Gara-Gara Kamu

Gara-Gara Kamu
Bab 50. Canduku


__ADS_3

Bab 50. Canduku


"Aku mau secepatnya. Secepatnya kamu berpisah darinya," sela Ardo. Masih mendekap erat Gloria dari belakang.


Gloria menghela napas sejenak. Bagaimana caranya ia menyampaikan kepada Ardo, bila Bary tengah berusaha merubah sikap serta tabiatnya selama ini.


Bary mengerahkan segala kemampuan dalam berupaya membina hubungan rumah tangga yang harmonis dengannya. Hal yang seharusnya Bary lakukan sejak dahulu.


Terlambat bila Bary mengupayakannya di masa sekarang. Sebab hatinya telah tertawan kepada pria yang mendekapnya, tengah menghirup aroma tubuhnya saat ini, serta mulai mengecupi ceruk lehernya. Membuat bulu roma nya meremang, juga menghadirkan desiran-desiran aneh yang mulai merambati sekujur tubuhnya.


Ia harus mengatur deru napasnya yang mulai serasa sesak, manakala jemari Ardo mulai nakal mencoba menyingkap rok yang ia kenakan.


"Ardo, berhenti." Gloria menahan tangan Ardo yang hendak menurunkan si kain segitiga diantara pahanya. Deru napas Ardo yang memburu terdengar jelas olehnya.


"Aku sangat menginginkanmu, Glori. Setiap saat, setiap waktu," lirih Ardo di telinganya.


"Tolong, jangan lakukan ini," pintanya memelas diantara rasa takut dan ketegangan yang melanda.


Namun Ardo tak mengindahkan ketakutannya. Ardo malah memutar tubuhnya, lalu kembali mencumbunya brutal, kalap, lupa akan tempat dan keadaan.


"Ardo, tolonglah. Jangan lakukan ini." Di dorongnya pelan tubuh Ardo. Memaksa Ardo menghentikan aksi brutalnya. Ditengah deru napas yang masih memburu, ditengah hasrat menggebu yang terjepit membuat hati menjerit kian sengit.


Ardo mengatur deru napasnya, menatap Gloria lekat mendalam.


"Kalau kamu tidak berani bicara padanya, biar aku saja. Biar aku yang berkata jujur padanya," ucap Ardo.


"Tolong beri aku waktu. Aku sangat mengenal Bary. Aku tahu betul bagaimana reaksinya nanti jika aku mengatakan ini. Aku hanya tidak mau terjadi apa-apa denganmu," ungkap Gloria akan kecemasannya.


Ada ketakutan yang menyergap dari berbagai penjuru. Yang membuat nyalinya menciut. Sejak awal Gloria memang tidak mempunyai keberanian untuk mengutarakan perpisahan kepada Bary. Lantaran takut akan reaksi berlebih Bary yang ditimbulkan akibat ulahnya.


Terlalu banyak hal yang harus ia jaga. Terutama, keselamatan Ardo sendiri.


"Apakah aku bisa memegang kata-katamu?"


Gloria mengangguk pelan sembari mengulas senyum, meski hati sejujurnya tak yakin. Setidaknya ia bisa menghindari desakan Ardo. Yang kian memaksanya hingga nyalinya menguap, lalu lenyap entah kemana.

__ADS_1


Namun akhirnya mampu memberi sedikit kelegaan di hati Ardo. Semula ia memang hanya sekedar menjawab tantangan Leona untuk menaklukkan Gloria. Akan tetapi, seiring waktu bergulir, justru ia sendirilah yang kian takluk oleh hasrat di jiwanya. Hasrat ingin memiliki yang begitu kuat, membutakan mata hati dan pikirannya.


Naluri lelakinya menundukkan jiwa petualangnya. Inginnya ia memiliki Gloria seutuhnya. Tak peduli status yang melekat dalam diri maupun keadaan. Sungguh, untuk pertamakali nya dalam sejarah petualangannya, ia dibuat tunduk oleh satu wanita. Yaitu Gloria.


Padahal, belum lama ia mengenal Gloria. Namun hati entah mengapa telah terlanjur terpaut kuat. Hingga tak butuh alasan mengapa cinta itu datang.


"Kalau begitu, kemarilah. Mendekatlah," pinta Ardo.


Gloria maju selangkah, hampir tak menyisakan jarak sedikitpun.


"Maksudku bukan seperti itu," protes Ardo menatap tajam menggoda.


"Lalu? Maksudnya seperti apa?" Gloria tersenyum usil merayu.


"Seperti ini." Ardo meraih Gloria, merengkuhnya ke dalam dekapannya.


"Aku ingin, setiap saat kita seperti ini terus, Glori. Aku tidak akan pernah jemu mengatakan ini kepadamu. Aku mencintaimu, Glori." Seraya mempererat dekapannya. Lalu mengecupi puncak kepala Gloria sembari memejamkan matanya. Meresapi segala rasa mendayu, yang merayu hati kian syahdu. Gloria telah menjadi candu baginya.


Cinta datang tanpa permisi, tak ada yang pernah bisa menebak kapan dan mengapa cinta itu hadir.


Glori membalas dekapan erat Ardo, menyandarkan kepala di dada bidang Ardo. Membiarkan Ardo menguasai keadaan. Saat Ardo kembali meraih bibir merah merekahnya. Menyesapnya lembut penuh perasaan. Membuainya syahdu dalam gelora asmara yang mereka arungi bersama. mendayung berdua mengarungi lautan asmara menuju muara cinta.


