
Bab 85. Gagal
Aktifitas kembali seperti biasanya. Ardo menyibukkan diri dengan pekerjaan yang sering tertunda-tunda. Bahkan sering ia abaikan.
Namun kali ini terasa berbeda. Walaupun Gloria sudah bukan lagi menjadi karyawannya, serta tidak adanya kehadiran Gloria di divisinya, tak lantas membuat semangat kerjanya surut.
Namun setidaknya, Gloria sudah menjadi bagian dari hidupnya kini. Bahkan tidak lama lagi Gloria akan menjadi miliknya seutuhnya dan sepenuhnya.
Membayangkan hal itu saja sudah membuat semangatnya berkobar. Membakar jiwa mudanya menjadi lebih bergairah.
Baginya Gloria ibarat medan magnet, yang membuatnya selalu mendekat, ingin selalu menempel dan tak ingin terpisahkan.
Ibarat kata lain, Gloria itu seperti nar kotika, yang membuatnya candu. Serasa ingin mati bila tak berjumpa.
Tanpa Gloria dunianya serasa monokrom, tak berwarna. Tanpa adanya Gloria membuat hidupnya serasa gelap gulita. Sebab Gloria adalah cahaya di hidupnya.
Gloria itu seperti seteguk air, yang mengobati dahaganya. Seperti madu, yang memberi manis dalam kehidupannya.
Tak kan habis perumpaan untuk Gloria. Sebab candunya terhadap Gloria melebihi candu apa pun di dunia ini.
Ibarat dua tubuh, namun satu jiwa. Karena Gloria adalah separuh jiwanya. Bila Gloria adalah jantung, maka ia adalah denyut nadinya.
Ardo membuka laptop, menghidupkannya. Lalu mulai fokus, menyibukkan diri dengannya. Merasa ada yang terlewatkan, Ardo meraih telepon paralel di sudut meja.
"Bawakan kopi ke ruanganku, segera," titahnya pada Office Boy di pantry kantor.
Biasanya tugas membuat kopi ia bebankan kepada Gloria. Yang terkadang merasa kesal, lantaran pekerjaan OB dibebankan kepadanya.
Padahal kopi buatan Gloria sala saja seperti pada umumnya. Namun entah mengapa kala itu hanya kopi buatan Gloria yang menurutnya berbeda. Terasa jauh lebih enak. Sebab sesungguhnya, bukan kopi buatan Gloria yang enak, melainkan ia yang telah jatuh hati sedari awal. Tetapi tidak menyadarinya.
"Ini kopi yang Bapak minta. Silahkan dinikmati mumpung masih hangat."
Kepulan asap yang membawa aroma nikmat dari kopi itu menyeruak, tertangkap indera penciumannya. Ardo lantas mengangkat wajahnya.
"Terimakasih," ucap Ardo.
Namun dahinya mengerut. Sebab yang membawakan kopi bukan seorang OB seperti biasanya, melainkan seorang wanita cantik dengan senyum merekah tersungging di bibirnya
Reina.
"Sama-sama, Pak Ardo," balas Reina manis.
"Kemana OB kantor? Kenapa bukan dia yang membawakan kopinya?" Ada rasa tak nyaman bagi Ardo. Mengingat Reina adalah asisten ibunya. Dan lagi, gelagat Reina seperti wanita penggoda itulah yang membuat Ardo tak nyaman.
"Dia sedang mengantarkan kopi untuk karyawan yang lain, Pak. Jadi saya berinisiatif membawakannya untuk Bapak. Karena kebetulan saya berada di pantry."
Ardo manggut-manggut. Membuat senyum di wajah Reina semakin tersungging lebar.
Ardo pun meraih cangkir kopi. Menghirup aromanya terlebih dahulu sebelum menikmatinya.
__ADS_1
Ardo hendak menyesap kopi itu saat tiba-tiba seorang OB datang tergesa-gesa membawa sebotol air mineral.
Mungkin lantaran tergesa-gesa sampai OB tersebut terpeleset. Hampir saja OB itu jatuh tersungkur ke lantai, jika saja tak menimpa Ardo. Hingga kopi yang hendak disesap Ardo tumpah. Sebagian tumpahan kopi mengenai kemeja Ardo. Membuat Ardo mencak-mencak, kaget juga panik terkena tumpahan kopi.
"Kamu ini gimana sih? Punya mata tidak? Kenapa jadi OB tidak punya sopan santunnya sama sekali? Siapa yang nyuruh kamu numpahin kopinya Pak Ardo? Hah?" semprot Reina kesal menatap nyalang OB yang tampak ketakutan.
Bukannya Ardo, malah Reina yang tersulut emosinya. Tak terima kopi buatannya tumpah dan tak sempat diminum oleh Ardo. Padahal ia sudah repot-repot membuatkan dan membawakannya untuk Ardo. Disela kesibukannya sebagai asisten kepala desainer.
"Maaf, Bu. Saya tidak sengaja," ucap OB menundukkan pandangan.
"Makanya, kalau kerja tuh hati-hati. Mau kamu dipecat?" Kemudian mengambil tisu yang tergeletak di sudut meja. Menyodorkannya kepada Ardo.
"Sekali lagi, saya minta maaf Bu."
