Gara-Gara Kamu

Gara-Gara Kamu
Bab 61. Salah Kamar


__ADS_3

Bab 61. Salah Kamar


Pandangan Gloria menyapu ke seisi ruangan setelah Ardo pamit. Ia menghembuskan napasnya panjang begitu pantat mendarat di atas tempat tidur king size kamar hotel yang lebih besar dari kamar sebelumnya. Ia tak mengerti mengapa tiba-tiba Ardo berganti kamar. Padahal ia telah cukup merasa nyaman dengan kamar sebelumnya.


Tapi, apa pun itu, hanya Ardo lah yang tahu alasannya. Untuk sementara ia memang merasa aman dari amarah Bary. Namun tak menjamin keamanannya di hari-hari berikutnya nanti.


Entah Ardo itu terbuat dari apa, manusia jenis apa, entah dari planet mana. Seakan manusia yang satu itu tak kenal takut.


Terkadang justru Gloria lah yang menjadi takut. Juga berdebar disaat yang bersamaan kala mengingat Ardo.


Namun rasa cintanya lebih mendominasi. Memupus segala rasa yang membuatnya gundah. Membuatnya yakin bila Ardo dikirimkan Tuhan untuknya. Membebaskannya dari pernikahan yang tak pernah ia inginkan.


Semoga saja Ardo bisa membawanya menuju kehidupan berbahagia seperti yang sering Ardo janjikan untuknya. Dan semoga Ardo tidak akan berhenti memperjuangkannya seperti yang sering didengung-dengungkan.


Maka biarlah kali ini ia menjadi egois demi kebahagiaan yang ia impi-impikan.


"Gloria, maaf, saya harap kamu bisa mempertimbangkan omongan saya. Simak baik-baik apa yang akan saya katakan. Mulai sekarang, tolong kamu jauhi Ardo. Saya sangat mengenal betul putra saya.


Dia tidak pernah serius dalam menjalin hubungan dengan wanita manapun. Tidak terkecuali kamu. Pikirkanlah masa depan rumah tanggamu sendiri. Ardo itu hanya bermain-main. Kamu jangan mudah tertipu olehnya. Saya takut kamu akan terluka, dan rumah tanggamu yang justru akan jadi korban. Saran saya, sebaiknya perbaiki hubunganmu dengan suamimu, sebelum semuanya terlambat. Dan saya minta kamu tinggalkan Ardo segera."


Ucapan Aruna beberapa hari lalu masih terngiang jelas di telinga Gloria. Bukannya bermaksud tak mengindahkan. Namun apalah daya, ia tak sanggup melawan kata hati dan keinginan Ardo.


...........


 


Bersama Andre yang mengetahui persis di mana Ardo kini berada, Dicko melangkah lebar menyusuri koridor. Setelah bertanya dan meminta ijin pada resepsionis, yang awalnya tidak mengijinkan bila tamu hotel di ganggu serta tamu hotel yang dimaksud telah berpesan bahwa mereka tak ingin menerima tamu. Namun karena Dicko adalah ayah dari tamu hotel tersebut, resepsionis pun memberi ijin. Dengan catatan tidak akan membuat keributan.


Berdasarkan informasi dari resepsionis, di sinilah Dicko kini berada. Di depan pintu kamar 087. Memandangi pintu kamar itu dengan wajah geram menahan amarah.

__ADS_1


Sungguh tak disangka, sang putra kebanggaan tak sedikitpun mengindahkan nasehat orangtua. Bahkan melanggar batasan dalam keluarga Anggara yang telah ia tetapkan semenjak dahulu kala.


Berkaca dari pengalaman yang telah dilalui, Dicko pun memasang rambu-rambu peraturan dalam keluarganya yang tidak boleh di langgar. Salah satunya yaitu melarang sang putra menjalin hubungan yang terlarang.


Bukan tanpa alasan Dicko melakukan hal itu. Sebab hal seperti itu pernah ia alami sendiri. Sehingganya ia membebaskan sang putra memilih pasangan hidupnya sendiri. Asalkan bukan pasangan milik orang lain.


Sebab ada banyak aral yang akan menghadang. Juga banyak hati yang akan tersakiti. Tidak selamanya takdir akan selalu berpihak. Adakalanya hidup tidak akan berjalan seperti apa yang kita harapkan. Dan tak selamanya kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan.


Pintu kamar pun terbuka begitu Andre menekan bel pintu berkali-kali.


Dicko telah bersiap dengan segala rentetan kalimat yang telah tersusun rapi di kepala untuk menasehati sang putra. Mungkin sudah saatnya ia bertindak tegas juga keras. Agar sang putra tidak salah melangkah.


