Gara-Gara Kamu

Gara-Gara Kamu
Bab 81. Dukungan


__ADS_3

Bab 81. Dukungan


"Cepat sedikit, Bambang." Opa Danu duduk gelisah di bangku tengah sambil sesekali melirik arloji yang melingkar di pergelangan kirinya.


"Baik, Pak." Bambang menambah laju mobil, membelanya padatnya jalanan ibukota menuju tempat yang hendak dituju.


Bambang adalah supir setia, juga telaten. Sudah bertahun-tahun lamanya Bambang bekerja bersama Opa Danu.


"Kamu sudah menghubungi Bram, Clara?" tanya Opa Danu beralih pada Clara yang duduk di sebelah Bambang.


Hari ini, entah mengapa hati seorang Danu Anggara tergerak ingin berziarah ke makam Darma Dharmawan. Ia bahkan meminta kedua putra serta menantunya untuk menemaninya berziarah.


"Sudah, Pa. Kata Bram, setelah meeting mereka langsung ke makam," sahut Clara santun dengan intonasi lembut.


"Semoga saja hari ini cuacanya cerah," harap Opa Danu sembari melihat-lihat ke luar jendela.


Di luar, cuaca memang terlihat sedikit mendung. Jika turun hujan nanti, otomatis rencananya untuk berziarah terpaksa harus ditunda.


...


Sementara di Tempat Pemakaman Umum.


"Ma-maaf, Tante. Saya sungguh tidak mengerti. Sa..."


"Panggil Mama. Mulai sekarang, kamu harus memanggil saya, Mama." Aruna menyela cepat ucapan Gloria. Hingga Gloria hanya bisa tertegun dengan mata mulai berkaca-kaca.


"Kamu Loly nya Mama. Loly kecil Mama. Kamu mungkin lupa dengan Mama. Tapi Mama tidak pernah melupakanmu," tambah Aruna semakin berbinar-binar.


Hingga sukses menjatuhkan bulir-bulir air mata yang menggenang di pelupuk mata dan membasahi wajah ayu Gloria.


"Mama?" gumam Gloria penuh haru.


Aruna mengurai senyuman manis, berbinar-binar menatap wajah Gloria. Sungguh ia sangat menyesali, sebelumnya ia telah meminta Gloria menjauhi bahkan meninggalkan Ardo.


Andai saja ia mengenali Gloria lebih dulu, maka ia lah orang pertama yang akan mendukung hubungan Ardo dan Gloria. Terlebih, ketika ia mengetahui kekejaman suami Gloria. Yang memperlakukan Gloria buruk, bahkan sedikitpun tidak menghargainya.


Sungguh miris kehidupan rumah tangga yang dijalani Gloria. Membuat hati Aruna teriris, perih bila harus mengingatnya.


Sangat berbanding terbalik dengan kehidupan rumah tangganya. Yang dilimpahi cinta dan kasih sayang oleh suami tercintanya.


Aruna mengangguk penuh haru. "Iya, Mama. Dulu, waktu kamu masih kecil, Mama yang sering menggendongmu kalau kamu menangis. Dan kamu baru bisa berhenti menangis kalau Mama yang gendong. Sampai-sampai Ardo meminta Mama untuk membawamu pulang." Aruna tertawa kala mengingat kenangan masa itu.


Gloria mengulum senyum. Diliriknya sejenak Ardo yang pun tersenyum memandangnya.


Ada kelegaan dalam dada Gloria melihat respon Aruna setelah mengetahui bahwa ia adalah putrinya Darma. Semula ia tegang, sebab Aruna pernah memintanya untuk mengakhiri hubungannya dengan Ardo.


Mungkin ini adalah jawaban dari doa-doanya. Yang tak ingin kehilangan Ardo. Semesta justru memberinya dukungan lewat kedekatan emosionalnya dahulu dengan Aruna, ibundanya Ardo.

__ADS_1


Belum lagi dengan adanya janin yang tumbuh dalam rahimnya. Yang akan menjadi pembuka jalan untuk ia dan Ardo bersatu.


Semoga.


"Sampai akhirnya, waktu itu Mama ingin sekali menyatukan kamu dan Ardo kelak kalian dewasa nanti. Dan hari ini, Mama sangat senang, apa yang menjadi impian Mama dulu akhirnya akan menjadi kenyataan," sambung Aruna.


Namun kini wajah Aruna terlihat sendu. Seakan penyesalan itu masih menderanya.


"Loly." Sembari meraih jemari Gloria, disertai wajah sendu sambil menatap sayu. Aruna kembali berkata,


"Maafkan Mama yang sudah berkali-kali menyinggung perasaan kamu. Mama hanya tidak mau putra Mama satu-satunya ini menjadi perusak rumah tangga orang. Andai saja Mama tahu sejak awal, Mama tidak akan membiarkan kamu hidup menderita seperti ini."


Gloria melepas genggaman Aruna. Berganti dengannya yang menggenggam jemari Aruna. Sembari menatap Aruna berbinar dengan senyuman manis terkembang.


"Tan..."


"Mama! Panggil Mama!" Cepat Aruna menyela sebelum Gloria menyelesaikan kalimatnya.


"Oh, iya. Mama." Kembali Gloria melirik Ardo. Yang tampak tenang berdiri di belakang Aruna.


"Ehem ... Ehem ..." Ardo berdehem untuk meminta perhatian Aruna yang telah teralih kepada Gloria, saking bahagianya dipertemukan kembali. Melalui keadaan yang tidak terduga.


Aruna menoleh.


