
Bab 78. Sebuah Rencana
"Oh ya, Dicko. Sebenarnya ada sesuatu yang sangat ingin aku bicarakan denganmu. Apakah aku boleh meminta waktumu sebentar?" Randa telah menyusun kalimat yang tepat dalam kepala untuk ia utarakan kepada Dicko. Bila tidak sekarang, lalu kapan lagi?
"Kamu ini ada-ada saja. Kalau memang ada yang ingin kamu bicarakan denganku, kapanpun kamu meminta, aku akan selalu punya waktu untukmu," kelakar Dicko untuk mengurai ketegangan. Sebab dilihatnya, Randa berwajah serius.
"Memangnya apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Dicko kemudian.
"Ini tentang keponakanku."
"Ponakan? Ponakanmu yang mana?" Seingat Dicko Randa tidak mempunyai ponakan selain Leona. Sebab Sheila adalah anak tunggal. Dan Clara adalah sepupunya Sheila.
Sementara Randa sendiri sudah tidak pernah berkumpul lagi dengan keluarganya. Selain karena kesibukannya sebagai dokter, juga karena beberapa tahun lamanya mereka tinggal di luar kota. Dan baru beberapa bulan ini mereka kembali lagi ke kota asal. Jadi, mengenai keluarga Randa yang lain, ia tidak tahu menahu.
"Aku pernah cerita sama kamu tentang kakak perempuanku, Maharani."
"Maharani?" Dicko mengernyit mendengar nama itu.
"Iya, Maharani Ayu. Kakak perempuanku yang tidak pernah bertemu muka lagi denganku semenjak aku menikahi Sheila."
Dahi Dicko kian mengerut mendengar nama yang serupa dengan nama istri dari sahabatnya. Semenjak dahulu, meski mereka bersahabat, tetapi Dicko jarang sekali bertemu muka dengan keluarga Randa. Sehingga Dicko kurang mengenali keluarga sahabatnya itu.
Sementara Randa sendiri kurang mengetahui bila Darma, suami dari kakaknya berteman dengan Dicko serta menjadi relasi bisnisnya. Sebab jalinan tali persahabatan sekaligus mitra dalam berbisnis baru terjalin setelah Randa menikah dan memutuskan menjauh dari keluarga. Jadi wajar bila Randa kurang tahu menahu.
"Ada apa dengan ponakanmu?" tanya Dicko mulai penasaran.
"Dia sedang hamil sekarang."
"Oh ya? Lalu?"
"Aku hanya ingin memberitahumu, bahwa orang yang telah menghamili ponakanku adalah..."
Ceklek
Bunyi decitan pintu terbuka memutus kalimat yang hendak Randa ucapkan. Terpaksa kalimatnya menggantung di udara begitu Aruna memasuki ruangan. Lalu mengambil duduk di samping suaminya sembari berkata,
"Maaf aku telat."
Randa membuang napasnya panjang. Terpaksa ia harus mengurungkan sejenak niatnya.
"Gimana hasil pemeriksaannya?" tanya Aruna kemudian.
"Suamiku sudah diperiksa kan? Trus gimana hasilnya?" tanya Aruna lagi. Sebab belum ada jawaban baik dari Randa sebagai dokter, juga dari suaminya sendiri sebagai pasien. Membuat cemas mendadak menderanya.
__ADS_1
"Oh iya, baiklah. Kalau begitu aku periksa sekarang." Bergegas Randa bangun dari duduknya, menghampiri brankar di sudut ruangan. Diikuti oleh Dicko, yang kemudian membaringkan diri di brankar tersebut.
...
Di lain tempat.
Di ruangannya Bram tengah berusaha menghubungi Dicko saat Teddy masuk ke ruangannya.
"Kita berangkat sekarang, Pak Bram?" tanya Teddy begitu memasuki ruangan.
"Tunggu sebentar, aku hubungi Kak Dicko dulu."
"Pak Dicko ikut meeting juga kan?"
"Belum tahu, makanya aku mau menghubunginya untuk menanyakan hal itu."
Teddy manggut-manggut. Namun tiba-tiba Teddy terhenyak. Secuil ingatan tentang drama di hari ulang tahunnya Ardo melintasi benaknya. Ia baru teringat sesuatu hal yang sangat ingin diberitahukannya kepada Bram. Selaku orang yang memintanya mencari informasi tentang putri Darma Dharmawan.
"Oh ya, Pak Bram. Ada sesuatu yang ingin saya beritahu ke Pak Bram," ucap Teddy.
Bram menjauhkan sejenak ponsel dari telinga. "Soal apa?"
"Ini tentang putrinya Pak Darma."
"Iya, Pak. Sudah. Saya sudah dapat info tentang putrinya Pak Darma. Ternyata putrinya itu adalah perempuan yang se..."
"Sebentar." Bram menyela, mengangkat tangan kanannya. Kembali Bram menempelkan ponsel ke telinga, menjawab panggilan yang telah terhubung.
"Iya, sekarang. Kak Dicko di mana memangnya? Ya sudah kalau begitu, aku tunggu. Tapi jangan lama-lama, soalnya setelah ini kita ada schedule yang lain. Papa mengajak kita ke makamnya Darma," ucap Bram sembari memeriksa beberapa berkas yang akan ia bawa.
