
Ucapan Arvin malam itu membuat keadaan diantara mereka semakin canggung. Arvin memang sudah gila. Bisa-bisanya dia mengatakan hal seperti itu dengan enteng. Kata-kata seperti itu bukanlah ucapan biasa. Lebih seperti pernyataan cinta. Nara tidak pernah berpikir Arvin punya perasaan cinta untuknya. Hanya secuil saja jelas tidak mungkin.
Hingga kini Nara masih mempercayai keyakinan di dalam hatinya bahwa Arvin hanya melakukan pernikahan ini karena rasa bersalahnya. Dia bersikap sangat perhatian dan bisa diandalkan karena semua itu memang tugasnya untuk menebus semua kesalahannya. Bertanggung jawab. Arvin hanya melakukan itu untuk bertanggung jawab.
Ingin hidup dengannya sebagai suami istri?
Dia pasti sudah gila!
Tak seujung kuku pun mereka cocok sebagai pasangan. Dunia mereka yang jauh berbeda. Sifat mereka yang sangat bertolak belakang. Hidup mereka yang seperti berbeda alam. Belum lagi masalah-masalah principal yang tak bisa mereka satukan atau masalah perasaan yang tidak mungkin bertautan.
Nara seperti semakin kehilangan arah setelah ini. Dia ingin segera lepas dari kehidupan Arvin. Melahirkan anaknya dan menghilang dari dunianya. Tapi kenapa kata-kata Arvin kemarin seperti menahannya pergi.
Sial!
Dia benci Arvin. Sangat membencinya.
Nara membolak balik satu halaman buku yang sejak tadi tidak selesai dibaca. Padahal paragraf itu sudah dia ulang berkali-kali, tapi tak bisa mengerti maksudnya. Konsentrasinya hancur gara-gara terus memikirkan kata-kata Arvin.
“Sorry, Ra. Aku ada urusan dulu sama muridku sebelum pulang. Biasa anak-anak segede gitu suka caper sama guru muda.” Kata Reza yang baru datang dan langsung duduk di depan Nara.
Nara hanya tersenyum. Sangat senang melihat Reza. Hatinya menjadi lebih tenang setelah melihat laki-laki itu. Padahal sedetik yang lalu pikiran dan hatinya sangat kacau karena urusannya dengan Arvin. Semua hal tentang Reza rasanya nyaman dan familiar. Berbeda dengan yang dia rasakan pada Arvin. Asing dan aneh. Nara tidak menyukainya.
“Kamu seneng banget ya sama kerjaan sekarang? Gak kepikiran cari kerjaan kantoran lagi, Za?”
“Emm.. entahlah. Aku udah terbiasa dikerjaan ini. Jujur lingkungannya juga lebih enak dibandingkan dulu. Sekarang aku juga jadi bisa double job diluar.” Kata Reza tersenyum.
Sepertinya tempat kerja baru Reza memang memberinya energi positif. Dia terlihat lebih ceria dan segar. Jarang mengeluhkan tentang atasan yang meminta revisi terus menerus secepat kilat. Nara senang Reza menemukan kembali kehidupannya yang baru dan lebih baik.
“Kamu sendiri gimana? Kamu dan bayi kamu sehat, kan?”
Nara mengangguk. Entah kenapa rasanya sangat aneh mendengar kata ‘bayi kamu’ diucapkan oleh Reza. Makhluk diperut Nara tidak punya hubungan apapun dengan Reza. Padahal salah satu mimpinya adalah memiliki anak dan membesarkannya bersama Reza.
“Arvin, baik kan sama kamu? Dia gak ngeselin kayak pas kamu kerja sama dia?”
__ADS_1
“Dia masih ngeselin kayak biasanya kok. Bisa gak kita gak bahas Arvin? Aku gak mau ngomomgin tentang dia.” Pinta Nara.
Sudah cukup hari-harinya dipenuhi dengan pikiran tentang Arvin. Saat bersama Reza dia hanya ingin membicarakan hal-hal menyenangkan saja. Seperti yang sering mereka lakukan.
Bersama dengan Reza, Nara merasa semua hal terasa mudah. Dia tidak pernah pernah merasa tersesat. Dia ingin terus kembali padanya. Reza yang sederhana dan tenang. Seperti jalan pulang untuk perasaan Nara yang saat ini kacau.
...****************...
“Ikut gue!” Kata Arvin pada Nara yang sedang duduk di sofa sambil membaca buku. Sudah seminggu buku tersebut tak selesai Nara baca karena kehilangan minatnya.
“Kemana?” Tanya Nara bingung.
“Ikut gue aja, ga usah banyak nanya!” Kata Arvin memaksa.
Akhir-akhir ini komunikasi mereka semakin tidak baik. Selain saling mendiamkan, Arvin terkadang berkata pada Nara dengan nada yang emosi. Membuat Nara juga jadi kesal dan membalas bertingkah sepertinya.
“Ga mau. Kalau lo ngajak tapi tujuannya ga jelas, gue ga akan ikut.” Tolak Nara.
Arvin menarik tangan Nara hingga tubuhnya langsung berdiri dari sofa. Sekarang mereka saling berdiri menatap sengit. Nara kaget dengan perilaku Arvin yang seperti itu. Biasanya dia tidak sekasar ini memperlakukannya.
