Gara-Gara Kamu

Gara-Gara Kamu
Bab 73. Permintaan


__ADS_3

Bab 73. Permintaan


"Ardo, apa kita pulang sekarang? Atau masih ada yang ingin kamu ..."


"Ardo." Suara Dicko memanggil menyela kalimat Bram seketika.


Serentak mereka menoleh, memandangi Dicko dan Aruna yang melangkah terburu-buru menghampiri.


"Bagaimana perkembangannya?" tanya Dicko cemas memandangi Ardo. Namun Ardo, malah melempar pandangannya kepada Gloria.


Ada rasa enggan bagi Ardo meninggalkan Gloria sendirian. Ingin rasanya ia menemani sepanjang waktu. Bila keadaan mengijinkan. Tetapi apalah daya, keadaan tidak memungkinkan.


Bila ia terlihat selalu bersama Gloria, maka akan semakin memberatkan bagi Gloria. Kenyataan perselingkuhan diantara mereka akan semakin kentara. Dan orang-orang pun akan semakin mencibir juga mencemooh Gloria.


Bahkan pernyataan Gloria kepada pihak yang berwajib, bahwa tidak ada hubungan apapun diantara mereka selain mantan atasan dan bawahan, menguatkan pernyataan Gloria bilamana Ardo lah orang yang sering membantu dikala ia susah.


Mungkin akan lebih baik, bila sementara waktu ia menjaga jarak dari Gloria. Tetapi bukan berarti ia menjauh.


"Tenang, Kak. Ardo aman," sahut Bram menepuk pundak Dicko.


"Kak Dicko tidak perlu cemas. Ardo, gimana? Kita pulang sekarang?" Bram melempar tanya kepada Ardo yang masih memandangi Gloria di seberang.


Merasa seakan ada yang memperhatikan, Gloria menoleh ke belakang sejenak. Dan mendapati Ardo yang tengah memandanginya dengan wajah sendu. Ada gurat kesedihan yang tampak. Meski hanya tergambar dari raut wajah, namun Gloria bisa merasakan kesedihan Ardo.


Seakan ada ikatan yang tak terlihat, batin seakan menyatu. Gloria pun bisa merasakan juga memahami perasaan Ardo saat ini.


Cepat, Gloria pun kembali menoleh. Menghindari saling menatap lebih lama. Ia memilih fokus kepada pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan petugas.


"Ardo." Sembari menepuk lembut pundak Ardo, Bram memanggilnya lirih. Menyentak Ardo, mengalihkan perhatiannya dari Gloria.


"Kita pulang sekarang? Atau kamu ..." Bram mengerti akan kecemasan Ardo. Yang kentara dari gelagatnya, sesekali melirik Gloria. Bahkan kehadiran orangtua nya bagai makhluk tak kasat mata di depannya.


"Uncle tahu apa yang kamu cemaskan. Uncle sudah menitip pesan tadi sama temannya, agar menjaganya dengan baik. Lagipula, bajingan itu mungkin tidak akan dibebaskan." Bram berbisik di telinga Ardo. Agar tak sampai terdengar oleh Dicko dan Aruna, yang jelas-jelas menentang hubungan terlarang Ardo.


Mungkin Dicko dan Aruna tak ingin berkaca dari masa lalu. Mereka tak ingin apa yang pernah mereka lalui terjadi kepada sang putra. Sebab perjalanan asmara seperti serupa itu tidak akan menemui jalan yang mulus. Akan selalu ada aral dan rintangan yang menghadang. Bahkan jalan terjal mendaki pun harus dilalui.

__ADS_1


Dicko dan Aruna tak ingin sang putra melalui banyak luka untuk mendapatkan cintanya. Sebab perjalanan cinta seperti ini terkadang melelahkan. Yang kita tidak akan pernah tahu seperti apa akhir ceritanya nanti.


"Pulanglah bareng Uncle mu," ucap Dicko. Meski ia kecewa dengan sang putra, namun cinta kasihnya masihlah teramat besar. Terlebih, Ardo adalah putra satu-satunya.