"Sudah, sudah. Tidak apa-apa," lerai Ardo sembari meraih tisu dari tangan Reina. Kemudian menyeka noda kopi di kemejanya.
"Kamu tuh ya, jadi OB kerjanya yang becus dong. Tuh lihat, kemejanya Pak Ardo jadi kotor gara-gara kamu. Bukannya minta maaf ke Pak Ardo, malah diam saja. Saya tidak mau tahu ya, pokoknya kamu harus ganti rugi. Kamu ganti kemejanya Pak Ardo yang rusak."
Padahal yang kena tumpahan kopi adalah Ardo. Yang rugi pun adalah Ardo. Tetapi malah Reina yang mengomel, tak terima dengan kerugian itu.
Entah mengapa.
Mungkinkah lantaran kopi yang ia buatkan spesial untuk Ardo itu tak sempat dinikmati Ardo?
Entahlah.
"Sudahlah. Tidak perlu dibesar-besarkan masalah ini. Lagian hanya kemeja. Aku bisa menggantinya dengan kemeja cadangan yang aku bawa," ucap Ardo tak ingin lagi mendengar omelan Reina.
"Eh, kamu. Ngapain kamu ke sini? Hah?" Reina masih tak terima.
OB tersebut mengangkat wajahnya. Takut-takut menatap sorot mata nyalang Reina
"Sa-saya membawakan air mineral ini untuk Pak Ardo." Sembari menunjukkan sebotol air mineral ditangannya.
"Katanya Pak Ardo minta dibawakan air mineral. Segera. Makanya saya buru-buru ke sini," sambung OB berwajah cemas.
"Makanya kamu tuh stay di pantry. Biar kamu tahu tugas kamu itu apa. Jangan malah meninggalkan pantry begitu saja."
"Maaf, Bu."
Ardo diam, mengamati raut wajah Reina dan si OB bergantian. Raut wajah keduanya jelas terlihat berbeda. Raut wajah Reina seolah cemas karena sesuatu hal yang mungkin gagal ia lakukan. Sementara si OB, raut wajahnya tampak cemas, seperti sedang ingin mengatakan sesuatu.
Entahlah.
Lagipula Ardo bukan ahlinya dalam membaca raut wajah. Akan tetapi, gelagat Reina tampak mencurigakan. Apakah ini hanya perasaannya saja?
"Sudah, sudah. Aku tidak masalah dengan kemejaku yang rusak. Aku hanya tidak mau ada keributan di dalam ruanganku ini." Ardo mengambil napas sejenak.
"Sekarang, silahkan tinggalkan ruanganku," titahnya kemudian.
__ADS_1
Dengan kesal, Reina memutar tubuhnya. Kemudian menyeret langkah, keluar dari ruangan Ardo.
Sedangkan si OB, memperlambat langkahnya, seolah tak ingin keluar dari ruangan itu. Sampai akhirnya Ardo memanggilnya kembali.
"Kamu," panggil Ardo.
Si OB menghentikan langkahnya, memutar tubuh menghadap Ardo.
"Berikan padaku air mineralnya." Sambil mengulurkan tangan kanannya.
Si OB bergegas menghampiri, mengangsurkan botol air mineral itu ke tangan Ardo.
"Ada yang ingin kamu katakan?" tanya Ardo begitu botol berpindah tangan.
Si OB terlihat cemas. Melirik sejenak ke arah pintu. Untuk memastikan bila Reina sudah berada jauh dari ruangan Ardo.
"Iya, Pak. Ada yang ingin saya sampaikan ke Pak Ardo." Wajah si OB sangat serius.
"Katakanlah." Padahal Ardo hanya menebak saja. Siapa sangka tebakannya malah tepat.
"Begini, Pak ..."
...
Sudah merupakan hal biasa bagi Reina bila Aruna memanggilnya setiap saat. Sebab pekerjaannya sebagai asisten seorang kepala desainer itu seolah tak ada habisnya.
Di ruangan Aruna dilihatnya sudah ada Ardo. Pria tampan rupawan itu duduk memangku kaki di sofa, sambil bermain ponsel.
Sementara Aruna, tampak sedang mengamati sesuatu pada layar laptopnya.
"Ada yang bisa saya bantu, Bu? Tugas apalagi yang harus saya selesaikan?" tanya Reina memasang wajah manis. Sambil sesekali melirik Ardo.
Aruna menghela napas sejenak. Menyandarkan punggung, sembari melipat kedua tangan di depan dada.
"Reina, saya sudah mempercayai kamu sebagai asisten saya," ucap Aruna.
Reina tersenyum. "Terima kasih, Bu Aruna. Saya sangat tersanjung."
"Untungnya saya belum mempercayai kamu sepenuhnya."
Reina mengerutkan dahi. "Maksud Bu Aruna?"
Bukannya menjawab pertanyaan Reina, Aruna malah memutar posisi laptopnya ke arah Reina. Yang menampilkan video dimana saat Reina berada di pantry membuatkan kopi untuk Ardo beberapa saat lalu. Namun ada sedikit kejanggalan dalam video tersebut.
"Katakan kenapa kamu ingin meracuni anak saya?"
"Siapa yang menyuruh kamu?"
Bersambung
__ADS_1