo. Yang membuat pria itu menoleh memandanginya. Lalu menyunggingkan senyum kepadanya.


Baru saja Ardo melambungkannya hingga ke langit ke tujuh. Merasakan indahnya dawai asmara. Namun kini, kenyataan kembali menghempasnya hingga ke dasar bumi. Seakan mengingatkannya akan siapa dirinya.


Panggilan pertama Bary ia lewatkan. Untuk panggilan kedua yang masuk, tidak bisa ia abaikan. Sebab hal itu bisa saja menjadi boomerang baginya. Ia sudah kenal betul tabiat Bary. Hingga untuk panggilan kedua ini membuatnya gugup, bahkan gemetaran.


Maka bergegas ia menuju ruang tamu. Mengambil duduk di sofa, lalu segera menjawab panggilan Bary setelah menghela napas berkali-kali demi meminimalisir degup jantungnya yang mulai kacau balau lantaran ketakutan.


"Halo?" Ia berusaha tidak terbata dalam menjawab. Sebab, bila ia terbata, menjadi pertanda bahwa ada sesuatu hal yang sedang ia sembunyikan.


"Halo, Glori. Kamu baik-baik saja?" tanya Bary dari seberang.

__ADS_1


"Iya. Aku baik-baik saja. Kenapa kamu menanyakan hal itu?"


"Kamu tidak menjawab panggilan pertamaku. Aku pikir kamu kenapa-napa. Itu saja. Apa tidak boleh aku mengkhawatirkan mu?"


Gluk!


Ia menelan ludahnya refleks. Sumpah, baru kali ini Bary berkata-kata seperti itu. Dengan intonasi lembut pula. Yang membuat kecemasannya kian menggunung. Lalu hati pun mulai bertanya-tanya. Ada apa dengan Bary?


"Oh ya, kapan kamu pulang?" tanya Bary.


"Besok. Kenapa?"


"Tidak kenapa-napa. Aku hanya mau bilang, jaga kesehatanmu."


Deg!


Jantungnya kembali memompa kencang aliran darahnya. Hingga membuatnya menegang seketika. Sumpah, ia semakin bertanya-tanya. Apa gerangan yang terjadi dengan Bary. Mengapa pria iblis itu berubah sedrastis ini?


Sedari awal, sejak mereka menikah, Bary tidak pernah berkata-kata lembut kepadanya. Apalagi memberi perhatian seperti ini?


Terkadang ia jadi berpikir, apakah ini adalah trik terbaru Bary untuk menambah penderitaannya? Apakah ini adalah mode penyiksaan terbaru untuknya?


"Glori ... Glori ..." Bary memanggil-manggil lantaran tak ada sahutan darinya.


"Glori, aku ini suamimu. Aku hanya mencemaskan mu berada jauh dariku. Aku ... Aku juga ... Sangat merindukanmu Glori," sambung Bary.


Ya Tuhan!


Kalimat apa yang baru saja Bary ucapkan kepadanya?


Aku ini suamimu!


Iya. Ia sadar, bahkan sangat sadar, kalau Bary adalah suaminya. Bahkan saat berduaan dengan Ardo pun, ia tahu betul, siapa dirinya. Status apa yang melekat padanya. Yaitu istri Bary.


Lalu kalimat berikut? Yang diucapkan Bary terdengar hati-hati.


Aku sangat merindukanmu!


Ia sontak membekap mulutnya tak percaya. Sungguh, Bary membuatnya kebingungan. Bahkan tak percaya dengan perubahannya yang terkesan mendadak seperti ini.


"Cepatlah pulang. Aku akan menunggumu."


Ia hendak membalas ucapan Bary, saat Ardo tiba-tiba datang dan mengambil duduk di sampingnya.


"Katakan padanya, tidak usah menungguku pulang." Ardo berbisik di telinganya. Membuatnya cepat memutus sambungan telepon. Lalu menoleh, menatap Ardo yang menatapnya lekat namun tajam menusuk.

__ADS_1


"Begitu kita pulang nanti, aku mau, secepatnya kamu mengurus perpisahan mu dengannya," ucap Ardo.


Bersambung


__ADS_2