
Bab 40. Kesedihan Gloria
"Kalian sedang apa di dapur?"
Pertanyaan Chika pun mengembalikan kesadaran Gloria seketika. Ia lantas menoleh, memandangi Chika yang berwajah ngantuk.
"Ini Tante, Glori terlalu penakut. Dia pikir aku hantu. Coba lihat, wajahnya sampai pucat begitu," kilah Ardo bersikap santai. Seolah tidak terjadi apapun diantara mereka beberapa menit lalu.
Chika terkekeh sembari berjalan ke arah dispenser. Lalu menuang air minum ke dalam gelas dan meneguknya hingga habis.
"Di jaman seperti sekarang ini apa masih ada hantu? Jangan mengada-ada ah." Chika meletakkan gelas lalu beranjak.
Oh ya ampun. Gloria tak habis pikir, begitu mudahnya Ardo menemukan alasan. Hingga Chika tidak menaruh curiga sedikitpun.
"Oh ya, besok malam di lapangan kota ada bazar. Lusa nanti kalian kan sudah mau pulang. Alangkah baiknya, sebelum kalian pulang, jalan-jalan lah dulu di kota ini. Paling tidak, sebagai kenang-kenangan kalian di kota ini. Di bazar itu dijual berbagai oleh-oleh khas kota ini. Siapa tahu kalian ingin membeli oleh-oleh untuk keluarga kalian."
Ah, Chika menyebut orang tua. Membuat wajah Gloria bermuram durja dalam sekejap. Sebab begitu Chika menyebut orang tua, ia jadi teringat kedua orang tuanya yang sudah tenang di surga.
Ia baru teringat, bila ia pulang nanti, tidak siapapun yang akan menyambutnya. Ia baru teringat, bila tidak ada siapapun yang sedang menunggunya. Lalu untuk siapa ia membeli oleh-oleh?
Bary?
Apakah orang itu tengah menunggunya? Apakah orang itu berharap ia cepat kembali?
Tidak!
Bahkan ketika ia pergi, pria itu sama sekali tidak mengatakan apapun. Mungkin itu lebih baik. Sebab pernikahan yang mereka jalani, sedari awal tidak lah berarti. Seperti sebuah pernikahan yang tidak diinginkan, selain berdasarkan kebutuhan sama. Pernikahan yang saling mengambil keuntungan. Tidak ada cinta di dalamnya.
Sekali lagi, tidak ada cinta!
Melihat raut muram Gloria, Chika pun bertanya,
"Glori, kamu kenapa?" sembari menelisik wajah Gloria.
"Saya ... Saya ..." Gloria menghela napas sejenak. Sementara Ardo dan Chika menunggu jawabannya.
__ADS_1
"Saya tidak punya keluarga, Tante. Orangtua saya sudah meninggal," sambungnya lesu.
Ardo terhenyak begitu mendengarnya. Dipandanginya cemas Gloria yang kini telah menundukkan wajahnya.
"Oh, maaf, maafkan Tante Nak. Tante tidak bermaksud membuatmu sedih. Tante tidak tahu kalau kamu sudah tidak punya orangtua lagi. Maafkan Tante ya?"
Gloria mengangguk pelan. "Iya, tidak apa-apa Tante." Sembari mengangkat wajahnya.
"Mulai sekarang, kamu boleh menganggap Tante orangtua mu sendiri. Jadi, kamu tidak usah sedih lagi. Ya?" hibur Chika sembari mengelus lembut pundak Gloria.
Gloria pun tersenyum lembut. "Makasih, Tante."
"Ya sudah. Kalau gitu Tante ke kamar dulu ya? Kamu juga, istirahatlah. Seharian ini kamu pasti capek kan?"
"Iya, Tante."
"Tante tinggal dulu ya. Kamu juga Do, tidurlah. Ini sudah larut malam. Kebiasaan kamu yang sering begadang itu harus diubah. Mama mu meninta Tante memperhatikan kebiasaan kamu yang satu itu. Jadi, jangan sampe Mama mu memarahi Tante hanya gara-gara kamu. Oke?"
"Oke, Tante. Tenang saja. Setelah ini aku langsung tidur. Sesuai perintah Tante." Ardo mengacungkan jempolnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Jangan lupa, lampunya dimatikan ya?" ujar Chika sebelum benar-benar menghilang dari balik dinding dapur yang membatasi.
Kini tinggallah mereka berdua di dapur itu. Dengan perasaan masing-masing.
Gloria hendak beranjak saat Ardo kembali mencekal lengannya.
"Saya capek, saya mau istirahat," elaknya demi menghindari Ardo.
"Ikut aku sebentar." Ardo tak peduli elakan Gloria. Kembali ia menarik lengan Gloria. Mengajaknya ikut bersamanya ke suatu tempat di rumah itu.
