
Bab 64. Bidadari Dari Hotel
"Oh ya?" Ardo menyeringai menatap ayahnya.
"Lalu apakah yang Papa lakukan dulu itu juga tidak salah? Papa pikir aku tidak tahu perbuatan Papa dahulu yang merebut Mama dari Uncle Bram?"
"Ardo!" sentak Bram yang tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu menatap Ardo tajam.
Serentak mereka menoleh. Bram pun menghampiri.
"Ardo, Uncle tidak suka kamu berkata seperti pada Papa mu," ucap Bram menatap Ardo memberi peringatan.
"Ada banyak hal yang tidak kamu mengerti, Ardo. Termasuk apa yang pernah terjadi diantara Papa mu dan Uncle dulu. Jadi kamu tidak pantas berkata seperti itu," sambung Bram mulai menurunkan nada suara.
"Maaf," ucap Ardo singkat.
"Bukan pada Uncle. Minta maaf pada Papa mu."
Ardo menoleh, menatap Dicko yang masih termangu akan kalimat menyakitkan yang terlontar dari mulut Ardo.
"Maafkan aku, Pa."
Dicko bergeming. Tidak menyahuti ungkapan permintaan maaf Ardo. Tidak pula menatap Ardo. Yang telah menyakiti hatinya dengan kalimat tajam menyayat kalbu.
Membuat Dicko teringat akan berbagai peristiwa yang terjadi di masa lampau. Ardo mengingatkannya akan perbuatannya dahulu yang mencintai istri orang. Yaitu istri Bram, adiknya sendiri.
Ucapan Ardo menamparnya halus. Serasa menelanjanginya, menampakkan kesalahannya di masa lampau. Dan peristiwa itu pun terulang kembali melalui putranya sendiri. Yaitu jatuh cinta pada orang yang salah.
Namun akhirnya, takdir berpihak kepadanya. Cintanya yang dianggap salah, dan cinta itu pula lah yang menyatukannya dengan Aruna dalam satu ikatan sakral. Dan karena cinta itulah, hingga detik ini hubungan mereka masih langgeng meski raga mulai menua. Ia masih tersimpan apik, menjaga dua hati saling mendekap dalam suka dukanya kehidupan.
Meskipun begitu, bukan berarti takdir Ardo akan berakhir sama seperti takdirnya. Tidak semua orang memiliki nasib yang sama. Sekalipun Ardo, putranya sendiri.
Ada banyak hal yang terlalu Dicko cemaskan. Terlebih saat melihat kobaran amarah yang membakar jiwa Bary kala bertemu dengannya di hotel beberapa jam yang lalu.
Membuat kecemasannya bertambah berkali-kali lipat. Sebab dari yang terlihat pun, ia sudah bisa mengira seperti apa tabiat Bary. Tidak menutup kemungkinan, Bary yang sedang dikuasai amarah malah akan menjadikan Ardo sebagai pelampiasannya.
"Kak, Ardo sudah meminta maaf. Tolong maafkan dia," pinta Bram menyentuh pundak Dicko.
__ADS_1
Dicko terhenyak, tersadar dari lamunannya. Manakala Bram menyentuh pundaknya, serta Aruna merangkul pinggangnya. Memberinya tatapan menghiba. Agar memaklumi dan memaafkan perkataan sang putra. Meski itu telah menyakiti harga dirinya.
"Kak Dicko dan Aruna pergilah lebih dulu. Biar Ardo bersamaku. Tamu undangan sudah banyak yang hadir. Papa juga sudah berada di sana," ucap Bram.
"Ardo, Mama kecewa sama kamu." Aruna tidak ingin berkata panjang lebar mengutarakan kekecewaannya. Ia berharap putranya itu bisa memahami kekecewaannya sebagai orangtua. Yang telah dimanfaatkan kasih sayang dan kepercayaannya.
"Sayang, ayo," ajak Aruna menarik lengan Dicko. Menuntun Dicko keluar dari kamar sang putra yang tengah berwajah suram. Entah karena penyesalan ataukah masih berada pada pemikirannya sendiri.
.....
Hening masih menguasai dalam perjalanan menuju restaurant di mana pesta ulang tahunnya Ardo diselenggarakan.
Bram masih fokus pada jalanan, sedangkan Ardo masih mengelana dengan berbagai pikiran serta kecamuk rasa dalam dada.
Dan lagi, hubungannya dengan Gloria yang masih setia menempati urutan teratas yang menjadi prioritasnya.
Apa yang harus ia lakukan dan bagaimana caranya agar rintangan yang menghadang bisa ia lewati dengan mudah. Ia telah meminta saran dari Irfan untuk melaporkan tindak KDRT yang dilakukan Bary terhadap Gloria.
Namun semua yang ia harap akan berjalan dengan mudah, nyatanya memiliki aturannya tersendiri. Yang tak bisa ia langgar dan berbuat seenak hati.
