Gara-Gara Kamu

Gara-Gara Kamu
Bab 54. Kemarahan Bary


__ADS_3

Bab 54. Kemarahan Bary


Ardo harus menahan kekecewaan juga sakit hatinya yang mendalam saat dilihatnya di seberang sana, Gloria memilih masuk ke mobil Bary yang datang menjemputnya. Diremasnya kuat kotak beludru berwarna hitam yang berisi sebuah gelang cantik yang ingin ia berikan kepada Gloria. Namun sayangnya, Gloria malah menjauhinya.


Entah mengapa.


Ia harus menghembuskan napasnya kasar berkali-kali demi meluruhkan sakit di hatinya. Dipukulinya kuat stang kemudi. Perubahan sikap Gloria yang terkesan mendadak itu sungguh membuatnya kecewa.


Sementara dalam perjalanan pulang, Gloria diam membisu di samping Bary yang tengah fokus pada jalanan yang membentang lurus di depannya.


Pikirannya sedang kalut, dipenuhi Ardo yang ia tinggalkan begitu saja tanpa menggubris ajakan dan permintaan Ardo. Yang ingin bertemu dengannya, sekedar melepas rindu yang belum tuntas.


"Katanya hari ini kamu lembur," ucap Bary memecah hening di dalam mobil.


"Pekerjaannya sudah aku selesaikan cepat," kilah Gloria.


"Oh ya, mengenai pinjaman kamu di kantor waktu itu, aku ingin membantu kamu melunasinya. Jadi kamu tidak perlu lembur lagi. Aku akan menyisihkan sebagian penghasilan Club. Agar supaya pinjamannya bisa segera kamu lunasi."


"Makasih. Tapi sebaiknya tidak perlu." Karena memang tidak ada gunanya Bary membantunya. Sebab uang yang Ardo berikan kepadanya tempo hari itu tidak perlu lagi ia menggantinya. Ardo memberinya cuma-cuma dengan alasan konyol menurutnya waktu itu.


"Loh, kenapa?" Bary menoleh sejenak. Melirik Gloria yang tampak seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Aku bisa melunasinya sendiri pelan-pelan. Kantor memberiku waktu yang cukup panjang sampai aku bisa melunasinya." Memang benar apa kata pepatah. Sebuah kebohongan kecil akan mengundang kebohongan-kebohongan lainnya yang lebih besar. Seperti yang sedang Gloria lakukan saat ini. Kebohongan lain ikut menyusul setelah kebohongan pertama yang ia lakukan.


Bagaimana nanti bila Bary mengetahui bahwa ladang kecilnya telah digarap oleh orang lain?


Bukan hanya marah, sudah barang tentu Bary akan murka. Dan bukan hanya siksaan saja yang akan Gloria dapatkan, melainkan nyawanya mungkin lenyap di detik itu juga.


"Tapi tetap saja, sebagai suami aku harus membantumu. Lagipula, aku yang menggunakan uang itu."


"Iya, baiklah." Gloria tak bisa menolak keinginan Bary. Setidaknya, keinginan Bary adalah untuk meringankan bebannya. Padahal yang sebetulnya ia sama sekali tidak terbebani dengan pinjaman 250 juta waktu itu.


Ia lantas memalingkan muka, memandangi setiap objek yang mereka lewati. Saat tiba-tiba Bary meraih jemari kanannya, menggenggamnya erat. Menyalurkan segenap rasa dalam dada.

__ADS_1


Ingin menarik tangannya dari genggaman Bary, namun ia terlalu takut bila hal itu akan menyinggung Bary. Penolakannya selalu saja berbuah kemurkaan Bary. Entah itu dahulu, tidak menutup kemungkinan pun di masa sekarang. Ia akan dianggap tidak menghargai usaha keras Bary yang ingin berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik.


Namun, secara tidak langsung, upaya perubahan Bary ini justru akan membuatnya terjerat semakin lama dalam pernikahan ini.


"Glori, terima kasih kamu sudah memberiku kesempatan. Aku janji, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang kamu berikan ini. Mulai sekarang, aku akan lebih memperhatikanmu. Aku akan membuatmu merasa nyaman berada di sampingku. Dan aku akan membuatmu bahagia. Aku janji," ungkap Bary setulus hati.


Namun sayangnya, tak menyentuh relung hati Gloria sedikitpun. Ungkapan hati Bary seperti sebuah ultimatum bagi Gloria. Bahwasanya ia harus hidup lebih lama lagi bersama Bary. Atau bahkan bisa saja selamanya ia harus hidup bersama Bary. Sebagai pasangan suami istri. Dalam penjara yang ia sebut pernikahan.


Tidak!


Ia mungkin tidak akan sanggup. Sekarang pun, serasa ia akan mati perlahan. Mati tersiksa oleh perasaannya sendiri.


Sampai di rumah, ia bergegas turun begitu mobil menepi. Tergesa-gesa ia membawa langkahnya masuk ke dalam rumah, hendak ke kamarnya.


Namun tangan kekar Bary yang mencekal lengannya, membuat langkahnya terhenti. Belum sempat ia memutar tubuhnya, Bary telah mendekapnya erat dari belakang. Membuatnya mendadak gugup karena ketakutan.


