
Bab 69. Kejutan Yang Tak Menyenangkan (2)
"Ardo!" seru Bary berang berapi-api dengan kilatan amarah yang siap menyambar.
Serentak, semua pasang mata pun tertuju ke arah pintu masuk ballroom. Dimana Bary tengah berdiri di ambang pintu dengan raut wajah yang teramat sulit diartikan.
Ini merupakan sebuah kejutan yang tak menyenangkan di hari istimewa Ardo.
Tanpa diundang Bary datang ke pesta itu. Tanpa berpakaian yang pantas dan dengan air muka yang tak bersahabat. Bary melangkah tergesa-gesa menghampiri Ardo dan Gloria. Membelah tamu-tamu yang berdiri berkumpul, tak peduli berpasang-pasang mata tertuju kepadanya.
Kedatangan Bary dengan membawa amarah yang menggunung membuat semua orang terkejut. Yang lebih mengejutkan lagi, Bary tidak datang seorang diri. Bersamanya dua orang petugas kepolisian berseragam lengkap ikut serta.
"Ini dia orangnya, Pak. Tahan dia sekarang juga," titah Bary berang tak sabaran.
"Apakah Anda yang bernama Ardo?" tanya salah seorang petugas.
"Ada apa ini?" tanya Ardo mengerutkan dahi, menatap petugas dan Bary bergantian.
Sementara Gloria mengambil jarak lebih dekat, merapatkan diri kepada Ardo. Meraih lengan Ardo, merangkulnya erat dengan wajah ketakutan.
Di seberang, keluarga Anggara tengah memperhatikan penuh tanya dengan dahi mengerut. Begitupula dengan sahabat-sahabat Ardo, beserta tamu yang lain.
Tidak ketinggalan Ellena dan keluarga. Serta Reina dengan senyum sinisnya menyaksikan pemandangan itu. Dalam sekali gertak, Bary langsung bertindak.
Reina merasa puas setelah memberitahu Bary di mana kini Gloria berada. Berkat video yang dikirimkannya kepada Bary, membuat Bary bertindak cepat. Namun tak ia sangka Bary malah membawa petugas kepolisian untuk menahan Ardo. Bukannya mengomeli dan mempermalukan Gloria. Sekalian membawa pulang Gloria.
"Saudara Bary melaporkan bahwa Anda telah menculik istrinya," ucap petugas.
Ardo terkekeh, mengusap wajahnya kasar. Lalu menoleh, menatap sejenak Gloria yang tengah menggelayut di lengannya.
Menggulir pandangan, Ardo memandangi sejenak keluarganya yang tampak menahan emosi. Memandang ke arahnya dengan raut wajah tak bersahabat. Terlebih kakek dan ayahnya.
Tidak terkecuali sahabat-sahabat Ardo, Ellena dan keluarga, bahkan tamu-tamu undangan terbelalak mendengar ucapan petugas. Mereka pun saling berbisik, mencibir hubungan Ardo dan Gloria.
"Jadi cewek itu bininya Bary? Pantesan aku pernah melihatnya," ucap Donal.
"Ardo benar-benar nekat. Kalau sudah cinta, ya begini nih jadinya," balas Brian. Menggelengkan kepala, memandangi pertunjukan yang diciptakan Bary.
"Menculik?" Ardo mengulang ucapan petugas.
"Kami sudah menerima buktinya." Seorang petugas meraih ponsel dari tangan Bary. Kemudian memperlihatkan video berdurasi singkat, yang memperlihatkan Ardo tengah menyeret paksa Gloria, lalu mendesak Gloria naik ke mobilnya. Sejurus kemudian, mobil Ardo melaju meninggalkan area parkir.
Ardo terkejut melihat tayangan video tersebut. "Tapi ini tidak seperti yang kalian kira."
