
Bab 39. Menguji Adrenalin
Setelah bersih-bersih Gloria bergegas naik ke tempat tidur, menarik selimut sampai batas dada. Di tempat tidur itu, Leni telah berbaring lebih dulu. Leni sedang melihat-lihat fotonya bersama Ardo di ponsel saat ia ikut merebahkan diri disamping Leni.
Leni tersenyum-senyum sendiri menatap layar ponsel yang menampakkan gambar dirinya bersama Ardo.
"Oh ya, Glori. Aku mau tanya," ucap Leni.
Gloria yang baru saja memejamkan matanya, terpaksa membuka kembali kelopak matanya. Lalu menoleh, menatap Leni yang berseri-seri.
"Kamu kan bawahannya Kak Ardo di kantor. Aku cuma pengen tahu, Kak Ardo itu di kantor seperti apa sih?"
"Seperti apa gimana?" Ia mengernyit sebab sejujurnya ia bingung harus menilai Ardo bagaimana. Bila ditanya, hati kecilnya sebenarnya mengagumi sikap Ardo di kantor. Yang berwibawa, mudah berbaur, tidak sombong mungkin. Yah, walau terkadang pria itu sangat pemaksa.
"Sikapnya Glori. Pembawaannya. Cara dia memimpin."
"Oooh ... Itu. Sebenarnya aku kurang pandai dalam hal menilai orang. Tapi menurut aku, Pak Ardo itu orangnya ... Emm ..." Gloria mengingat-ingat sikap yang sering Ardo tunjukkan di kantor. Bagaimana caranya bertutur, keramahannya, bahkan caranya tersenyum kepada bawahan.
Mengingat hal itu malah membuatnya berdebar. Terlebih saat mengingat ciuman mereka di pantai beberapa jam yang lalu. Membuat hatinya kian berdebar-debar.
"Apa dong Glori. Kak Ardo berwibawa gitu ya?" desak Leni tak sabaran.
Gloria mengangguk. "Iya."
"Kak Ardo itu sudah punya pacar tidak?"
Untuk pertanyaan Leni yang satu ini membuat Gloria salah tingkah. Sebab pertanyaan itu menyangkut privasi Ardo. Yang ia sendiri sebenarnya tidak tahu apakah Ardo itu sudah mempunyai seorang kekasih atau belum.
Meskipun Ardo berusaha mendekatinya, tidak menutup kemungkinan bila pria itu telah memiliki seseorang di hatinya. Mungkin saja Ardo mendekatinya hanya untuk bermain-main saja. Sebab seorang bujang tidak akan mungkin mengejar istri orang. Sudah pasti Ardo memiliki wanita lain yang disebut pacar. Hanya saja, ia yang tidak tahu menahu.
Mungkin.
"Kamu kan dekat dengannya. Masa kamu tidak tahu?" Gloria malah melempar pertanyaan itu kembali. Seolah ia pun tengah mengorek informasi dari Leni.
__ADS_1
"Setahu aku sih, Kak Ardo belum punya pacar. Tapi siapa tahu saja Kak Ardo itu punya pacar rahasia. Yang tidak disetujui orangtuanya, lalu mereka backstreet."
"Apa itu?"
"Ya ampun Glori. Pacaran diam-diam. Masa itu saja kamu tidak tahu."
"Oooh ..." Ia ber OH panjang. Yang sebetulnya ia sangat penasaran akan kehidupan pribadi Ardo. Pria nekat dan pemaksa itu telah menjungkirbalikkan dunianya dalam sekejap.
"Kamu ini kurang pergaulan apa gimana sih, Glori. Kolot banget. Saran aku ya, kamu itu jangan terlalu menutup diri. Sekali-kali coba kamu membuka diri. Berusahalah menerima hal baru dalam hidupmu. Oh ya, apa kamu sudah punya pacar?"
Sedangkan untuk pertanyaan yang satu ini, Gloria enggan menjawabnya. Leni tidak harus tahu semua hal tentangnya.
Diliriknya Leni yang telah memejamkan matanya. Dengkuran halus pun mulai terdengar, sebagai penanda bahwasanya perjalanan Leni ke dunia kapuk telah dimulai.
Sedari tadi gadis centil itu mengoceh terus. Membuat kupingnya serasa bising. Ocehan Leni itu seumpama ribuan lebah yang beterbangan. Berdengung, menciptakan suara yang sangat bising. Lama-lama kuping bisa budeg bila terus mendengar ocehannya.
Tak hanya membuat kupingnya budeg, mendengar ocehan Leni juga membuat tenggorokannya kering kerontang. Sehingganya ia membutuhkan paling tidak seteguk air segar untuk membasahi tenggorokannya yang serasa tercekat.
