
Bab 58. Jangan Pergi
"Kamu boleh pergi ke manapun yang kamu mau. Tapi jangan pernah berpikir untuk pergi dari hidupku. Karena aku tidak akan pernah bisa tanpamu, Glori." Bibir Ardo bergetar mengutarakan hal yang membuat perih di hatinya.
"Perlu kamu tahu, aku menerima pengunduran dirimu, tapi tidak dengan kamu menjauhiku. Paham kamu?" tegas Ardo menatap Gloria tajam dengan mata sembabnya.
Mengusap air matanya kasar, Ardo kemudian turun dari tempat tidur. Dilepasnya blazer hitam yang ia kenakan, menaruhnya asal di tempat tidur.
Berkali-kali ia menghembuskan napas berat. Ia tak menyangka akan mendapati kondisi Gloria dalam keadaan miris seperti itu. Sungguh pemandangan yang membuatnya trenyuh. Rasa sakit pun ikut menusuk hingga ke dasar kalbu.
Gloria tahu, bila Ardo merasa iba melihat keadaan memilukan dirinya. Ia pun bangun, lalu menautkan kembali satu per satu kancing kemejanya. Kemudian turun dari tempat tidur. Ia hendak menjauh saat tangan kekar Ardo menahan pergelangan tangannya.
Masih dengan posisi memunggungi Ardo, saat tiba-tiba Ardo memeluknya dari belakang.
"Kamu tahu, semalaman aku tidak bisa tidur. Sampai pagi ini aku masih berusaha menghubungimu. Tapi kamu malah mengabaikanku dan sengaja menonaktifkan handphonemu. Apa kamu benar-benar ingin menjauh dariku?" lirih Ardo mengeratkan dekapan.
Gloria masih membisu. Memikirkan kalimat apa yang pantas ia lontarkan untuk meminta Ardo menjauhinya. Bila perlu meninggalkannya dan mengakhiri hubungan dengannya.
Melepaskan dekapannya, Ardo menaruh kedua tangannya di pundak Gloria. Untuk membawa Gloria berhadapan dengannya. Ditatapnya penuh iba wajah lebam Gloria.
Sembari membawa jemari menyentuh wajah lebam Gloria, Ardo berkata, "aku sudah pernah berjanji bahwa akulah orang pertama yang akan melindungimu. Kamu sangat berharga bagiku, Glori. Kamu adalah separuh jiwaku. Kamulah wanita pertama yang membuatku seperti ini. Hidupku berubah gara-gara kamu, Glori. Semua karenamu."
"Kenapa kamu tidak menghubungiku saat laki-laki itu memperlakukanmu seperti ini? Aku masih bisa terima saat kamu lebih memilih laki-laki itu. Tapi aku tidak bisa terima jika dia memperlakukanmu seperti ini, Glori," sambung Ardo menatap pilu wajah Gloria.
"Tapi dia suamiku." Gloria mulai melontarkan kalimat yang akan menyinggung Ardo. Sebab mungkin lebih baik bila Ardo tidak mengganggu kehidupannya lagi.
"Suami macam apa yang menyiksa istrinya brutal? Jangan pernah sekalipun menyebutnya suami di depanku, Glori. Karena bagiku, laki-laki itu adalah iblis yang tidak berperasaan."
"Tapi itulah kenyataannya. Bary adalah suamiku. Dan kamu hanya orang lain yang berusaha mengganggu kehidupan rumah tanggaku. Dia sudah tahu tentang hubungan kita." Bila ditanya, sungguh Gloria tak tega berkata demikian. Ia tak ingin melukai perasaan Ardo yang tulus mencintainya. Hanya Ardo satu-satunya pria yang menganggapnya berharga. Yang membuatnya merasa menjadi satu-satunya wanita yang paling dicintai.
"Aku tidak peduli. Dan kenyataan itu hanya bagimu, tapi tidak bagiku. Jadi berhenti menyebutnya suami di depanku."
"Tolong biarkan aku pergi." Mungkin memang lebih baik bila diantara mereka tidak terjalin hubungan apapun. Jika suatu hari nanti hubungan itu malah akan membawa petaka.
__ADS_1
Ardo menggeleng. "Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu pergi. Jika aku melakukan itu, sama saja dengan aku menyerahkan nyawaku padanya. Kamu tahu ..." Sembari merangkum wajah Gloria dalam dekap jemarinya.
"Kamu adalah separuh jiwaku. Jika aku kehilangan kamu, maka aku bisa mati detik itu juga. Jadi, jangan pernah berpikir untuk pergi dari hidupku. Jika kamu pergi, sama artinya kamu telah membunuhku," sambung Ardo menatap kian sendu. Menelisik paras cantik yang dipenuhi lebam hampir di seluruh bagian wajahnya.
Kalimat Ardo terasa menyejukkan kalbunya yang dahaga. Haus akan cinta dan kasih. Membuatnya serasa terbang melayang, melambungkannya hingga ke langit ke tujuh. Ardo terlalu pandai merayu, terlalu ahli membuainya dengan kata-kata manis. Sehingga hatinya pun telah terlanjur tertawan. Tak mampu melawan bila asmara mendekat ingin menjadi kawan.