__ADS_1
"Silahkan memberikan penjelasan di pengadilan nanti. Berdasarkan laporan dan bukti dari suami korban, maka saudara Ardo, Anda kami tahan." Petugas sudah bersiap memborgol kedua pergelangan Ardo. Namun Gloria cepat menghentikannya.
"Tunggu, dulu. Apa-apaan ini? Ardo tidak pernah menculikku. Kalian sudah menerima laporan yang salah." Gloria mencoba memberi penjelasan atas kejadian yang sesungguhnya.
"Heh, sini kamu." Bary meraih pergelangan Gloria, menariknya paksa untuk ikut bersamanya.
Namun Gloria melawan. Ia semakin mempererat rangkulannya pada lengan Ardo.
Sementara tamu-tamu undangan serta keluarga Ardo tengah menyaksikan dengan raut menahan amarah juga malu. Mereka tengah disuguhi sebuah tontonan gratis yang memalukan.
"Kamu itu istriku. Jadi kamu harus menuruti perintah suamimu," ucap Bary marah.
"Tidak. Aku tidak mau ikut bersamamu. Kamu pasti akan menyiksaku lagi," balas Glori melawan.
"Kamu ini bicara apa sih? Mana mungkin seorang suami menyiksa istrinya." Bola mata Bary liar, mengerling ke arah petugas. Seolah tak mau bila caranya memperlakukan Gloria diketahui oleh petugas. Sebab sebelumnya ia melapor sambil memelas. Memperlihatkan tampang sedihnya kehilangan istri.
"Tidak. Aku tidak mau!" Glori kekeh tak mau ikut suaminya.
Bary masih saja memaksa, menarik kuat pergelangan Gloria. Memancing amarah Ardo, hingga membuat Ardo geram.
"Lepaskan tangannya," titah Ardo menatap berang.
"Dia istriku. Dan kamu yang sudah menculiknya. Membawanya kabur dari suaminya. Laki-laki macam apa kamu ini yang suka membawa kabur istri orang. Apa kamu tidak bisa menemukan perempuan lain di luaran sana?" berang Bary.
"Lalu kamu sebut apa dirimu? Suami? Suami macam apa yang suka menyiksa istrinya? Apa kamu masih pantas disebut suami jika selalu melakukan kekerasan fisik terhadap istrinya?"
Bary salah tingkah seketika. Dilepasnya segera pergelangan Gloria. Gloria bersembunyi di belakang punggung Ardo.
"Tahan saja dia, Pak. Lihat, setelah membawa kabur istri saya, dia juga sudah memprovokasi istri saya agar tidak lagi mematuhi suaminya." Bary memerintah agar Ardo tak lagi menyinggung perihal kekerasan fisik yang sering dilakukannya terhadap Gloria. Bisa-bisa malah dirinya sendiri yang akan kena batunya. Hal itu bisa menjadi boomerang baginya.
"Baik." Petugas sigap meraih kedua tangan Ardo, bersiap untuk memborgolnya. Namun sebuah suara yang terdengar menghentikan kembali petugas melaksanakan tugasnya.
"Tunggu!" seru Dicko, kemudian datang menghampiri.
"Jelaskan ada apa ini?" Meski malu dengan perbuatan Ardo, namun jika sang putra tengah berada dalam masalah, sudah hal yang lumrah bila seorang ayah merasa khawatir.
"Kami harus menahan saudara Ardo. Karena Ardo dilaporkan menculik istri saudara Bary," terang petugas.
"Menculik? Apa ada buktinya?"
"Bary sudah memperlihatkan buktinya."
"Bukti seperti apa?"
__ADS_1
"Sebuah video yang merekam dimana Ardo membawa paksa istri dari Bary."
"Oh ya? Lalu kalian percaya begitu saja? Apakah perempuan yang secara sukarela ikut dengan putra saya itu adalah penculikan? Tolong jangan sembarangan menuduh lalu menahan putra saya."