"Pulanglah, Ardo. Beristirahatlah. Besok, Opa mu memintamu datang menemuinya. Ingat ya, Nak. Tolong jangan bikin Opa mu lebih marah lagi," ucap Aruna menimpali. Baru beberapa menit lalu Opa Danu menghubunginya dan suami, mewanti-wanti agar sang cucu sesegera mungkin mengakhiri hubungannya dengan Gloria.


Bukan tanpa alasan, Aruna menaruh kecemasan yang sangat akan hubungan terlarang Ardo. Sebab dahulu kala, peristiwa berdarah sempat mereka lalui untuk sebuah hubungan yang tak direstui. Ia hanya tak ingin Ardo menemui kesulitan serta kesialan atas hubungannya yang tak mendapat restu.


"Pulang aja dulu, Do. Kalo Lu butuh bantuan, tinggal hubungi aku. Kapanpun aku selalu siap membantu," ucap Donal memberi dukungan terhadap Ardo.


"Iya, bener Do. Aku juga akan selalu membantumu. Kapanpun kamu membutuhkan, aku always ready di tempat. Kamu tenang aja. Tidak perlu mencemaskan apapun," ucap Brian menimpali.


Ardo mengulum senyum. "Thanks Bro. Kalian adalah teman terbaikku." Sembari mengepalkan tinju kananya. Yang disambut oleh kepalan tinju Donal dan Brian.


"Ayo." Bram meraih pundak Ardo, melingkarkan lengan kanannya di pundak itu. Sembari mengajaknya bercanda, mengambil langkah perlahan meninggalkan kantor polisi.


Baru beberapa langkah saja, terdengar suara memekik kencang, menyerukan amarah juga kebencian terhadap Ardo. Yang membuat langkah Ardo dam Bram terhenti, serta mengalihkan perhatian yang lain.


"Ardo, kepa rat kamu. Dasar baji ngan. Tunggu saja pembalasanku nanti. Aku tidak akan membiarkanmu hidup. Aku akan mengirimmu ke neraka secepatnya. Dengar kamu!" seru Bary lantang mengancam, berang berapi-api. Dengan amarah yang tak tertahankan. Lengkap dengan raut wajah menyeramkan. Bary tengah diseret petugas, hendak memasukkannya ke jeruji besi.


Gloria tahu bila Bary tak hanya sekedar mengancam apalagi menakuti. Tetapi bila Bary telah bertekad, maka Bary akan berusaha mewujudkan tekadnya. Gloria tahu betul manusia seperti apa suaminya itu.


Ardo merasa terpancing mendengar ancaman Bary. Ardo hendak membawa langkahnya menghampiri, namun Bram mencegah.


"Tidak perlu kamu meladeni orang seperti itu. Jika kamu ladeni, kamu sama saja seperti dia. Ayo." Bram kembali merangkul pundak Ardo, mengajaknya meninggalkan tempat itu segera.


Ardo tak menggubris lagi seruan-seruan kebencian yang dilontarkan Bary berapi-api kepadanya. Ia mengikuti saran Bram, meninggalkan tempat itu segera.


Untuk urusan Gloria, Ardo telah mempercayai Reva. Sahabat terdekat Gloria satu-satunya. Setidaknya, Reva bisa menemani Gloria sementara waktu. Dan kecemasannya sedikit berkurang. Mengingat Bary telah berada dibalik jeruji besi saat ini. Tidak akan mungkin lagi pria keji itu bisa menyakiti Gloria.


.....


Gloria telah selesai dimintai keterangan. Dan ia diperbolehkan pulang. Ditemani Reva, yang setia mendampinginya, Gloria membawa langkahnya pelan hendak keluar dari kantor kepolisian setempat. Namun harus terhenti di ambang pintu, saat seorang wanita paruh baya telah berdiri di ambang pintu, menghalangi jalannya.


