Gara-Gara Kamu

Gara-Gara Kamu
Bab 89. Will You Marry Me?


__ADS_3

Bab 89. Will You Marry Me?


Puji dan syukur yang tak terhingga mungkin tak cukup untuk menggambarkan kebahagiaan Gloria saat ini. Setelah melalui proses yang panjang, hampir memakan waktu yang cukup lama serta dibantu oleh sanak keluarga yang begitu menyayanginya. Akhirnya keputusan sidang pun jatuh kepadanya.


Dengan bantuan pengacara handal, pengacara keluarga Anggara, proses perceraian Gloria dan Bary bisa dipercepat. Disertai bukti lengkap serta keterangan saksi akan tindak KDRT yang sering dilakukan Bary, proses persidangan pun menjadi mudah.


Serta terbukti kedapatan, bila tindak kekerasan Bary baru-baru ini, yang hampir mencelakakan nyawa Gloria juga Ardo. Membuat Bary menjadi tersangka tindak kriminal.


Setelah menimbang, menilai, dan mengkaji bukti yang ada, hakim pun membacakan keputusan, bilamana Gloria Putri Dharmawan telah resmi bercerai dari Bary Hartanto. Pembacaan keputusan itu ditutup dengan tiga ketukan palu hakim, yang berarti bahwa keputusan hakim adalah mutlak dan tidak bisa diganggu gugat lagi.


Ucapan syukur serta selamat mengalir dari keluarga terdekat juga sahabat terbaiknya. Tak lupa pula kasih sayang juga perhatian mereka berikan. Sebagai bentuk dukungan kepada Gloria akan hari-hari sulit yang telah dilaluinya.


Diwarnai dengan segala bentuk suka cita, kini perjalanan hidup baru Gloria pun telah dimulai.


...


Malam itu, Gloria tengah berbincang dengan Randa. Seorang paman yang selalu mendukung juga menyayanginya. Sedari kecil hingga ia dewasa.


Mungkin kata terimakasih tidak akan cukup ia haturkan, atas segala keikhlasan sang paman yang selalu membantunya.


"Maaf ya, Loly. Paman tidak sempat hadir di persidangan kamu. Tadi Paman ada banyak pasien," ujar Randa menyayangkan ketidakhadirannya pada sidang perceraian sang ponakan. Dikarenakan kesibukan yang tak bisa dihindari.


Gloria mengulum senyum. "Tidak apa-apa, Paman. Justru aku yang tidak merasa enak terhadap Paman jika merepotkan Paman. Apalagi Paman orang yang selalu sibuk. Bukankah kesehatan pasien itu jauh lebih penting?"


"Oh ya, gimana soal kamu dan Ardo?"


Kini Gloria telah menyandang status singel woman. Artinya, tidak ada penghalang lagi antara hubungannya dengan Ardo.


Mengingat kehamilan Gloria yang semakin hari semakin membesar, mungkin akan lebih baik bila secepatnya dilangsungkan pernikahan.


Gloria hendak menjawab pertanyaan pamannya saat tiba-tiba terdengar suara derum mobil yang berhenti di depan rumah. Dari suaranya yang terdengar, Gloria tahu betul siapa pemilik mobil tersebut.


"Selamat malam?" sapa seorang pria berparas menawan dengan ukiran senyuman manis di bibirnya. Yang membuat parasnya kian mempesona.


Richardo.


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Baru saja Randa dan Gloria membicarakannya, kini pria itu telah hadir di depan mata. Berdiri di ambang pintu, memberikan senyum terbaiknya. Lengkap dengan tampilannya yang memukau. Membuat aura kharismatik pria itu semakin kentara.


"Eh, Ardo?" sapa Randa melempar senyum. "Silahkan masuk. Ayo, kemarilah. Kebetulan kami baru saja hendak membicarakan soal hubungan kalian berdua."


"Oh, begitu ya?" Sembari membawa langkahnya masuk. Lalu mengambil duduk di sebelah Gloria. Yang tersenyum memandanginya.

__ADS_1


"Kalau begitu, Paman pamit ke belakang dulu. Silahkan kalian mengobrol berdua."


"Maaf Paman. Kedatangan saya kemari adalah untuk meminta ijin Paman. Saya ingin mengajak Glori keluar sebentar." Cepat Ardo mencegah sebelum Randa melenggang pergi.


Randa tersenyum. Yang merupakan pertanda bila Ardo mendapat ijin darinya.


...


"Gimana? Kamu suka?" tanya Ardo berbisik di telinga Gloria.


Awalnya Gloria mengira bila Ardo akan mengajaknya makan malam di sebuah restoran. Namun ia tak menyangka bila Ardo akan mengajaknya makan malam di rooftop kantor.


Rooftop telah disulap sedemikian rupa, terlihat indah seperti taman-taman bunga. Belum lagi, lilin-lilin yang menyala berjejeran membentuk hati. ditambah dengan meja yang tertata rapi dengan menu makanan yang telah tersaji serta lilin yang menyala terang ditengahnya itu, memberi kesan romantis pada makan malam mereka kali ini.


Gloria bahkan tak bisa berkata-kata saking takjub akan kejutan yang diberikan Ardo.


"Are you like this, baby (apa kamu menyukai ini, sayang)?" tanya Ardo kembali berbisik di telinga Gloria.


Senyuman manis bercampur haru terukir di bibir Gloria. Sembari menoleh, menatap sepasang mata tajam Ardo, ia mengangguk.


