
Bab 49. Kapan Pisah?
Sheila telah berjalan lebih dulu, diantar Aruna menuju tempat parkir khusus tamu. Menyisakan Ellena dan Ardo yang masih mengobrol di depan pintu ruangan Dicko, Direktur Utama. Sementara Dicko sendiri memilih masuk. Kembali melanjutkan pekerjaan yang tertunda beberapa saat.
Dari yang terlihat, dari tempatnya berdiri, Ardo tampak nyaman mengobrol dengan Ellena. Terlihat jelas dari bahasa tubuh serta mimik wajah Ardo saat berbicara.
Pun dengan Ellena. Yang tampak berbinar menatap lawan bicaranya. Bahasa tubuh masing-masing memperlihatkan keakraban yang terjalin antara keduanya. Yang diam-diam menghadirkan rasa cemburu di hati Gloria.
Namun, sekali lagi, ia menyadari, dirinya bukanlah wanita yang pantas mencemburui Ardo. Pria yang lebih cocok bersanding dengan Ellena.
Sebetulnya, ia enggan menemui Direktur disaat seperti ini. Namun mengingat Direktur sedang menunggu laporan yang ia bawa, mau tidak mau ia tetap harus melaksanakan tugas dengan baik.
Memantapkan hati, walau ada secuil rasa cemburu, Gloria membawa langkahnya pelan menuju ruangan Direktur dengan menundukkan wajah.
"Permisi," ucapnya santun meminta diberi jalan. Sebab Ardo dan Ellena menghalangi akses pintu ruangan.
"Silahkan." Ardo sedikit bergeser memberi Gloria akses. Cuek, terkesan tidak saling mengenal sikap yang Ardo tunjukkan kali ini. Seolah diantara mereka tidak pernah terjadi apa-apa.
Gloria kecewa. Rupa-rupanya, Ardo sama saja dengan pria-pria lain. Bahkan mungkin, sama saja dengan Bary. Setelah sukses mereguk manisnya lalu membuang ampasnya. Sikap Ardo menyerupai.
Seperti seekor lebah menghisap madu bunga. Yang akan berpindah pada bunga yang lain setelah menghisap madu bunga yang lainnya.
Gloria mengangkat wajah, menatap Ardo sejenak. Yang juga menatapnya dingin. Tatapan yang seharusnya Ardo berikan untuknya sejak awal. Tak ada cinta dan kehangatan di dalamnya.
Tatapan Gloria lalu bergulir kepada Ellena. Yang menatapnya dengan seulas senyum sinis. Tatapan Ellena kepadanya lebih bisa dikatakan tatapan meremehkan.
Ada raut berbeda kala Gloria menatap Ellena. Ardo memperhatikan perubahan raut wajah Gloria dengan mode cuek. Terkesan tidak saling mengenal dan tidak peduli. Namun bila dilihat dari cara Ellena dan Gloria saling menatap, seolah dua perempuan cantik itu sudah saling mengenal sebelumnya.
Menyadari laporan yang ia bawa sedang ditunggu, Gloria pun memilih masuk ke ruangan Direktur. Bayangannya menghilang dibalik pintu ruangan yang menutup. Ardo bahkan tidak menoleh sama sekali.
..
"Saya mengantarkan laporan yang Bapak minta," ucap Gloria sembari menyodorkan map berwarna biru ke tangan Dicko yang telah terulur meraih map itu.
"Siapa namamu?" tanya Dicko sembari membuka map.
"Gloria, Pak."
"Sudah lama kamu bekerja di tempat ini?" Tanpa mengalihkan perhatiannya dari lembaran kertas di hadapannya.
"Hampir setahun, Pak." Takut-takut juga canggung ia menjawabnya. Sebab yang sedang duduk dibalik meja Direktur itu adalah ayah dari pria yang telah mempermainkan perasaannya.
__ADS_1
"Bukannya kamu temannya Leona?"
"Iya, Pak."
"Jadi kamu yang menemani Ardo ke luar kota?"
"I-iya, Pak." Sungguh ia sedikit merasa takut mengakui hal itu. Pasalnya, pergi ke luar kota hanya berdua bersama Ardo itu merupakan hal yang rawan gosip. Bagaimana bila Direktur berpikir yang aneh-aneh terhadapnya.
"Tidak ada yang lain lagi? Hanya kalian berdua?"
"Iya, Pak. Hanya kami berdua."
Dicko menghentikan kegiatannya. Ditutupnya kembali map itu. Lalu memandangi Gloria yang berdiri di seberang mejanya.
Semula, Dicko mengira, putra semata wayangnya itu pergi ke luar kota dengan mengajak beberapa orang bawahannya. Tetapi kabar yang ia terima dari Chika berbeda dari perkiraannya. Chika mengabarkan bahwa Ardo datang bersama seorang bawahan perempuan. Dan dari yang Chika perhatikan diam-diam, mereka seperti sudah dekat.
Maka dari itu, Dicko meminta Chika untuk mengawasi sang putra secara diam-diam. Dicko bahkan meminta nama perempuan yang menemani Ardo.
