
Sebenarnya Nara tidak terlalu suka melakukan acara-acara seperti perayaan seperti ini. Hanya saja Lena sangat bersemangat menyiapkan segala hal untuk acara 7 bulan kehamilan Nara.
Energinya seakan tidak habis setelah minggu lalu membantu Angga dan Sophie melaksanakan pertunangan. Kini dia sudah fokus kembali menyambut cucu pertama keluarga Aditama.
Arvin menginginkan acara sederhana yang hanya dihadiri oleh keluarga, sahabat, dan tetangga sekitar rumah—yang entah sejak kapan akrab dengan Arvin. Terpaksa Lena mengikuti keinginan anaknya itu, meskipun sebenarnya dia siap melempar uang puluhan bahkan ratusan juta hanya untuk acara seperti itu.
Rumah sudah di dekorasi, makanan sudah dipesan, undangan juga sudah disebar. Semua itu Lena yang mengurusnya, Nara hanya menyetujui dan berpendapat sesekali. Lena dan Arvin tidak membiarkannya pusing untuk urasan seperti itu. Untung saja. Paling tidak dia bisa menikmati momen tersebut tanpa banyak pikiran.
Hal lain yang membuatnya tidak menolak perayaan ini karena ibu dan kakaknya akan ikut hadir. Setelah berbulan-bulan tidak bertemu mereka, akhirnya Nara bisa punya kesempatan kembali. Meskipun ayahnya sudah dipastikan tidak akan datang.
Semua rangkaian acara 7 bulanan berjalan lancar. Sungkeman, siraman, hingga pengajian sudah dilaksanakan tanpa adanya kendala. Beberapa sudah beringsut pergi setelah beramah tamah dengan Nara dan Arvin.
“Semoga bayinya sehat dan lahir selamat ya. Terus semoga anaknya gak kayak si Arvin. Kamu pasti udah tahu kan cowok kayak gimana dia di luar?” Ucap Rivanno yang hendak berpamitan. “Kamu tahu kan soal gosip dia dan mantannya?” Lanjutnya berbisik di telinga Nara.
Arvin menatap tidak senang pada Rivanno, menjauhkan tubuhnya dari Nara. “Jangan bikin masalah diacara gue ya, anjing!” Ucap Arvin geram.
“Santai dong. Marah-marah mulu nih sepupuku tercinta.” Rivanno tersenyum lebar. “Jadi apa kegiatan lo sekarang, Vin?” Tambahnya.
“Kenapa? Kok lo kepo banget sama hidup gue? Oh, lo pasti takut kan gue tiba-tiba kerja di kompetitor dan hancurin perusahaan yang lo pegang?”
Rivanno langsung menatap Arvin dengan dingin.
“Lo tahu siapa yang bakalan menang, kan? Hati-hati! Jangan ngomporin gue!” Lanjut Arvin tersenyum puas.
__ADS_1
Lekas saja Rivanno meninggalkan tempat itu tanpa berkata apapun lagi. Nara yang sejak tadi duduk di samping Arvin sedikit terperanjat dengan yang dilakukan oleh suaminya. Mengingatkan kembali bagaimana arogan dan sinisnya laki-laki tersebut dulu. Meskipun sekarang Nara terlalu banyak melihat sisi lainnya yang sangat manis dan manja.
Laila, Amelia, dan Naufal mendekat, berniat untuk berpamitan pulang. Namun tangan Dania meraih lengan baju Arvin, menjulurkan kedua tangannya meminta untuk digendong. Arvin meminta izin pada Amelia untuk menggendongnya. Bayi tersebut terlihat nyaman dan tertawa dengan gurauan Arvin.
“Wah Dania betah ya sama Om Arvin? Ya udah Bunda sama Nenek pulang ya? Dania ditinggal disini aja ya?” Kata Amelia membujuk Dania yang masih berada dipangkuan Arvin. Padahal mereka sekarang sudah akan pulang. Tapi Dania merengut dan memeluk leher Arvin.
Mereka tertawa dengan keengganan bayi itu untuk pulang.
“Dania genit nih mau rebut cowoknya tante,” ucap Nara menggamit lengan Arvin.
“Papap..” Celoteh Dania menatap Arvin. Menyingkirkan tangan Nara.
“Bukaan. Ayah kamu ini, Dek.” Laila tertawa mendengarnya kemudian menarik lengan Naufal.
“Dania, awas ya ga akan ayah beliin mainan!” Ancam Naufal berpura-pura.
“Emang aku gak ganteng? Ayahnya juga ganteng. Gimana sih?”
