Gara-Gara Kamu

Gara-Gara Kamu
Bab 51. Tawaran Leona


__ADS_3

Bab 51. Tawaran Leona


Gloria menaruh kopi di meja, tepat di depan Ardo. Ia berdiri di samping Ardo sambil memegang baki.


"Saya permisi dulu Pak," pamit Gloria dengan kalimat yang seharusnya antara atasan dan bawahan.


"Pulang nanti aku tunggu di samping minimarket tak jauh dari kantor." Ardo berkata tanpa melihat Gloria. Pandangannya tertunduk pada tablet pintar di tangan.


"Bary nanti akan datang menjemput."


"Katakan saja kamu lembur. Atau cari alasan yang lain. Pokoknya alasan yang bisa menghindari dia datang menjemputmu."


"Gimana kalau nanti ketahuan Bary?"


"Itu lebih bagus."


Ardo ini terlalu bernyali. Sama bernyalinya saat memaksa mencumbu Gloria di dalam gudang perlengkapan yang berudara pengap juga bau. Di kantor pula. Rasa takut itu seperti tidak membayanginya sedikitpun. Terbukti dari setiap tindakannya yang tanpa ada rasa takut.


"Bukankah bagus kalau Bary mengetahui hubungan kita? Dengan begitu, kamu tidak perlu lagi repot-repot melayangkan gugatan. Karena Bary sendirilah yang akan menceraikanmu. Lebih cepat lebih baik kan?" sambungnya lantaran tak ada sahutan dari Gloria.


Gloria hanya tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Bary nanti.


"Tap..."


"Kak Ardo."


Sebuah sapaan memanggil nama Ardo menyela ucapan Gloria. Leona datang dengan selembar kertas di tangannya. Menghampiri lalu mengambil duduk di depan Ardo.


"Hai Glori," sapa Leona


"Gimana kabarmu?" sambungnya bertanya.


Gloria mengurai senyum. "Hai juga. Kabarku baik."


"Ngapain ke sini? Pasti ada maunya lagi kan?" celetuk Ardo menaruh tablet di meja. Lalu meraih cangkir kopi, menyesap isinya penuh penghayatan.


"Mau menagih janji Kak Ardo," tembak Leona langsung.

__ADS_1


"Maaf, Pak. Saya permisi. Masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan. Maaf ya Leona, aku tinggal dulu." Gloria lalu bergegas keluar dari ruangan Ardo. Tak ingin berlama-lama di ruangan berdinding kaca itu. Yang semua anggota tim bisa melihat jelas apapun yang terjadi di dalamnya. Ia hanya ingin menghindari gosip. Ia kembali ke pantry untuk mengembalikan baki.


..


"Nagih janji yang mana?" Bukannya berpura-pura, Ardo memang tidak mengingat apa yang telah ia janjikan kepada Leona.


"Janji akan membuktikan padaku dalam tiga hari Kak Ardo akan menaklukkan Glori. Trus, mana janjinya?" Leona tersenyum culas.


"Ulang tahun Kak Ardo tinggal menghitung jari. Aunty sudah membuat persiapannya loh Kak," sambung Leona.


"Trus kenapa?"


"Kak Ardo pasti gagal kan?"


Ardo terkekeh. "Siapa bilang?" Ardo sengaja belum memberitahu Leona. Sebab ia ingin membuat Leona kelabakan sendiri di hari ulang tahunnya nanti. Disaat ia memberitahu kebenarannya. Dengan begitu Leona tidak akan bisa menghindar lagi.


"Udahlah. Sudah pasti Kak Ardo gagal. Ini daftar nama teman-teman ku yang bakal aku undang. Kak Ardo siap-siap aja jadi bahan tertawaan teman-teman ku." Leona menaruh secarik kertas di meja.


Ardo meraih selembar kertas itu, membaca daftar nama-nama itu. Pandangannya terhenti pada sebuah nama yang membuat bayangan orang itu hadir di pelupuk matanya. Ellena Tabita Giovano.


Bayangan gadis cantik itu tiba-tiba terbayang di mata, lalu tanpa sadar menerbitkan senyum di wajahnya.


Leona bahkan sampai tercengang mendengarnya. Ia tak habis pikir, tantangan yang ia berikan malah membuat Ardo semakin melangkah jauh. Hingga lupa diri. Jika sudah begini, ia jadi merasa bersalah kepada Ardo dan Gloria. Rumah tangga Gloria akan terancam bubar karena ulahnya.


"Kak Ardo serius?" Leona masih dalam mode membeliak tak percaya.


"Apa aku pernah bercanda?"


"Lupakan saja soal taruhannya Kak. Aku hanya bercanda, tidak serius. Lupakan juga soal kostum badutnya. Kasihan Glori nanti kalau sampai dia pisah dengan suaminya."


"Ini bukan sekedar taruhan Leona. Aku memang sudah jatuh hati dengan Glori."


"Trus, jika dia nanti pisah dengan suaminya, apa Kak Ardo akan menikahinya, gitu?"


"Why not (kenapa tidak)?"


"Kak Ardo serius?"

