
Bab 41. Memanfaatkan Keadaan
"Saat kamu kehilangan arah, datanglah padaku. Maka aku akan menuntunmu, aku akan menemanimu menemukan kembali arah hidupmu. Karena aku ... Mencintaimu," tambah Ardo tulus. Sehingga tanpa sadar, air matanya telah jatuh berderai.
Isak tangis pun mulai terdengar. Lalu entah terbawa suasana, perlahan ia mengangkat kedua tangannya, membalas pelukan Ardo. Hingga membuat Ardo tertegun.
Semenjak kedua orang tuanya meninggal, tidak ada siapapun yang peduli kepadanya. Tidak ada siapapun yang peduli perasaannya. Dan untuk pertamakali nya ia menemukan orang seperti Ardo. Meski ia tidak bercerita apapun tentang kesedihannya, Ardo telah memahami perasaannya. Bahkan Ardo telah memberinya tempat ternyaman untuk menyandarkan segala laranya.
Hanya bersama Ardo ia merasa nyaman seperti ini. Hanya dalam dekapan hangat Ardo ia bisa merasa aman. Dan hanya Ardo yang bisa meluruhkan kembali air matanya yang telah mengering semenjak kepergian kedua orang tuanya. Bahkan siksaan Bary sedikitpun tak membuat air matanya jatuh walau setetes. Dan hanya Ardo lah yang mampu melakukannya.
Menangis dalam pelukan Ardo itu rasanya seperti ribuan beban yang menghimpitnya kini luruh sudah. Paling tidak, ia telah merasa sedikit lega. Sebab beban hidup yang ia jalani serasa menekannya semakin ke dasar nestapa.
Sebab pernikahan yang ia jalani bersama Bary saat ini, hanyalah sebuah bui derita semata. Derita yang entah kapan akan berakhir. Tidak ada secercah harapan, apalagi kebahagiaan yang ia dapat dari pernikahan itu.
Sementara bersama Ardo, meski seringkali ia menyangkal, ada bahagia dalam dada. Bahagia yang ia sembunyikan diam-diam.
Dan jika ia mengakui, bilamana ia pun memiliki perasaan yang sama terhadap Ardo, apakah ia adalah wanita yang pantas berada di sisi pria itu?
Tidak!
Lebih baik semuanya ia pendam saja. Cukup hanya ia seorang yang tahu seperti apa perasaannya terhadap Ardo. Tak perlu ada orang yang tahu, bahkan Ardo sendiri pun tidak perlu mengetahuinya.
"Glori, ijinkan aku menjadi temanmu," pinta Ardo masih mendekap erat Gloria.
Namun Gloria malah mengurai dekapannya. Ia lantas mengambil satu langkah mundur begitu dekapan terlepas. Lalu ia mengangkat wajahnya, menatap mata Ardo malu-malu. Malu lantaran tanpa bisa ia cegah gerak refleks kedua tangannya membalas pelukan Ardo. Bahkan ia menangis di dada bidang Ardo.
Gloria hendak menghapus air matanya, saat jemari Ardo telah lebih dulu menyentuh wajahnya, lalu menghapus air mata di pipinya.
"Bila memang kamu tidak bisa menerimaku di hidupmu, setidaknya biarkan aku menjadi temanmu. Teman yang selalu bisa kamu andalkan. Teman yang bisa menghapus air matamu saat kamu menangis," ucap Ardo setelah jemari kekarnya menyeka air mata di pipi Gloria.
Entah ini hanyalah mimpi, ataukah Ardo hanya bergurau, namun hatinya menghangat begitu mendengar ucapan Ardo.
"Tapi saya bukan orang yang pantas untuk Anda jadikan teman."
"Kata siapa? Kata siapa kamu tidak pantas jadi temanku?" Ardo maju selangkah lebih mendekat.
__ADS_1
"Kita adalah dua orang yang berbeda. Kita tidak bisa menjadi teman. Lagipula, Anda adalah atasan saya." Gloria selalu saja menggunakan hal itu sebagai alasan untuk menghindari Ardo. Tetapi sayangnya, alasannya itu tidak pernah berhasil.
"Glori, bisa tidak, kamu rubah sedikit cara bicaramu kepadaku? Sudah berapa kali aku bilang, aku ini bukan pria tua yang berperut buncit dan berkepala botak. Apakah di matamu aku ini sudah setua itu?" kelakar Ardo untuk memberi kenyamanan terhadap Gloria.
"Ha ha ha ..."
Mendengarnya justru membuat Gloria tergelak. Tetapi hanya sebentar. Sebab tatapan Ardo membuatnya kembali membungkam.
"Kenapa? Kenapa berhenti mengejekku?" tanya Ardo tak bermaksud merajuk. Ia justru merasa senang bisa melihat tawa Gloria. Yang merupakan tanda bahwa Gloria sudah mulai bisa bersikap santai kepadanya. Setelahnya ia berharap, bila Gloria akan mulai terbuka kepadanya.