“Iya, iya. Ganteng kok.”
Dania masih terus menempel pada Arvin hingga mereka semua harus menunggu bayi itu tertidur untuk pulang. Akhirnya mereka menjadi tamu terakhir yang tinggal.
Mereka duduk di sofa ruang tamu sambil berbicara dan menyantap beberapa kue yang tadi disediakan saat avara berlangsung.
__ADS_1
“Kalian jangan sampai kepikiran kalau bapak belum mau kesini. Hatinya emang keras, gak bisa kalau dipaksa-paksa. Harus sadar sendiri.” Ucap Laila ketika mereka sedang membicarakan ketidakhadiran suaminya.
“Yaa ... Kita gak bisa menyalahkan sikap bapak juga sih. Perlu waktu buat menerima hal kayak gini. Aku sebenarnya juga berat banget ngasih Nara sama kamu, Vin. Tapi sekarang kamu nunjukin udah bertanggung jawab dan ngurus adikku dengan baik. Meskipun kesalahan kamu masih sulit aku maafin.” Naufak berkata jujur.
Arvin hanya mengangguk dan sedikit tertunduk. Malu dengan semua perbuatan jeleknya dimasa lalu. Baru kali ini dia berhadapan dengan keluarga Nara sebagai keluarganya juga.
Hingga saat ini Arvin pun tidak punya kemampuan apapun untuk membujuk ayah Nara untuk memaafkannya atau sekadar bertemu. Berbeda dengan ibu Nara yang mudah luluh dengan permohonannya. Kalau bisa memohon kembali untuk pengampunan dari ayah Nara, maka akan Arvin lakukan.
“Gak apa-apa semua orang punya salah. Paling penting Nara sama Arvin udah belajar dari kesalahannya. Sekarang tinggal jadi orang tua yang baik, belajar dari kesalahan ibu dan bapak. Supaya anak kalian gak akan ngalamin hal kayak gini lagi,” ucap Ibu menenangkan.
Sejujurnya Laila merasa hatinya kian lega setelah Nara menikah dengan Arvin. Reza memang anak yang baik, tapi ketika melihat bagaimana Arvin memperlakukan Nara, Laila merasa anaknya lebih aman bersama Arvin. Bukan hanya perihal harta yang tidak akan kekurangan, melainkan mengenai pribadi menantunya tersebut.
“Kalian udah persiapan peralatan bayi dan buat lahiran dari sekarang, kan?” Tanya Amelia menyingkirkan pembicaraan berat diantara mereka.
“Kayaknya baru setelah ini kita mau beli-beli peralatan bayinya, “ jawab Nara.
“Pokoknya mulai sekarang harus banyak persiapan. Hal-hal kecil yang suka lupa dicatat. Kamu juga udah harus mulai olahraga dan latihan fisik buat lahiran. Ikut yoga, senam, atau renang. Apalagi renang tuh, aku dulu kan usia 7 bulanan ikut kelas renang ibu hamil. Bikin rileks otot dan hilangin bengkak dan nyeri juga dibadan.” Amelia menjelaskan dengan panjang lebar.
“Kayaknya aku harus banyak tanya-tanya sama Kak Amel nih.” Balas Nara.
Hampir satu jam mereka terus mengobrol. Membahas banyak hal tentang kehamilan dan juga keluarga. Arvin merasa senang sekarang dia sudah lebih diterima ditengah keluarga Nara. Dia juga senang karena Nara tampak bahagia bertemu dengan keluarganya kembali.
Mungkin saat nanti ayah Nara mulai bisa membuka hatinya, Arvin harus banyak mengunjungi mereka atau mengundang ke tempatnya. Agar Nara juga tidak memutus hubungan dengan orang-orang yang dicintainya dan terus mendapatkan kebahagiaan dari mereka.
__ADS_1
“Vin, jagain Nara. Jangan nyakitin dia buat yang kedua kali. Kalau aku ada kesempatan, aku bakal bujuk bapak buat maafin kalian. Tapi gak janji. Bapak orangnya keras, sampai ibu aja gak bisa meluluhkannya,” ucap Naufal saat mereka berjalan menuju mobil untuk pulang.
Naufal menepuk-nepuk lengan Arvin. Meskipun dulu dia setengah mati membenci laki-laki yang menodai adiknya, namun melihat semua usaha dan perilakunya yang baik pada Nara. Sekarang Naufal mau tidak mau memberikan restunya. Nara terlihat bahagia bersama Arvin. Itu saja sudah cukup membuat hatinya tenang.