"Maaf, Pak. Silahkan bicarakan tentang itu di kantor polisi nanti. Biarkan kami melaksanakan tugas kami." Petugas bersiap memborgol pergelangan tangan Ardo.
"Putra saya ini bukan kriminal. Kenapa harus di borgol segala?" protes Dicko melihat petugas hendak memborgol pergelangan Ardo.
"Maaf, Pak. Tapi ini bagian dari prosedur."
"Lepaskan itu. Saya bisa mengajukan tuntutan atas pencemaran nama baik."
"Silahkan, Pak. Kami hanya menjalankan perintah."
Apalah guna Dicko memprotes, toh petugas tetap saja memborgol kedua tangan Ardo. Hendak membawanya, menjadikannya bahan tontonan. Tontonan yang sangat memalukan dan menjatuhkan nama baik keluarga.
"Tunggu!" seru Opa Danu lantang. Lalu berjalan menghampiri. Dengan wajah penuh amarah, menatap Ardo tajam.
"Ardo, Opa sangat menyayangimu. Kamu adalah cucuku kebanggan Opa. Tapi Opa juga sangat kecewa padamu. Kamu sudah mempermalukan Opa di depan banyak orang. Apakah ini balasan dari kasih sayang Opa selama ini terhadap kamu?" Wajah sendu Opa Danu menggambarkan dengan jelas kekecewaan yang teramat dalam. Ia sungguh tak menyangka, cucu kesayangan akan berbuat hina dan mempermalukan harkat dan martabat keluarga. Apa yang Ardo lakukan telah mencoreng nama baik keluarga Anggara.
"Mau di taruh di mana muka Opa ini, Ardo. Opa sangat malu dengan kelakuanmu. Bisa-bisanya kamu membawa kabur istri orang. Apa tidak ada perempuan lain di dunia ini yang bisa kamu gauli?" sambung Opa Danu kian semakin kecewa. Sembari membawa tangan kanannya memegangi dada kirinya yang terasa kian sesak.
"Opa, maafkan aku. Tapi tolong percayalah padaku. Ini tidak seperti yang kalian kira." Meski memohon seperti apapun, tidak ada lagi yang mempercayai Ardo.
Bary merasa puas bila ia bisa sampai memenjarakan Ardo. Dan keinginannya untuk menyiksa Gloria lebih brutal lagi bisa terlaksana.
Opa Danu membuang napasnya kasar, sembari menggeleng pelan. Lalu tiba-tiba saja ...
PLAK
Sebuah tamparan keras terdengar menggema, memenuhi seisi ruangan. Yang sontak membuat semua orang terkejut dan tak percaya seorang Danu Anggara menampar cucu kesayangannya di depan banyak orang.
Dicko tak bisa berbuat apa-apa. Kelakuan putranya memang pantas mendapatkan perlakuan seperti itu.
Sementara Gloria hanya bisa membekap mulutnya tak percaya. Ardo nekat melangkah jauh hanya demi dirinya. Ardo telah membuktikan kesungguhan hatinya untuk memperjuangkan cintanya. Lalu ia sendiri, apa yang bisa ia lakukan untuk Ardo?
"Bawa dia!" titah Opa Danu sembari berpaling muka. Lalu beranjak pergi. Ditemani Clara Opa Danu meninggalkan ballroom tersebut.
Petugas pun sigap. Mereka membawa Ardo ikut bersama dengan kedua tangan di borgol. Baru saja beberapa langkah, tiba-tiba Gloria berseru lantang.
"Tunggu!" Gloria berjalan menghampiri. Dalam kepala ia berpikir, mungkin sudah saatnya ia membuka aib rumah tangganya sendiri, meski memalukan. Agar semua orang tahu penyebab ia lebih memilih Ardo dibanding suaminya sendiri.
Bersambung
__ADS_1
Mohon maaf untuk keterlambatan up nya. Kegiatan di real life sedang padat-padatnya bestie. Thankyou telah bersabar menunggu up nya😘