Gara-Gara Kamu

Gara-Gara Kamu
Bab 52. Harapan Yang Terhempas


__ADS_3

Bab 52. Harapan Yang Terhempas


Gloria baru kembali dari pantry. Baru saja langkahnya melewati ambang pintu ruang divisinya, tiba-tiba seseorang terdengar memanggil namanya.


"Gloria."


Ia menghentikan langkahnya, lalu menoleh. Seorang perempuan datang menghampiri.


"Anda yang bernama Gloria?" tanya perempuan itu. Yang juga merupakan karyawan perusahaan ini. Dapat dikenali dari tanda pengenal yang menggantung di lehernya.


"Iya. Ada apa ya?" Ia bertanya-tanya dalam hati. Apa gerangan yang membuat karyawan bagian desain datang menemuinya.


"Ibu Kepala ingin bertemu dengan Anda."


"Ib-Ibu Kepala?" Jujur, jantungnya deg-degan begitu mendengar Kepala Desainer ingin bertemu dengannya. Yang tidak lain adalah ibunya Ardo.


"Iya. Beliau sedang menunggu Anda di ruangannya."


Ia mengangguk cemas. "B-baiklah."


"Mari, ikut saya."


Ia pun menurut, mengikuti langkah perempuan itu menuju ruangan Kepala Desainer.


Ia semakin deg-degan begitu pintu ruangan terbuka lebar. Menampakkan Aruna sedang duduk dibalik meja kerjanya. Di sebelahnya, berdiri Reina. Yang tersenyum sinis begitu ia memasuki ruangan.


Aruna mengalihkan perhatian dari ponsel di tangan. Memandangi Gloria yang berdiri di seberang mejanya.


"Silahkan duduk," titah Aruna.


Bergegas ia mengambil duduk di depan meja Aruna. Mere mas jari jemarinya resah, cemas bila Aruna nanti bertanya perihal hubungannya dengan Ardo. Tetapi, bukankah selain dirinya sendiri dan Ardo, tidak ada yang mengetahui hubungan mereka? Lalu untuk apa Aruna memanggilnya ke ruangan ini?


"Tolong tinggalkan kami berdua, Reina," pinta Aruna yang langsung di turuti Reina setelah mengambil kembali ponselnya dari tangan Aruna.


Tinggallah Gloria dan Aruna di dalam ruangan itu begitu bayangan Reina menghilang dibalik pintu yang menutup.


"Bukannya kamu temannya Leona?" tanya Aruna begitu mengenali Gloria.


"Iya, Bu," sahut Gloria takut-takut. Menatap Aruna sejenak lalu memilih menunduk. Sungguh ia dikuasai gugup yang membuatnya berkeringat dingin.

__ADS_1


"Maaf sebelumnya, Gloria. Mungkin pertanyaan yang ingin saya ajukan ini adalah pertanyaan yang sangat pribadi. Yang mungkin saja akan membuatmu tersinggung," ucap Aruna menjeda sejenak. Memberi ruang kepada Gloria untuk rileks.


"Menurut info yang saya dapat, kamu itu sudah menikah. Benar?" sambung Aruna bertanya.


"Iya, benar." Sungguh ia masih bingung dan bertanya-tanya, apa gerangan maksud Aruna bertanya tentang kehidupan pribadinya. Apakah ini juga ada sangkut pautnya antara hubungannya dengan Ardo?


"Artinya kamu ini adalah wanita yang sudah bersuami. Selain sebagai atasan mu, ada hubungan apa antara kamu dan Ardo?"


Hal yang membuat Gloria bertanya-tanya hingga membuatnya resah itu akhirnya terjawab sudah. Aruna mungkin sudah bisa membaca kedekatannya dengan Ardo. Dan entah dari mana pula Aruna bisa mengetahui hal ini.


Dan sekarang, haruskah ia jujur?


Bila ia jujur, apakah Aruna akan merestui hubungan mereka?


Ia akui, Ardo bukan pria yang pantas bersanding dengannya. Kesenjangan yang mereka miliki seumpama langit dan bumi. Yang takkan pernah bisa menyatu sampai kapanpun.


"Saya hanya ingin tahu, sejauh mana kedekatan kalian berdua selain sebagai atasan dan bawahan," tambah Aruna memperjelas pertanyaannya.


Gloria semakin gugup. Ia tahu persis, hubungannya dengan Ardo tak kan pernah bisa mendapatkan restu dari orang tua Ardo sendiri. Sebab status yang melekat dalam dirinya merupakan aib bagi Ardo. Lagipula, mana ada orang tua yang akan membiarkan putranya menjalin hubungan dengan wanita yang sudah bersuami dan menjadi perusak rumah tangga orang.


Aruna sebetulnya tidak tahu menahu perihal kedekatan Gloria dengan Ardo, sampai Reina datang kepadanya memperlihatkan video berdurasi singkat. Yang merekam Ardo dan Gloria keluar dari gudang peralatan sambil tersenyum-senyum.


Aruna tahi betul seperti apa putranya itu. Yang suka bermain perempuan. Aruna hanya mencemaskan bila sang putra melakukan kesalahan dengan mengencani istri orang. Padahal di luaran sana, ada banyak sekali gadis-gadis cantik yang lebih pantas menjalin hubungan dengannya.


Seperti kata Dicko. Tidak masalah bila perempuan itu berasal dari keluarga menengah, tidak mengapa bila perempuan itu bukan berasal dari keluarga yang terpandang. Sebab harta dan tahta tidak menjadi ukuran untuk sebuah kebahagiaan. Tidak mengapa bila si perempuan memiliki kesenjangan sosial dengan keluarga mereka.


