Gara-Gara Kamu

Gara-Gara Kamu
Bab 91. Fitting Gaun


__ADS_3

Hari silih berganti. Menyisakan warna yang berbeda disetiap waktu yang berlalu.


Setelah sekian lama menunggu, kabar bahagia itu pun telah sampai kepada seluruh kerabat, teman sejawat, rekan tak terkecuali. Bilamana pernikahan Richardo dan Gloria yang hanya tinggal menghitung hari saja.


Kabar bahagia yang berhembus ini pun bersamaan dengan tanggapan-tanggapan miring orang-orang terhadap hubungan mereka. Dimana kondisi fisik Gloria yang tengah berbadan dua itu pun tak luput dari gunjingan orang-orang.


Namun, meski begitu, tak sedikitpun mengurangi kebahagiaan yang mereka rasakan. Seperti yang terlihat saat ini dari raut wajah Ardo dan Gloria. Yang tampak bersinar, dengan binaran cinta yang berseri.


Ardo dan Gloria tengah melakukan fitting gaun pengantin. Bukan di butik-butik mewah, melainkan di sebuah tempat teristimewa. Dan dengan menggunakan jasa seorang desainer teristimewa pula, sebuah gaun terindah pun tercipta.


Gloria tersenyum bahagia melihat pantulan dirinya di depan cermin, di dalam kamar Ardo. Gaun yang dirancang khusus oleh Aruna itu mampu menyamarkan perutnya yang membuncit.


"Gimana? Kamu suka gaunnya?" tanya Aruna tersenyum senang memandangi pantulan Gloria di depan cermin. Kemudian merapikan rambut sepinggang Gloria yang tergerai.


Satu kebahagiaan tersendiri bagi Gloria, memiliki calon mertua yang memperlakukannya layaknya anak kandung.


Aruna tidak pernah memasang batas antara dirinya dengan Gloria. Karena baginya, Gloria itu sudah seperti putrinya sendiri.


Sambil tersenyum, Gloria mengangguk. "Iya, Ma. Aku suka. Gaun yang Mama buat untukku sangat indah. Makasih ya, Ma?" ucapnya.


"Sama-sama Sayang. Apapun akan Mama berikan untukmu, asalkan bisa membuatmu senang."


Refleks Gloria meraih Aruna. Memeluknya erat dengan sejuta perasaan bahagianya. Memiliki seorang ibu seperti Aruna, sungguh ia merasa sangat bahagia. Rasanya seperti seisi dunia diberikan kepadanya. Tak pernah putus ungkapan rasa syukurnya. Hidupnya kini jauh lebih baik setelah bertemu Aruna.


"Makasih banyak ya, Mama. Mama memang yang terbaik. Aku tidak tahu bagaimana caranya aku berterimakasih sama Mama," ungkapnya penuh rasa syukur.


"Tidak perlu berterimakasih sama Mama. Kamu adalah putri Mama. Sudah merupakan hal yang wajar bagi seorang ibu untuk membahagiakan putrinya. Karena bagi seorang ibu, kebahagiaan putra dan putrinya adalah yang terpenting di dunia ini. Melihat kamu dan Ardo bahagia saja itu sudah lebih dari cukup buat Mama. Hm?" ucap Aruna sembari mengusap lembut punggung Gloria.


"Dan ..." kemudian melepas pelukan. Sembari menatap Gloria, "Yang paling membuat Mama bahagia adalah ..." lantas membawa tangan kanannya mengusap lembut perut Gloria, sembari tersenyum.


"Jagoan kecil ini adalah hadiah termanis yang kamu berikan untuk kami semua," sambungnya dengan perasaan bahagia. Yang sukses menjatuhkan bulir-bulir air yang menggenang di pelupuk mata Gloria.


Sembari mengusap air matanya, Gloria hendak berkata saat tiba-tiba terdengar bunyi decitan pintu terbuka. Bersamaan dengan suara seorang pria, yang terdengar nakal menggoda.


"Katakan padaku siapa yang mengganggumu." Ardo melangkah lebar dari pintu itu. Menghampiri Gloria, mendekap wajah dengan pipi yang mulai tembem itu. Yang membuatnya gemas sendiri.


"Tidak ada yang menggangguku," ucap Gloria mengerucutkan bibir. Sejak ia hamil, Ardo menjadi lebih protektif. Bahkan mungkin over.


Namun merupakan hal yang wajar. Sebab Ardo ingin menjadi calon suami sekaligus calon ayah yang bertanggung jawab. Lalu apa salahnya bila ia ingin memberikan yang terbaik untuk calon istri serta calon buah hatinya?

__ADS_1


"Lalu kenapa kamu menangis?"


"Aku menangis karena aku bahagia."


"Oh ya?"


"Memangnya kamu pikir, Mama yang udah bikin Loly menangis? Kalau Mama yang bikin Loly menangis lalu kenapa?" tantang Aruna sembari tersenyum-senyum melihat sang putra menjadi lebih dewasa dan bertanggungjawab. Ia hanya belum bisa menyangka, Gloria adalah wanita yang mampu menghentikan kenakalan putranya.


"Ya, Mama harus tanggung jawab dong," balas Ardo bercanda.


"Tanggung jawab seperti apa coba? Bukannya kasih tanggapan dulu soal gaunnya?"


"Nah, itu dia tanggung jawab yang aku maksud."


"Kamu apaan sih? Mama tidak mengerti. Coba kamu lihat, gimana menurut kamu? Loly cantik tidak?"


