
Bab 65. Birthday Party
Tamu undangan telah banyak yang hadir. Pesta ulang yang dihadiri oleh sejumlah kerabat, relasi, sahabat-sahabat Ardo, serta jajaran direksi TRF dan sejumlah karyawan karyawati itu telah dimulai beberapa menit yang lalu. Diawali oleh pembukaan sekaligus penyambutan tamu oleh Danu Anggara.
Ardo terlihat tengah mengobrol dengan relasi bisnis bersama sang Kakek. Sementara Dicko dan Aruna tengah mengobrol bersama Shanti dan Teddy. Yang pada akhirnya disatukan oleh takdir dalam ikatan tali pernikahan.
Memang benar kata pepatah. Jodoh takkan ke mana. Mereka yang dahulunya bertetangga, serta menjadi teman yang selalu ada untuk Aruna dahulu kala pun, pada akhirnya memiliki perasaan yang mulai tumbuh seiring berjalannya waktu. Kebersamaan diantara mereka telah melahirkan benih-benih cinta yang bersemi hingga saat ini. Tetapi sayangnya, pasangan yang berbahagia itu belum jua dikaruniai seorang anak.
Namun hal itu sedikitpun tak mengurangi cinta dan kasih sayang diantara mereka.
Diantara tamu undangan itu ada Reina. Yang tampil maksimal dengan barang branded yang ia beli dari hasil memeras Bary. Bermodalkan video saat Ardo menyeret paksa Gloria, memaksa Gloria naik ke mobilnya, lalu berakhir dengan membawa kabur Gloria.
Bukan Reina namanya bila tak jeli mengenali situasi dan lihai memanfaatkan keadaan. Dan saat ini Reina tengah berdiri tak jauh dari Ardo. Memperhatikan pria itu dengan tatapan berbinar. Serta mengambil gambar Ardo diam-diam menggunakan kamera ponselnya.
Ardo masih bersama sang kakek, berbincang bersama beberapa orang relasi bisnis sekaligus teman lama sang kakek saat seorang dara jelita dengan penampilan memukau terlihat memasuki ballroom dikawal oleh Brian, Donal dan Nindi.
Dara jelita tersebut sert merta telah menjadi pusat perhatian. Tidak terkecuali Ardo.
Ardo tertegun, memaku pandangan pada seorang bidadari cantik yang melangkah perlahan, terlihat kikuk, tak percaya diri berada diantara tamu-tamu undangan yang hadir. Ardo terpana oleh pesonanya.
Bidadari jelita itu adalah Gloria. Yang teramat sangat kentara tidak percaya diri. Meski penampilannya yang paling memukau diantara yang lain. Terlihat sederhana namun elegan dan sangat anggun. Membuat wanita itu menjadi yang tercantik diantara yang paling cantik.
Ditunjang oleh riasan make up tipis serta tatanan rambut berkelas oleh keahlian tangan Nindi. Gloria berhasil memukau Ardo.
Pria itu menatapnya berbinar, penuh kekaguman. Terpesona oleh tampilan Gloria yang tampak berbeda. Rupanya Ardo tidak salah meminta Nindi menyulap kekasih tercintanya menjadi seperti apa yang ia inginkan. Lebam di wajah Gloria tertutup sempurna oleh riasan make up. Keahlian Nindi memang patut diacungi jempol. Pantas saja banyak dari kalangan selebriti menggunakan jasanya.
Gloria memaku diri di tempat. Tak berani menghampiri Ardo. Yang tengah menatapnya dari seberang dengan tatapan berbinar serta ukiran senyum menawan. Gloria hanya bisa membalas senyuman Ardo malu-malu.
Sejumlah pasang mata yang tertuju kepadanya, membuat Gloria merasa risih. Mengikis habis kepercayaan dirinya. Belum lagi beberapa dari mereka tengah saling berbisik disertai tatapan meremehkan yang sesekali terarah kepadanya. Terlebih disaat Ardo mulai membawa langkahnya menghampiri.
"Eh, itu bukannya Glori? Bukannya dia sudah mengundurkan diri?" tanya Dona heran melirik tak ramah ke arah Gloria.
__ADS_1
"Katanya sih. Tapi kayaknya antara dia dengan Pak Ardo itu memang ada apa-apanya deh. Tuh, lihat. Mereka saling pandang-pandangan." Hilda ikut menimpali sinis. Memandang remeh serta iri terhadap Gloria.
"Kayaknya gosip itu memang benar. Glori selingkuh dengan Pak Ardo. Iiiiiih amit-amit deh. Perempuan tidak tahu malu," imbuh yang lain.
Mantan rekan satu divisi Gloria yang tengah membentuk satu kelompok pun serentak menoleh. Mengarahkan pandangan kepada Ardo yang melangkah perlahan hendak menghampiri Gloria.
Hanya tinggal beberapa langkah saja untuk berada lebih dekat dengan Gloria saat tiba-tiba Leona datang. Menggamit manja lengan Ardo, serta berseru kepadanya.
"Kak Ardo tidak lupa kan dengan taruhannya?" tanya Leona menatap Ardo dengan senyuman.
Ardo salah tingkah seketika. Ditatapnya Gloria yang menatapnya penuh tanya.
"Apa perlu aku ambilkan kostumnya?" Leona masih belum menyadari bila Gloria tengah berdiri di hadapan dengan raut penuh tanya. Mungkin Leona tidak mengenali Gloria.