"Bary, to-tolong lepaskan aku. Aku mau bersih-bersih dulu. A-aku juga harus memasak makan malam kita," pintanya terbata lantaran ketakutan yang mendera. Takut bila Bary akan berbuat hal di luar kendalinya.


"Glori, bukankah kamu sudah memberiku kesempatan? Maka berikan aku juga kesempatan untuk memenuhi tanggung jawabku sebagai suami. Yaitu memberimu nafkah batin," ucap Bary lirih.


Ketakutan semakin menyergap manakala jemari Bary mulai mengembara liar. Membelai lembut setiap lekuk tubuhnya. Bukan hanya tercekat, rasa-rasanya ia telah berhenti bernapas. Otaknya sungguh beku menemukan cara menghindari Bary. Sungguh ia tak ingin berada di bawah kungkungan Bary.


"Sudah lama aku merindukan kehangatanmu, Glori. Berikan hak ku sebagai suamimu." Jemari Bary semakin jauh berkelana. Seiring dengan degup jantung Gloria yang semakin bertalu-talu.


Kecemasan juga ketakutan kian mendera. Membuat raganya terpaku, persendian serasa lemas. Ia tak kuasa, lagi tak berdaya melawan keinginan Bary. Yang telah diselimuti gairah. Hasrat yang membuncah itu tak mampu lagi Bary membendungnya. Hingga dengan tega, hendak menjadikannya pelampiasan.


Sungguh, Gloria tidak menginginkan situasi ini. Situasi menegangkan juga menyeramkan baginya. Meski kali ini Bary bersikap lembut, namun perlakuan buruk Bary di masa lalu masih menyisakan trauma yang masih membekas. Ketika ia kehilangan harga diri secara brutal di tangan Bary.


"Ba-Bary, t-tolong lepaskan aku. A-aku mohon," pinta Gloria memelas. Mungkin ia akan pingsan di detik ini.


Helaan napas berat Bary terdengar jelas di telinganya. Membuat batinnya menjerit, mengharap sebuah keajaiban menolongnya dari situasi ini.


Jemari Bary mulai bergerak membuka tautan kancing kemejanya. Saat tiba-tiba terdengar bunyi denting pesan masuk, entah di ponsel siapa. Namun bunyi denting ponsel itu menyelamatkannya dari hasrat membuncah Bary.

__ADS_1


Ia segera merogoh tas, mengambil ponsel dari dalam sana. Tetapi sayangnya, pesan itu tidak masuk ke ponselnya. Melainkan pada ponsel Bary.


Bary tengah mengerutkan dahi menatap layar ponselnya. Sebuah pesan yang masuk itu adalah pesan dari Reina. Yang berisi video berdurasi pendek. Yang memperlihatkan Ardo dan Gloria keluar dari gudang peralatan dengan wajah tersenyum.


Video itu serta merta mengundang raut berbeda di wajah Bary. Wajah Bary yang semula teduh, kini menjadi merah padam lantaran amarah yang mulai merasuk dalam dada.


Tak ingin Bary melanjutkan aksinya kembali, Gloria memilih bergegas ke kamarnya. Belum sempat ia menutup pintu, tiba-tiba Bary menahan daun pintu itu menutup.


"Kita harus bicara, Glori," ucap Bary dengan amarah, menatap Gloria tajam. Rahangnya mengetat, memperlihatkan dengan jelas amarah yang kini merasukinya.


"Bi-bicara tentang apa?" tanya Gloria takut.


"Kamu mulai berani berbohong padaku?" Bary terlihat geram. Mulai mendekat perlahan disertai tatapan tajam menikam.


Gloria beringsut mundur. Bersamaan dengan langkah Bary yang mendekat.


"Ma-maksud kamu apa?"


Bary tidak langsung menjawab pertanyaan Gloria. Tangan kanannya justru bekerja lebih cepat meraih leher Gloria, mencekiknya kuat. Membuat Gloria kesulitan bernapas.


"Berani sekali kamu menipuku. Lancang kamu mempermainkan aku, Glori," ucap Bary berapi-api. Semakin mencekik Gloria. Hingga wajah Gloria memerah lantaran mulai kehabisan pasokan oksigen dalam paru-paru.


_____


Sementara di waktu yang sama.


Meski kecewa, Ardo tidak lantas membiarkan Gloria lolos dari pengawasannya. Di luar rumah Bary, menepi beberapa meter dari rumah itu, Ardo tengah menunggu.


Menunggu bila saja Gloria keluar rumah sebentar, walau hanya sekedar pergi ke minimarket. Atau ke mana pun yang Gloria inginkan ketika Gloria sedang ada keperluan.


Ardo menunggu gelisah di dalam mobilnya. Sembari menatap layar ponsel. Ia menimbang-nimbang, haruskah ia menghubungi Gloria. Ataukah ia temui saja Gloria langsung di rumah itu. Tak peduli seperti apa pun keadaan yang akan ia temui nanti.


Kekecewaan dan kerinduannya, masih teramatlah besar rasa rindunya kepada Gloria. Hingga membuatnya tak bisa mengendalikan diri lagi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2