Gara-Gara Kamu

Gara-Gara Kamu
Bab 66. Percayalah Padaku


__ADS_3

Bab 66. Percayalah Padaku


"Glori," panggil Ardo menaikkan nada suaranya. Namun Gloria sedikitpun tak mengindahkan.


Ardo hendak menyusul Gloria saat sesosok jelita tiba-tiba telah berdiri di hadapannya, menghentikan langkahnya.


"Happy Birthday, Ardo."


Senyum menawan terukir di di bibir Ellena. Yang membuat parasnya kian jelita dengan sorot mata berbinar menatap Ardo.


"Hai, Leona." Ellena melempar senyum kepada Leona yang masih shock dibentak Ardo di depan banyak orang seperti ini. Dan ini adalah yang pertamakalinya.


"Kamu kenapa Leona?" tanya Ellena mengernyit memperhatikan raut wajah Leona yang terlihat seperti sedang menahan tangis.


Leona menggeleng. "Aku tidak apa-apa." Sembari mengulum senyum.


"Oh ya, aku punya sesuatu untukmu, Ardo." Ellena mengangsurkan sebuah paper bag mini kepada Ardo. Yang malah dipandangi Ardo tanpa ada niat meraihnya.


"Apa ini?" tanya Ardo.


"Hanya sebuah hadiah kecil-kecilan. Aku tidak tahu apa yang kamu suka. Tapi semoga saja hadiahku ini kamu suka. Diterima ya?" sembari mengukir senyum semanis mungkin.


Namun, selebar apapun senyum Ellena terkembang, berusaha menarik perhatian Ardo. Tak sedikitpun hati Ardo terusik. Sebab saat ini kecemasan yang menggunung tengah membebani hati dan pikirannya. Ditambah lagi, hubungannya dengan Gloria yang telah berada di ujung tanduk saat ini menjadi sumber kegelisahannya.


Ardo tak menanggapi pemberian Ellena. Ia malah memandang gelisah punggung Gloria yang tengah berlalu, menyeret langkah perlahan. Hingga akhirnya bayangan Gloria menghilang dibalik dinding.


Tak mendapat tanggapan dari Ardo membuat Ellena kecewa. Tangannya masih terulur, namun sedikitpun tak mendapat sambutan. Susah payah ia mencari hadiah yang cocok untuk Ardo setelah bertanya kepada Leona.


Semula ia mengira bila Ardo akan sangat menyukai hadiah pemberiannya nanti. Akan tetapi, jangankan suka, membuka hadiahnya pun Ardo seakan enggan. Bahkan Ardo tak mau menerimanya. Respon yang diberikan Ardo akan usahanya kali ini sungguh membuatnya kecewa.


"Hadiah apa ini?" tanya Leona menyambar cepat paper bag itu dari tangan Ellena. Lalu mengeluarkan isinya dan membuka sebuah kotak kecil berwarna hitam. Yang sebetulnya ia sendiri sudah mengetahui isi dari kotak tersebut.


"Waaaaw ... hadiahnya super keren Ellena. Ini sangat cocok dengan Kak Ardo. Ini harganya pasti mahal banget ya?" Leona berpura-pura tercengang melihat sebuah jam tangan mewah pemberian Ellena. Namun sayangnya, sedikitpun tak mengalihkan perhatian Ardo.


Ellena tersenyum sembari melirik Ardo. Yang lagi-lagi membuatnya kecewa akan ekspresi wajah Ardo saat ini. Dingin dan seakan tak peduli.


"Kak, ayo dicoba dulu. Jam tangan ini limited edition loh, Kak. Tidak gampang bisa mendapatkan jam tangan ini. Dan Ellena sudah bersusah payah mendapatkan ini hanya untuk Kak Ardo. Diterima ya Kak?" Seperti itulah Leona. Walaupun Ardo sempat membentaknya, namun sedikitpun ia tak menaruh kebencian. Sebab baginya Ardo adalah sosok kakak terbaik untuknya.