"Baiklah, aku tutup teleponnya." Bram mengakhiri obrolan, lalu merapikan berkas.
"Pak Bram, tentang yang tadi ..."
"Kita pergi sekarang. Pak Rudi sudah menunggu. Ayo." Lagi-lagi Bram menyela ucapan Teddy yang hendak memberitahunya perihal putrinya Darma.
Teddy pun tak bisa membantah atasannya. Teddy hanya bisa menurut, mengekor di belakang Bram saat Bram beranjak, keluar dari ruangannya. Mereka sedang di buru waktu. Relasi atasannya tengah menunggu di tempat meeting yang telah mereka sepakati sebelumnya.
...
Sementara di lain tempat lagi.
Kabar tentang Bary telah sampai ke telinga orangtua nya yang tinggal di luar kota.
__ADS_1
Sebab kasus yang menimpa Bary membuat mereka jauh-jauh datang hanya untuk memastikan kabar yang mereka terima. Serta untuk memastikan keadaan Bary sendiri.
"Kamu ini gimana sih? Kok bisa perempuan sialan itu memenjarakanmu seperti ini?" omel Asih, menatap geram sang putra. Ketika datang membesuk sang putra yang masih menjadi tahanan kepolisian sektor setempat.
Bary membuang napas berat, memalingkan wajahnya sejenak. Tak berani menatap wajah ibunya yang tak bersahabat lantaran diliputi amarah.
"Mama bilang juga apa. Jangan menikahi perempuan itu. Ini gara-gara kamu tidak mendengarkan Mama. Akhirnya kamu rasakan sendiri kan akibatnya?" Asih tak tahan untuk tidak mengomeli sang putra. Yang tanpa pikir panjang menikahi Gloria hanya demi memuaskan hasrat nya semata. Setelah bosan, dicampakkan. Ibarat kata, habis manis sepah dibuang.
Asih tak habis pikir dengan sang putra. Yang berani mengambil keputusan menikah hanya berdasarkan ketertarikan semata. Alhasil, ketertarikannya terhadap Gloria tak bertahan lama. Asih mengenal betul sang putra, yang cepat merasa bosan terhadap sesuatu. Tidak terkecuali soal perempuan.
"Dari dulu Mama tidak pernah setuju kamu menikahi perempuan itu. Hanya bawa sial saja," omel Asih membuang muka.
"Sudah, sudah cukup ngomelnya, Ma. Sekarang bantu aku dulu keluar dari sini. Aku harus melakukan sesuatu untuk membalas si kepa rat itu." Bary menggeram, mengetatkan rahang, mengepalkan tinjunya kuat. Disertai amarah yang kian sesak memenuhi dada.
"Mama bantu kamu keluar dari sini. Tapi dengan syarat. Dan kamu harus janji sama Mama." Asih tak mau menuruti permintaan Bary tanpa imbalan yang menguntungkan. Sebab ia telah merencanakan sesuatu hal untuk putranya.
"Iya. Apa syaratnya."
"Kamu ceraikan perempuan itu secepatnya. Dan kamu harus mau Mama jodohkan dengan perempuan pilihan Mama." Bukan Asih namanya bila tak ingin mengambil keuntungan dari putra nya. Bary telah ia jodohkan dengan perempuan pilihannya yang berasal dari keluarga berada juga terpandang di kota tempat mereka tinggal saat ini.
"Iya, baiklah. Aku setuju." Bary menyeringai, memikirkan sebuah rencana licik untuk membalaskan sakit hatinya kepada Gloria juga Ardo. Dua orang yang telah melukai hatinya.
'Aku akan menceraikannya. Tapi sebelum itu, aku akan mengirimnya ke neraka lebih dulu.' Bary membatin dengan wajah menyeringai, tersenyum licik.
...
Di ruangannya, Ardo tidak bisa berkonsentrasi. Sampai detik ini ia belum mendapat kabar tentang Gloria. Bahkan ia tidak mengetahui di mana Gloria berada.
Bukan hanya itu, untuk menghubungi Gloria saja ia tidak tahu bagaimana caranya. Ponsel yang ia berikan kepada Gloria, malah ditinggalkan begitu saja di kamar hotel.
Ardo telah bertanya kepada Reva. Namun Reva memberitahunya bahwa Gloria sudah diantarkannya pulang ke hotel malam itu.
Bukan karena sengaja Reva berbohong. Reva hanya menuruti permintaan Gloria yang tidak ingin Ardo mengetahui di mana keberadaannya saat ini.
Ardo hendak bangun dari duduknya saat ponselnya berdering. Diraihnya ponselnya yang tergeletak di atas meja.
Layar ponsel yang menyala terang itu menampilkan dengan jelas nama ibunya.
"Halo," sapa Ardo lesu.
"Halo, Nak. Mama mau minta tolong, apa kamu bisa menjemput Mama di rumah sakit? Mama di tempat prakteknya dokter Randa sekarang. Bisa sayang?" terdengar tanya dari Aruna di seberang.
Bersambung
__ADS_1