"Maaf. Saya tidak mengejek Anda. Saya hanya ..."
"Silahkan. Silahkan tertawa sepuasmu. Kamu tahu, aku senang melihatmu tertawa seperti itu." Sembari mengulurkan tangan kanannya menyentuh sebelah wajah Gloria. Mengusapnya lembut penuh kasih.
Perlakuan Ardo seperti itu membuat Gloria selalu saja kesulitan bernapas serta jantung berdegup kencang. Mengapa Ardo selalu saja membuatnya serasa mendapat serangan jantung mendadak. Tahukah Ardo bahwa ia seperti orang yang tengah berdiri di tepian jurang saat ini?
Yang apabila salah melangkah, maka ia akan terjatuh hingga ke dasar jurang itu.
"Glori, semua orang boleh memiliki teman. Tidak terkecuali kamu. Memangnya kenapa jika aku ingin menjadi temanmu? Hm?"
"Apakah aku ini tidak pantas dijadikan teman?" tanya Ardo lagi.
Pertanyaan Ardo yang satu ini membuat Gloria seperti tertampar halus. Bahwa sesungguhnya ia lah yang tak pantas untuk Ardo. Kalau seperti ini ia malah jadi tak enak hati terhadap Ardo.
Ia lantas menggeleng. "Bukan. Bukan seperti itu maksud saya."
"Lalu?" Ardo masih belum menurunkan tangannya dari wajah Gloria. Dan kini, sebelah tangannya malah ikut menyentuh sebelah wajah Gloria. Kedua tangannya menangkup wajah mungil Gloria. Ditatapnya lekat-lekat wajah itu.
"Saya ... Saya ..." Melihat wajah Ardo yang perlahan mulai mendekat, membuat tubuh Gloria panas dingin. Ia mulai gemetaran, napasnya mulai terasa sesak, jantung berdegup kencang, serta aliran darah berdesir. Rasa yang menyerangnya saat ini serupa dengan gejala serangan jantung.
Sampai seperti ini rasanya bagi Gloria bila di dekati Ardo. Ia selalu saja gugup. Meski sebenarnya, dalam hati kecilnya, ia menyukainya.
Sejak kapan perasaan itu hadir, ia tak tahu. Yang ia tahu, ia merasa senang bisa berada dekat dengan Ardo. Walau seringkali ia menyangkal perasaannya sendiri. Agar Ardo tak menganggapnya wanita yang terlalu mudah ditaklukkan.
Hampir saja bibir Ardo menyentuh bibirnya saat ia dengan cepat menundukkan wajahnya sembari memejamkan matanya.
__ADS_1
"Aku mau." Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulutnya. Membuat Ardo menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis.
"Aku mau apa?" Ardo sangat senang karena akhirnya Gloria tak berbicara formal lagi dengannya. Ia masih belum menurunkan kedua tangannya yang mendekap wajah Gloria.
"Aku mau jadi temanmu," ucap Gloria masih menundukkan wajahnya malu.
"Benarkah?"
Gloria mengangguk. "Iya."
"Kamu yakin?"
Gloria kembali mengangguk. "Iya. Aku yakin. A-aku mau jadi temanmu."
"Kalau begitu, apakah aku juga bisa menjadi teman yang spesial di hatimu?"
Sontak Gloria membuka matanya. Lalu mendongak, menatap lekat mata Ardo. Yang sedikitpun tidak menampakkan bahwa pria itu sedang bercanda.
"I-itu ... A-aku ..." Ah, ya ampun. Mengapa susah sekali mengatakan IYA untuk soal yang satu ini?
"Glori, jawablah. Bolehkah aku ..."
Belum sempat Ardo menyelesaikan kalimatnya, Gloria telah lebih dulu beranjak meninggalkannya. Wajah Gloria bersemu merah dan sempat tertangkap penglihatan Ardo.
"Glori ..." panggil Ardo menyusul langkah Glori dari belakang.
Namun Glori tidak menghentikan langkahnya. Gloria malah menoleh ke belakang sejenak sembari mengukir senyum manisnya. Hingga membuat Ardo kegirangan.
"Yes!"
Walaupun Gloria tidak mengatakannya secara langsung, paling tidak, senyuman Gloria sudah memberikan jawabannya. Yang berarti, selangkah lagi Ardo sukses menaklukkan wanita itu.
Ardo semakin tak sabar lagi menunggu hari dimana Gloria benar-benar tunduk dan takluk kepadanya. Meski Gloria terkesan susah ditaklukkan, ia akan berusaha. Bukan Ardo namanya bila tak pandai memanfaatkan keadaan.
Bersambung
__ADS_1