
Bab 71. Ditahan
Gloria semakin menunduk dalam. Menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata. Yang jatuh berderai tanpa mampu ia cegah. Seiring rasa sakit, sedih, juga penyesalan yang mendera.
Gloria merasa malu mengakui hal memalukan ini di depan banyak orang. Akan tetapi, hanya inilah satu-satunya opsi yang tersisa.
"Kenapa baru sekarang Anda melaporkan hal ini?" tanya petugas.
Membuat Bary semakin kalang kabut. Memutar otak cepat, memaksa menemukan cara menyanggah laporan Gloria. Yang akan membawanya ke dalam masalah.
Kedatangannya ke pesta ini adalah untuk menyelesaikan masalah. Bukannya menambah masalah. Bary mengusap wajahnya frustasi. Tatapan tajam mengancam rupanya tak mempan lagi bagi Gloria.
"Saya selalu diancam. Sampai saya tidak berani melapor," jawab Gloria masih menunduk.
Reva berjalan menghampiri. Merangkul pundaknya, mengusapnya lembut memberi kekuatan.
"Seharusnya sejak awal Anda melaporkannya. Jangan takut, karena ada lembaga hukum yang akan melindungi Anda," terang petugas.
"Kalau begitu, sebaiknya Anda ikut kami ke kantor polisi untuk memberikan keterangan terkait tindak KDRT yang dilakukan suami Anda," tambah petugas.
Gloria mengangkat pandangan, memandangi Ardo sejenak. Lalu bergulir memandangi Ellena dan keluarga di seberang.
Ada rasa kecewa dalam dada melihat keluarga itu. Saat kedua orangtua nya meninggal, keluarga itu tidak menampakkan batang hidungnya walau hanya sekedar menyampaikan belasungkawa.
Meski telah bertahun-tahun waktu berlalu, namun Gloria masih bisa mengingat dengan jelas wajah-wajah mereka.
Bukan bermaksud berpura-pura tak mengenal, lalu enggan bertegur sapa. Namun Gloria hanya tak ingin bila mereka tak mengakui. Lalu pada akhirnya mengabaikan. Sebab sanak saudara yang ia miliki hanya mereka.
Gloria mengangguk. "Baik, Pak."
"Aku temani kamu ya Glori. Aku akan ikut kamu ke kantor polisi," ucap Reva memberi perhatian.
Gloria mengulum senyum. "Makasih, Rev."
Mendengar dan melihat hal itu membuat Bary semakin panik. Yang terbersit dalam kepalanya hanyalah menghindar. Diam-diam Bary mulai mengambil langkah hendak keluar dari ballroom.
Namun petugas terlampau siaga. Dengan sigap salah seorang petugas menahan Bary. Sebelum pria itu sempat melangkah jauh.
__ADS_1
"Kamu mau ke mana? Ikut kami dulu ke kantor polisi. Kamu juga harus dimintai keterangan tentang KDRT yang kamu lakukan terhadap istrimu." Kemudian petugas memborgol kedua tangan Bary menggunakan borgol yang dipakaikan kepada Ardo sebelumnya.
"Apa-apaan ini, Pak? Kenapa saya malah ikut ditahan? Saya korban disini. Yang seharusnya ditahan itu si Ardo. Bukan saya," protes Bary memberikan perlawanan.
"Memang kamu korban. Tapi laporan dari istri kamu, kemungkinan akan menjadikanmu tersangka juga. Karena kamu melakukan KDRT. Paham kamu?" balas petugas judes.
"Enak saja. Saya tidak bersalah, Pak." Bary meronta. Tak terima ia diborgol oleh petugas.
"Diam kamu. Jangan banyak melawan."
.
Ardo menghampiri Gloria ketika borgol telah dilepas.
"Kenapa kamu tidak menuruti kataku? Kenapa kamu malah nekat melakukannya? Apa kamu tahu seperti apa perasaanku? Hah?" cecar Ardo mengomeli Gloria.
"Maafkan aku. Tapi hanya ini yang terpikirkan olehku." Gloria tak berani menatap Ardo.
Dicko yang memperhatikan kedekatan keduanya hanya bisa mendesah berat sembari memijit pelipisnya yang mulai berkedut. Sakit kepala dadakan pun menyerang, akibat ulah putra satu-satunya.
"Kak Dicko tidak perlu cemas. Ardo itu sudah dewasa. Dia tahu apa yang harus dia lakukan," ucap Bram begitu Dicko mensejajarkan diri. Berdiri di samping Aruna yang merangkul pinggangnya begitu ia dekat.