Namun agaknya ia mungkin telah salah masuk kamar. Sebab bukan Ardo, melainkan seorang room service yang sedang membersihkan kamar yang kini tengah berdiri di ambang pintu yang terbuka. Menatap bingung kepadanya.


"Di mana tamu kamar ini?" tanya Andre mewakili.


"Maaf, tamu kamar ini sudah cek out beberapa jam yang lalu," sahut room service santun.


"Iya, Pak!"


Bersamaan dengan itu, berdasarkan informasi yang diperoleh dari Reina, Bary pun tiba di kamar hotel yang diberitahu oleh Reina.


Begitu sampai, ia pun hanya bertemu dengan room service serta dua pria paruh baya yang tengah berbincang dengan room service tersebut.


"Di mana istriku?" tanya Bary berapi-api dengan kilatan amarah menyambar-nyambar. Ditatapnya nyalang room service tersebut.


"Maaf, Pak. Tamu kamar ini sudah cek out beberapa jam yang lalu," sahut room service takut-takut melihat amarah di wajah Bary.


"Cek out? Jangan berbohong padaku. Kamu pasti sudah dibayar untuk menyembunyikan mereka kan? Jangan coba-coba menipuku. Aku bisa melaporkanmu pada atasanmu. Mau kamu dipecat? Jadi katakan dimana istriku." Bary semakin tak bisa membendung amarahnya lagi. Bahkan Bary tak peduli dengan Dicko dan Andre yang menatap aneh kepadanya.

__ADS_1


"Saya tidak berbohong, Pak. Tamu kamar ini memang sudah cek out beberapa jam yang lalu. Justru sekarang saya membersihkan kamar ini karena ada tamu lain yang akan menginap di kamar ini." Room service terlihat ketakutan meladeni Bary yang tengah dikuasai amarah.


Bary pun mendengus kesal, mengepal tinjunya kuat hingga kuku-kukunya memutih.


"Dasar Ardo keparat. Berani-beraninya bajingan itu membawa kabur istri orang. Awas saja kalau sampai aku menemukannya. Aku tidak pernah mengampuni perbuatannya. Akan kupastikan kamu tidak akan bisa melihat matahari terbit lagi. Kamu akan lenyap ditanganku, Ardo." Bary hendak beranjak saat Dicko tiba-tiba mencegahnya.


"Tunggu."


Bary pun menghentikan langkahnya. Lalu memutar tubuhnya berhadapan dengan Dicko yang melangkah menghampiri.


"Maaf, saya tidak sengaja mendengar apa yang kamu katakan tadi. Kalau boleh tahu kamu ini siapa? Apakah kamu mengenal Ardo?" tanya Dicko penasaran. Namun juga mencemaskan Ardo. Hal yang paling ia takutkan kian membayangi. Ia hanya tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Ardo, putra semata wayangnya.


"Ardo si keparat itu?" Kedua alis Bary terangkat tinggi dengan seringai di wajahnya.


"Tentu saja aku kenal dengan laki-laki brengsek itu, yang sudah berani membawa kabur istri orang. Awas saja kalau sampai bertemu. Aku akan membuat perhitungan dengannya. Tidak akan aku biarkan laki-laki kepa rat itu berlama-lama hidup di dunia ini," sambung Bary berapi-api, memasang wajah sinis di depan Dicko.


"Membawa kabur istri orang katamu?" Dicko mengulang kalimat terakhir Bary dengan kernyitan di dahi. Sungguh ia tak menyangka putranya akan bertindak sampai sejauh ini.


"Iya. Dia membawa kabur istriku. Dan aku tidak akan tinggal diam. Aku tidak akan melepaskan mereka." Bary semakin geram mengepalkan tinjunya erat. Serta sorot mata nyalang menatap Dicko.


........


Sementara suasana di hotel dibuat tegang, Ardo justru terlihat santai ketika memandangi deretan gaun-gaun cantik di sebuah butik.


Ia berdiri memeluk dada, mengamati satu per satu gaun yang diperlihatkan oleh pelayan butik. Sedari tadi belum ada satu gaun pun yang menarik hatinya. Sampai tiba-tiba terdengar sebuah suara dari balik punggungnya.


"Yang itu cantik."


Sontak ia menoleh dan terkejut mendapati seorang gadis cantik tersenyum kepadanya.

__ADS_1


"Sedang cari gaun untuk siapa?" tanya gadis itu lalu mensejajarkan diri dengannya. Ikut mengamati sebuah gaun yang diperlihatkan pelayan butik dengan senyum terkembang.


Bersambung


__ADS_2