__ADS_1


"Kemarikan tangan Kak Ardo. Biar aku yang pakaikan ini di tangan Kak Ardo ya." Leona meraih tangan kiri Ardo, hendak memakaikan jam tangan mewah sebuah brand ternama tersebut pada pergelangan Ardo. Namun respon yang Ardo beri sungguh tak terduga.


Ardo malah menghempas kasar tangannya dari genggaman Leona. Dengan ekspresi kurang bersahabat.


"Tidak perlu. Aku sudah punya banyak jam tangan. Maaf, aku tinggal sebentar." Bergegas Ardo meninggalkan Ellena dan Leona yang termangu dengan sikap yang Ardo tunjukkan kali ini. Sungguh sangat mengecewakan.


Ellena hanya bisa membuang napasnya kasar memandangi punggung Ardo yang semakin menjauh ke arah toilet. Ia tahu untuk apa Ardo pergi ke toilet dan meninggalkannya tanpa kesan dan pesan. Bahkan kehadirannya terkesan tidak dihargai.


Untuk apa lagi jika bukan karena saudaranya yang telah lama tak ingin ia akui itu. Sebuah musibah yang menimpa keluarganya kala itu, membuatnya malu untuk mengakui mereka sebagai keluarga lagi. Sebab seorang model terkenal seperti dirinya tak pantas memiliki keluarga yang miskin dan melarat. Seperti Gloria.


"Sejak dulu selalu saja seperti itu. Apa yang aku suka malah menjadi milikmu. Aku benci kamu, Loly." Ellena membatin, menahan kekesalan dan sakit hatinya akan sikap Ardo. Yang dikarenakan oleh Gloria. Saudara yang ia benci.


Di seberang, sebetulnya Aruna memperhatikan Ardo sejak tadi. Bukan hanya Aruna saja melainkan semua anggota keluarga memperhatikan dari seberang. Disaat Ardo membentak Leona.


Ingin sekali Clara menghampiri sebab tak terima melihat putrinya dibentak. Namun Bram mencegahnya. Lalu memberi semua anggota keluarga pengertian, bilamana saat ini Ardo sedang dirundung beban pikiran.


Sehingga kecemasan keluarga bisa teratasi. Dan mereka pun bisa kembali berbincang dengan tamu penting.


Namun tidak dengan Aruna. Wanita cantik dengan gaun hitam yang berdiri di depan Ardo beberapa saat lalu itu justru menjadi pusat perhatian Aruna sedari tadi. Ia tak lagi fokus pada tamu yang kolega yang mengajaknya berbincang.


Rupanya gaun yang Aruna pilih saat Ardo meminta saran darinya melalui sambungan video call sore tadi itu ingin diberikan Ardo kepada Gloria.


Ardo mencari-cari cemas ke mana perginya Gloria. Dalam sekejap mata wanita itu menghilang dan entah ke mana perginya.


Sampai langkah panjangnya terhenti di depan toilet wanita.


"Hei, dasar kurang ajar. Mau apa kamu di toilet wanita. Hah?" Salah seorang wanita memekik, menatap nyalang begitu Ardo masuk ke dalam toilet itu. Sementara yang lain bergegas keluar dengan panik. Sebab mengira Ardo adalah pria cabul.


"Maaf, aku sedang mencari seseorang." Sembari melihat-lihat, mengira-ngira bilik toilet mana yang dimasuki Gloria.


Ardo hendak membuka pintu salah satu bilik toilet saat salah satu pintu bilik toilet terbuka. Lalu sesosok jelita dalam balutan busana anggun berwarna hitam keluar dari dalam sana.


Gloria terkejut saat mendapati Ardo berada di dalam toilet wanita. Tak ingin bertemu, Gloria bergegas membawa langkah, menerjang Ardo yang menghalangi jalannya.


Namun tangan kekar Ardo menyeretnya kuat, memaksanya masuk ke dalam bilik toilet yang terbuka. Lalu mengunci pintunya.


