Gara-Gara Kamu

Gara-Gara Kamu
Bab 95. Serasa Anak Tiri


__ADS_3

Bab 95. Serasa Anak Tiri


"Selamat pagi anak-anaknya Mama," sapa Aruna begitu Ardo membuka pintu kamarnya lebar-lebar. Menampakkan Gloria yang tengah duduk bersandar di atas tempat tidur.


Gloria hendak bangkit begitu Aruna masuk sambil membawa nampan besar yang berisikan sepiring nasi goreng dengan porsi membumbung serta segelas besar susu hangat.


"Kamu duduk saja. Biar Mama yang ke situ. Kamu jangan terlalu banyak bergerak, agar jagoan kecil Mama di dalam perut kamu itu merasa nyaman," ucap Aruna sembari mendekat. Kemudian mendudukkan diri di tepian tempat tidur.


"Kamu belum sarapan kan?" tanya Aruna mengulum senyum menatap Gloria.


Gloria balas tersenyum. "Belum, Ma. Tadinya aku mau turun ke bawah, tapi__"


"Tapi aku yang melarangnya," sela Ardo sembari naik ke atas tempat tidur, mengambil duduk di samping Gloria.


"Maka dari itu sarapan kamu Mama bawa ke sini. Kata Bi Yanti, Ardo meminta sarapannya di bawa ke kamar saja," ucap Aruna. Kemudian menyodorkan nampan tersebut ke tangan Gloria.


"Tapi tidak seharusnya Mama yang membawanya ke sini. Aku jadi tidak enak sama Mama. Aku terlalu merepotkan Mama." Sembari menerima nampan itu, Gloria memperlihatkan wajah sungkannya. Walau bagaimanapun Aruna adalah mertuanya. Meskipun Aruna sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Bahkan Aruna terlalu menunjukkan kasih sayangnya.


"Kamu itu adalah putri Mama. Apalagi sekarang kamu sedang mengandung cucu Mama. Jadi sudah sewajarnya bila seorang ibu menjaga dan merawat putrinya. Iya kan?" Aruna melebarkan senyuman. Menghapus perasaan canggung serta tak enak hati Gloria.


"Iya, iya. Tapi punyaku mana?" tanya Ardo melebarkan matanya menatap Aruna. Yang ia tahu, ia sudah meminta Bi Yanti untuk membawakan sarapannya ke kamar. Tapi mengapa malah mamanya yang datang membawakan sarapan. Sudah begitu, hanya sarapan Gloria yang dibawa sang mama. Sedangkan miliknya?


Aruna tersenyum usil. "Punyamu ambil sendiri di bawah. Kamu kan sudah besar. Kenapa masih minta dibawakan segala? Manja banget."


"Loh, loh, loh. Kan aku nyuruhnya Bi Yanti. Bukan Mama."


"Iya, memang. Tapi Mama yang minta Bi Yanti untuk tidak memanjakanmu."


"Mama tega. Kenapa sekarang aku merasa seperti di-anak tirikan ya?"


"Ha ha ha ..." Aruna dan Gloria tertawa-tawa melihat tampang merajuk Ardo. Yang malah terlihat lucu di mata mereka.


"Kamu itu anak laki. Tidak boleh manja. Sana, turun ke bawah. Papa menunggu kamu sarapan bersama," ucap Aruna mengusir putranya halus.


Ardo mendesah. Bukan kecewa ataupun merajuk. Namun ia bahagia. Sebab semua yang terjadi dalam kehidupannya seolah merupakan keberuntungan.


"Seharusnya kamu membela suamimu ini, Sayang. Kamu tega. Atau kamu sengaja, karena kamu sudah bersekongkol dengan Mama untuk meng-anak tirikan aku?" Ardo beralih kepada Gloria. Memperlihatkan tampang merajuk serta curiga nya.


Namun sayangnya, malah terlihat semakin lucu dan menggemaskan bagi Gloria. Tak henti-hentinya Gloria tertawa melihat tampang lucu suaminya itu.


"Maaf ya, Sayang. Kalau Mama sudah mengambil keputusan, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi." Gloria mengulurkan satu tangannya mengusap lembut wajah Ardo.

__ADS_1


"Sudah, tidak usah pedulikan dia. Sekarang, kamu makan dulu. Karena jagoan kecil Mama ini membutuhkan nutrisi," ucap Aruna sambil menunjuk perut Gloria.


"Iya, Ma. Makasih Mama sudah membawakan sarapanku."


"Ya sudah, silahkan dinikmati. Kalau begitu, Mama tinggal dulu ya?"


Gloria mengangguk. "Sekali lagi makasih Ma."


Aruna mengulas senyum. "Ardo, ayo ikut Mama. Papa sedang menunggumu sejak tadi. Katanya ada yang harus dibahas dengan kamu. Ayo, jangan buat papa mu menunggu terlalu lama," ajaknya sembari bangun berdiri. Kemudian melenggang keluar dari kamar pengantin baru tersebut.


Sambil memasang tampang merajuk, Ardo pun turun dari tempat tidur. Menyusul langkah sang mama, keluar dari kamar. Kemudian menuruni anak tangga perlahan.


