Gara-Gara Kamu

Gara-Gara Kamu
Bab 97. Tak Ingin Tergoda


__ADS_3

Bab 97. Tak Ingin Tergoda


Sembari memikirkan strategi seperti apa yang bisa ia gunakan untuk meningkatkan penjualan, Ardo berendam di bathub.


Ardo memejamkan matanya. Dalam kepala ia memikirkan bagaimana caranya ia mencapai target penjualan bulan ini. Agar setelahnya ia bisa pergi berbulan madu bersama sang istri. Menikmati momen-momen terindahnya sebagai pengantin baru.


Hampir satu jam lamanya Ardo berendam. Hingga saat ia keluar dari kamar mandi, dilihatnya pintu menuju balkon kamarnya terbuka.


Merasa penasaran, Ardo menghampiri. Masih dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Hendak mengintip ada apa gerangan di balkon kamar itu.


Dilihatnya, Gloria tengah menyalakan lilin. Di meja kecil itu, makan malam telah disiapkan Gloria.


Gloria berpikir, untuk makan malam romantis, tidak perlu keluar rumah. Ataupun makan di restoran-restoran berbintang. Di rumah juga bisa.


"Kamu yang menyiapkan semua ini?" tanya Ardo sembari menghampiri.


Membuat Gloria terkejut, lalu menoleh ke belakang. Dan mendapati suaminya berdiri di ambang pintu dengan handuk melilit di pinggangnya.


"Kenapa masih pakai handuk? Pakai baju mu dulu, setelah itu kita makan malam." Sembari menghampiri. Dengan senyuman terukir di bibirnya.


"Bantu aku," pinta Ardo mulai usil merayu.


"Membantumu dalam hal apa?"


"Bantu aku memakai bajuku."


"Ish. Memangnya kamu ini anak kecil apa? Manja sekali sih?"


"Manja sama istri sendiri kan wajar? Daripada aku dimanjain orang lain? Memangnya kamu mau kalau suamimu ini mencari tempat bermanja di luar sana?"


Gloria memicing. Siapa juga yang mau bila suami tampannya itu dilirik wanita lain. Dan istri mana yang tidak akan cemburu bila suaminya memiliki wanita lain dalam hidupnya. Tentu saja ia tak ingin bila hal itu sampai terjadi.


Ardo tertawa kecil melihat tampang curiga sekaligus cemburu Gloria.


"Makanya bantuin." Ardo meminta sembari meraih pundak Gloria. Melingkarkan lengannya, lalu mengajak Gloria ikut bersamanya. Berjalan menuju lemari pakaian yang berukuran besar.


Gloria menurut saja. Ia lantas membuka lemari, memilih satu per satu pakaian yang hendak di kenakan Ardo.


"Yang ini?" Gloria mengambil sebuah kaos oblong berwarna putih. Menunjukkannya di depan Ardo.


Ardo menggeleng. "No (tidak). Bukan yang itu."


"Yang ini?" Gloria mengambil kaos V-neck berwarna abu-abu.


Ardo kembali menggeleng. "Bukan."


"Kamu maunya yang mana sih? Kalau begitu kamu saja yang pilih sendiri." Gloria mendesah, menghembuskan napasnya panjang. Lantas memasang tampang ngambek.

__ADS_1


"Ternyata istriku ini gampang ngambekan. Kalau begini kamu itu malah terlihat lucu dan menggemaskan." Sembari mencubit gemas pipi Gloria.


"Ya sudah, kalau begitu biar aku pilih sendiri saja," sambung Ardo kemudian membuka lemari sebelah. Dimana ada banyak jenis kemeja dengan yang menggantung rapi di dalam sana.


Ardo lantas meraih satu kemeja berwarna biru muda. Kemeja itu ia berikan kepada Gloria.


Gloria mengeluarkan kemeja itu dari hanger. Lalu hendak memakaikannya pada Ardo.


"Eits! Tunggu dulu!" seru Ardo tiba-tiba mengangkat tangannya. Menghentikan aksi Gloria yang hendak memakaikannya kemeja.


