Gara-Gara Kamu

Gara-Gara Kamu
Bab 93. Menjadi Milikmu


__ADS_3

Bab 93. Menjadi Milikmu


Gloria hendak meraih retsleting di balik punggung. Hendak membukanya saat tiba-tiba sebuah sentuhan terasa di pundaknya. Disertai bisikan sensual di telinganya terdengar.


"Mau aku bantu membukanya, Sayang?" bisik Ardo tersenyum nakal.


Pelan Gloria menggeleng. "Aku bisa sendiri kok," tolaknya halus.


Namun penolakannya itu tidak berlaku bagi Ardo. Perlahan Ardo menggeser tubuh Gloria untuk berdiri di depan cermin meja rias. Sambil memandangi pantulan mereka di dalam cermin itu, Ardo kembali berbisik.


"Diantara kita sekarang sudah tidak ada batasan lagi, Glori. Kamu milikku dan aku pun milikmu. Kamu tahu itu?"


Kalimat Ardo yang satu ini sukses membuat Gloria berdebar-debar. Bahkan bulu romanya meremang kala satu kecupan lembut berlabuh di ceruk lehernya. Memberinya rasa panas dingin yang merambat cepat di sekujur tubuhnya.


Belum lagi retsleting itu perlahan mulai diturunkan. Membuat punggungnya sedikit terbuka, sehingga hawa sejuk pendingin ruangan menyeruak masuk membelai kulit punggungnya.


"Sekarang aku adalah suamimu. Apa kamu tahu betapa aku sangat menantikan hari ini?" bisik Ardo lagi di telinga Gloria. Bersamaan dengan belaian lembut menelusup dibalik gaun, menyusuri sepanjang garis punggung.


"Aku berhak meminta hak ku sebagai suamimu. Dan aku bebas melakukan apapun yang aku mau padamu." Lagi-lagi bisikan Ardo membuat Gloria berdebar-debar.


Dan yang membuat Gloria lebih berdebar lagi, manakala si gaun pengantin itu malah terjun bebas dalam sekali tarikan. Sehingga menampakkan keindahan daksanya dari balik dalaman tipis yang ia kenakan.


Ia bahkan sampai menunduk saking malu memandangi pantulan dirinya di dalam cermin itu.


"Kenapa?" tanya Ardo sembari memutar tubuh Gloria, membawanya berhadapan dengannya. Kemudian dilepasnya jas pengantin yang ia kenakan.


"Aku malu." Andai Ardo bisa melihat semburat merah di wajahnya kali ini lebih menyerupai blush on menor yang membuat wajahnya merah merona. Lantaran rasa malu yang teramat sangat.


Menarik sudut bibir membentuk senyuman manis, Ardo membawa jemarinya menyentuh dagu Gloria. Memberikan sedikit tekanan, sampai kepala Gloria mendongak. Namun matanya terpejam. Tak sanggup menatap Ardo dari jarak yang terlalu dekat.


"Kenapa harus malu? Bukankah aku ini suamimu?" ucap Ardo mengusapkan ibu jarinya di bibir Gloria.

__ADS_1


"You are so beautiful tonight, Baby (malam ini kamu sangat cantik, Sayang)" sambung Ardo merayu.


Yang otomatis membuka mata Gloria yang terpejam. Memberinya hamparan wajah Ardo yang terlihat sendu dengan sorot mata terselimuti ga irah. Yang sekian lama terpasung dalam jiwa. Dan mungkin, Ardo tak kan sanggup lagi membendungnya malam ini.


Malam yang telah lama Ardo nantikan ini, sebisa mungkin ia akan membuatnya menjadi berkesan. Tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk istri tercintanya. Untuk menghapus kenangan masa lalu, yang hampir menyisakan trauma mendalam bagi sang istri.


"Aku tahu apa yang membuatmu cemas. Kamu tidak perlu memikirkan apapun mulai sekarang. Yang harus kamu pikirkan adalah tentang kita," ucap Ardo meyakinkan Gloria.


"Tapi aku sedang hamil sekarang. Kata dokter, usia kandunganku ini masih rentan." Gloria mengelak, demi menghindari yang dinamakan malam pertama. Padahal mereka sudah beberapa kali melakukannya. Namun entah mengapa masih saja membuatnya gugup dan berdebar-debar.


Dan hal itu malah membuat Ardo tergelak. Ia tahu Gloria berusaha menghindar.


Akan tetapi Gloria salah. Menghindari macan yang sedang kelaparan itu bukan ide yang bagus. Sebab macan tidak akan membiarkan mangsanya lepas begitu saja sebelum kenyang. Kenyang melahap mangsa empuk nan menggiurkan ini.