"Gimana aku memberi penilaian kalau ada Mama di sini?" Ardo mulai lagi dengan keusilannya. Ia mengusir Aruna secara halus. Sebab ingin berduaan dengan Gloria.


"Ya kan Mama yang bikin gaunnya. Kalau seumpama kamu tidak suka, kamu bisa kasih tahu Mama."


"Ehem, ehem ... Gimana ya?" Ardo berusaha memberi kode kepada Aruna melalui kerlingan matanya. Sementara Gloria sibuk memandangi pantulan dirinya di dalam cermin.


"Gimana? Gaunnya bagus tidak?" tanya Aruna mengangkat kedua alisnya.


Aruna pun tersenyum. "Tapi awas ya? Jangan macam-macam," ancamnya memelototkan matanya.


"Mama meragukanku?"


"Kamu ini. Dasar!" Sembari menepuk lengan Ardo.


"Loly, Mama tinggal dulu ya? Biar Ardo yang bantu kamu melepas gaunnya," ucap Aruna tersenyum menggoda, sembari berlalu meninggalkan kamar.


Sementara Gloria membelalak, berbalik cepat, sebab baru menyadari bila Aruna meninggalkannya berdua di dalam kandang macan. Macan yang siap menerkam mangsa.


Iya.


Karena dirinya adalah mangsanya.


"Loh, kok ditinggal?" gerutunya kesal. Diliriknya Ardo malah tersenyum-senyum. Kemudian meraih pundaknya, menatap bola matanya intens.

__ADS_1


"Mama sudah memberitahu, bahwa aku yang akan membantumu membuka gaunnya," ucap Ardo dengan maksud tersembunyi.


"Tidak perlu. Aku bisa kok membukanya sendiri. Aku tidak butuh bantuan kamu." Gloria sudah bisa membaca niat bulus Ardo yang tersembunyi dibalik kalimatnya.


"Kamu akan membutuhkan bantuanku, Sayang. Jadi, tidak perlu berpura-pura. Kamu tahu ..." sembari memutar tubuh Gloria perlahan membelakanginya. Lantas meraih retsleting di punggung Gloria.


Sembari menurunkan retsleting itu perlahan, Ardo mendekatkan wajahnya, berbisik di telinga Gloria. "Kamu sangat cantik dengan gaun ini. Tapi, jauh lebih cantik lagi kalau gaun ini dibuka sebentar saja," rayu Ardo memuluskan niat bulusnya. Mangsa di depan mata ini sungguh membuatnya lapar.


Gloria pun tersenyum-senyum mendengarnya. Ia biarkan saja Ardo memulai aksi nakalnya dengan membuka retsletingnya, hingga menampakkan punggung mulusnya.


Perlahan Ardo menggeser jemarinya, hendak menurunkan si gaun. Namun suara decitan pintu yang terbuka itu pun menghentikan niat bulusnya.


Dari pintu yang terbuka itu Aruna datang menghampiri sambil tersenyum-senyum usil. Membuat Ardo kesal, lalu meniupkan napasnya kasar.


"Mama mengganggu saja," kesal Ardo berbisik begitu Aruna mendekat.


"Sayangnya Mama tidak percaya padamu. Mama tahu apa yang ada dalam pikiran kamu sekarang," balas Aruna pun berbisik. Kemudian mendekati Gloria.


"Karena kamu sedang hamil, jadi biar Mama yang membantu kamu melepas gaunnya. Karena setelah ini Mama mau mengajak kalian makan di luar," sambung Aruna meraih gaun yang hampir saja melorot dari tubuh Gloria.


Gloria tersenyum lega. Sebab bisa lepas dari ancaman macan kelaparan seperti Ardo.


...


Sementara di lain tempat, seorang pria terlihat kurus, wajah kusut tak terurus dengan lengan kanan diperban.


Pria dalam setelan seragam narapidana itu tengah menerima kunjungan seorang tamu yang datang membesuknya.


"Aku dipecat gara-gara kamu," ungkap Reina kesal menyalahkan Bary.


Bary telah menjadi tahanan lapas atas kasus percobaan pembunuhan serta pembunuhan berencana. Yang membuatnya dijatuhi puluhan tahun hukuman penjara.


"Jangan menyalahkan aku. Itu balasan karena kamu mengkhianati kepercayaanku. Kamu sudah menipuku." Bary menyeringai, mengulas senyum sinis.


"Masih untung kamu hanya dipecat. Seharusnya kamu juga dipenjara," sambung Bary kesal.


"Aku hanya menuruti perintahmu. Jadi yang pantas berada di penjara itu ya kamu. Oh ya ..." sembari bangkit berdiri, Reina menatap Bary dengan ukiran senyuman sinis tercetak di wajahnya.


"Mantan istrimu itu akan menikah. Pestanya akan digelar meriah di gedung yang paling megah. Dan kamu, selamat menikmati sisa hidupmu sampai kamu membusuk di dalam penjara ini. Ha ha ha ..." Reina pun meninggalkan tempat itu dengan gelak tawa mengejek. Hingga membuat Bary geram.

__ADS_1


Kini Bary hanya bisa menyesali apa yang telah terjadi. Buah dari perbuatannya sendiri. Di luar sana, Gloria sedang berbahagia. Sedangkan ia, harus menelan pil pahit akan perbuatannya di masa lalu. Tiada guna lagi ia menyesali. Semua telah terlanjur terjadi. Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah pasrah menerima keadaan.


Bersambung


__ADS_2