__ADS_1


"Kapan kamu pernah melihatku bercanda?" Ardo malah menantang Leona yang semakin tercengang tak percaya.


Leona bahkan harus meyakinkan dirinya bahwa Ardo hanya bercanda. Akan tetapi, ia mengenal Ardo dengan baik. Kakak sepupunya itu tidak akan mundur sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya. Termasuk wanita.


"Jangan gila deh, Kak. Kak Ardo pasti bercanda. Udahlah Kak. Tidak usah bermimpi. Tidak mungkin Glori akan memilih Kak Ardo. Dan tidak mungkin juga, Uncle dan Aunty akan menyetujui hubungan kalian berdua."


"Lihat saja nanti. Akan aku buktikan padamu, Glori pasti akan menjadi milikku." Ardo sudah melangkah jauh. Dan ia tak ingin mundur. Ia akan terus melangkah maju meski banyak aral menghadang.


"Aku sarankan, sebaiknya Kak Ardo berhenti. Sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Dan aku minta maaf ke Kak Ardo. Karena aku sudah memberi Kak Ardo tantangan yang tidak masuk akal. Oh ya, mulai hari ini, aku bekerja di sini. Di bagian keuangan. Setidaknya, aku bukan anak manja lagi kan?" Sembari bangun dari duduknya, mengukir senyum manisnya.


"Aku kasih satu saran lagi, sebaiknya Kak Ardo mencari perempuan lain yang lebih pantas. Glori itu sudah menjadi milik orang lain sejak awal. Jadi sebaiknya, Kak Ardo berhenti. Lupakan saja soal taruhannya. Atau Kak Ardo mau aku kenalkan dengan Ellena? Temanku yang paling cantik? Kak Ardo tuh, lebih cocok dengan Ellena," tawar Leona sebelum beranjak.


Menyinggung soal Ellena, sejujurnya Ardo memiliki ketertarikan terhadap gadis yang satu itu. Cantik berkelas, tipikal perempuan ideal yang memenuhi standar kriterianya. Akan tetapi, rasa penasarannya terhadap Gloria belum lah tuntas. Sampai ia berhasil memisahkan Gloria dengan Bary, barulah ia akan merasa puas.


Sebab ia tahu, Gloria sangat tersiksa dengan pernikahan yang dijalaninya. Walaupun pada akhirnya mereka tidak bisa bersatu, tetapi setidaknya, ia sudah membantu Gloria dari jerat yang disebut pernikahan.


"Ellena?" Ardo mengulang menyebut nama itu. Yang menerbitkan senyum di wajahnya, namun tidak dengan getaran di hatinya. Tidak seperti kepada Gloria, yang selalu berhasil membuatnya berdebar. Hingga ia serasa gila, rindu tak tertahankan bila tidak bertemu.


Leona mengangguk, semakin melebarkan senyumnya. Berharap Ardo menerima sarannya.


"Iya, Ellena. Putrinya Tante Sheila. Oh iya, hampir lupa, Ellena itu Brand Ambassador yang baru kita. Nanti Kak Ardo bakal sering berurusan dengannya. Aku yakin, Kak Ardo pasti akan tertarik padanya. Kalau Kak Ardo mau, aku bisa nyomblangin kalian berdua. Gimana? Mau?"


Ardo menarik kedua sudut bibirnya melengkung  membentuk senyuman. Ellena adalah gadis yang menarik. Apa yang dikatakan Leona benar. Bahwa Ellena adalah tipe perempuan yang ia inginkan. Akan tetapi, bila untuk menjalin hubungan, mungkin lebih baik ia pikirkan kembali. Sebab hatinya telah tertawan pada satu wanita. Yang selalu bisa menyenangkan hatinya.


"Gimana Kak? Mau tidak?" desak Leona.


Ardo menghembuskan napasnya pelan. Diraihnya kembali tablet pintar yang tergeletak di meja. Mulai berselancar di dunia maya. Dan tanpa sengaja melihat sebuah iklan yang lewat di beranda akun instagramnya yang menampilkan wajah Ellena sebagai model iklannya.


Cantik.


Satu kata yang melintas di benaknya begitu melihat paras menawan Ellena. Tidak ada yang salah dengan gadis yang satu ini. Gadis yang menjadi idaman banyak kaum Adam ini memiliki pesonanya tersendiri. Siapa saja yang melihatnya, sudah pasti akan jatuh hati pada pandangan pertama.


Sama hal nya dengan dirinya. Yang memiliki ketertarikan pada pandangan dan pertemuan pertama. Lalu apakah ia akan menerima tawaran Leona kali ini?


Bila mengingat, hubungannya dengan Gloria terlalu sulit bila diperjuangkan nanti. Ellena sangat memenuhi standar kriteria wanita idealnya. Dan lagipula, Ellena adalah putri sahabat ayahnya. Putri seorang dokter dan seorang mantan model ternama. Yang sudah jelas bibit, bebet, dan bobotnya. Restu akan sangat mudah ia kantongi bila ia menjalin hubungan dengannya.


Lalu mengapa tidak bila ia pertimbangkan saran Leona?

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2