
Bab 98. Hadiah Dari Kakek
Makan malam di balkon kamar malam itu, terasa hangat dan menyenangkan. Obrolan-obrolan santai tercipta sepanjang mereka makan. Sesekali terlihat diselingi candaan.
Memiliki Ardo dalam hidupnya, Gloria merasa sangat bersyukur. Ia merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia memiliki sosok suami seperti Ardo.
Tak hanya tampan rupawan, Ardo pun merupakan sosok suami yang penyayang. Penuh cinta dan kasih. Ardo tak pernah sekalipun memperlakukannya kasar, seperti yang diperolehnya dari mantan suaminya dahulu.
Makan malam itu pun diakhiri. Kini keduanya tengah duduk selonjoran di sebuah bangku panjang. Dengan Gloria bersandar pada dada bidang Ardo, berselimutkan lengan Ardo yang merengkuhnya hangat. Sambil menikmati langit malam yang bertaburan ribuan bintang.
Pelukan Ardo terasa nyaman, hangat, dan menenangkan. Hingga Gloria tertidur dalam pelukan itu.
Setelah memberikan kecupan di puncak kepala Gloria, Ardo bergerak perlahan turun dari bangku. Kemudian meraih tubuh Gloria, menggendongnya layaknya menggendong seorang anak kecil. Membawanya masuk ke dalam kamar, kemudian membaringkannya di atas tempat tidur dengan hati-hati. Menyelimutinya, lalu melabuhkan satu kecupan hangat di keningnya. Sembari berbisik lirih,
"Aku mencintaimu, istriku."
...
Mengemban tugas yang diberikan sang ayah, membuat Ardo bersemangat dalam bekerja. Mengingat dalam sebulan ini ia harus mencapai target penjualan. Demi bisa memperoleh cuti, sekaligus berlibur yang dirangkaikan dalam bulan madu impiannya.
Kondisi Gloria yang tengah hamil tak membuat Ardo mengurungkan keinginannya untuk berbulan madu. Sebab baginya, bulan madu merupakan momen-momen terpenting dan tak terlupakan dalam pernikahan.
Dibantu oleh tim yang berkompoten di bidangnya, segala sesuatu berjalan mulus, hampir tidak ada hambatan.
Menggunakan jasa Ellena sebagai model brand, segala bentuk promosi pun cukup menyita perhatian publik. Entah itu melalui iklan di TV, majalah fashion, serta iklan-iklan yang berseliweran di beberapa sosial media.
Ellena bukan wajah baru dalam dunia periklanan. Model cantik yang satu itu telah membintangi beberapa iklan produk-produk terlaris dalam negeri. Sehingga menggunakan Ellena sebagai model brand merupakan keputusan yang tepat.
Penampilan Ellena yang modis, elegan, dan up to date itu sering memukau penggemarnya. Sehingga menjadikannya trend setter di kalangan remaja.
Tidak hanya kalangan remaja saja yang mengagumi cara berpakaian Ellena. Bahkan wanita-wanita dewasa pun kerap mengikuti gaya berpenampilannya.
Hal tersebut rupanya memberikan keuntungan bagi Royale. Dimana produk mereka memang menargetkan remaja hingga wanita dewasa.
Trend di kalangan remaja dan wanita dewasa saat ini sedang berkembang pesat. Dan Royale hadir ditengah-tengah perkembangan tersebut, memenuhi kebutuhan para wanita dalam mode.
Sedangkan untuk setelan pria, Ardo memilih dirinya sendiri sebagai model pakaiannya. Ia akui, ia memiliki paras menawan, tubuh proporsional. Serta memiliki daya tariknya tersendiri. Untuk itulah ia menjadikan dirinya sendiri sebagai modelnya. Hitung-hitung, sekaligus untuk memangkas pengeluaran.
Cukup narsis bukan?
__ADS_1
Sebulan lamanya Ardo bekerja keras. Berusaha memenuhi tugas yang diberikan sang ayah kepadanya. Demi mencapai target penjualan koleksi terbaru Royale. Bahkan terkadang Ardo lembur, demi sebuah target pencapaian yang diinginkannya.
Berkat kerja kerasnya, dibantu oleh tim, ia berhasil menjadikan koleksi terbaru Royale menjadi brand terlaris dan paling digandrungi.
Rancangan Royale yang selalu up to date dan kekinian itu menjadi trend tersendiri di kalangan wanita masa kini. Permintaan yang tinggi akan produk Royale, pada akhirnya berhasil membuat Ardo mencapai target penjualan yang dipatok untuknya. Bahkan melebihi batas.
Keberhasilan Ardo beserta tim nya menuai banyak pujian. Serta ucapan selamat mengalir untuknya. Ardo telah berhasil mencapai target penjualannya.
Untuk itulah saat ini ia tengah berada di rumah sang kakek. Memenuhi undangan makan malam dari sang kakek. Dengan ditemani istri serta ayah dan ibundanya.
"Opa sangat bangga sama kamu Ardo. Kamu berhasil mencapai target. Bahkan melebihi dari yang diharapkan. Opa akui, kamu hebat." Opa Danu mengangkat dua jempolnya memuji sang cucu. Saat keluarga besar tengah berkumpul di taman belakang sambil menikmati camilan usai makan malam.
Ardo membusungkan dada sembari tersenyum bangga. Sifat narsisnya timbul ke permukaan begitu mendapat pujian dari sang kakek.
