
Bab 86. Melawan Siasat
"Katakan kenapa kamu ingin meracuni anak saya?"
Pertanyaan Aruna mengejutkan Reina seketika. Membuat rona wajah Reina memucat, tubuhnya mulai gemetaran, serta bulir-bulir keringat dingin mulai tampak di dahinya.
"Siapa yang menyuruh kamu?" Pertanyaan Aruna yang satu ini membuat Reina menelan ludahnya kasar. Tampang menyeramkan Bary seketika terbayang di pelupuk mata. Membuatnya merinding juga ketakutan. Lalu jawaban apakah yang harus ia beri? Haruskah ia jujur?
"Katakan, Reina." Aruna masih berusaha menjaga intonasi suaranya. Padahal ia telah diselimuti api amarah. Namun ia masih bersabar. Hanya agar Reina berkata jujur.
"Sa-saya ... Saya ti-tidak ta..."
"Jangan coba-coba berbohong Reina. Kalau kamu masih ingin bekerja di tempat ini, maka kamu harus berkata jujur. Karena jika tidak, saya bisa memecat kamu tanpa pesangon sepeser pun. Dan yang lebih parah lagi, saya bisa melaporkan kamu ke polisi. Lengkap dengan bukti."
Reina ketar-ketir. Tak ingin hal dikatakan Aruna terjadi kepadanya. Kehilangan pekerjaan masih bisa ia terima. Tetapi bila masuk penjara, sungguh ia tak bisa terima. Ia juga tak ingin mengorbankan masa depannya hanya karena menuruti perintah Bary.
"Sa-saya ... Saya ..." Reina masih meragu. Belum memiliki cukup keberanian untuk berkata jujur. Lalu tiba-tiba ia malah memutar tubuhnya cepat. Bergegas membawa langkahnya hendak meninggalkan ruangan.
Namun, belum sempat langkahnya mencapai pintu, dua orang satpam tiba-tiba masuk menghalangi jalannya.
Reina mundur perlahan dengan wajah ketakutan.
"Bawa dia ke kantor polisi," titah Ardo berdiri dari duduknya. Lalu menghampiri Reina yang tengah memberontak begitu dua orang satpam hendak membawanya.
"Jangan. Tolong, tolong jangan bawa saya. Saya akan mengatakan yang sebenarnya. Tapi tolong jangan bawa saya ke kantor polisi," berontak Reina ketakutan.
Ardo pun memberi kode agar satpam melepaskan Reina.
"Kalau sampai kamu tidak berkata jujur, Reina. Maka saya tidak akan segan-segan memenjarakan kamu. Saya memiliki bukti dimana kamu ingin meracuni anak saya," ancam Aruna sembari bangun dari duduknya. Lalu menghampiri.
Beruntung si OB sempat memergoki Reina yang sedang menaruh sesuatu ke dalam kopi yang telah diseduhnya. Lalu terpikir olehnya untuk merekam aksi Reina menggunakan kamera ponselnya.
Reina kebetulan datang ke pantry saat Ardo menelepon dan meminta dibawakan kopi. Kebetulan Reina yang menjawab teleponnya.
Untuk mengambil alih tugas membuatkan kopi untuk Ardo, Reina meminta si OB membelikannya roti di mini market terdekat.
__ADS_1
Si OB menurut, lalu bergegas keluar dari pantry. Baru beberapa langkah saja, si OB teringat bila Reina tidak memberitahu roti dengan varian rasa apa yang diinginkannya. Sehingga si OB kembali ke pantry hendak bertanya kepada Reina.
Tiba di ambang pintu, si OB melihat gelagat Reina yang mencurigakan. Cepat si OB mengambil langkah mundur, bersembunyi di balik dinding dan mengamati gelagat Reina diam-diam.
Reina terlihat celingukan, berjaga-jaga jangan sampai ada yang melihatnya sedang memasukkan sesuatu ke dalam kopi yang diseduhnya.
Si OB pun lantas mengambil ponsel dan merekam aksi Reina. Usai merekam, si OB bergegas menjauh dari pantry sebelum Reina keluar untuk mengantarkan kopi ke ruangan Ardo.
Kemudian si OB membuntuti Reina diam-diam. Ruangan Ardo berdinding kaca, sehingga memudahkan si OB mengamati Ardo dari jauh. Untuk berjaga-jaga jangan sampai Ardo meminum kopi buatan Reina yang telah dibubuhi racun tersebut.
Untungnya, si OB sempat meminta air mineral milik seorang cleaning cervice yang sedang lewat. Hingga ia bisa beralasan untuk mengantarkan air mineral yang diminta Ardo.
"Jadi, pilihan ada padamu sekarang, Reina. Berkata jujur, atau masuk penjara," tegas Ardo mengancam. Hingga Reina pun ketakutan.
