
Bab 83. Kabar Gembira
"Tidak akan Papa menyia-nyiakan kesempatan ini lagi. Jadi kenapa kita masih menunda-nunda waktu? Bukankah secepatnya mereka bersatu akan lebih baik?"
Ucapan Opa Danu yang tak terduga itu pun membuat semua orang tercengang. Serta sukses mengangkat wajah Gloria yang semula tertunduk malu.
"Tapi Pa. Statusnya masih istri orang." Dicko mencoba mengingatkan sang ayah tentang status Gloria yang tak bisa diabaikan begitu saja. Bagaimana mungkin Ardo menikahi wanita yang masih menjadi istri orang?
"Itu hanya status. Dan itu bisa berubah sewaktu-waktu. Dia menjalin hubungan dengan Ardo di belakang suaminya. Itu artinya rumah tangganya tidak harmonis. Lagipula, perilaku suaminya itu terlalu buruk. Sangat tidak pantas disebut suami. Apa kamu pikir, Papa mu ini tidak tahu apa-apa?" Opa tersenyum culas.
Setelah pertunjukan dadakan di pesta ulang tahun Ardo kemarin, diam-diam Opa Danu mencaritahu tentang Gloria. Melalui Diana, kepala HRD perusahaan, ia mengetahui sedikit informasi tentang Gloria. Yang didapat Diana dari mantan rekan-rekan kerja Gloria.
Ada rasa iba kala mengetahui mirisnya kehidupan yang Gloria jalani. Namun hati pun tak bisa menerima bila sang cucu kebanggan malah memacari wanita yang sudah menikah.
Akan tetapi, kenyataan yang terkuak saat ini, bahwa Gloria adalah putri dari Darma Dharmawan, mantan relasi yang amat disegani itu pun tak bisa ia pungkiri.
Menilik ucapan Bram beberapa waktu lalu, Opa Danu pun mulai terpengaruh. Bilamana status bisa berubah sewaktu-waktu.
Lalu apa salahnya?
Toh, putra sulungnya juga menikahi janda dari adiknya sendiri.
Bram.
Pria paruh baya itu tersenyum bahagia melihat sang ayah dengan hati terbuka telah memberi restu.
Di dunia ini ada banyak kasus serupa yang terjadi. Bukan hanya Ardo seorang, yang berstatus bujang malah menikahi janda. Sebab cinta adalah persoalan hati. Cinta tak pernah memilih kepada siapa ia berlabuh. Karena yang ternyaman hanya hati yang bisa merasakan.
"Pa, Papa sedang bercanda kan?" Dicko masih belum bisa mempercayai bila sang ayah telah memberi restu dengan mudahnya. Sedangkan ia sendiri masih berat hati rasanya. Lantaran status Gloria yang masih menjadi istri orang.
"Anak itu sudah menjadi yatim piatu. Jadi mulai sekarang, anak itu menjadi tanggung jawab kita. Termasuk masa depannya." Opa Danu berucap sembari melirik Dicko sejenak.
"Jangan lupakan masa lalumu. Kasusnya hampir menyerupai," sambung Opa Danu membuat Dicko sedikit tersindir. Mengingat-ingat kembali kisah masa lalunya, kisah Ardo pun tak jauh berbeda. Walaupun tak sama. Namun sama dalam mencintai. Cinta yang dinilai salah kala itu.
Setelah menyindir Dicko, dengan dibantu tongkatnya, Opa Danu kemudian menghampiri Gloria. Tersenyum kepadanya, lalu mengulurkan tangan mengelus lembut puncak kepala Gloria.
"Sungguh kasihan nasib yang menimpamu, Nak. Tapi sekarang, kamu tidak sendiri lagi. Mulai sekarang, kamu adalah bagian dari keluarga Anggara. Kami adalah keluargamu," ucap Opa Danu tulus.
Bukan hanya Ardo dan Gloria yang akhirnya bisa bernapas lega juga merasa senang mendengar ucapan Opa Danu. Tetapi semua yang menyaksikan pun ikut berbahagia, atas tercurahnya restu terhadap hubungan Ardo dan Gloria.
__ADS_1
"Terima kasih, Opa." Penuh haru Gloria berucap. Melirik sejenak ke arah Ardo, yang pun mengukir senyuman merekah di bibirnya.
"Ini baru Papa ku yang sesungguhnya." Bram menggoda sang ayah sembari melingkarkan lengannya di pundak sang ayah.
"Terimakasih ya Pa," ucap Aruna sumringah. Kemudian menghampiri suaminya. Menggamit lengannya manja sembari mendongak. Menatap suaminya dengan senyuman.
"Sekarang giliranmu," ucap Aruna tersenyum culas. Ia tahu, di situasi seperti saat ini terkadang Dicko tidak bisa berpikir. Dan terkadang pula malah terbawa arus suasana. Meski Dicko sempat memprotes, namun dalam hati ia merasa yakin bila sang suami sesungguhnya tak tega membiarkan Ardo berjuang seorang diri. Hanya demi restu yang sulit terucap dari bibirnya.
"Ayolah, sayang. Jangan terlalu pelit pada putramu sendiri," bujuk rayu Aruna sembari mencolek dagu Dicko. Hingga menerbitkan senyum di wajah Dicko.