"Kapan kamu menyiapkan ini?" tanya Gloria penuh haru.


"Saat kamu di persidangan. Maaf aku tidak bisa menemanimu di persidangan itu. Aku hanya menghindari omongan orang, yang nanti malah akan menyalahkanmu atas perpisahanmu."


Ardo tersenyum. "Kenapa? Kamu tidak menyukainya?"


Gloria menggeleng cepat. "Aku menyukainya. Sangat menyukainya."


Telapak tangan kiri Ardo kemudian terbuka di depan wajahnya. Menunggu sang pujaan hati menyambutnya.


Dengan penuh suka cita, Gloria membawa tangan kanannya. Meletakkannya diatas telapak tangan Ardo, yang langsung dibalas Ardo dengan genggaman erat.


Ardo menuntun, membawa Gloria menghampiri meja. Dimana candle light dinner mereka telah tersaji. Hanya tinggal menunggu sang putri dan pangerannya saja.


Seiring langkah perlahan mereka, tiba-tiba suara musik terdengar. Mengiringi langkah mereka menghampiri meja. Entah darimana datangnya suara musik itu. Yang pastinya, membuat suasana malam ini semakin romantis saja.


Bukannya mengajak Gloria duduk, Ardo malah membawanya merapat. Lalu lengan kananya melingkari pinggang Gloria. Membuat Gloria terkejut, namun senang akan perlakuan romantis Ardo kali ini.


Alunan musik yang terdengar syahdu membuat suasana romantis kian terasa. Debar-debar di dada kian menghentak. Menatap paras Ardo dari dekat seperti ini, sesungguhnya tidak aman untuk jantung Gloria.


Jantung itu berdebar kencang, seiring dengan aliran darahnya yang berdesir hebat. Tatapan sendu Ardo, membuat sekujur tubuhnya meriang. seluruh persendian pun serasa lemas.

__ADS_1


"Sebenarnya aku ingin mengajakmu berdansa. Tapi aku cemas bila nanti kakimu salah melangkah, lalu kamu terjatuh. Aku hanya tidak mau membahayakan buah hati kita," ucap Ardo lembut.


Gloria membisu dengan senyuman. Sambil menatap sepasang mata Ardo yang menyihir jiwanya, terpasung di dalam pesona pria itu.


Ardo adalah pria sempurna yang dikirim Tuhan untuk melengkapinya yang sarat akan kekurangan dan tak sempurna sebagai seorang wanita.


Ardo bagaikan seberkas sinar dalam kegelapan. Yang menerangi jiwanya yang kelam. Ardo seumpama bintang yang menerangi jalannya di kegelapan malam.


Sungguh besar kasih Tuhan kepadanya, hingga Tuhan mengirim Ardo untuknya. Sebagai belahan jiwa. Sebagai pelipur laranya.


"Glori, aku mencintaimu apa adanya. Aku menyayangimu sepenuh hati dan jiwaku. Betapa berartinya dirimu bagiku. Ijinkan aku memilikimu untuk menemaniku di sepanjang hidupku," lirih Ardo berkata.


Membuat Gloria terharu. Lalu matanya pun mulai berkaca-kaca.


Dari dalam kantong celana, Ardo merogoh sebuah benda kecil yang berkilauan tersirami cahaya rembulan malam.


Ardo pun lantas meraih tangan kanan Gloria, memakaikan sebuah gelang cantik itu di pergelangannya.


"Sudah lama aku ingin memberikan ini kepadamu. Namun waktu selalu tidak mengijinkan," ucap Ardo. Lalu mengurai senyum.


"Aku tidak tahu apakah aku pantas mendampingimu. Tapi yang aku tahu, cintaku ini sangat besar untukmu," sambung Ardo lembut.


Mungkin untaian kata tidak akan cukup mengungkap seberapa besar kebahagiannya malam ini. Bila diungkapkan pun, takkan habis kata-kata untuk mengucap syukur atas hadirnya Ardo di dalam kehidupannya.


Gloria menghela napasnya pelan. Lalu menundukkan pandangan, menatapnya kilauan gelang cantik yang melingkari pergelangannya.


"Glori," lirih Ardo memanggil.


Gloria pun mengangkat wajahnya. Namun ia terkejut saat sepasang netranya tertumbuk pada sebuah benda imut bermata berlian. Yang tersimpan rapi dalam sebuah kotak kecil berwarna merah itu telah berada di depan wajahnya.


Perasaan haru menyeruak cepat memenuhi ruang dalam dada. Gloria bukan remaja kemarin sore, yang tidak tahu menahu tentang arti seorang pria bila memberikan cincin bermata berlian. Yang merupakan pertanda bila pria tersebut ingin ...


"Will you marry me (maukah kamu menikah denganku)?"


Pertanyaan tersebut terdengar merdu. Bagai lantunan irama syahdu yang membuat hati berbunga-bunga. Ardo mengungkap isi hatinya dengan sepenuh jiwa dan setulus-tulusnya. Untuk meminta Gloria menjadi belahan jiwanya. Menemani di setiap hari-harinya. Menjadi pelipur laranya, menjadi tempatnya berbagi suka dan duka.


Derai air mata membasahi wajah Gloria tanpa terasa. Mengiringi sejuta rasa di jiwanya, membuainya dalam angan dan mimpi yang indah. Namun kini, mimpi-mimpi itu akan menjadi kenyataan.


Senyuman merekah pun terukir di bibir Gloria. Lalu dengan anggukan pelan, ia berkata,


"Yes, i will (iya, aku mau)"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2