Di tengah malam seperti ini, Ardo malah mengajak Gloria ke halaman belakang rumah. Dimana terdapat sebuah taman kecil yang hampir dipenuhi bunga-bunga yang tampak terawat.
Ardo lantas mengajaknya duduk di sebuah bangku panjang di teras belakang rumah itu.
Gloria menurut dengan berat hati. Yang sebetulnya ada rasa cemas. Banyak hal yang membuatnya cemas. Salah satunya adalah, cemas bila Ardo kembali melakukan hal diluar batasannya lalu kepergok oleh tuan rumah.
__ADS_1
Walau bagaimanapun, ia hanyalah tamu. Dan lagipula, ia telah berstatus istri orang. Tak sepantasnya ia terlihat berduaan di tengah malam seperti ini dengan lelaki lain.
Ia menghembuskan napasnya pelan sembari menundukkan wajahnya. Sementara Ardo tengah menyusun kalimat yang pantas untuk menyampaikan rasa iba nya akan nasib Gloria.
Oh, bukan. Bukan perasaan iba yang ingin Ardo tunjukkan. Mungkin saja ia turut berbelasungkawa, meski terlambat. Ditatapnya Gloria yang tengah menunduk.
Ardo hendak berkata saat Gloria telah lebih dulu melambungnya.
"Tidak perlu merasa kasihan terhadap saya. Saya memang seorang yatim piatu, tapi saya tidak butuh dikasihani siapapun."
Terdengar sedikit sombong memang ucapan Gloria. Tetapi hal itu ia lakukan lantaran tak ingin orang-orang memandangnya remeh. Ia mungkin sebatang kara, tidak punya siapapun selain manusia keji seperti Bary. Ia mungkin merasa kesepian. Tiada teman berbagi, selain Reva, satu-satunya yang sudi berteman dengannya.
Disaat ia butuh dukungan, baik itu secara moril maupun materil, ia justru ditinggalkan. Entah itu oleh sahabat maupun oleh keluarga yang ia miliki. Baik itu dari keluarga pihak sang ayah maupun dari pihak sang ibu. Entah ia berbuat dosa apa, sehingga orang-orang terdekatnya justru memilih menjauh. Disaat ia butuh seseorang yang bisa ia pinjami bahunya untuk bersandar. Yang bisa ia pinjami kedua lengannya untuk mendekapnya. Walau hanya sekedar memberinya semangat.
Tidak ada.
Tidak ada siapapun yang peduli, apalagi memberi perhatian kepadanya. Selain Reva dan dirinya sendiri. Namun ia tak ingin mengeluh. Ia harus bisa kuat, setidaknya demi dirinya sendiri. Sebab hidup sebatang kara tidaklah mudah.
"Maaf, aku tidak ingin mengasihanimu. Aku hanya ingin menjadi temanmu," ucap Ardo. Yang refleks membuat Gloria menoleh, menatapnya penuh tanya. Bahkan tak percaya.
"Teman yang ingin memilikimu sebagai teman hidup untuk seumur hidupnya," sambung Ardo menatap lekat wajah Gloria.
"Maaf, saya tidak mengerti maksud Anda. Saya permisi, mau istirahat." Gloria beranjak dari duduknya, hendak pergi meninggalkan Ardo. Namun lagi-lagi, belum sempat langkahnya mengayun, Ardo telah lebih dulu menahan pergelangan tangannya kuat.
Ia hendak memberontak, namun cepat Ardo membalikkan tubuhnya, lalu merengkuhnya ke dalam dekapan hangatnya. Yang membuatnya terkesiap dengan napas yang tertahan, serta detak jantung yang mulai berdegup kencang.
"Aku tahu kamu butuh teman," ucap Ardo lirih, namun terdengar jelas di telinganya.
"Aku bisa menjadi temanmu. Kamu boleh bercerita apapun padaku. Saat kamu sedih, kamu boleh meminjam bahuku. Saat kamu ingin menangis, kamu boleh meminjam dadaku. Aku akan jadi pendengarmu yang setia. Karena aku akan selalu ada untukmu," sambung Ardo sembari mengeratkan dekapannya.
Ucapan Ardo terdengar menyayat hati. Lalu secara ajaib begitu menyentuh hatinya.
"Saat kamu kehilangan arah, datanglah padaku. Maka aku akan menuntunmu, aku akan menemanimu menemukan kembali arah hidupmu. Karena aku ... Mencintaimu," tambah Ardo tulus. Sehingga tanpa sadar, air matanya telah jatuh berderai.
Isak tangis pun mulai terdengar. Lalu entah terbawa suasana, perlahan ia mengangkat kedua tangannya, membalas pelukan Ardo. Hingga membuat Ardo tertegun.
__ADS_1
Bersambung