Dari informasi yang ia dapat dari Andre, asistennya yang ia mintai tolong untuk mencari informasi tentang Gloria. Dan informasi yang ia dapat adalah Gloria ternyata wanita yang sudah bersuami.
Sebetulnya, Chika sempat melihat Ardo dan Gloria berpelukan mesra di teras belakang rumahnya tengah malam. Hingga Chika mengambil kesimpulan bahwa Ardo dan Gloria sangat dekat.
"Kamu sudah menikah, Gloria?"
"I-iy ..." Gloria hendak menjawab saat tiba-tiba Aruna, istri Dicko datang.
"Sayang, kita makan siang di mana nanti?" tanya Aruna berdiri di samping Dicko, melingkarkan lengan kanannya di pundak Dicko.
"Tanya putramu dulu. Dia sudah jarang sekali punya waktu bersama kita. Siapa tahu siang ini dia punya waktu."
"Baiklah." Sembari mengambil ponsel dari dalam tas nya yang terletak di meja kerja suaminya.
"Maaf, Pak. Bolehkah saya kembali melanjutkan pekerjaan saya?" ijin Gloria hendak pamit.
"Iya, silahkan." Sembari membuka tangan kanannya mempersilahkan.
Membawa langkahnya pelan setelah mendapat ijin meninggalkan ruangan itu. Gloria tak ingin salah dalam menjawab pertanyaan Direktur nantinya. Yang entah mengapa malah menanyakan perihal kehidupan pribadinya.
Ia tengah menyusuri koridor hendak ke ruangan divisinya saat tiba-tiba mulutnya dibekap oleh sebuah tangan kekar. Tubuhnya ditarik paksa memasuki sebuah ruangan pengap berisikan peralatan bersih-bersih.
Punggungnya terasa sakit begitu membentur dinding. Ia hendak memberontak, namun sebuah kecupan mendarat cepat di bibirnya. Membungkam kalimat yang hendak ia lontarkan.
__ADS_1
Awalnya ia panik, mengira diculik. Namun kecupan yang mendarat cepat di bibirnya membuatnya mengenali siapa gerangan yang membawanya ke sebuah gudang peralatan yang berudara pengap juga bau.
Richardo.
Ia terengah-engah begitu Ardo melepas tautan bibir. Rongga dadanya kembang kempis kekurangan pasokan oksigen. Tindakan tak terduga Ardo sungguh menyerupai seorang penculik cabul.
"Kamu sudah gila ya? Bagaimana kalau ada yang melihat kita? Aku tidak mau membuat heboh kantor kalau sampai kita ketahuan." Gloria melayangkan protes, tak terima dengan perlakuan semena-mena Ardo. Yang sebetulnya membuatnya senang.
Namun hati senangnya mendadak tertutupi kabut kekecewaan manakala ia mengingat sosok jelita, anggun nan berkelas yang mengobrol bersama Ardo di depan pintu ruangan Direktur beberapa saat lalu. Ia bisa melihat dengan jelas dalam sorot mata Ardo bila ada ketertarikan terhadap wanita itu.
"Mana janjimu padaku?" pinta Ardo menagih.
"Janji? Janji apa?"
"Jangan pura-pura lupa, Glori. Kamu pikir aku senang melihat laki-laki itu mengantarmu?"
Rupanya itu maksud Ardo. Melihat Bary mengantar Gloria pagi ini, membuat darahnya mendidih. Amarah yang mulai mencuat itu berusaha ia redam.
"Bukankah kamu sudah menemukan seseorang yang lebih pantas bersamamu?" Gloria tak bisa menahan rasa cemburunya bila mengingat bagaimana akrabnya Ardo dengan Ellena.
"Jangan mengalihkan pembicaraan. Jawab dulu pertanyaanku, apakah kalian masih tidur dalam satu ranjang?"
"Maaf, aku harus kembali bekerja. Sangat berbahaya kalau ada yang melihat kita berdua seperti ini. Permisi." Cepat ia memutar tubuhnya. Hendak meraih handel pintu, namun dekapan erat dari punggungnya mengurungkan niatnya.
"Aku cemburu, Glori. Aku cemburu melihatmu masih bersama laki-laki itu," ucap Ardo lirih namun terdengar jelas di telinganya.
Rupanya hal inilah yang menyebabkan perubahan air muka Ardo mendadak. Sedari tadi ia bertanya-tanya apa gerangan yang membuat Ardo berubah. Hingga ia mengira Ardo telah mengacuhkannya setelah berhasil mereguk manisnya. Lalu kepincut wanita lain yang lebih menggoda, seperti Ellena misalnya.
"Mana janjimu padaku?" tuntut Ardo lagi.
"Ardo, tolong lepaskan. Gimana kalau sampai ada yang melihat kita?" cemas Gloria.
"Aku tidak peduli."
"Kamu ini sudah gila ya?"
"Kapan kalian akan berpisah?" Ardo malah memberinya pertanyaan yang sulit ia jawab. Sebab ia tidak bisa menjamin akan semudah perkiraannya meminta berpisah dari Bary.
"Ardo, maaf ..."
"Aku mau secepatnya. Secepatnya kamu berpisah darinya," sela Ardo.
__ADS_1
Bersambung