
Bab 67. Sepotong Kue
"Gombal." Gloria tersipu. Hatinya menghangat mendengar ungkapan kesungguhan Ardo.
"Terserah kamu mengataiku gombal. Tapi memang itulah kenyataannya. Aku sangat mencintaimu, Glori."
Gloria hendak membalas gombalan Ardo. Namun kalimat yang hendak ia lontarkan, tertelan begitu saja. Manakala dua bibir telah saling menyatu. Mencurahkan kasih dan perasaan di jiwa.
Gloria meremas kuat ujung blazer Ardo, kala pria itu semakin memperdalam ciuman dan semakin mengeratkan rangkulan. Perasaan yang mengharu biru serta kasih yang kian memenuhi kalbu tercurah sudah. Pada keadaan dan tempat yang dikondisikan.
Seiring ciuman yang mulai memanas, serta jemari Ardo yang mulai kelayapan, bunyi dering ponsel pun menghentikan pergerakan yang tak seharusnya terjadi di toilet umum itu.
Menyudahi pagutannya, Ardo meraih ponsel di saku blazer. Layar ponsel yang menyala terang itu menampilkan nama sang ibundanya tercinta memanggil.
"Iya, Ma?" ucap Ardo begitu telepon tersambung.
"Kamu di mana? Sudah waktunya tiup lilin. Cepat kemari, Opa sedang mencarimu. Ayo cepat kemari, jangan bikin Opa mu marah, Ardo." Dari seberang Aruna terdengar sedikit ketus mengomeli.
"Iya, Ma. Aku tahu. Aku akan segera ke sana." Meniupkan napasnya pelan, Ardo menyimpan kembali ponsel ke dalam saku.
"Pergilah. Semua orang pasti sedang mencarimu sekarang. Jangan sampai orangtua mu marah karena aku." Gloria mendorong pelan. Mendesak Ardo keluar dari bilik toilet. Mumpung toilet masih sepi.
"Tidak akan ada yang berani memarahiku. Apalagi kalau sampai memarahi bidadariku ini," gombal Ardo meraih dagu Gloria. Lalu cepat melabuhkan satu kecupan di bibir merah menggoda Gloria. Dan malah mendapat balasan pukulan ringan pada lengannya.
Ardo tersenyum lalu meraih pergelangan Gloria. Mengajak Gloria serta keluar dari toilet tersebut.
"Tunggu!" seru Gloria menghentikan langkahnya cepat sebelum memasuki pintu masuk ballroom.
Tanpa melepas genggaman dari pergelangan Gloria, Ardo menoleh.
"Aku mau dibawa ke mana?" Yang di depan sana adalah pintu masuk ballroom restaurant. Dimana para tamu undangan yang jumlahnya tak sedikit itu tengah menunggu kedatangan Ardo. Mana mungkin Gloria melupakan hal itu. Jika ia memasuki ruangan itu dengan Ardo menggandeng tangannya, akan seperti apa tanggapan orang nanti?
Tidak!
Ia tidak boleh mempermalukan Ardo bila kedekatan mereka terkuak ke permukaan. Ardo akan sangat dipermalukan lantaran tengah menjalin hubungan dengan wanita yang sudah bersuami.
__ADS_1
"Ya ke dalam lah. Ke mana lagi? Ayo." Kembali Ardo menarik pergelangan Gloria.
Namun Gloria enggan mengikuti Ardo. Ditariknya tangannya dari genggaman Ardo. Mendadak ia gugup. Diserang krisis percaya diri untuk tampil di depan banyak orang sebagai kekasih Ardo. Sungguh sebuah kesalahan besar bila ia menuruti keinginan Ardo. Sebab nama baik keluarga Ardo lah yang akan dipertaruhkan nanti.
"Kamu saja yang masuk. Biarkan aku menunggumu di sini. Ya?" pinta Gloria memelas. Berharap Ardo memahami kecemasan dan ketakutannya.
"Tidak. Kamu ikut bersamaku. Aku ingin kamu menyaksikan aku meniup lilin dan memanjatkan doa untuk harapan dan impianku. Lalu apa gunanya pesta ini bila tidak ada kamu di sisiku?" Ardo sudah mengumpulkan keberaniannya. Ia tak akan peduli lagi dengan keadaan. Karena baginya, kebahagiannya lah yang terpenting. Seperti kata Bram, ayahnya dahulu tidak pernah menyerah berjuang untuk kebahagiaanya sendiri. Dan ia pun akan melakukan hal yang sama.
"Tolong mengertilah dengan keadaanku. Aku tidak bisa menemanimu. Biar aku di sini menunggumu. Aku janji aku tidak akan ke mana-mana." Gloria memelas, menghiba agar Ardo memahami seperti apa ketakutannya. Bagaimana bisa ia yang masih berstatus istri orang, menemani Ardo di pesta itu. Orang-orang sudah pasti akan mencibirnya.
"Tidak, Glori. Aku ingin kamu bersamaku. Selalu berada di sampingku. Temani aku." Ardo kekeh meminta. Sebab ia telah mempersiapkan diri, menyiapkan mental bajanya akan omongan dan cibiran orang-orang tentang hubungan terlarangnya. Ia ingin agar semua orang tahu bahwa Gloria adalah satu-satunya wanita yang mengisi hidupnya.
"Maafkan aku. Aku sungguh tidak bisa menemanimu."
Ardo membuang napas pelan. "Baiklah. Tapi kamu janji, kamu tidak akan ke mana-mana."
Gloria mengangguk sembari mengulum senyum. Ia yakin dengan keputusannya untuk tidak ikut Ardo masuk ke dalam ballroom tersebut. Ia hanya tidak percaya diri berada di samping Ardo. Lagipula, kehadirannya pada pesta tidak diharapkan. Terkecuali oleh Ardo sendiri.
