Gara-Gara Kamu

Gara-Gara Kamu
Bab 90. Pengganggu


__ADS_3

Bab 90. Pengganggu


Hanya dengan mendengar untaian kata indah yang terucap dari bibir Ardo saja, sudah membuat jantung Gloria berdetak kencang, serta aliran darahnya berdesir hebat. Ditambah lagi dengan gelang pemberian Ardo, berikut sebuah cincin bermata berlian yang Ardo berikan untuknya, sukses membuat perasaan haru itu kian menyeruak memenuhi ruang dalam dadanya.


Impiannya sederhana. Ia hanya ingin hidup damai, penuh cinta dan kasih bersama orang terkasih dalam hidupnya.


Namun tak disangka, Tuhan malah memberi lebih dari apa yang ia harapkan. Ardo merupakan pemberian terindah dan terhebat, yang diberikan Tuhan untuknya.


"Yes, i will (iya, aku mau)."


Dengan derai air mata bahagia, ia menyanggupi permintaan Ardo.


Ardo pun lantas memakaikan cincin itu di jemari Gloria yang diulurkan ke depan wajahnya. Kemudian mengecup lembut punggung jemari Gloria.


"Thankyou so much (terimakasih banyak). Aku adalah pria yang paling beruntung bisa memilikimu," ucap Ardo mengulum senyum bahagia. Kemudian meraih Gloria, membawanya ke dalam dekap hangatnya. Menyusul kecupan sayang di puncak kepalanya.


"Aku janji, Glori. Aku akan berusaha menjadi yang terbaik untukmu. Segala cara akan aku lakukan untuk membahagiakanmu. Walau harus memberikan seluruh isi dunia ini, aku akan menyanggupinya. Asalkan bisa membuatmu bahagia."


Sembari membawa kedua tangannya, membalas pelukan Ardo, "Dengan kamu menyayangi dan mencintaiku sepenuh hatimu saja, itu sudah lebih dari cukup untukku. Tidak ada di dunia ini yang lebih membahagiakan aku selain cintamu," ucapnya tersenyum penuh haru.


"Aku sangat mencintaimu," sambung Gloria.


"Benarkah?"


Refleks Gloria menarik kepala yang bersandar di dada bidang Ardo. Kemudian mendongak, menatapnya heran.


"Apa buktinya kalau kamu sangat mencintaiku?" tanya Ardo berbalut tuntutan.


"Ini buktinya." Gloria membawa tangan kanan mengelus lembut perutnya yang mulai tampak membuncit.


Ardo pun tersenyum. Kemudian mendekatkan wajah, untuk berbisik di telinga Gloria, "Bisa tidak kamu itu lebih agresif?"


Gloria membelalak, "jadi genit maksud kamu?"


"Genit terhadap calon suami sendiri itu kan wajar. Malah banyak pahala. Aku sudah capek-capek menyiapkan ini semua hanya untuk kamu. Yah, paling tidak sebagai imbalan. Apa kamu tahu, terkadang pria pun ingin diserang lebih dulu daripada menyerang. Di dekat-dekat sini ada banyak hotel. Gimana? Kamu mau?" Sembari tersenyum genit. Dengan aura yang telah diselimuti gai rah. Entah Ardo serius dengan ocehannya atau hanya sekedar bercanda.


"Aw!" Namun bisikan me sumnya itu malah mendapat imbalan satu cubitan di pinggangnya. Membuatnya meringis, menahan perih.


"Kamu tuh ya?" Gloria melotot gemas. Ingin menyerang Ardo dengan cubitan-cubitan kembali. Namun gagal lantaran Ardo cepat menahan pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Bukan jenis serangan seperti ini yang aku tunggu," protes Ardo akan serangan cubitan Gloria.


"Lalu jenis serangan seperti apa yang kamu mau?"


"Kamu itu wanita dewasa. Paling tidak kamu tahu lah apa yang aku maksud." Ardo tersenyum genit sambil menaikkan sebelah alisnya. Mirip pria-pria genit yang suka menggoda.


"Ish ... Dasar genit."


Ardo membuang napasnya terpaksa. Lalu berpaling muka, seakan ia tengah merajuk.


Sembari tersenyum-senyum melihat tingkah menggemaskan Ardo, perlahan Gloria pun membawa kedua tangannya menangkup wajah Ardo. Membuat wajah tampan yang tengah berpaling itu menoleh kembali.


Bertemu tatap dengan Gloria seperti ini sungguh membuat Ardo tak tahan. Tak tahan ingin menyerbu lebih dulu.


Namun ia menahan diri sejenak. Menunggu respon Gloria akan permintaannya.


Hampir dua bulan ini, jangankan menyalurkan hasrat ke muaranya, bahkan berciu man saja hingga detik ini belum sekali pun ia melakukannya. Hingga ia sedikit memaksa dengan mode merajuk manja.


Perlahan Gloria pun mulai mendekatkan wajahnya, disertai tatapan liar menelisik paras menawan Ardo.


Sementara Ardo, ia diam menunggu. Menunggu dengan hati berdebar-debar. Aliran darah pun ikut berdesir hebat kala wajah Gloria semakin mendekat. Mengikis jarak yang memisahkan.


Menyambut respon Gloria, Ardo memejamkan matanya. Masih menunggu dengan hati berdebar-debar, dan jantung berdetak kencang.