Aruna dan suami akan memberi restu bila memang mereka saling mencintai satu sama lain. Ardo dibebaskan memilih wanita yang ia sukai. Asalkan bukan istri orang. Dicko sudah menegaskan hal itu kepada Ardo. Namun agaknya, Ardo tidak mengindahkan nasehat Dicko.


"Saya berharap kamu berkata jujur," ucap Aruna. Masih menunggu Gloria membuka suara.


Gloria terlalu takut mengakui perihal hubungannya dengan Ardo. Yang sudah sangat jelas tidak akan menuai restu. Malah akan mengundang kemurkaan orangtua Ardo.


"Saya ..." Gloria masih belum memiliki keberanian. Ia hanya tak sanggup melihat reaksi Aruna nanti bila ia berkata jujur.


"Apakah Ardo mengganggumu?" tanya Aruna lagi. Sebab ia tahu betul seperti apa putranya itu.


"Tolong katakan yang sejujurnya."


Gloria menggeleng dengan wajah tertunduk.

__ADS_1


"Saya mendapat kabar, bahwa kalian berdua pergi ke luar kota. Saya tahu, kepergian kalian itu atas dasar tugas dari kantor. Tapi apakah kamu bisa menjamin bila tidak ada yang terjadi selama kalian berada di luar kota? Apalagi dari yang saya lihat, sepertinya kalian memiliki kedekatan." Aruna menghela napas sejenak. Lalu menyandarkan punggung.


"Saya hanya tidak ingin putra saya satu-satunya menjadi pengganggu rumah tangga orang," sambung Aruna. Berharap Gloria membalas setiap kalimatnya.


"Pak Ardo tidak mengganggu saya, Bu," ucap Gloria takut.


"Lalu?"


"Sa-saya ... Saya mencintai Pak Ardo." Sumpah, entah keberanian darimana tiba-tiba datang merasuki Gloria. Bukan hanya berkata jujur, ia bahkan berani blak-blakan, bicara berterus terang tentang perasaannya terhadap Ardo. Ia nekat memilih cara ini, agar Ardo tidak terlalu dipersalahkan bila rumah tangganya hancur di masa depan nanti. Sebab rumah tangga yang tak berpondasi itu sudah seharusnya roboh, menjadi puing-puing kehancuran.


Aruna tidak terlalu terkejut mendengar kejujuran Gloria. Sebab dahulu kala, ia pun pernah mengalami hal serupa. Dimana ia mencintai Dicko namun masih terikat tali pernikahan dengan Bram, adik Dicko sendiri.


Jadi, menemui hal seperti ini tiba-tiba, sekurang-kurangnya ia bisa memahami dan memaklumi perasaan Gloria.


"Gloria, maaf, apakah rumah tanggamu sedang bermasalah?"


"Ti-tidak, Bu."


"Jika memang tidak ada masalah dengan rumah tanggamu, lalu kenapa kamu melakukan hal seperti ini? Bila seorang istri memiliki perasaan terhadap pria lain, bukankah itu artinya si istri berkhianat?"


Ucapan Aruna serasa menampar Gloria halus. Bary memang memperlakukannya buruk sejak awal pernikahan. Namun kini Bary berusaha merubah sikap dan perlakuan kasarnya. Bahkan Bary tengah mengupayakan membangun hubungan yang baik dengannya. Sebagaimana hubungan suami istri yang seharusnya.


"Apakah suamimu tidak bersikap baik terhadapmu?" Pertanyaan Aruna yang satu ini membingungkan Gloria untuk memberikan jawabannya. Bary memang tidak bersikap baik, tetapi itu dahulu.


Gloria menggeleng pelan, semakin menundukkan wajahnya malu. Berani-beraninya ia mengakui perasaannya terhadap Ardo. Yang sudah sangat jelas tidak akan ada yang menyukainya. Dan harapannya untuk hidup bahagia bersama Ardo harus terhempas. Ia harus kembali kepada kenyataan bilamana hubungannya dengan Ardo lebih dari tidak mungkin.


Mustahil bersatu.


"Gloria, maaf, saya harap kamu bisa mempertimbangkan omongan saya. Simak baik-baik apa yang akan saya katakan ..."


_____


Dengan wajah lesu Gloria melangkah keluar dari ruangan Aruna. Setelah hampir satu jam lamanya ia berbincang dengan Aruna. Lebih tepatnya di interogasi, yang membuatnya harus menahan malu. Malu lantaran dengan berani mengakui perasaannya terhadap Ardo.


Entah dari mana pula Aruna mengetahui kedekatannya dengan Ardo. Hingga membuat karirnya terancam hancur. Bahkan hubungannya dengan Ardo pun terpaksa harus kandas di tengah jalan. Sebelum Ardo sempat memperjuangkannya.


Sementara Gloria tengah dirundung duka, di seberang sana, Reina tengah tersenyum-senyum puas melihat wajah muram Gloria. Tidak sia-sia ia merekam dengan kamera ponselnya saat Ardo dan Gloria keluar dari gudang peralatan. Gelagat keduanya saat itu sangat mencurigakan.


Aruna semakin percaya ada keganjilan antara Ardo dan Gloria, ditambah lagi omongan Reina yang suka mengompori Aruna bahkan menjelek-jelekkan Gloria di depan Aruna. Hingga dengan mudahnya Reina memprovokasi Aruna. Sampai Aruna mempercayai setiap omongannya.

__ADS_1


"Rasain. Setelah ini, kamu tidak akan selamat dari amukan Bary, Glori sayang," gumam Reina tersenyum sinis, mengintip Gloria dari balik dinding.


Bersambung


__ADS_2