"Bukannya kamu sendiri yang sudah membatalkannya, Leona?" Sembari melirik cemas Gloria. Bagaimana bila Leona tak bisa mengontrol lidahnya. Dan malah mengungkap apa yang tidak seharusnya Gloria ketahui.
"Memang sih. Tapi aku tidak tahan ingin melihat Kak Ardo memakai kostum itu. Sesuai dengan tantangan yang kita buat, kalau Kak Ardo berhasil menaklukkan Glori berarti aku yang akan memakai kostum itu. Dan jika Kak Ardo gagal, maka Kak Ardo yang akan memakai kostum itu. Dan ternyata dugaanku benar kan? Kak Ardo gagal menaklukkan Glori."
"Leona," sentak Ardo tertahan. Sembari sesekali melirik Gloria. Yang telah mendengar semuanya dengan jelas.
"Kak Ardo sudah kalah taruhan."
"Leona, bisa diam tidak?" Ardo mengetatkan rahang, menatap tajam Leona. Segala kepanikan menyerbu namun ia masih bingung harus berbuat apa.
Ingin mengomeli Leona tetapi waktu dan tempat tidak tepat. Ingin menghampiri dan memberikan penjelasan kepada Gloria pun ia bingung harus memulainya dari mana.
Sementara Gloria, bukan hanya terkejut, ia pun sangat kecewa dan sakit hati. Rupanya tujuan Ardo mendekatinya selama ini hanya demi taruhannya bersama Leona.
Sungguh ia tak menyangka, teganya Ardo menjadikannya taruhan, mempermainkan perasaannya bahkan merampas harga dirinya. Lalu apa arti kehadirannya malam ini di tempat ini? Apakah hanya untuk mengetahui sebuah kenyataan bahwa sebetulnya ia tengah dipermainkan?
Rasanya sangat sesak dalam dada manakala mengingat bagaiman gigihnya Ardo mendekati dan merayunya. Sakit di hatinya kian terasa disaat teringat janji-janji manis Ardo. Yang sayangnya semua itu hanya bualan semata.
__ADS_1
Air mata itu susah payah Gloria membendungnya. Tak ingin semua pasang mata menatapnya aneh bahkan menghakimi. Gloria memilih diam meski perih menusuk-nusuk kalbu. Ia tak ingin menjadi bahan tontonan nantinya. Namun matanya yang mulai berkaca-kaca tak mampu ia sembunyikan dari Ardo.
"Akui saja kalau Kak Ardo itu sudah kalah. Iya kan? Ini pertamakali dalam sejarah Kak Ardo kalah taruhan. Apa aku bilang, Glori itu berbeda. Sekarang Kak Ardo menyerah kan?" Leona masih saja mencerocos tak paham situasi. Leona bahkan tak mengerti dengan raut wajah Ardo yang mulai menampakkan guratan amarah.
"Leona!" sentak Ardo tiba-tiba dengan nada meninggi. Yang sontak membuat Leona terkejut, melepas rangkulannya dari lengan Ardo.
Bahkan seisi ruangan, semua yang hadir malam itu serentak menoleh. Mengalihkan perhatian kepada Ardo. Yang berdiri mematung dengan kobaran amarah yang hampir membakar jiwanya.
Beruntung Ardo masih bisa menguasai amarahnya. Meredam segala emosi, menahan keinginannya menyemburkan kalimat yang akan membuat Leona tersinggung dan sakit hati. Ia masih menghargai hubungan darah diantara mereka.
"Kak Ardo kenapa sih?" tanya Leona mulai berkaca-kaca. Lalu menyapukan pandangannya ke seisi ruangan, memandang semua tamu undangan dengan gamang. Lantaran malu Ardo meneriakinya di depan banyak orang.
Namun Leona terkejut begitu pandangannya bergulir pada sesosok jelita yang berdiri tak jauh darinya tengah menatap ke arahnya penuh kekecewaan.
"Glori?" Leona membekap mulutnya tak percaya. Rupanya wanita cantik yang berdiri tak jauh dari Ardo adalah Gloria. Yang semula ia pikir hanyalah tamu undangan yang lain. Ia malah tak mengenali temannya sendiri dalam balutan busana elegan.
"Ma-maaf Kak," ucap Leona terbata. Ia merasa bersalah telah menjadikan temannya sebagai bahan taruhan. Ardo pernah berkata bahwa Ardo benar-benar jatuh cinta kepada Gloria. Namun ia menganggap itu hanya gurauan Ardo semata.
Ardo menghembuskan napasnya kasar. Ditatapnya Gloria yang tengah berwajah mendung, dirundung duka nestapa. Buliran air mata itu pun akhirnya jatuh berderai tak tertahan lagi. Cepat Gloria menyeka air matanya, sebelum mengundang perhatian serta kecurigaan yang lain.
Ardo kembali hendak menghampiri Gloria. Ia tak lagi memedulikan keadaan. Karena yang terpenting baginya saat ini adalah memperbaiki keadaan serta meluruskan kesalahpahaman Gloria.
"Glori, mari kita bicara sebentar," pinta Ardo memelas.
Namun Gloria malah mengambil langkah menjauh perlahan. Agar tak menimbulkan kecurigaan orang-orang terhadap kedekatannya dengan Ardo.
"Glori," panggil Ardo menaikkan nada suaranya. Namun Gloria sedikitpun tak mengindahkan.
Ardo hendak menyusul Gloria saat sesosok jelita tiba-tiba telah berdiri di hadapannya, menghentikan langkahnya.
"Happy Birthday, Ardo."
__ADS_1
Bersambung