"Makasih ya, sayang." Bahkan restu itu belum sempat terucap, tetapi Aruna malah semakin menggoda Dicko. Alhasil, Dicko pun tak bisa berbuat apa-apa. Apa mau dikata, bila hanya ia seorang yang berdiri pada arah yang berlawanan. Sehingga mau tak mau, ia pun melebarkan senyumnya. Sebagai bentuk dukungan atas hubungan Ardo dan Gloria.
"Makasih, Pa. Papa memang yang terbaik," ujar Ardo memandangi sang ayah dengan senyuman serta hati berdebar-debar.
Dicko pun membalas senyuman Ardo, sembari berkata, "jangan senang dulu. Perjuanganmu belum berakhir. Kamu tahu kan Loly masih terikat dengan pernikahan. Kamu masih harus bersabar menunggu Loly terbebas dari belenggunya."
"Kalau soal itu serahkan saja pada Bram. Biar Bram yang membantu Loly mengurus masalah perceraiannya. Itu pun kalau Loly mau," ucap Opa Danu.
Cepat Gloria mengangguk. "Iya. Saya mau, Opa. Saya sangat membutuhkan bantuan Pak Bram."
"Uncle, Loly. Panggil saja Uncle Bram. Kamu kan sekarang adalah bagian dari keluarga Anggara. Jadi, kami semua ini adalah keluargamu. Jadi jangan sungkan-sungkan memanggil kami Uncle dan Aunty mu," ujar Clara menimpali.
"Oh ya. Aku punya satu kabar gembira untuk kalian semua. Aku harap kalian tidak akan terkejut setelah mendengar kabar gembira ini," ucap Ardo mengambil alih perhatian.
"Kabar gembira? Kabar gembiranya apa, Nak?" tanya Aruna penasaran dengan wajah berseri-seri. Tak sabar ingin mendengar kabar gembira tersebut.
Sama hal nya dengan yang lain. Yang ikut menyimak, memasang telinga baik-baik.
Sedangkan Gloria berdebar hebat dengan kenekatan Ardo. Yang hendak memberitahu soal kehamilannya. Ia sungguh gugup, menerka-nerka akan seperti apa reaksi mereka nanti setelah mendengarnya langsung dari Ardo.
Akankah mereka menerima? Atau malah menilai Gloria buruk?
"Kabar gembiranya apa dong Ardo," desak Clara.
"Kamu ini sudah pandai membuat Opa mu ini penasaran. Ayo, katakan. Apa kabar gembiranya," desak Opa Danu pula.
"Ayolah, Ardo. Uncle sangat penasaran," desak Bram.
"Baiklah. Aku hanya ingin memberitahu kalian semua tentang calon anggota keluarga Anggara yang baru. Yang akan hadir diantara kita beberapa bulan lagi," ucap Ardo menggulir pandangan satu per satu. Memandangi raut wajah keluarganya yang terlihat sedang berpikir. Menebak-nebak maksud ucapan Ardo.
__ADS_1
Tetapi kemudian, Aruna terhenyak. Membekap mulutnya tak percaya sambil matanya melotot.
Sementara Ardo tersenyum-senyum menatap wajah keluarganya satu per satu.
"Ardo, jangan bilang kalau Loly ... Se, sedang ..." saking terkejutnya, Aruna bahkan tak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
Ardo pun mengangguk. "Iya, Ma. Loly sedang hamil," ucapnya membenarkan.
Pembenaran dari Ardo itu pun sontak membuat semua bersorak kegirangan.
"Berarti Opa akan menjadi Opa buyut? Opa akan mempunyai seorang cicit?" Wajah Opa Danu terlihat sumringah. Tak kuasa menahan perasaan haru juga bahagia yang kian memenuhi dada.
"Iya, Opa. Opa akan segera menjadi Opa buyut."
"Ha ha ha ..." gelak tawa Opa Danu pun mengundang gelak tawa yang lain. Kebahagiaan jelas terpancar dari wajah mereka yang tampak berseri-seri.
...
Usai berziarah, Ardo mengantarkan Gloria pulang ke rumah pamannya. Mobil Ardo menepi di depan rumah Randa begitu memasuki pekarangan.
"Makasih ya sudah mengantarkan aku pulang," ucap Gloria lembut sembari menoleh, mengulum senyum manisnya.
Ardo membuka laci, mengbil sebuah benda pipih berperanti canggih dari dalam sana. Kemudian menyodorkannya kepada Gloria.
"Jangan tinggalkan ponselmu lagi. Aku jadi susah menghubungimu," ucap Ardo.
"Maaf."
"Hanya itu?"
"Maafkan aku."
"Tidak ada yang lain lagi? Kamu lupa aku ini calon suamimu?"
"Oh astaga," Gloria baru teringat akan panggilan baru Ardo. Sungguh ia sangat malu memanggil Ardo dengan sebutan itu.
"Glori." Ardo mulai memasang tampang merajuk. Membuat Gloria tak tahan ingin menertawainya.
"Iya, iya. Maafkan aku, sa..." namun belum sempat kata itu terucap, Ardo telah lebih dulu membungkam bibirnya. Membuat Gloria tak bisa menolak, apalagi melawan.
__ADS_1
Bersambung