"Sabar ya Sayang." Aruna mengusap lembut dada sang suami. Mencoba menenangkan hati suaminya yang tengah dipenuhi amarah serta kekecewaan yang mendalam. Akibat ulah putra semata wayangnya.
"Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Ardo sudah kelewatan. Dia bahkan sudah mempermalukan kita sebagai orang tuanya," ucap Dicko kecewa.
"Gimana kalau kita kasih dia satu kesempatan lagi. Siapa tahu dia akan merubah jalan pikirannya."
"Tidak. Sudah tidak ada lagi kesempatan untuknya."
"Kak Ardo kenapa Pa?" tanya Leona datang menghampiri. Saat acara potong kue Leona keluar sebentar untuk sebuah urusan tertentu. Mendapati tiba-tiba ada petugas kepolisian membuat Leona bingung. Leona sedikit ketinggalan informasi.
"Suami perempuan itu melaporkan Ardo ke polisi. Karena sudah membawa kabur istrinya," jawab Bram.
"Oh my god. Kok bisa sih?" Leona tercengang tak percaya. Semua persoalan bermula darinya. Yang iseng memberi Ardo tantangan untuk menaklukkan istri orang. Dan malah berakhir dengan Ardo yang kian terseret jauh oleh tantangan konyol tersebut.
"Saran aku Kak, sebaiknya Kak Dicko beri Ardo kesempatan sekali lagi. Aku yakin, Ardo mampu membuktikan dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ardo itu sebelas dua belas dengan Kak Dicko. Beda-beda tipis. Hampir sama. Apa yang terjadi sekarang pun sama dengan apa yang terjadi dahulu. Hanya beda jaman saja," ucap Bram seolah menyinggung dan sengaja membangkitkan kembali kenangan masa lalunya.
__ADS_1
Dicko menghela napas. "Maksud kamu apa, Bram?" tanyanya sedikit kesal, merasa tersindir.
"Aku harap Kak Dicko belum melupakan apa yang pernah terjadi diantara kita dulu. Bukannya aku bermaksud menyinggung Kak Dicko. Setidaknya, Kak Dicko bisa menjadikan masa lalu itu sebagai perbandingan. Berkacalah dari masa lalu."
"Kamu sengaja mau menyindir?" Dicko mulai terpancing.
Bram hanya terkekeh. Kemudian membawa tangannya menepuk pundak sang kakak.
"Ardo itu seorang petualang. Langkahnya terhenti setelah menemukan orang yang tepat. Tapi sayangnya, status orang itu yang tidak tepat." Sembari mengulum senyum menatap Dicko.
Dicko menoleh, membalas tatapan Bram. "Aku tahu kemana arah omonganmu. Tidak perlu bertele-tele."
"Sama seperti Kak Dicko dahulu. Siapa tahu perjuangan cinta Ardo pun akan berakhir sama seperti Kak Dicko. Percayalah padaku. Terkadang cara Tuhan mempertemukan jodohnya itu unik. Tuhan menciptakan skenario unik ini untuk mempertemukan Ardo dengan jodohnya. Sama persis seperti Kak Dicko kan? Jadi tolong cerna omonganku ini baik-baik. Adakalanya orang yang tepat itu datangnya belakangan. Bahkan tidak terduga. Takdir dan jodoh itu tidak ada yang tahu." Sembari melirik Aruna yang tengah merangkul pinggang Dicko. Kemudian ia beranjak menghampiri Ardo dan Gloria.
"Kalian berdua, mari ikut kami ke kantor polisi," ajak petugas begitu menghampiri Ardo dan Gloria.
"Jangan cemas, Uncle akan ikut denganmu ke kantor polisi." Bram menepuk pundak Ardo, sembari mengulum senyum begitu Ardo menoleh menatapnya.
..
Di seberang, Randa tengah gelisah memperhatikan Gloria yang telah dibawa oleh petugas bersama Ardo. Hati kecilnya meyakini bila Gloria adalah kerabat yang telah lama ia tinggalkan.
Ia hendak mengayunkan langkahnya, bermaksud menyusul Gloria. Saat Sheila malah mencegahnya.
"Beib, kamu mau ke mana?" cegah Sheila mencekal lengan Randa.
"Itu Loly kan?" sambil menunjuk ke arah Gloria.
"Bukan. Kamu salah. Mana mungkin itu Loly. Memangnya kamu masih ingat seperti apa wajahnya? Seingatku terakhir kamu bertemu dengannya itu saat dia masih kecil. Jadi mana mungkin itu Loly. Kamu salah." Sambil mengibaskan tangannya.
"Tapi ..."
"Sudahlah. Tidak usah ikut campur."
Namun hati kecil Randa berkata bahwa perempuan itu adalah keponakannya.
Bersambung
__ADS_1