
Bab 88. Keusilan Ardo
Lalu tanpa terduga, tiba-tiba saja ...
DOR
DOR
Suara tembakan beruntun itu terdengar memekakkan telinga. Membuat semua terkejut. Terlebih Gloria.
Cepat, Gloria turun dari mobil. Jantungnya berdebar kencang, darahnya berdesir hebat kala menyaksikan pemandangan yang membuat napasnya terhenti sejenak.
Di depan sana, Bary tengah meringis menahan sakit akibat luka tembakan di lengan kanannya.
Sementara di depannya, Ardo jatuh terbaring di atas tanah. Matanya terpejam, entah pingsan ataukah ...
Ataukah ...
Ya Tuhan!
"Ardo?" Gloria memekik kencang seiring langkahnya refleks menghampiri Ardo yang tengah terbaring tak sadarkan diri.
Gloria meraih kepala Ardo, memangkunya. Kedua matanya mulai terasa panas, bulir-bulir air mata mulai berjatuhan di pipinya. Menyusul suara isak tangis pilunya.
Pada akhirnya Gloria tak bisa menahan tangisnya. Kala melihat Ardo terbaring, entah masih bernyawa atau tidak. Tetapi pemandangan ini sungguh membuat hatinya pilu, perih teriris sembilu.
Sementara petugas sigap meringkus Bary yang tengah kesakitan, tak mampu lagi memberikan perlawanan.
Bary nekat menembak Ardo. Sehingga membuat petugas pun tak segan-segan menembaki lengannya agar senjata dalam genggamannya terlepas.
Petugas harus bertindak cepat sebelum ada yang menjadi korban.
...
Dengan Bary merampas senjata milik petugas saja sudah membuat Gloria ketakutan setengah mati. Ditambah lagi Bary orang yang nekat. Terlebih amarah dan kebencian yang merasuk tengah menguasainya kini. Tidak sulit bagi Bary melakukan apa yang diinginkannya.
Bila dendam telah menguasai, otak Bary takkan berpikir panjang lagi. Sebab yang terpenting bagi Bary adalah membalaskan dendam dan sakit hatinya.
Namun tidak Gloria sangka, mengapa harus Ardo?
Bila memang Bary ingin membalaskan sakit hatinya, seharusnya kepada dirinya. Bukan Ardo.
"Ardo, bangun Ardo," ratap Gloria disela isak tangisnya. Sambil membelai lembut wajah Ardo.
Ardo masih tak sadarkan diri. Tidak ada respon yang Ardo berikan untuknya. Membuat Gloria semakin ketakutan.
"Bangun, ayo bangun Ardo. Ayo bangun!" pekik Gloria sambil menepuk lembut pipi Ardo.
Isak tangis Gloria semakin menjadi melihat Ardo tak kunjung membuka matanya. Gloria bahkan histeris saat dilihatnya darah segar di bagian perut Ardo.
"Tolong ... Tolong saya Pak," pekik Gloria kepada petugas yang tengah meringkus Bary. Memborgol kedua tangan Bary, lalu membawanya ke mobil patroli yang baru saja tiba.
Yang membuat Gloria bingung disela kepanikan juga ketakutannya adalah, mengapa petugas malah seakan tak peduli. Sikap mereka terkesan acuh rak acuh. Padahal Ardo tertembak. Bahkan nyawanya dalam bahaya kini. Tetapi mengapa tidak ada yang berniat menolongnya.
"Ardo bangun. Tolong jangan tinggalkan aku." Gloria masih meratap pilu dalam tangisnya. Berharap Ardo mendengar tangisnya.
Gloria lantas mengambil ponsel, hendak menghubungi rumah sakit untuk meminta dikirimkan ambulance. Entah mengapa pula petugas malah mengabaikannya. Padahal jelas-jelas Ardo dalam bahaya. Jika tidak segera di lakukan pertolongan, mungkin nyawa Ardo tidak akan terselamatkan.
