Gara-Gara Kamu

Gara-Gara Kamu
Bab 76. Dua Garis Merah


__ADS_3

Bab 76. Dua Garis Merah


"Itu mungkin hanya perasaanmu saja. Yang terlahir dari rasa iba mu terhadap perempuan itu. Itu wajar, karena kalian sama-sama perempuan."


"Sayang, kenapa kita tidak mencaritahu dulu tentang perempuan itu?"


"Maksud kamu?" Menundukkan wajah, Dicko menatap Aruna yang mendongak, membalas tatapannya.


"Kenapa kita tidak mencaritahu tentang perempuan itu? Siapa dia, di mana dia tinggal, dan siapa keluarganya."


Dahi Dicko mengerut, menelaah baik-baik omongan Aruna. Ingatannya pun sesaat melambung ke saat mereka berada di kantor polisi beberapa jam lalu.


Dari yang terlihat, sedari awal, Gloria terlihat seorang diri. Hanya ditemani oleh seorang sahabatnya saja.


Biasanya, bila ada kasus seperti itu, pihak yang berwajib sudah tentu akan menghubungi pihak keluarga korban. Untuk menginformasikan bila keluarga yang bersangkutan sedang berada di kantor polisi karena terkait suatu kasus.


Namun yang terlihat, tidak ada satu orang pun keluarga Gloria yang datang memberi dukungan kepadanya. Selain sahabatnya.


Membuat Dicko semakin berpikir, juga penasaran. Kemanakah keluarga Gloria?


"Melihat perempuan itu mengingatkanku pada Loly kecil. Sekarang Loly pasti sudah seusia perempuan itu," ucap Aruna terbayang-bayang kenangan akan Loly kecil yang menggemaskan bertahun-tahun silam.


"Ya ampun, kamu masih mengingatnya? Apa sesuka itu kamu pada Loly?"


Aruna mengangguk.


"Apa kamu sangat menginginkan anak perempuan? Aku bisa membuatnya untukmu. Sekarang pun juga bisa kalau kamu mau," canda Dicko tersenyum genit, menatap Aruna dengan kerlingan menggoda.


Aruna tertawa-tawa melihat tampang Dicko yang malah terlihat lucu di matanya.


"Ingat usiamu kamu, sayang. Tidak takut encokmu kambuh? Dan memangnya tenagamu itu masih mampu?" seloroh Aruna.


"Jadi kamu meremehkanku?" Dicko merasa tertantang mendengar celotehan Aruna. Di usianya yang terbilang tidak muda lagi ini tenaganya memang tidak seperti sewaktu muda dulu. Tetapi mumpuni bila diadu. Apalagi onderdilnya masih bisa dipakai. Meski mulai sedikit karatan.


Aruna tertawa-tawa melihat tampang suaminya.


"Aku hanya takut kamu tidak akan bisa bekerja besok. Kalau encokmu itu benar-benar kambuh gimana?" Aruna malah semakin menggoda suaminya.


"Boleh dicoba dulu kalau kamu mau."


"Ha ha ha ... aku hanya bercanda sayang."


"Bagiku itu bukan candaan, sayang. Tapi kamu sengaja menggodaku. Jadi sekarang kamu tanggung jawab karena sudah membangunkan singa yang telah tertidur." Dicko mulai memasang gaya menerkam. Membuat Aruna semakin terbahak-bahak.


"Astaga, kenapa malah jadi begini?" keluh Aruna begitu Dicko mulai melancarkan aksi.


Namun sayangnya, aksi Dicko belum lah sempat terlaksana, pria paruh baya tersebut tiba-tiba diserang sakit kepala. Hingga aksi terkam menerkam pun terpaksa harus dihentikan.


"Ada apa sayang?" tanya Aruna melihat Dicko tengah memegangi kepalanya. Ada ketakutan dalam dada bila melihat Dicko diserang sakit kepala. Sebab ada kekhawatiran bila penyakit yang menyerang dahulu kala kembali.


"Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit sakit kepala."

__ADS_1


"Kita ke rumah sakit besok, ya? Kita temui Randa."


"Tidak perlu. Ini, sakit kepalanya juga sudah hilang."


"Tapi kamu harus diperiksa."


"Tidak perlu. Sungguh, aku tidak apa-apa."


"Tolong, sekali ini, turuti aku. Besok kita temui Randa. Ya?" Aruna memelas, membuat Dicko tak tega. Lalu akhirnya mengangguk, menyetujui.


....


Pagi hari yang cerah. Namun tak secerah wajah Gloria. Yang terlihat murung bahkan sedikit pucat pasi. Belakangan ini entah mengapa kondisi tubuhnya tak seperti biasanya. Terkadang terasa lemah, kepala pusing, bahkan terkadang mual datang mengganggu. Membuatnya merasa tak nyaman.


Seperti pagi ini, saat Randa mengajaknya sarapan bersama. Mendadak kepalanya terasa pusing. Bahkan mual pun menyerang tak tertahankan.


Gloria berjalan lesu menuju meja makan. Dimana Randa, Sheila, juga Ellena sudah lebih dulu mengambil tempatnya.


Gloria telah siap hendak ke rumah sakit bersama Randa untuk memeriksakan kondisinya.


"Loly, ayo kita sarapan dulu," ajak Randa begitu melihat Gloria datang.