"Bisa kita bicara sebentar?" pinta Aruna menatap Gloria serius. Di seberang, Dicko tengah berbicara empat mata dengan salah seorang petugas yang membawa Ardo ke kantor polisi ini. Dicko sedang memastikan status Ardo yang hampir saja menjadi tersangka penculikan. Dikarenakan laporan Bary yang terlalu berlebihan.

__ADS_1


Gloria menghela napas, menoleh sejenak, menatap Reva. Melalui isyarat mata, Gloria meminta waktu sebentar. Yang diangguki setuju oleh Reva, lalu mengambil langkah menjauh, memberi jarak antara dirinya dengan Gloria dan Aruna.


Aruna mengambil langkah lebih dulu begitu Gloria mengiyakan. Di selasar kantor kepolisian sektor tersebut terdapat sebuah bangku panjang. Aruna mengajak Gloria mengambil duduk di bangku tersebut.


"Maaf sebelumnya jika ada kata-kata saya yang akan menyinggung perasaanmu nanti," ucap Aruna membuka obrolan empat mata.


Menundukkan wajah tak berani menatap wajah ibunda Ardo, Gloria didera rasa malu. Sebab karena dirinya Ardo terseret ke dalam masalah. Bahkan karenanya, nama baik keluarga Anggara telah dipermalukan. Gloria sungguh merasa teramat sangat bersalah. Seharusnya, sejak awal ia menghindari dan tidak meladeni Ardo.


Namun apalah daya, Ardo terlalu pandai merayu. Hingga ia telah terlanjur terjatuh ke dalam pesona pria itu. Sampai ia tidak lagi memikirkan konsekuensi dari hubungannya.


"Kali ini saya memohon dengan sangat sama kamu, tolong jauhi dan tinggalkan Ardo. Bukannya saya melarang kamu berhubungan dengan anak saya. Tapi tolong kamu pikirkan juga resiko yang harus kalian hadapi. Saya hanya tidak mau terjadi sesuatu yang buruk terhadap anak saya nanti. Apalagi setelah melihat secara langsung seperti apa tabiat suami kamu," sambung Aruna memelankan nada suaranya.


Kembali Gloria menghela napas. Rasa malu bahkan penyesalan kian menyesakkan dada. Ditambah lagi dengan permintaan Aruna, yang membuat rasa sesak kian memenuhi da danya. Hingga sakit pun mulai menusuk. Memberi perih yang membuat hati ingin menjerit pilu. Cintanya harus kandas, harus berakhir di tengah jalan yang terjal.


"Camkan ucapan saya baik-baik. Kami sekeluarga tidak akan memberi restu untuk hubungan kalian berdua. Anak saya sudah saya jodohkan sejak kecil dengan putri dari sahabat suami saya. Jadi tolong, jauhi Ardo bila kamu masih memiliki harga diri." Sengaja Aruna mengatakan bila Ardo telah dijodohkan. Semata-mata hanya agar Gloria menuruti permintaannya. Demi nama baik keluarga. Serta demi masa depan Ardo sendiri.


....


"Bram." Suara Opa Danu terdengar memanggil begitu Ardo melangkah memasuki rumah, hendak menuju kamar pribadi.


Bram menghentikan langkah, lalu memutar tubuh. Dipandanginya Opa Danu yang berjalan menghampiri, dibantu oleh topangan tongkatnya.


"Bagaimana dengan Ardo?" tanya Opa Danu.


"Aman Pa. Beres. Papa tidak perlu khawatir lagi. Semuanya sudah selesai."


Opa Danu bernapas lega. Sebab semula ia mengira bila sang cucu kesayangan akan menjadi tahanan.


"Oh ya. Lalu bagaimana dengan putrinya Darma? Apakah kalian sudah menemukan informasi tentangnya?"


"Belum, Pa. Semoga saja Teddy bisa segera mendapatkan informasinya."


"Andai saja Darma masih hidup, Papa ingin sekali menjodohkan Ardo dengan putrinya."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2