"Aku lapar, Sayang,"" bisik Gloria lembut. Lalu melepas dekapan tangannya.


Sontak Ardo membuka matanya. Lalu disuguhkan senyum culas Gloria. Yang sukses menipunya, membuat keinginan yang telah memuncak itu harus jatuh melorot. Lalu menguap entah kemana.


Memang Ardo mengajak Gloria ke tempat ini, selain ingin melamar Gloria, adalah untuk makam malam berdua di bawah taburan bintang-bintang malam. Persis seperti adegan dalam drama-drama romantis yang sering ia tonton belakangan ini. Sebagai referensi untuk memberi Gloria kejutan.


Namun sayangnya, Gloria malah tak memahami arah pembicaraannya. Hampir dua ia menahan gejolak hasratnya. Sebab ia tahu, ada batasan-batasan serta aturan-aturan tertentu yang harus ia pertimbangkan. Terlebih, keadaan Gloria saat ini yang tengah mengandung buah hati mereka.


Sedikit kecewa, Ardo membuang napas pelan. "Baiklah. Ayo, sebaiknya kita makan dulu."


Ardo lantas berbalik, hendak mengayunkan langkahnya. Saat tiba-tiba saja Gloria malah menarik kuat lengannya. Hingga ia pun berbalik.


Lalu tanpa ia duga, seiring jemari Gloria yang memeluk rahangnya, sapuan hangat bibir Gloria berlabuh cepat di bibirnya.


Ardo terkesiap. Antara terkejut juga bahagia. Apa yang ia minta akhirnya dituruti Gloria.

__ADS_1


Antara menerkam dan diterkam, sebetulnya ia lebih suka menerkam. Ia lebih senang bila menyerbu lebih dulu. Akan tetapi, ia hanya ingin melihat sejauh mana keberanian Gloria menyerbunya lebih dulu.


Sebagai lelaki, tak bisa ia pungkiri, gejolak hasrat di jiwanya tak kuasa lagi ia membendungnya. Rasa itu kian merayu-rayu, hendak menggoyahkan janji yang pernah terucap. Ingin merobohkan benteng hati yang telah ia bangun belum lama ini. Bilamana ia takkan menyentuh Gloria sampai benar-benar telah menjadi miliknya seutuh-utuhnya.


Namun sesapan lembut Gloria sungguh telah membuat benteng itu roboh dalam sekejap mata. Sembari saling memagut mesra, Ardo beringsut perlahan. Meraih kursi yang tak jauh darinya. Menarik kursi itu mendekat, kemudian mendudukinya tanpa melepaskan pagutan.


Ditariknya perlahan Gloria, menuntunnya, membawanya duduk di atas pangkuannya. Hasratnya yang membuncah itu serasa menyiksa. Membuatnya lupa akan keadaan Gloria saat ini.


Gloria menurut. Tanpa melepaskan pagutan, ia duduk di atas pangkuan Ardo. Lalu melingkarkan kedua lengannya di pundak Ardo.


Ditengah deru napas yang kian memburu, Ardo semakin buas. Melahap bibir itu layaknya singa kelaparan. Disertai jemarinya yang mulai mengelana nakal. Hendak menyingkap dress selutut yang dipakai Gloria.


Perlahan-lahan dress itu semakin tersingkap, menampakkan pa ha mulus seputih susu.


Terlupa akan niat awal berada di rooftop ini, keduanya semakin terseret arus gelombang dahsyat. Yang perlahan-lahan menghanyutkan.


Jemari nakal Ardo mulai lihai bergerak. Mengembara dibalik dress, mencari-cari sesuatu yang bisa dijadikan pegangan. Dalam sekali raup memenuhi genggaman.


Di bawah sinar rembulan malam, dibawah taburan gemerlapnya bintang-bintang, dua insan yang terpasung rindu itu saling bercumbu mesra. Semakin lama semakin terlupa diri.


Angin malam yang berhembus tak mampu mendinginkan suasana yang kian memanas itu. Sampai tiba-tiba saja ...


Kruuuuuk ... Kruuuuuk ...


Suara-suara aneh yang terdengar itu pun menghentikan aktifitas mereka. Suara yang berasal dari perutnya itu membuat Gloria tersipu malu.


"Maaf," ucap Gloria malu.


Ardo pun terkekeh, menyadari bila bunyi keroncongan perut Gloria itu telah menjadi pengganggu.


"Seharusnya aku yang meminta maaf. Kamu sedang kelaparan, tapi aku malah memaksamu menuruti keinginanku. Maafkan aku ya, Sayang? Maaf sudah mengabaikan jagoan kecil kita yang sedang kelaparan ini." Sembari membawa jemari, mengelus perut Gloria yang mulai membuncit.


"Kalau begitu, mari kita makan dulu. Lalu setelah itu ..." mendekatkan wajahnya untuk kemudian berbisik di telinga Gloria.


"Aku akan memakanmu."


Bersambung


*Mohon maaf atas jadwal update yang tidak menentu. Kedepannya mungkin slow update. Dikarenakan kondisi kesehatan author yang sedang terganggu. Mudahan-mudahan segera diberi kesehatan biar bisa up seperti biasa lagi. Salam hangat dari author abal2 ini teruntuk teman2 reader dimanapun berada.

__ADS_1


Saranghae❤


Jangan lupa untuk tetap menjaga kesehatan*.


__ADS_2