Tidak ada cara lain lagi bagi Reina. Ia tahu resiko apa yang harus ia hadapi bila mengatakan yang sesungguhnya kepad Ardo. Jujur, ia pun ketakutan bila sampai Bary mengetahui ini. Terlebih Bary telah mengancam akan menghabisinya bila sampai rencana Bary gagal nanti.
"Kamu terlalu lama mengambil keputusan. Bawa dia," titah Ardo telah habis kesabaran.
"Baik, baik, akan saya katakan yang sejujurnya." Reina bergerak cepat sebelum kedua satpam itu kembali menyeretnya.
...
Mendapat informasi dari Reina, bilamana Gloria akang datang ke rumah untuk mengambil beberapa berkas yang diperlukan. Bary telah bersiap dengan rencana yang telah ia susun rapi sebelumnya.
Menunggu gelisah, Bary mondar-mandir di ruang tamu rumahnya. Sesekali mengintip dari jendela, memastikan bila Gloria sudah datang.
Beberapa jam menunggu, mangsa pun akhirnya tiba. Bary sudah tak sabar, ingin segera menerkam. Membalaskan sakit hatinya kepada Gloria.
Untungnya, Gloria datang seorang diri. Mungkin Gloria mengira bila ia masih berada di penjara. Bahkan sengaja ia mengunci pintu, lalu mencabut kuncinya. Agar Gloria mengira bahwa ia benar-benar masih berada di penjara.
KLEK
Bunyi kunci pintu yang dibuka terdengar. Bary berdebar-debar, sudah sangat tak sabar ingin menjalankan rencana.
Buru-buru Bary bersembunyi dibalik daun pintu. Yang perlahan mulai didorong terbuka oleh Gloria dari luar.
__ADS_1
Begitu Gloria melangkah masuk, cepat Bary menutup kembali pintunya. Membuat Gloria terkejut bukan main.
"Ba-Bary?" Gloria menahan napas, mengambil langkah mundur perlahan begitu Bary mendekat. Ia waspada, berjaga-jaga jika Bary berbuat buruk kepadanya.
Memang kedatangannya ke rumah Bary adalah untuk mengambil beberapa berkas yang ia butuhkan untuk mengajukan gugatan cerai ke pengadilan.
Masih beringsut, perlahan Gloria melangkah mundur saat Bary mendekat. Sampai akhirnya langkahnya terhenti begitu punggung membentur dinding.
Seiring langkah Gloria yang terhenti, gerakan tangan Bary tak terelakkan. Dalam sekali gerak, jemari kekar Bary telah mencengkeram batang leher Gloria. Mulai mencekiknya perlahan, hingga Gloria pun mulai kesulitan bernapas.
"Ba-Bary, tolong le-lepaskan aku. A-aku bisa mati," pinta Gloria kesulitan diantara cekikan jemari Bary yang mulai mengetat.
"Memang aku ingin membunuhmu Glori. Apa kamu pikir semudah itu kamu bisa memenjarakanku? Tidak, Glori. Kamu lupa siapa aku." Bary semakin menyeringai lebar. Bersamaan dengan cekikannya yang semakin mengetat. Sehingga membuat Gloria semakin kesulitan bernapas.
Dengan sekuat tenaga, Gloria berusaha melawan. Namun tenaganya tak cukup mampu menyaingi tenaga Bary.
"Apa kamu sudah tahu kalau si kepa rat Ardo itu sekarang sedang melawan mautnya?" Bary mendapat informasi dari Reina, bahwa Ardo kini sedang dilarikan ke rumah sakit akibat keracunan. Dan kemungkinan besar bila Ardo tidak akan mungkin terselamatkan. Sebab racun yang masuk ke dalam tubuhnya adalah jenis racun yang paling mematikan.
Namun, yang tidak Bary ketahui adalah, bila ia telah dibohongi oleh Reina. Sebab Reina pun berada di bawah ancaman Ardo.
Gloria menggeleng.
"Aku sudah mengirimnya ke neraka lebih dulu. Dan sekarang ..." Bary merogoh kantong, mengambil sebuah belati lipat dari dalam sana. Belati itu ia perlihatkan di depan wajah Gloria. Untuk menakut-nakuti Gloria.
"Sekarang adalah giliranmu, sayang. Aku akan mengirimmu ke neraka bersama kepa rat itu. Bersenang-senanglah kalian berdua di alam sana. Karena sebentar lagi, malaikat maut pun akan datang menjemputmu, Glori," sambunnya menyeringai.
"To-tolong lepaskan," pinta Gloria disela napasnya yang tercekat.
"Tidak Glori. Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Aku akan mem..."
BRAK!
Suara dobrakan pintu terdengar. Mengagetkan Bary, menggagalkan aksinya.
"Angkat tangan mu, Bary!"
__ADS_1
Bersambung