"Ada apa lagi?"


Bukannya menjawab pertanyaan Gloria, Ardo malah menundukkan pandangan, lalu menunjuk bagian bawah tubuhnya yang terbalut handuk.


Gloria pun mengikuti arah pandang Ardo. "Maksud kamu?" Gloria mulai memasang mode waspada. Sekedar berjaga-jaga bila Ardo terlalu usil. Lalu meminta yang aneh-aneh. Padahal makan malam mereka tengah menunggu.


Ardo menarik sudut bibir, tersenyum tipis memandangi wajah cemas Gloria. Ia bisa menebak, Gloria mungkin berpikiran yang aneh-aneh saat ini. Dan tampang Gloria seperti itu justru membuatnya gemas.


"Aku belum pakai celana, Sayang. Kamu mau memakaikannya untukku?" Urusan goda menggoda, Ardo ahlinya. Ia tak tahan walau sehari pun untuk tidak menggoda istrinya. Karena baginya, istrinya itu terlalu menggemaskan.


Dalam seketika, kedua mata Gloria membola. Mengapa pula ia tidak menyadari bila suaminya itu masih berbalutkan handuk. Dan sudah barang tentu, sesuatu dibalik handuk itu pun masih menggantung bebas.


"Astaga! Apa yang kamu lakukan?" Sontak Gloria berpaling muka, menutupi wajahnya dengan sebelah tangannya begitu Ardo melepas handuk. Lalu melemparnya asal ke tempat tidur.


"Tidak usah sok polos. Bukankah hampir setiap malam kamu dijenguk olehnya?" Dengan santainya Ardo mengambil dalaman juga celana dari dalam lemari. Dan dengan santainya pula ia mengenakan celana itu. Ia tak mempedulikan reaksi Gloria yang melihatnya dalam keadaan bu gil.


"Kamu mau menyapanya sebentar? Hari ini dia merindukanmu." Tak hentinya Ardo menggoda Gloria. Membuat Gloria semakin salah tingkah.


Sejujurnya, Gloria berdebar bila melihat Ardo dalam keadaan polos seperti itu. Tubuh mulus dan kekar, serta aroma maskulin sabun mandi yang sering digunakan Ardo itu entah mengapa malah membangkitkan hasratnya.


Namun ia berusaha menutupinya, dan tak ingin tergoda. Sebab perasaan malu lebih mendominasi.


"Kenakan pakaianmu atau aku keluar dari kamar ini?" Gloria malah mengancam. Padahal jelas ia bersusah payah melawan hasratnya.


"Ayolah Sayang. Dia adalah milikmu. Kamu bebas melakukan apa pun yang kamu mau padanya."


Gloria kepanasan, rongga dadanya pun mulai terasa sesak. Ia lantas menyingkirkan tangan yang menutupi wajahnya. Mengibas-ngibaskannya pada wajahnya. Lalu menoleh, mengintip perlahan.


Ardo malah tergelak melihat tingkah istrinya itu. Yang baginya mirip remaja yang baru pertama kali melihat burung perkutut.


"Haaah ..." Gloria menghembuskan napasnya lega saat dilihatnya Ardo telah mengenakan celana.


"Ha ha ha ... Kamu itu lucu sekali. Kamu berpura-pura tidak mau melihatnya. Padahal setiap malam kamu dibuat mendesah olehnya."


Kini wajah Gloria bersemu merah. Bisa-bisanya Ardo menjadikan itu sebuah candaan.


"Jangan tertawa. Aku sedang tidak ingin bercanda," ketus Gloria sebal.

__ADS_1


"Ya sudah, sekarang bantu aku memakai kemejanya," titahnya kemudian. Walaupun makan malam kali ini hanya di balkon kamar, Ardo tetap memperhatikan penampilannya. Ia tak ingin pesonanya luntur di mata sang istri.


Gloria menurut. Ia lantas mulai memakaikan kemeja itu ke tubuh Ardo.