__ADS_1
Gloria masih menangisi Ardo yang tak sadarkan diri, sambil berusaha menghubungi nomor darurat saat tiba-tiba terdengar suara Aruna memanggil.
"Loly?"
Gloria menoleh.
Di seberang, Aruna yang baru saja tiba, datang menghampiri. Namun raut wajahnya sedikitpun tidak menampakkan kecemasan akan nyawa Ardo yang tengah dalam bahaya.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Aruna melihat Gloria menangis tersedu-sedu dengan kepala Ardo diatas pangkuannya.
"A-Ardo tertembak, Ma," jawab Gloria sambil terisak.
Aruna menghela napas sejenak. Kemudian berjongkok. Sembari menggeleng, Aruna malah mencubit pinggang Ardo.
"Aw! Sakit!"
Sontak Gloria menunduk. Memandang tajam Ardo yang tengah meringis sambil mengusap-usap pinggangnya yang terasa perih.
"Bangun kamu. Buat apa ngerjain Loly segala?" omel Aruna lalu menjewer kuping Ardo. Hingga Ardo pun kesakitan.
"Aduh Ma, sakit Ma." Terpaksa Ardo pun bangun dari pangkuan Gloria.
"Dasar kamu ya?" Aruna malah semakin menjewer telinga Ardo sampai Ardo meringis-ringis kesakitan.
"Aduh Ma, sakit Ma. Ampun, ampun!"
Sedangkan Gloria, hanya bisa tercengang. Ia tak menyangka bila Ardo akan mengerjainya seperti ini. Padahal ia sudah ketakutan setengah mati. Ia bahkan meraung-raung dalam tangisnya. Karena tak ingin kehilangan Ardo.
Namun ternyata, Ardo malah mengerjainya. Membuatnya kesal, lalu memasang wajah merajuk.
"Jadi kamu cuma pura-pura?" kesal Gloria.
"Lalu darah itu? Darah siapa?" Gloria menunjuk ke arah perut Ardo. Yang mana ada noda darah disana.
Aruna pun mencolek noda darah itu, menghirup aromanya, lalu mengecap rasanya.
"Ini saus tomat, bukan darah Loly," ujar Aruna membongkar kebohongan Ardo.
"Saus? Ta-tapi ... Ardo tadi tertembak. Lalu dari mana datangnya saus itu?" Sungguh Gloria kebingungan. Teganya Ardo mengerjainya seperti ini. Padahal ia sudah ketakutan setengah mati.
"Gimana bisa kena tembakan kalau dia pakek rompi anti peluru."
Wajah Gloria merah padam, setengah mati menahan kesal akibat keusilan Ardo.
Sedangkan Aruna menggeleng melihat kelakuan putranya itu.
"Iiiih ... Dasar kamu, ya. Teganya kamu membohongiku seperti ini," kesal Gloria memukuli Ardo brutal.
"Sorry, sorry sayang. Aku cuma iseng kok." Ardo bangun berdiri. Lalu mengambil langkah seribu, menghindari serangan membabi buta Gloria. Yang terus mengejarnya, tak peduli keadaan.
"Ampun sayang, aku cuma iseng. Aku tidak bermaksud membohongi kamu," ujar Ardo sambil terus berlari menghindari kejaran Gloria.
Kini mereka layaknya anak kecil yang sedang bermain kejar-kejaran. Saking kesalnya, Gloria bahkan tak ingin melepaskan Ardo begitu saja. Sebelum ia puas memukuli pria nakal yang satu itu.
Sampai di dalam rumah, Gloria terus saja mengejar Ardo. Gloria lantas melepas sepatunya, hendak melempar sepatu itu kepada Ardo. Saat tiba-tiba, tanpa ia duga, Ardo malah mendekat cepat ke arahnya. Lalu menarik kuat pergelangan tangannya.