Di meja makan itu, Dicko sedang menikmati sarapannya seorang diri. Tanpa ditemani siapa pun.


Begitu Aruna datang, Aruna langsung mengambil tempat duduk di sisi meja yang berdekatan dengan suaminya. Sedangkan Ardo mengambil tempat duduk di sisi meja lainnya yang juga berdekatan dengan sang ayah.


"Pagi, Pa," sapa Ardo begitu pantat mendarat di tempat duduk. Kemudian mengambil sepotong roti, botol selai, dan mulai mengolesi rotinya dengan selai itu.


"Pagi," balas Dicko mengurai senyum.


"Oh ya, gimana kabar pengantin barunya? Lancar?" sambung Dicko menggoda.


Ardo malah tersenyum-senyum mendengarnya. "Lebih dari lancar. Malah sekarang, Mama yang mengganggu," sembari melirik kesal kepada Aruna.


"Papa yang meminta Mama memanggilmu. Karena ada yang harus Papa bicarakan denganmu."


"Asal bukan soal pekerjaan. Aku ini pengantin baru, jadi beri aku kesempatan untuk menikmati hariku sebagai pengantin baru."


"Justru itu yang mau Papa bicarakan sama kamu." Dicko menghentikan makannya.


"Brand akan meluncurkan koleksi terbaru. Kita sedang gencar-gencarnya promosi. Besok kamu sudah harus bekerja. Banyak yang harus dilakukan oleh Divisi Pemasaran. Jadi, bekerja keraslah."


Ardo mendesah panjang mendengar penuturan sang ayah. "Sepertinya aku ini benar-benar anak tiri. Kapan bulan madunya kalau begini?" keluhnya bergumam. Namun sampai ke telinga ayah dan ibunya.


"Tunda dulu bulan madunya. Kalau semua pekerjaanmu sudah selesai, baru kamu boleh berbulan madu," ucap Dicko mengulum senyum. Merasa lucu sekaligus iba melihat tampang lesu Ardo.


Bagaimana tidak, pengantin baru seperti dirinya seharusnya menikmati saat-saat hari bahagianya. Bukannya malah disibukkan dengan urusan pekerjaan seperti ini.


Apa ayahnya sengaja melakukan ini? Apakah hukumannya sebenarnya belum berakhir?


"Lalu kapan aku bulan madunya, Pak Presdir?" Ardo menahan kesalnya mengajukan pertanyaan itu.

__ADS_1


"Nanti."


"Ternyata aku memang anak tiri. Haaah ..." Kembali Ardo mendesah. Sebagai ungkapan kekecewaan atas ke-tidak pengertian sang ayah.


Sedangkan Dicko dan Aruna yang menyaksikan tingkah sang putra, tersenyum-senyum geli. Ardo hanya tidak tahu saja kejutan apa yang tengah mereka persiapkan untuknya. Serta hadiah dari sang kakek sedang menunggu.


...


Usai sarapan Ardo kembali ke kamarnya. Ia melangkah lesu menghampiri tempat tidur. Dimana Gloria masih duduk diatas tempat tidur itu dengan bersandar di head board sambil bermain ponsel. Sementara sarapan yang dibawakan sang mertua sejak tadi untuknya, belum tersentuh sedikitpun.


"Kenapa sarapannya belum dimakan?" tanya Ardo cemas, melirik sepiring nasi goreng yang belum tersentuh.


"Apa masakan ibuku kurang enak?" sambungnya menerka.


Gloria menggeleng sembari mengulum senyum. "Tidak. Aku hanya sedang menunggumu."


"Kenapa harus menungguku? Kalau kamu kelaparan gimana? Ayo, cepat dimakan."


"Kamu yang suapin."


Ardo terhenyak. Lantas meninggikan kedua alisnya, meminta Gloria mengulangi kalimatnya.


"Bukan aku yang mau. Tapi ..." sembari menundukkan pandangan. Satu tangannya mengusap-usap perutnya.


"Bayinya yang lagi ingin dimanja oleh ayahnya," sambungnya tersenyum usil.


Ardo mengerti. Kemudian turun dari tempat tidur, meraih sepiring nasi goreng itu. Lalu mulai menyuapi Gloria.


"Bayinya atau ibunya yang sedang ingin dimanja?" goda Ardo tersenyum, menatap sang istri berbinar-binar.


"Dua-duanya."


"Tanpa kamu minta pun, aku akan selalu memanjakanmu. Jadi, tidak perlu membawa-bawa bayinya segala. Hm?"


Sembari tersenyum malu-malu, Gloria mengangguk pelan.


"Tanpa kalian minta, aku akan memanjakan kalian berdua. Agar jagoan kecilku ini tidak akan menjadi anak tiri seperti papanya ini."


Gloria malah tergelak mendengar kata 'anak tiri'. Memang semenjak kehadirannya, perhatian Aruna malah tersita untuknya.


Namun meskipun begitu, tak sedikitpun mengurangi kebahagiaan yang mereka rasakan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2