Sepanjang Gloria memakaikan kemeja, sepanjang itu pula tatapan Ardo tertuju kepadanya. Sesekali Ardo usil mencuri kecupan di bibir Gloria. Membuat Gloria refleks membawa tangannya memukul pelan lengan Ardo.


"Kamu tahu? Aku sangat suka melihatmu ngambek. Terkadang hal itu membuatmu terlihat seperti seorang anak kecil," ucap Ardo menatap Gloria yang tengah menautkan kancing kemeja.


"Benarkah?" Menyudahi memasang kancing, Gloria mendongak, menatap wajah Ardo. Namun tatapannya tertuju pada bibir sensual Ardo. Yang terlihat merah alami. Bibir itu tak pernah tersentuh oleh asap rokok. Karena Ardo memang tidak suka merokok.


Sembari menggulung lengan kemeja sampai batas siku, Ardo melanjutkan kalimatnya.


"Aku masih ingat dengan jelas saat pertama kali bertemu denganmu waktu itu di toilet. Sejujurnya ada banyak pertanyaan dalam benakku saat itu, saat melihat tanda-tanda merah di dadamu."


Gloria setia mendengarkan. Ingatannya pun sesaat kembali ke saat pertama kali ia bertemu dengan Ardo secara tak sengaja di dalam toilet. Dimana ia mengira Ardo adalah seorang pria cabul yang suka mengintip wanita.


Namun ternyata ia salah mengira. Pria yang ia kira cabul itu ternyata adalah atasannya sendiri.


Gloria tersenyum kala mengingatnya. "Maaf. Waktu itu aku mengataimu."


Ardo balas tersenyum. "Apa kamu tahu apa yang membuatku sangat ingin memilikimu?" tanyanya kemudian.


Gloria menggeleng. "Aku malah ingin tahu, apa yang kamu suka dari wanita sepertiku. Padahal di luar sana, ada banyak wanita-wanita cantik yang lebih dari pantas, yang bisa kamu dapatkan."


Ardo menghela napas sejenak, menghembuskannya perlahan.


"Memang, di luar sana ada banyak wanita-wanita cantik yang bisa aku dapatkan. Tetapi wanita sepertimu, sangat jarang aku temui," ucap Ardo sembari perlahan menghampiri.


"Apa kamu tahu? Aku berusaha membentengi diriku, aku tak ingin tergoda oleh mu. Tapi sayangnya, semakin aku melawan kata hatiku, semakin kuat pesonamu meruntuhkan pertahananku. Sampai akhirnya menumbuhkan perasaanku yang semakin kuat ingin memilikimu," sambung Ardo.


Sepanjang Ardo bercerita, tatapan Gloria terus tertuju ke bibir Ardo. Bibir sensual itu semakin mengusik jiwanya. Sehingga tanpa sadar ia malah membawa jemarinya menyentuh bibir itu.


Gloria lalu terhenyak begitu Ardo meraih jemarinya.


"Em ... Sebaiknya kita makan. Ayo," ajak Gloria lalu beranjak. Namun sayangnya Ardo malah mencekal lengannya. Membuat langkahnya terhenti.


Dari cara Gloria menatapnya, Ardo memahami apa yang tengah dirasakan Gloria saat ini. Hormon kehamilan membuat gai rah ibu hamil itu meningkat berkali-kali lipat. Tetapi Gloria adalah wanita pemalu. Sehingga Gloria memilih mengendalikan hasratnya.


"Kenapa kamu tidak berani memintanya lebih dulu?" Pertanyaan Ardo membuat Gloria salah tingkah.


"Ma-maksud kamu apa sih?"


"Tidak perlu merasa malu. Aku ini suamimu."


"Ka-kamu salah pa_" Tak sempat Gloria menyelesaikan kalimatnya. Sebab Ardo telah melabuhkan ciumannya. Teramat lembut Ardo melakukannya disetiap sesapan. Sehingga membuat Gloria tak sanggup menolak.


"Nanti kita lanjutkan lagi setelah makan malam," ucap Ardo menyudahi pagutan. Membuat Gloria merona, tersipu malu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2