HAP
__ADS_1
Ardo terduduk di sofa, dengan Gloria jatuh tepat diatas pangkuannya. Sebelum Gloria bangun, cepat Ardo melingkarkan lengannya di pinggang Gloria. Mengunci pergerakannya.
"Lepas," pinta Gloria kesal.
Ardo menggeleng. "Tidak. Buang dulu sepatunya. Kamu mau apa dengan sepatu itu?" goda Ardo.
"Mau memukuli kamu. Lalu mau apa lagi?"
"Apa kamu mau membuat calon suamimu ini babak belur?"
"Habis, kamunya iseng banget. Aku kesal tahu." Dengan wajah cemberut, bibir Gloria manyun ke depan. Membuat Ardo gemas melihatnya. Rasa-rasanya ingin menerkamnya saat ini juga.
"Tadinya aku memang tidak punya niatan untuk mengerjaimu. Ide memakai rompi anti peluru ini juga datangnya dari mama. Hanya untuk berjaga-jaga katanya," ungkap Ardo akan kekhawatiran Aruna dengan keselamatan Ardo. Mengingat kata Reina, bila Bary menggunakan senjata tajam mengancamnya. Tidak menutup kemungkinan bila Bary pun akan menyerangnya.
"Lalu saus itu?"
"Karena menyusun rencana ini membutuhkan energi yang banyak, jadi dalam perjalanan kemari, aku mampir beli burger sebelum jemput kamu. Aku tidak sempat sarapan dari rumah. Kalau kamu mau, masih ada tuh di mobil. Sengaja aku sisain buat kamu." Bukannya minta maaf, Ardo malah membahas soal makanan.
"Lalu rompinya?"
"Aku pakai saat kamu masuk ke rumah ini."
"Aku benci kamu!" seru Gloria saking kesalnya. Memasang mode merajuk. Padahal meminta dibujuk.
"Benar kamu membenciku?" goda Ardo menatap Gloria lekat. Membuat debar-debar di dada terasa menggelitik. Lalu merayu-rayu manja.
"Bukannya tadi ada yang menangis dan meminta untuk tidak ditinggalkan?" sambung Ardo semakin merayu. Membuat paras Gloria bersemu merah.
Karena malu, Gloria menundukkan wajahnya. Namun malah bertemu pandang dengan Ardo. Hembusan napas keduanya pun terasa hangat membelai kulit dari jarak teramat dekat.
"Benar kamu benci padaku, Glori?" tanya Ardo menuntut jawaban. Padahal ia tahu, kalimat itu terucap lantaran rasa kesal yang membuncah.
Sebab jarak wajah yang terlalu dekat, membuat Gloria menahan napasnya sejenak. Ardo menatapnya sendu, membuat sekujur tubuhnya serasa lemas. Sungguh ia tak kuasa menerima tatapan menghanyutkan itu.
Yang serasa menyeretnya sampai ke palung hati. Ikut meresapi rasa yang kian syahdu merayu-rayu kalbu.
"Sebesar apa kebencianmu padaku?" tanya Ardo kian menatap lekat. Posisi duduk saat ini sejujurnya kian mengusik jiwanya. Posisi yang sungguh meresahkan.
"Tidak. Aku tidak membencimu," sahut Gloria pelan.
"Lalu?"
"Aku ..."
"Aku apa?"
"Aku mencintaimu."
Senyum merekah pun terukir di bibir Ardo. Sembari perlahan, meraih tengkuk Gloria. Menekannya, hendak membawanya mendekat. Gloria memejamkan matanya.
Dua bibir semakin mendekat, hendak bertaut. Saat tiba-tiba ...
"Ehem ... Ehem ..."
Suara deheman Aruna pun mengagetkan keduanya. Lalu buru-buru memperbaiki posisi duduk masing-masing. Keduanya terlihat salah tingkah.
"Nanti saja dilanjutkan. Nanti, kalau sudah halal." Aruna tertawa-tawa melihat wajah bengong Ardo dan Gloria.
__ADS_1
Bersambung