"Tenang saja, Sayang. Aku hanya ingin menjenguk baby kita ini sebentar saja." Sambil mengusap perut Gloria.


"Tapi baby nya tidak mau dijenguk sekarang."


Hembusan napas hangat Ardo yang terasa menerpa kulit wajah, membuat Gloria semakin berdebar-debar, aliran darah berdesir hebat, serta sekujur tubuhnya mulai merinding.


Perlu diingatkan kembali, bahwa didekati Ardo itu rasanya seperti didekati makhluk halus. Membuat tubuh panas dingin, meriang tak ada obatnya, serta bulu roma berdiri tegak.


Refleks, Gloria memejamkan matanya. Seiring debaran dalam dada yang kian menghentak. Ia tahu, ia tak berdaya upaya membantah apalagi melawan Ardo. Di depan Ardo, dirinya tak ubahnya anak kelinci imut, yang tidak bisa berbuat apa-apa.


Dengan hati berdebar-debar, ia menunggu tindakan apa yang akan dilakukan Ardo. Meski sebetulnya, ia tahu betul apa yang seharusnya terjadi di malam pertama sepasang pengantin.


Beberapa saat menunggu, Gloria merasakan tubuhnya terangkat, melayang di udara. Sontak ia pun membuka matanya. Tak ia duga, ternyata Ardo mengangkat tubuhnya ala bridal. Membawanya ke tempat tidur, membaringkannya perlahan dan sangat hati-hati.


"Aku memahami betul keadaanmu. Untuk itu aku akan melakukannya pelan. Aku akan berhati-hati. Jadi kamu tidak perlu cemas. Kamu hanya perlu menikmatinya saja. Hm?" ucap Ardo lirih sembari mulai melepas tautan kancing kemeja satu per satu.


Membuat pernapasan Gloria serasa tercekat. Detak jantung pun ikut terhenti sesaat. Sungguh Gloria dibuat gugup seketika. Ini bukan yang pertamakali mereka melakukannya. Tetapi rasanya seolah ini adalah yang pertama.

__ADS_1


"Tapi ..." Gloria sadar betul tidak akan mungkin lagi ia menghindar. Tapi patutlah dicoba untuk berkompromi. Siapa tahu Ardo bisa mengerti bahwa ia belum sepenuhnya siap.


"Tapi apa? Kamu tahu kan kalau aku ini tidak suka penolakan?"


"Bukan. Bukan itu maksudku."


Namun Gloria terhenyak kemudian, begitu Ardo mengungkungnya tanpa sehelai benang pun. Secepat kilat Ardo membuka pakaiannya tanpa ia sadari.


"Lalu apa? Hm?"


"Aku ... Aku ..." namun sayangnya, Gloria tak diberi kesempatan untuk berkilah. Sapuan hangat bibir Ardo terlalu cepat berlabuh di bibirnya, membungkam kalimat yang hendak ia utarakan.


Ardo terlalu lihai bermain-main dengannya, terlalu pandai melambungkannya. Sehingga ia tak kuasa menolak.


Padahal, ia bukanlah seorang penari latar. Namun dibawah kungkungan serta permainan Ardo, tubuhnya menari-nari indah. Mengimbangi setiap gerakan Ardo. Yang dalam sekejap saja telah mampu membuainya, terbang sampai langit ke tujuh.


Seperti keinginan Ardo, malam ini akan menjadi malam yang paling berkesan bagi Gloria. Sebab malam ini, perjalanan mendaki menuju puncak asmara terasa panjang dan melelahkan. Sampai keduanya tertidur lelap dengan saling memeluk.


...


Sinar mentari pagi yang menembus celah jendela, merayap melalui tirai yang tersingkap itu membangunkan Gloria.


Ia mengerjap, menatap nanar ke seisi ruangan. Namun ia dikagetkan oleh lengan kokoh yang melingkari pinggangnya.


Ia lantas menoleh, dan mendapati wajah tampan sang suami yang tersaji di depan matanya. Dan berada terlalu dekat dengan wajahnya.


Senyuman manis di pagi hari terbit di wajah Gloria. Menatap wajah Ardo, membuat sekelebat bayangan semalam melintas. Masih terbayang di pelupuk mata, bagaimana hangat dan lembutnya sikap Ardo memperlakukannya semalam. Membuat hatinya berdebar bahagia.


Menatap wajah itu tak pernah membuatnya bosan. Seolah sejuta keindahan ada di sana. Lalu tanpa ia sadari, mungkin terdorong oleh perasaan berbunga-bunganya, hingga ...


CUP

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2