"Siapa dulu dong," ucapnya sembari merapikan jaketnya. Lalu memperbaiki tatanan rambutnya.
"Ish, Kak Ardo. Sombong banget," sembur Leona tersenyum.
"Tapi benar loh Kak. Kak Ardo memang hebat. Apa Kak Ardo tahu? Sekarang Kak Ardo memiliki banyak penggemar wanita. Bukan hanya dari kalangan remaja, dari kalangan ibu-ibu juga banyak," sambung Leona. Entah sedang memuji atau malah meledek.
Namun Ardo semakin melebarkan senyum. Ia sudah bisa memperkirakan, dengan ia menjadikan dirinya sendiri sebagai model untuk pakaian pria, akan ada banyak wanita yang menggilainya nanti. Sebab ia adalah pria yang memiliki sejuta pesona.
"Ish, percaya diri banget. Emang dasar genit." Gloria sebal, juga cemburu mengetahui sang suami digilai banyak wanita.
Ardo yang duduk di sebelahnya, segera memalingkan wajah. Menatap sang istri yang tengah cemburu.
"Kamu tenang saja. Walaupun banyak wanita yang tergila-gila padaku, tapi aku hanya tergila-gila pada satu wanita. Yaitu, istriku sendiri," rayu Ardo. Yang sukses membuat kedua pipi Gloria merona malu.
"Cieee ... Gombal amat sih Kak. Yakin Kak Ardo bakal setia?" ledek Leona tersenyum usil.
"Kamu kenapa malah menggoda kakakmu sih, Leona? Sudah tentu, kakakmu itu adalah pria yang setia," tegur Clara.
Leona meringis, "Bercanda, Ma."
"Kamu tenang saja, Loly. Kalau sampai Ardo macam-macam, beritahu Mama. Biar Mama yang memberinya hukuman," ujar Aruna membela menantunya.
Gloria tersenyum. "Makasih, Ma."
"Ardo sudah berhasil melakukan tugasnya. Bahkan melebihi ekspektasi kita. Bukankah Ardo pantas menerima hadiahnya?" ucap Bram mengalihkan topik yang meleber kemana-mana.
__ADS_1
"Benar kan Kak Dicko?" sambung Bram melirik Dicko.
Dicko mengulum senyum. "Soal yang satu itu, biar Papa yang memutuskan.
"Apa aku bisa pergi berbulan madu?" tanya Ardo menatap satu per satu keluarganya. Meminta jawaban atas pertanyaannya. Sejujurnya, ia sudah tak sabar. Membayangkannya saja sudah membuat semangatnya berkobar. Ingin segera menikmati bulan madu impiannya.
"Sepuasmu!" seru Opa Danu tersenyum senang, saat melihat binar-binar kebahagiaan terpancar dari raut wajah Ardo.
Ardo tercengang, tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Maksud Opa?" tuntut Ardo tak sabaran.
Sementara ayah ibunya, serta paman dan bibinya, tersenyum-senyum melihat wajah bahagia Ardo.
Sebetulnya, mereka telah berembuk, lalu bersepakat memberikan hadiah yang sangat diinginkan Ardo.
Bukan hadiah mewah. Ardo hanya menginginkan diberi kesempatan untuk menikmati waktu serta momen-momen kebersamaan dengan sang istri. Sebab setelahnya, akan ada banyak pekerjaan yang menantinya. Menuntut pertanggungjawabannya sebagai suami sekaligus calon ayah.
Untuk itulah, ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Demi mengukir kenangan bersama Gloria.
"Paris sedang menunggu kedatangan kalian. Habiskan waktu berkualitas kalian di sana. Opa sudah menyiapkan villa yang bisa kalian tempati selama kalian berbulan madu di sana. Opa juga sudah menyiapkan beberapa asisten yang akan membantu kalian selama berada di sana. Jangan mencemaskan soal apapun. Kalian hanya tinggal menikmati waktu kalian saja. Tapi ingat ..." Opa Danu menggantung kalimat panjangnya.
Sementara Ardo dan Gloria semakin berbinar bahagia. Dengan hati berdebar menunggu kalimat Opa Danu selanjutnya.
"Jaga Loly baik-baik. Kamu harus lebih perhatian kepadanya. Karena Loly sedang mengandung cicit Opa," sambung Opa Danu.
Ardo mengangguk bersemangat. "Tentu. Tentu saja aku akan menjaga istriku ini dengan baik." Sembari membawa lengannya melingkari pundak Gloria.
"Kalau begitu, besok kalian akan berangkat ke Paris. Bersenang-senanglah di sana. Jaga menantu juga calon cicit Opa baik-baik," titah Opa Danu.
"Tenang saja, Opa. Soal jaga menjaga, aku ahlinya." Sembari mengerling menggoda kepada Gloria. Kemudian berbisik di telinga Gloria,
"Jangan pernah berharap bisa lepas dariku. Aku akan membuatmu tidak bisa tidur nyenyak setiap malam."
Gloria tersipu malu, lalu mencubit pinggang Ardo.
"Aw! Sakit Sayang," keluh Ardo mengusap-usap pinggangnya.
"Makanya, jangan mesum. Kamu lupa kalau aku ini sedang hamil?" sungut Gloria terdengar jelas. Hingga membuat semua tergelak tawa.
__ADS_1
Bersambung