Ardo pun menuruti permintaan Gloria. Ia kemudian meninggalkan Gloria seorang diri, setelah Gloria menghiba akan pengertiannya terhadap situasi dan kondisi yang membuatnya risih berada diantara banyak orang.
.........
Tamu undangan telah selesai menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya. Sebelum meniup lilin, terlebih dahulu ia ingin memanjatkan doa dan harapannya.
Namun bila tanpa Gloria ia enggan. Dipandanginya cemas pintu masuk itu.
"Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lillinnya sekarang juga, sekarang juga, sekarang juga." Leona bersemangat menyanyikan lagu tersebut. Suaranya terdengar mendominasi memenuhi seisi ruangan.
"Sebelum Kak Ardo meniup lilinnya, sebutin dulu apa keinginan Kak Ardo di tahun ini. Make a wish Kak," ucap Leona tersenyum lebar, mengerling ke arah Ellena yang berdiri tak jauh, diapit oleh ayah dan ibunya. Berharap Ardo bisa menangkap maksud ucapannya yang ingin mendekatkan Ardo dengan Ellena.
Namun Ardo malah mengarahkan pandangan ke arah pintu masuk.
"Ayolah, Nak. Tiup lilinnya. Setelah itu kamu potong kuenya. Potongan pertama kue itu kamu berikan kepada orang yang paling kamu sayangi," timpal Aruna semakin melebarkan senyumnya. Sebab ia meyakini bila potongan pertama kue ulang tahun itu akan Ardo berikan kepadanya.
"Mau Opa bantu meniup lilinnya?" seloroh Opa Danu hingga mengundang gelak tawa tamu-tamu yang hadir.
__ADS_1
"Biar dibantu Elle aja ya?" Sheila ikut-ikutan berseloroh. Membuat Ellena tersipu malu, lalu membawa jemarinya menepuk pelan lengan sang mommy.
"Mommy apaan sih? Bikin malu aja," desis Ellena bersemu merah.
"Becanda Beb. Gitu aja sewot. Kamu payah ah, deketin Ardo saja kamu tidak bisa," bisik Sheila membuat Ellena memanas. Sang mommy malah meremehkan daya pikatnya. Yang pada dasarnya memang memiliki kecantikan yang mampu memikat hati setiap pria. Akan tetapi untuk memikat hati Ardo, rasanya terlalu sulit. Semenjak ia tahu Gloria berada diantara mereka.
Sedikit kecewa karena yang ia harapkan tak jua menampakkan bayangannya, Ardo menjadi enggan meniup lilinnya. Mendadak ia pun merasa bosan dengan pesta yang diselenggarakan Aruna untuknya.
Ardo ingin meninggalkan pesta itu saat netranya menangkap bayangan Gloria memasuki ballroom itu diam-diam. Lalu bersembunyi dibalik punggung tamu-tamu yang lain.
Dari balik punggung seorang tamu, Gloria menyembulkan kepala, mengintip Ardo yang tengah berdiri di depan kue ulang tahunnya. Desakan tamu-tamu terdengar, meminta Ardo segera meniup lilin setelah memanjatkan harapannya.
Kehadiran Gloria di dalam ruangan itu menumbuhkan kembali semangat Ardo. Menerbitkan kembali senyum di wajahnya. Tanpa perlu terucap, dalam hati ia meminta, melangitkan harapan dan doanya. Memohon tercapainya sebuah impian. Impian yang mengobarkan semangat hidupnya.
Gloria
Wanita itu tersenyum manis manakala netranya mengintip dari balik punggung. Menyaksikan Ardo meniup lilinnya.
Tepukan tangan meriah menggema di seisi ruangan. Disertai tawa ceria tamu-tamu, juga ucapan selamat ulang tahun dari tamu-tamu terdengar. Ardo terlihat sangat bahagia.
Kini tiba pada sesi memotong kue. Ardo meraih pisau, lalu memotong kuenya. Mengambil sepotong kecil, ia taruh di piring kecil. Ia tersenyum-senyum memandangi sepotong kecil kue di tangan.
"Ayo untuk siapa potongan pertamanya?" seloroh salah seorang tamu, yang merupakan kolega bisnis keluarganya.
Aruna sudah bersiap. Ia tahu Ardo akan memberikan potongan pertama kue itu kepadanya. Senyum manis telah terukir di bibirnya. Namun senyum yang terukir itu harus memudar, manakala Ardo malah berjalan menjauh. Menghampiri seorang wanita cantik yang bersembunyi dibalik punggung seorang tamu.
.....
Tadinya Gloria berpikir, dengan mengintip saja sudah lebih dari cukup untuknya. Setidaknya ia sudah merasa senang bisa melihat Ardo yang sedang berbahagia.
Tak ada kekhawatiran bila Ardo melihatnya berada diantara tamu-tamu yang lain. Namun, tak ia sangka, Ardo malah datang kepadanya sambil membawa piring kecil berisi potongan kue.
Ardo tersenyum kepadanya. Membuat perhatian dan pandangan semua orang tertuju kepadanya.
Gloria terkesiap begitu Ardo hendak menyuapinya. Sementara yang lain terkejut melihatnya. Terlebih lagi Aruna dan Dicko. Yang tak menyangka Ardo mengubah kebiasaannya. Semenjak dahulu, potongan pertama kue ulang tahun selalu Ardo berikan kepada ibunya. Yang kedua kepada ayahnya. Tetapi kali ini teramat mengejutkan.
__ADS_1
"Siapa perempuan itu?" terdengar tanya dari tamu-tamu undangan.
Bersambung