"Sedang memikirkan apa?" Pertanyaan Bram akhirnya memecah hening di dalam mobil itu. Sesekali, tanpa mengalihkan fokus dari jalanan, Bram melirik Ardo yang tampak gelisah.
"Banyak hal." Ardo menghela napas panjang, menghembuskannya pelan. Sekedar memupus kecemasan yang kian mendera.
"Uncle tahu apa yang sedang terjadi padamu saat ini. Sama persis seperti apa yang terjadi pada papa mu dahulu. Jatuh cinta pada milik orang." Bram mengukir senyum tipis.
"Tidak ada yang salah dengan cinta. Uncle sangat paham dengan apa yang kamu rasakan sekarang ini. Karena apa yang terjadi padamu ini, pernah dilalui oleh Papa mu. Mau Uncle kasih saran?" goda Bram melirik keponakan kesayangannya itu. Putra dari wanita yang pernah sangat ia cintai dahulu. Sebelum takdir memisahkan dan malah menyatukan wanitanya dengan kakak terkasihnya, Dicko.
Ardo menghela napas, lalu melirik dengan senyuman tipis.
"Saran Uncle, kamu jangan pernah berhenti memperjuangkan hal yang kamu inginkan. Sama seperti Papa mu dulu. Dia tidak pernah menyerah berjuang untuk kebahagiaannya sendiri. Memang, pada akhirnya akan ada hati yang tersakiti. Tapi seiring berjalannya waktu, semua akan kembali kepada keadaan sebelumnya. Setiap luka akan menemukan caranya untuk sembuh. Kamu hanya perlu percaya bahwa semua baik-baik saja. Dan akan indah pada waktunya."
Setidaknya, ada secercah harapan yang mungkin bisa ia raih dari apa yang ia perjuangkan saat ini. Ucapan Bram seperti seberkas cahaya yang akan menerangi jalannya. Ardo bernapas lega, merasa beruntung memiliki paman seperti Bram. Yang bisa mengerti dengan perasaannya.
"Oh ya, siapa perempuan itu? Perempuan yang sudah berhasil menghentikan ponakan Uncle ini dari petualangannya? Hm?" Bram kembali melirik sejenak dengan senyuman menggoda.
Ardo tersenyum malu, menundukkan wajahnya.
__ADS_1
...........
"Kenapa Ardo nyuruh kita ke hotel ya?" tanya Donal celingukan ke luar jendela mobil mengamati sebuah hotel berbintang yang mereka datangi sesuai instruksi dari Ardo.
"Tidak usah banyak tanya. Tunggu dan lihat saja. Seseorang akan keluar dari pintu itu," sahut Brian menunjuk pintu masuk.
"Siapa memangnya?"
"Ada laaaah .... pokoknya seseorang."
"Cewek atau cowok?"
"Mana aku tahu. Lihat saja nanti kalau dia sudah datang."
Ardo memang sengaja meminta Brian dan Donal untuk menjemput Gloria, serta membawanya serta ke tempat di mana pesta ulang tahunnya diadakan. Dengan alasan untuk menghindari bila Bary mungkin saja tengah mengawasinya diam-diam.
"Sebentar lagi pestanya mau mulai. Kenapa orangnya lama sekali ya? Aku jadi penasaran, siapa sih orang itu? Apa jangan-jangan Ardo punya pacar rahasia?"
"Tuh, dia datang." Brian mengarahkan telunjuk kepada seorang wanita cantik dan anggun yang berjalan bersama Nindi.
Donal yang duduk dibalik kemudi pun tak bisa membendung rasa penasarannya. Diikutinya kemana arah telunjuk Brian. Donal pun terbelalak melihat seorang bidadari cantik jelita dalam balutan busana elegan dan modis berwarna hitam. Meski tertutup di bagian atasnya namun menampakkan kaki jenjang putih mulus dari belahan vertikal sampai batas paha pada gaun ketat itu.
Donal berdecak kagum memindai bidadari jelita yang kini telah berdiri di sisi mobil. Hendak menarik tuas untuk membuka pintu mobil.
"Gila Bro. Cakep banget. Baru kali ini aku melihat ada bidadari yang turun dari hotel. Apa dia pacarnya Ardo?" tanya Donal dengan rasa penasarannya yang menggunung.
"Nanti kamu akan tahu," sahut Brian yang memang sudah mengetahui segalanya, namun enggan membeberkannya kepada Donal. Yang bermulut ember dan tak bisa menjaga rahasia.
"Ayo jalan. Ardo udah nungguin dari tadi," titah Nindi menepuk pundak Donal begitu mendaratkan pantat di jok kedua bersama Gloria.
"Oke, siap laksanakan!" seru Donal patuh sembari melirik-lirik kaca spion, mencuri-curi pandang pada seorang bidadari yang tengah duduk tenang di belakangnya.
Sebetulnya Gloria tengah berdebar hebat saat ini. Ia tak tahu apa yang tengah menantinya di pesta ulang tahun tersebut.
Bersambung
__ADS_1