"Tidak, Paman. Terimakasih, aku belum lapar," tolak Gloria halus. Bukan bermaksud tidak menghargai ajakan pamannya.


"Tapi kamu butuh asupan gizi agar kesehatanmu pulih dengan cepat. Ayo, setelah sarapan kita berangkat ke rumah sakit sama-sama."


Tak ingin membantah lagi, Gloria pun menurut. Lalu mengambil duduk di sebelah Ellena yang berwajah tak bersahabat.


Tetapi tidak dengan Gloria. Gloria mengetahui apa penyebab Ellena tidak menyukainya. Salah satunya adalah kedekatannya dengan Ardo. Pria yang ditaksir Ellena.


"Elle, kamu mau ke mana Beb? Habiskan dulu sarapanmu," seru Sheila.


Namun Ellena sedikitpun tak menggubris.


"Ada apa dengan Ellena?" tanya Randa.


"Mungkin lagi bad mood, Beib. Biasa, anak gadis kalau sedang patah hati ya seperti itu, tuh. Suka ngambekan."


"Memangnya dia patah hati kenapa?"


"Gara-gara cowok yang ditaksirnya malah naksir cewek yang tidak punya harga diri." Sheila menjeling ke arah Gloria yang duduk diam menundukkan wajah.


"Ada-ada saja." Randa menggeleng. "Oh ya, Loly. Silahkan, kamu sarapan dulu." Beralih memandangi Gloria yang masih belum mengisi piringnya.


"Maaf, Paman. Aku belum lapar. Nanti saja aku sarapannya."


"Loly, nanti kalau kamu sakit gimana? Paman sangat mencemaskan kamu. Paman tidak mau kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu. Ayo."


"Tapi..." Gloria membekap mulut. Aroma makanan yang menguar, tertangkap oleh indera penciumannya, membuatnya mual.


"Loh, kamu kenapa Loly?"

__ADS_1


"Huwek!" Bergegas Gloria bangun dari duduknya. Membawa langkah seribu menuju dapur.


Di wastafel dapur itu Gloria memuntahkan isi perutnya. Membuat Bi Yana, asisten rumah tangga menghampirinya. Mengusap-usap lembut punggungnya, agar ia merasa nyaman.


"Non kenapa?" tanya Bi Yana.


Gloria menggeleng. "Tidak tahu, Bi. Entah kenapa beberapa hari ini saya sering merasa pusing, juga mual."


"Mungkin Non masuk angin."


"Ada apa Loly?" tanya Randa tiba-tiba datang ke dapur. Lalu menghampiri Gloria yang meringis memijit keningnya.


"Non masuk angin Tuan. Katanya Non pusing dan mual," sahut Bi Yana mewakili.


"Kamu masuk angin? Coba sini, Paman lihat." Randa meneliti wajah pucat Gloria. Membuka lebar kelopak matanya, lalu meraih pergelangan tangan Gloria untuk memeriksa denyut nadinya.


Randa pun terhenyak. Sebab menyadari sesuatu setelah memeriksa kondisi Gloria.


"Loly, ayo ikut Paman sebentar." Randa beranjak lebih dulu. Disusul oleh Gloria.


Setelah mengambil sesuatu dari dalam kamarnya, Randa lantas mengajak Gloria masuk ke dalam kamar Gloria.


"Apa ini, Paman?" tanya Gloria begitu Randa memberinya sebuah tabung kecil.


"Kamu ke kamar mandi. Tampung urine kamu di tempat itu."


"U-untuk apa, Paman?" Mendadak Gloria berdebar-debar serta cemas melanda. Sebab segala kemungkinan buruk mulai memenuhi kepala.


"Loly, sudah berapa lama kamu berhubungan dengan Ardo?" Randa memasang wajah serius menanyakan hal tersebut. Membuat sekujur tubuh Gloria mendadak gemetaran.


"Ba-baru beberapa bulan ini," jawabnya gugup.


"Sekarang kamu cepat ke kamar mandi. Dan tampung urine kamu. Paman akan menunggumu di sini. Paman hanya ingin memastikan sesuatu."


"Baik, Paman." Gloria menurut, bergegas ia ke kamar mandi.


Tak berapa lama Gloria keluar dari kamar mandi dengan sebuah tabung kecil berisi urine yang ia berikan kepada Randa begitu menghampiri.


Dari dalam kantong celana, Randa mengeluarkan sebuah benda kecil yang disebut testpack. Testpack tersebut cepat ia celupkan ke dalam urine.


Setelah menunggu beberapa detik, testpack tersebut menampakkan dua garis merah. Membuat Randa terkejut, bahkan tak percaya.


Sementara Gloria mendadak gugup, sekujur tubuhnya gemetaran. Sebab ia tahu betul kegunaan benda kecil tersebut. Sebuah benda yang sering digunakan untuk mengecek kehamilan. Ia pun baru menyadari, bila ia telat datang bulan.


"Loly, kamu ikut Paman ke rumah sakit. Kita harus memastikannya. Apakah kamu..." Randa tak menyelesaikan kalimatnya. Berbagai pertanyaan pun mengusik pikirannya. Yaitu tentang ...


"Loly, tolong jawab pertanyaan Paman dengan jujur."


Gloria menelan ludah dalam-dalam. Ia semakin gugup juga ketakutan.


"Siapa yang terakhir kali berhubungan denganmu. Suamimu atau Ardo?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2