Gara-Gara Kamu

Gara-Gara Kamu
Bab 44. Terbang Bersamamu


__ADS_3

Bab 44. Terbang Bersamamu


Sebetulnya, Ardo melihat kedatangan Gloria yang terhenti di teras rumah. Ia tengah meniup mata Leni yang kelilipan saat diliriknya Gloria yang terkejut melihatnya tengah meniupi mata Leni.


Ia telah menyudahi membantu Leni dan hendak menghampiri Gloria. Tetapi Gloria malah telah lebih dulu membawa langkahnya cepat memasuki rumah itu. Lalu mengurung diri di dalam kamar. Sehingga ia meminta Leni untuk menyusul Gloria.


Leni pun kembali dan mengabarkan bahwa Gloria tidak ingin ikut bersama mereka pergi ke bazar. Jujur, ia kecewa. Sebab sebelumnya ia telah meminta Gloria pergi bersamanya.


Gloria tidak merespon. Wanita itu tidak mengiyakan, tidak pula menolak. Namun saat dilihatnya Gloria tampil cantik dan memesona, ia begitu yakin bila Gloria menuruti ajakannya.


Sayangnya, Gloria mendadak merubah keputusannya begitu tiba di teras rumah. Entah mengapa.


Sebab merasa penasaran, ia pun memutuskan untuk mencaritahu. Sementara Leni dan Chika telah lebih dulu pergi ke bazar mengendarai mobil yang sering mereka gunakan. Sedangkan ia sendiri memberi alasan bila ia akan menyusul menggunakan taksi.


Penampilan Gloria yang sempat mengusik jiwanya yang tenang, membuat sepasang matanya rindu. Rindu ingin menyaksikannya kembali. Gloria tampil tak seperti biasanya. Wanita itu berdandan. Yang tentu saja membuatnya senang.


Ia tengah berdebar-debar begitu Gloria membuka pintu kamar. Rasa penasarannya telah berada di puncaknya. Raut wajah serta reaksi yang Gloria tampakkan sama seperti sebelumnya. Bila Gloria melihatnya tengah bersama Leni.


Dan tak disangka, ternyata dugaannya benar. Bahwa Gloria sedang cemburu. Sejujurnya, ia sangat senang melihat reaksi cemburu Gloria. Namun ia bersikap biasa-biasa saja. Sebab ia harus memastikannya terlebih dahulu.


Mendapati kenyataan bilamana Gloria cemburu, sungguh ia merasa geli. Raut wajah wanita itu saat sedang cemburu, sungguh sangat menggemaskan baginya. Membuatnya ingin sekali mencubit pipinya manja.


Lalu sungguh tak disangka pula, jawaban yang Gloria berikan atas pertanyaannya, sungguh sangat membuatnya bahagia. Meski hanya dengan seulas senyum, itu sudah merupakan jawaban. Bahwa Gloria mengijinkannya memasuki hidup wanita itu. Sehingga ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan besar ini.


_____


"Bolehkan aku ..."


Ia mengulas senyum manisnya sebelum Ardo menyelesaikan kalimatnya. Senyumnya sudah merupakan jawaban atas pertanyaan Ardo. Yang membuat Ardo bahagia.


Kembali Ardo membenamkan ciumannya lembut. Yang mendapat balasan dari Gloria.


Dalam sekejap Ardo mampu membuatnya melayang. Bagai ia tak berpijak di bumi. Bahkan kini ia lupa dengan keadaan. Keadaan dimana mereka kini tengah berada. Ardo mengajaknya bermain dalam uji adrenalin yang sesungguhnya.


Gloria merasa ia seperti sedang berdiri di tepian jurang. Yang sekali bergerak, akan jatuh terjerembab hingga ke dasarnya.


Namun kini ada Ardo. Yang telah ia terima memasuki hidupnya. Maka biarlah ia terjatuh. Walau ke dasarnya sekalipun.


Benar kata Leni, sesekali ia harus membuka diri. Mencoba menerima hal baru dalam hidupnya. Termasuk Ardo. Pria yang ingin memasuki hidupnya lebih dalam, ingin mengenalnya lebih jauh, serta ingin menjadi bagian dari hidupnya.

__ADS_1


Ia telah memberi lampu hijau untuk keinginan Ardo. Yang artinya, Ardo kini telah menjadi bagian dari hidupnya. Ardo telah menjadi seseorang yang istimewa di hatinya. Sebab ia akui, meski sejujurnya ia merasa malu. Bahwa ia pun mencintai Ardo.


Ardo datang memberi warna yang berbeda di hidupnya. Ardo datang memberi kenyamanan, memberinya tempat teraman dan ternyaman untuk ia bersandar.


Ardo semakin buas melancarkan aksinya. Gejolak hasrat di jiwanya tak mampu lagi ia bendung. Gloria telah membuatnya hampir gila. Hingga akal sehatnya malam ini mungkin hilang tergerus arus suasana. Suasana yang kian memabukkan.


Gloria terhenyak, begitu gaun yang ia kenakan telah melorot, entah bagaimana caranya. Ingin menolak, namun sentuhan lembut Ardo telah terlanjur membuainya. Melambungkannya hingga ke langit ke tujuh.


Alhasil, ia hanya pasrah. Pasrah disaat Ardo melakukan keinginannya. Membaringkannya di tempat tidur, mengungkungnya, lalu melampiaskan hasratnya.