Ia lantas menyibak selimut, perlahan turun dari tempat tidur. Dengan langkah seringan mungkin ia keluar kamar, menuju dapur yang tak jauh dari kamar Leni.
Ia kemudian mengambil gelas dari rak. Lalu beranjak mendekati dispenser. Segera mengisi gelas dengan air minum. Entah mengapa rasa kantuknya belum juga datang. Padahal malam sudah semakin larut.
Ia tengah meneguk air minum saat tiba-tiba sebuah sentuhan terasa di pinggangnya. Yang membuatnya tersentak. Lalu sontak menoleh ke kiri, tetapi tidak ada siapa-siapa.
Mendadak jantungnya berhenti berdetak. Jantung itu pun berhenti memompa aliran darah, hingga wajahnya memucat mendadak. Serta bulu romanya berdiri. Suasana sepi di tengah malam buta itu membuatnya merinding.
Bila di dapur ini hanya ada dirinya seorang, lalu siapa yang menyentuh pinggangnya beberapa saat lalu?
Hantu?
Mendadak ia kesulitan bernapas bila mengingat HANTU. Sesuatu yang paling ia takuti sedari kecil. Jika benar yang menyentuhnya adalah hantu, lalu apa yang harus ia lakukan bila berhadapan dengan hantu?
"Kenapa tegang begitu?"
__ADS_1
Sebuah suara terdengar di kuping kanannya. Sontak ia pun menoleh. Tiba-tiba saja Ardo sudah berdiri di sampingnya. Kehadiran pria itu tak ubahnya hantu. Bagaimana bisa ia tidak menyadari kedatangan pria itu.
Bila begini, ia jadi ragu. Apakah yang berdiri di sampingnya itu adalah Ardo atau hanya hantunya Ardo.
"Kamu pikir aku hantu?" goda Ardo tersenyum tipis. Ia yang merasa haus pun terpaksa mengambil air minum sendiri di dapur. Namun beruntung saat dilihatnya ada makhluk lain sedang minum di dapur. Tak ingin ia melewatkan kesempatan ini, sebelum makhluk itu kembali ke dalam sangkarnya.
"Ternyata kamu penakut," sambung Ardo.
"Geser sedikit. Aku mau minum," titahnya.
Gloria telah selesai dengan urusannya. Diletakkannya gelas itu di meja. Lalu hendak beranjak pergi. Namun sebuah tangan kekar mencekal lengannya hingga langkahnya pun tak sempat mengayun.
"Anda mau apa? Le-lepaskan!" Gloria panik saat Ardo menariknya. Lalu menghempasnya hingga punggung membentur dinding dapur. Ia berusaha membebaskan diri dari kungkungan kedua tangan Ardo yang menempel di dinding.
"Lupa dengan syaratnya?" Ardo menyeringai tipis. Sedari tadi, setelah pulang dari pantai, ia kesulitan memejamkan mata. Ada hasrat yang tak mampu ia bendung. Hingga membuatnya nekat. Nekat menguji adrenalin di keadaan genting. Sebab dapur bukanlah tempat yang tepat untuk melampiaskan hasratnya. Wanitanya mungkin tepat, tetapi tempat sangat rawan kepergok.
Namun bukan Ardo namanya bila tak bisa mengenali situasi dan kondisi. Ardo paling bisa memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
Tak terlihat ketakutan sedikitpun di wajah Ardo. Sementara Gloria cemas juga takut bila tuan rumah melihat mereka berduaan di dapur di tengah malam buta seperti ini.
"Saya tidak lupa dengan syaratnya. Tapi Anda su..." Belum sempat Gloria menyahuti ucapan Ardo, mulutnya telah dibungkam lebih dulu. Secepat kilat, tanpa mampu ia menghindar, Ardo telah memagut bibirnya. Serta mengunci pergerakannya. Sehingga ia tak bisa melawan apalagi membebaskan diri.
Ardo mengajaknya bermain-main di tepi jurang. Yang sekali melangkah, akan jatuh sampai ke dasarnya.
Lalu apa pula yang terjadi dengan dirinya?
Lagi-lagi ia menuruti kata hatinya. Ia membalas setiap lum atan lembut Ardo. Bahkan ia biarkan saja saat jemari Ardo mulai nakal, menyusup dari balik baju tidurnya. Jemari itu perlahan menyusuri punggungnya. Hendak meraih sesuatu dibalik punggungnya.
Jemari Ardo hampir berhasil melepas tautan kain berenda yang menyangga dua asetnya saat tiba-tiba Ardo malah menarik jemari itu kembali. Lalu dalam sekejap lampu dapur menyala terang benderang.
Ardo mengakhiri ciumannya, lalu menarik diri menjauhinya.
"Kalian sedang apa di dapur?"
__ADS_1
Pertanyaan Chika pun mengembalikan kesadaran Gloria seketika.
Bersambung