Bila Ardo ingin menjadi kawan untuk seumur hidupnya, mengapa tidak?
Tetapi, apakah Ardo sungguh-sungguh dengan ungkapan hati dan perasaannya saat ini?
Ataukah Ardo malah sengaja berpetualang dalam arena yang salah?
"Seberapa besar cintamu padaku? Seberapa berartinya aku bagimu?" Bola mata indah Gloria mulai berkaca-kaca. Seiring perasaannya yang syahdu. Dirundung rasa haru akan sikap dan perlakuan Ardo kepadanya. Baru pertamakali dalam hidupnya, ada seorang pria seperti Ardo yang memperlakukannya istimewa. Seistimewa Ardo di hatinya.
"Lebih besar dari dunia ini. Lebih berarti dari hidupku. Bahkan dari nyawaku sendiri. Kamu jauh, jauh lebih berarti dari segalanya di dunia ini." Bukan sekedar gombalan, tetapi seperti itulah perasaan Ardo. Perasaan yang entah sejak kapan lebih besar dalam dada. Hingga rasa ingin memilikinya pun kian menguat sampai ke dasar jiwa.
Yang sukses menjatuhkan buliran air bening yang menggenang di pelupuk mata Gloria.
Satu kecupan hangat Ardo berlabuh di keningnya. Menghangatkan jiwanya yang hampir membeku. Tak pernah tersentuh oleh hangatnya cinta kasih.
Cinta dan kasih sayang Ardo yang tercurah untuknya, membuatnya kembali menemukan semangat hidup. Mampu membuatnya melihat arah dan tujuan hidup yang ingin ia raih. Yaitu, hidup damai dan berbahagia bersama orang terkasih.
Richardo.
Karena hanya Ardo lah satu-satunya yang ia miliki di dunia ini. Sebagai teman, kawan, sahabat, keluarga, hingga menjadi belahan jiwanya.
Ardo adalah satu dalam segala di hidupnya.
Ardo pun meraihnya, merengkuhnya ke dalam dekapan hangatnya. Mencurahkan segala rasa, cinta dan kasih sayang hanya untuknya.
....
Sepagi ini TRF tengah diramaikan oleh sebuah undangan yang terpampang di papan pengumuman. Undangan yang ditujukan untuk seluruh karyawan dan karyawati TRF tanpa terkecuali.
__ADS_1
Undangan tersebut berisi tentang perayaan hari ulang tahun cucu Danu Anggara terkasih.
Richardo Anggara.
Undangan tersebut serta merta telah menjadi topik hangat terkini diantara kaum hawa. Yang sontak mulai mempersiapkan rencana penampilan terbaiknya untuk malam nanti. Berbagai referensi pun kini mulai dijelajahi di dunia maya, demi sebuah penampilan memukau untuk memikat hati seorang Richardo.
Diantaranya ada Reina. Yang mulai sibuk menjelajah di dunia maya, mencari barang-barang branded terbaik yang bisa ia kenakan malam nanti pada perayaan tersebut.
Masalah budget tidak menjadi soal baginya. Meski kantongnya pas-pasan, ia merasa sanggup membelinya. Sebab ia masih memiliki sumber dana yang bisa menalangi keinginannya.
Reina tersenyum sinis menatap layar ponselnya. Yang menampilkan sebuah video berdurasi singkat, yang sempat ia rekam beberapa saat lalu.
Beruntung ia datang sepagi ini, sehingga sekali lagi keberuntungan berpihak kepadanya. Dan video itu bisa mewujudkan keinginannya dalam sekejap.
"Kita lihat saja Bary, kali ini kamu tidak mungkin bisa menolak apa yang aku minta. Aku membutuhkanmu sekarang Bary Sayang," gumam Reina tersenyum sinis.
...
Menyandarkan kepala pada lengan Ardo terasa lebih nyaman dari bantal paling empuk pun. Berada dalam dekapan Ardo, jauh lebih menghangatkan dari selimut setebal apa pun.
Gloria berbaring memunggungi Ardo yang tengah mendekapnya. Mengecupi puncak kepalanya dengan lembut, lalu berucap,
"Malam nanti adalah malam yang istimewa bagiku. Malam ini akan jauh lebih istimewa lagi jika kamu hadir. Aku ingin mengenalkanmu pada keluargaku."
Gloria menghela napas pelan. "Aku tidak yakin hubungan kita akan direstui oleh orangtua mu." Memang tak mudah mengantongi restu untuk sebuah hubungan terlarang. Tidak terkecuali hubungannya dengan Ardo. Yang memang tak pantas untuk direstui. Sebab nama baik keluarga tengah dipertaruhkan saat ini.
Bukan hanya nama baik keluarga Ardo yang ikut tercoreng. Bahkan harga dirinya pun akan dipertanyakan.
Wanita seperti dirinya tidak lah pantas menjadi pendamping hidup Ardo.
"Jangan mencemaskan apapun. Percayalah padaku, aku tidak akan pernah mundur memperjuangkan mu."
Bersambung
__ADS_1