"Sepertinya aku sudah mulai dilupakan ya?" celoteh Ardo tersenyum menggoda.


"Sini, Nak." Aruna meraih jemari Ardo. Menyatukannya dengan jemari Gloria. Menuntunnya untuk saling menggenggam.


"Inilah yang menjadi impian Mama sejak dulu. Mama bersyukur sekali, ternyata Tuhan membuatnya menjadi mudah. Tuhan sudah menyatukan anak-anak Mama dalam jalinan tali kasih yang sangat Mama harapkan sejak dulu." Sembari tersenyum bahagia, Aruna menatap Ardo dan Gloria bergantian.


"Mama tahu, Loly adalah yang terbaik buat Ardo. Dan Ardo adalah yang tepat untuk Loly. Sekarang, Mama minta sama kalian berdua, jangan pernah saling meninggalkan walau apapun yang terjadi. Baik dalam senang maupun susah, kalian harus tetap bersama," tambah Aruna dengan mata berkaca-kaca.


"Kalian harus janji sama Mama," sambungnya.


"Mama tenang saja. Aku tidak akan pernah meninggalkan Loly nya Mama ini apapun yang terjadi," ucap Ardo meyakinkan Aruna.


"Janji kalian akan tetap saling mencintai sampai kapanpun," pinta Aruna.


"Iya, Ma. Aku janji." Gloria menyanggupi.


"Mama kok jadi lebay begini sih?" celoteh Ardo menanggapi respon Aruna akan hubungannya dengan Gloria.


Harus Ardo akui, ada kelegaan dalam dada. Karena pada akhirnya, sang mama merestui. Bahkan berada di garda terdepan memberi dukungan penuh terhadap hubungannya. Tak peduli dengan status yang melekat dalam diri Gloria saat ini.


Sebab seperti kata Bram. Itu hanyalah status. Yang bisa berubah sewaktu-waktu.


"Kamu sih ... Kenapa tidak kasih tahu Mama. Kalau pacar kamu itu Loly." Aruna merajuk, memukuli lengan Ardo.

__ADS_1


"Mana aku tahu Ma. Kalau Glori ini adalah Loly yang Mama maksud." Ardo tertawa-tawa berusaha menghindari serangan cubitan dari Aruna.


"Kamu nakal. Mama kesal iiih ..." Namun akhirnya Aruna sukses melayangkan satu cubitan di pinggang Ardo.


Sementara Gloria tersenyum-senyum melihat kedekatan ibu dan anak tersebut.


Dahulu ataupun sekarang, keadaan akan tetap sama andai Aruna mengetahuinya sejak awal. Sebab ada status Gloria yang menjadi pembatas untuk keinginannya menyatukan sang putra tersayang dengan kekasihnya.


Dan yang menjadi prioritasnya saat ini adalah, membebaskan Gloria dari belenggu pernikahannya. Yang telah menyiksanya sedari awal.


Mereka tengah bercanda, tertawa-tawa bahagia saat tiba-tiba terdengar suara berat seorang pria memanggil.


"Ardo! Aruna!"


Sontak mereka menoleh.


Di seberang telah berdiri seorang Danu Anggara. Yang menatap tajam ke arah mereka. Guratan amarah mulai tergambar di wajah tua Opa Danu tatkala pandangannya bergulir kepada Gloria.


"Sedang apa kalian di tempat ini?" tanya Opa Danu dengan wajah tak bersahabat.


"Opa?" Ardo mengambil langkah hendak menghampiri. Namun Opa Danu mengangkat tangan kirinya. Mengisyaratkan agar Ardo tidak datang menghampirinya. Terpaksa langkah Ardo pun terhenti.


Melihat reaksi Opa Danu begitu melihat Gloria, membuat cemas mendadak melanda. Ardo cemas bila Opa Danu tidak akan merestui hubungannya dengan Gloria. Sudah jelas respon yang Opa Danu berikan saat di perayaan ulang tahunnya kemarin. Bila sang kakek, memang tidak memberi restu.


Sementara Opa Danu, menampakkan wajah tak sukanya begitu melihat Gloria. Wanita tidak tahu malu yang telah menyeret Ardo ke dalam masalah.


"Sedang apa perempuan itu di tempat ini?" tanya Opa Danu mengarahkan tatapan tajam kepada Gloria. Yang tengah menunduk malu juga takut.


Clara, yang tengah berdiri di samping Opa Danu, memberi Aruna kode melalui kerlingan mata agar Aruna bersikap tenang.


"Papa ... Saya bisa menjelaskan alasan Loly berada di sini." Aruna mengambil langkah menghampiri. Dalam kepala ia telah menyusun kalimat yang pantas untuk ia utarakan kepada Opa Danu. Agar sang ayah mertua tersebut berpandangan sama dengannya perihal hubungan Ardo dan Gloria. Yang telah terlanjur salah dimata banyak orang selama ini.


"Loly?" Opa Danu mengerutkan dahi menatap Gloria.


...


Di lain tempat.


BRAK!


Bunyi dentam pintu yang dibanting kuat tersebut mengagetkan Reina yang tengah berbaring diatas sofa dengan wajah ditutupi masker. Serta kedua kelopak mata yang ditutupi irisan ketimun.


Reina tersentak, lalu refleks bangun dari posisi berbaringnya. Matanya melotot begitu melihat sosok yang tiba-tiba telah berdiri di hadapannya saat ini. Dilepasnya masker yang menutupi wajahnya.


"Ba-Bary? Ka-kamu sudah bebas?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2