Ardo membawanya terbang ke nirwana. Merasakan sejuta keindahan fatamorgana. Ardo begitu lihai dan pandai menghanyutkannya. Hingga tubuhnya menari-nari di bawah kungkungan Ardo.


Kekhilafan itu pun terjadi. Tanpa ada yang mampu mencegah. Sebab perasaan yang mereka rasakan begitu kuat. Sehingga begitu mudahnya mereka tergelincir.


Ardo melingkarkan lengannya di pinggang Gloria yang berbaring memunggunginya. Tubuh polos di balik selimut tebal yang menutupinya itu menjadi pertanda sebuah kekhilafan yang mereka lalui.


"Makasih kamu sudah menerimaku menjadi bagian dari hidupmu," ucap Ardo lalu melabuhkan kecupan di pundak Gloria yang terbuka.


Entah apa yang terjadi dengan Gloria. Hingga begitu mudahnya ia memberikan Ardo akses. Bahkan membuatnya babak belur tanpa ampun. Bukankah Ardo itu adalah pria bujang? Mengapa pria itu begitu pandai dalam melakukan hal diluar ekspektasinya?


"Aku mencintaimu, Glori. Aku minta padamu, percayalah kepadaku. Aku akan memperjuangkan mu sampai kamu menjadi milikku. Sepenuhnya dan seutuhnya," tambah Ardo.


Gloria tidak tahu harus menjawab apa. Entah ia harus senang atau bahagia dengan ungkapan hati Ardo. Sebab setelah semuanya terjadi, ia baru menyadari bilamana hubungan mereka tidak akan mungkin bisa berjalan mulus.


Ia pun menoleh, menatap Ardo.


"Aku takut," ucapnya lirih.


"Takut?" Ardo lantas menarik pinggang Gloria. Memintanya merubah posisi berbaring Gloria menjadi berhadapan dengannya.


"Katakan padaku, apa yang kamu takutkan," pinta Ardo.


"Banyak hal. Keluargamu tidak mungkin mau menerimaku menjadi kekasih putranya. Karena aku ini bukan wanita yang tepat mendampingimu. Kamu lupa siapa aku? Aku ini sudah menjadi milik orang lain."


Ya.


Baru saja Ardo membawanya terbang melayang, dan kini kenyataan kembali menghempasnya ke bumi. Membawanya kepada kenyataan yang tak bisa dipungkiri kebenarannya. Bahwa ia sudah menjadi istri orang. Yang tidak mungkin bisa menjalin hubungan dengan lelaki lain.


"Dengarkan aku, Glori. Bagiku, semua hal menjadi mungkin bila ada keyakinan. Tidak peduli siapa dirimu. Aku yakin, bahkan sangat yakin. Kamu diciptakan Tuhan hanya untukku. Kamu milikku. Jadi, apapun rintangannya akan aku lewati. Asalkan kamu tetap bersamaku. Jangan pernah pergi dariku. Karena aku sangat membutuhkanmu."

__ADS_1


Begitu serius tampang Ardo saat mengungkapkannya. Pantaskah ia meragukan kesungguhan pria itu?


Gloria mengulas senyum manisnya menatap Ardo. Yang kemudian mendapat balasan satu kecupan hangat Ardo di keningnya.


"Tolong katakan, kalau kamu mencintaiku," pinta Ardo tersenyum nakal.


Yang seketika membuat semburat merah di pipi Gloria sangat kentara. Gloria tersipu malu dengan permintaan Ardo. Sungguh lidahnya serasa kelu bila mengatakan hal yang membuatnya malu setengah mati itu. Ardo terlalu pandai membuatnya berdebar-debar.


Kehangatan cinta Ardo yang tidak pernah ia rasakan dari Bary, telah membuatnya menjadi wanita yang paling bahagia. Ardo membuatnya menjadi wanita yang sempurna.


"Ayolah Glori. Aku sangat ingin mendengarnya darimu. Setidaknya itu bisa memberiku kekuatan untuk bisa melalui segala rintangan yang ada. Termasuk, suamimu."


Gloria masih malu-malu mengungkapnya. Wajahnya semakin bersemu merah. Namun Ardo masih saja menggodanya.


"Ayolah sweetheart," desak Ardo meminta.


Hingga Gloria pun hanya bisa menurutinya. "Aku mencintaimu."


Sumpah demi apapun, Gloria sangat malu mengutarakan kalimat itu. Tetapi Ardo seakan tidak memahami bagaimana perasaannya saat ini. Ia terlalu malu hingga ia menyembunyikan wajahnya dibalik selimut.


Dan Ardo malah menyibak selimut yang menutupi wajahnya, hendak menggodanya.


"Kamu malu?"


Gloria mengangguk.


"Ayolah. Kamu itu seperti anak kecil. Apa kamu belum pernah mengatakan hal seperti itu sebelumnya?"


Gloria menggeleng.


"Bahkan pada suamimu?"


Kali ini Gloria tidak mengangguk maupun menggeleng. Ia terdiam menatap Ardo. Tanpa ia katakan pun, Ardo sudah tahu bila ia menikahi Bary tanpa ada dasar cinta.


"Maaf," sesal Ardo begitu menyadari perubahan air muka Gloria.


"Kemarilah. Aku ingin memelukmu," pinta Ardo hendak menarik pinggang Gloria lebih merapat. Namun suara derum mobil yabg terdengar samar-samar membuat keinginannya pun urung. Ia baru tersadar, bilamana Leni dan Chika mungkin telah kembali.


Oh, astaga!

__ADS_1


Bagaimana ini?


Bersambung


__ADS_2