Sementara Ardo berjalan di belakang Gloria sambil tersenyum penuh kemenangan. Diperbaikinya tatanan rambutnya serta memperbaiki blazer yang ia kenakan, yang tampak sedikit kusut akibat ulah nakalnya. Memaksa mendayung sampan di riaknya ombak yang bergulung. Yang diam-diam menghanyutkan hingga menenggelamkannya.


Bukan Ardo namanya bila melewatkan kesempatan yang ada. Walau dalam keadaan terjepit dan sempit pun, ia masih bisa memanfaatkan keadaan itu sebaik yang ia bisa.


Namun siapa sangka, yang semula mereka mengira keberadaan mereka di dalam ruangan pengap itu tak ada yang mengetahui. Justru disaat mereka keluar, di seberang, tanpa mereka ketahui ada sepasang mata yang menyaksikan serta sebuah kamera ponsel yang merekam keluarnya mereka dari ruangan itu.


____


"Kamu serius dengan apa yang kamu katakan tadi?" tanya Dicko menatap Andre yang sedang berdiri di seberang mejanya.


"Iya, Pak. Saya hanya tidak sengaja lewat dan melihat mereka keluar dari ruangan itu."


"Selain kamu, ada lagi yang melihatnya?"

__ADS_1


"Setahu saya tidak Pak."


Dicko menghela napas, menghembuskannya kasar. Ia merasa geram dengan kelakuan sang putra, yang lagi-lagi berulah. Ardo sungguh berani bermain-main dengan api. Yang bisa membakarnya kapan pun.


"Baiklah. Aku minta, mulai sekarang, tolong kamu awasi setiap gerak-geriknya. Aku memperbolehkan mu mengambil tindakan bila itu diperlukan. Aku hanya tidak mau putraku semakin terjerumus dalam pergaulan yang tidak seharusnya."


"Baik, Pak."


..


Sementara di ruangan Divisi Product Marketing, rekan-rekan satu tim Gloria tengah saling bergosip dari balik kubikelnya masing-masing tentang perjalanan Ardo dan Gloria ke luar kota hanya berdua.


"Menurut aku ya, diantara mereka berdua itu sudah pasti ada apa-apanya. Masa Gloria melulu yang diajak. Coba kalian pikirkan baik-baik, gelagat mereka itu menunjukkan dengan jelas kedekatan diantara mereka berdua. Aku yakin, mereka berdua itu ada hubungan spesial." Dona memulai gosip yang membuatnya resah beberapa hari ini.


Sementara yang lain menyimak dengan dahi berkerut. Memasang tampang sok mengingat-ingat keganjilan yang tertangkap antara Ardo dan Gloria. Yang bagi mereka terlihat aneh bahkan mencurigakan.


Mengapa tidak, sebab Ardo adalah atasan mereka yang merupakan cucu pemilik perusahaan, calon pewaris, penerus kerajaan bisnis keluarga. Sementara Gloria hanyalah bawahan yang berada di taraf rendah. Yang bagi mereka amatlah tak pantas bersanding dengan Ardo. Terlebih lagi status Gloria yang telah bersuami itu jelas sekali merupakan aib yang sewaktu-waktu bisa menjatuhkan nama baik Ardo.


"Jangan suka mengada-ada deh Don. Bilang saja kalau kamu itu sebenarnya iri sama Glori kan? Makanya kamu selalu berusaha menjatuhkan Glori," bela Reva sebagai sahabat yang baik. Yang selalu siap berada di garda terdepan untuk melindungi dan membela sahabatnya.


"Apa yang dikatakan Dona itu benar. Coba deh kalian pikirkan sekali lagi. Pikir baik-baik. Aku pernah melihat Pak Ardo mengajak Glori pulang bareng beberapa hari lalu," ucap Hilda ikut membenarkan gosip yang diciptakan Dona.


"Akh, masa iya sih? Ngaku aja deh, kalau sebenarnya kalian berdua itu iri kan, karena kalian suka sama Pak Ardo. Aku benar kan? Lagian, kenapa sih kalian berdua ini selalu saja berusaha menjatuhkan rekan satu tim kalian. Apalagi kalau bukan iri namanya," Joni ikut-ikutan berada di garda terdepan mengatasnamakan persahabatan.


"Alaaah ... Bilang saja kalau kamu itu suka sama Glori," tukas Hilda tak terima.


"Gila ya Lu pada. Glori itu sudah punya suami. Jaga mulut kalian. Jangan suka sembarangan ngomong."


"Ada keributan apa di sini?" Tiba-tiba Ardo telah berdiri di depan pintu ruangannya. Menegur sebentar bawahan yang tengah bergosip. Dipandanginya tajam setiap anggota tim yang kini memilih bersembunyi dibalik kubikelnya masing-masing.


Tak berapa lama, Gloria datang dan langsung mengambil duduk di balik kubikelnya.


"Glori."


Baru saja pantatnya mendarat, Ardo telah memanggil namanya. Ia lantas berdiri memasang ekspresi datar, tak ingin kedekatannya dengan Ardo terbaca oleh rekannya yang lain.

__ADS_1


"Buatkan aku kopi," titah Ardo kemudian masuk ke ruangannya.


Bersambung


__ADS_2