Gloria melawan, memberontak sekuat tenaga. Ingin berteriak namun jemari kekar Ardo membekap mulutnya rapat. Serta mengunci pergerakannya dengan merangkul erat pinggangnya.

__ADS_1


"Tolong dengarkan aku dulu," pinta Ardo berbisik. Lalu menurunkan tangannya yang membekap mulut Gloria perlahan.


"Banyak hal yang harus aku jelaskan padamu," sambung Ardo menatap lekat sepasang mata sembab Gloria. Yang baru saja menyudahi tangisnya di dalam toilet beberapa menit lalu. Mata sembab itu menumbuhkan rasa bersalah yang teramat dalam hatinya.


Sayangnya, tangis Gloria nyatanya belum sepenuhnya mereda. Air mata itu kembali membasahi wajahnya, sedikit merusak riasan wajahnya.


"Apa yang mau kamu jelaskan padaku? Apa lagi yang harus aku dengar darimu? Kamu ingin memperjelas bahwa kamu tidak benar-benar mencintaiku? Kamu ingin memberitahuku secara langsung bahwa aku ini hanyalah bahan taruhanmu? Begitu?" lirih Gloria berderai air mata. Menatap sendu wajah Ardo yang berada dekat dengan wajahnya.


"Aku minta maaf," sesal Ardo merasa bersalah.


"Lepaskan aku. Biarkan aku pergi."


"Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi dariku. Aku sudah sejauh ini melangkah, demi kamu. Aku tidak ingin kehilangan kamu."


"Mari kita akhiri saja hubungan kita sampai disini. Toh, kamu hanya mempermainkan aku." Perih mengiris kalbu, Gloria semakin menumpahkan air matanya. Mengingat jalinan kasih diantara mereka yang masih seumur jagung harus berakhir. Dikala cinta telah bersemi indah.


Ardo menggeleng cepat, membawa jemarinya mendekap wajah tirus Gloria. Permintaan Gloria membuat air mata yang menggenang di pelupuk matanya jatuh berderai. Seiring perasaannya yang kian mendalam untuk Gloria.


"Tidak. Aku sungguh tidak ingin hubungan kita berakhir. Oke, aku akui aku salah dengan menjadikanmu bahan taruhan. Tapi perasaanku padamu tidak pernah main-main. Aku sungguh, sungguh mencintaimu. Tolong, percayalah padaku," ucap Ardo menatap sendu, sesendu perasaannya saat ini. Yang tak ingin jauh, dan tak ingin ditinggalkan.


Hening membentang sesaat. Gloria menyusut hidung, menyeka air mata di pipinya.


"Apa yang bisa aku percaya darimu?" tanya Gloria.


"Kesungguhanku. Kamu hanya perlu percaya padaku. Dan serahkan semuanya padaku."


"Kamu selalu saja mengada-ada." Gloria membuang muka. Mulai meragu dengan kesungguhan Ardo.


"Akan aku buktikan padamu, bahwa aku tidak pernah main-main dengan perasaanku padamu. Glori, lihat aku."


Gloria pun menoleh, menatap sepasang mata hitam tegas itu.


"Kalau kamu juga mencintaiku, maka mari kita berjuang sama-sama. Aku yakin, semua pasti ada jalannya. Dan aku akan melakukan apapun untukmu, meski nyawa taruhanku," ucap Ardo bersungguh-sungguh. Membuat Gloria terharu.


"Gombal." Gloria tersipu. Hatinya menghangat mendengar ungkapan kesungguhan Ardo.


"Terserah kamu mengataiku gombal. Tapi memang itulah kenyataannya. Aku sangat mencintaimu, Glori."

__ADS_1


Gloria hendak membalas gombalan Ardo. Namun kalimat yang hendak ia lontarkan, tertelan begitu saja. Manakala dua bibir telah saling menyatu. Mencurahkan kasih dan perasaan di jiwa.


Bersambung


__ADS_2