Nara akhirnya menuruti kemauan Arvin. Dia tidak ingin bertengkar kali ini, tubuhnya sangat lelah. Selain itu Nara juga tidak suka melihat Arvin yang marah-marah dan jadi kasar padanya seperti tadi, membuatnya takut.
Menyebalkan! Laki-laki ini memang tidak ada bagus-bagusnya sama sekali!
Mereka terus diam selama dimobil. Memang sebenarnya tak ada yang bisa mereka bicarakan. Basi-basi? Curhat? Bercanda? Jelas tidak bisa mereka lakukan. Mereka tak perlu repot-repot mengakrabkan diri seperti itu. Nara juga akan membenci dirinya sendiri kalau terlalu dekat dengan Arvin. Laki-laki ini hanya membuat perasaannya seperti pusaran badai yang tak karuan.
Arvin memarkir mobilnya di parkiran Groove Bar. Nara ragu sejenak untuk turun mengikuti. Dia tidak mengerti apa maksud Arvin membawanya kemari. Nara curiga bahwa Arvin ingin mempermalukannya. Mengumpankan pada fans-nya yang haus gosip dan suka mencela. Nara merengut sebal.
“Ngapain sih lo ngajakin gue kesini?” Tanya Nara mengikuti Arvin dari belakang. Tapi Arvin tidak menjawabnya “Arvin!” Teriak Nara kesal.
Ruangan bar sudah dipenuhi oleh penonton. Anggota band Fortunata juga sudah berada diatas panggung. Menunggu Arvin datang. Nara kemudian ditempatkan duduk disalah satu meja, paling depan ke stage dan paling mencolok perhatian. Semua mata jelas menatapnya. Beberapa orang juga terlihat berbisik-bisik dan tertawa saat melihat Nara.
Arvin menyebalkan!
__ADS_1
Dia pasti ingin balas dendam karena Nara menolak ide gilanya untuk membesarkan anak bersama. Tak disangka ternyata Arvin sangat pendendam dan bersikap seperti ini padanya. Nara ingin pulang. Dia sangat takut berada dalam situasi seperti ini.
Nara hanya tertunduk ditempat duduknya. Menatap jari-jari tangannya dengan gelisah. Suara-suara orang-orang mengobrol disekelilingnya seakan sedang menghakimi dan mencemoohnya. Nara tidak bisa bernapas dengan teratur karena panik. Mungkin sebentar lagi air matanya tumpah tak terkendali. Saat ini dia sangat ingin menangis.
Arvin malah dengan tenang berdiri di panggung. Menyetel gitarnya dan tidak mempedulikan Nara yang sekarang duduk dengan gelisah ditempatnya. Seakan semua hal itu tidak mengganggu Arvin. Dia terus berbicara dengan santai dengan teman-temannya.
Suara musik mulai terdengar, untuk pembuka Fortunata membawakan lagu For You, and Your Denial dari Yellowcard. Suara raspy dan indah dari Arvin terdengar, membuat penonton wanitanya menggila. Berteriak dan berseru ramai. Sementara Nara hanya diam, mencoba mengambil napas. Dadanya rasanya sesak.
Arvin berhenti bernyanyi dibagian bridge. Dia hanya diam saja dari atas panggung melihat tempat Nara duduk. Hal tersebut membuat anggota band lain bingung. Namun mereka tetap memainkan alat musiknya meskipun Arvin sudah berhenti bernyanyi. Membuat mereka seperti band pengiring dilatar belakang.
“Gue ga lanjutin manggung sekarang.” Kata Arvin tiba-tiba. Teman-temannya kemudian menghentikan permainan musiknya. Saling menatap bingung satu sama lain kemudian menatap Arvin.
“Gue tau kalian ngomongin gue dibelakang. Apalagi ngatain istri gue yang ngga-nggak. Cewek murahan, gatel, penggoda. Terus apa lagi? Sini maju ngomong sama gue langsung!” Ucap Arvin dengan emosi.
“Arvin!” Panggil Eka panik. Tak mengerti kenapa Arvin melakukan hal seperti itu dipanggung.
Nara baru berani mengangkat wajahnya saat Arvin berbicara. Bingung dengan yang dilakukan oleh Arvin. Kenapa dia bisa berkata seperti itu? Menambah perhatian dan tatapan menakutkan yang diarahkan padanya. Nara semakin panik dan takut.
Bukan seperti ini yang Nara inginkan.
“Lo kira gue tol*l apa, ga ngerti apa yang gue lakuin? Gue ngelakuin itu sama dia karena gue mau. Gue yang secara sadar tertarik sama dia. Gue sayang sama dia.”
Nara kaget dengan perkataan Arvin. Sekarang tatapannya hanya terpaku pada sosok Arvin yang berdiri menjulang dipanggung. Memakai kaos biru muda, kemeja flannel kotak-kotak berwarna cokelat, dan ripped jeans berwana biru. Tampan dan sangat keren. Terlalu keren. Apalagi sekarang dia menatap garang penonton yang terdiam bingung. Membela Nara.
Sayang? Maksudnya apa? Apakah Arvin punya perasaan padanya?
Jantung Nara tiba-tiba menghentak tak karuan. Membuatnya merasakan perasaan aneh yang tak pernah dia ketahui sebelumnya. Nara tidak bisa menjelaskannya, sekarang dia merasa sangat takut, bingung, sekaligus senang entah kenapa.
Arvin turun dari panggung. Langsung berjalan menuju tempat duduk Nara. Sekarang dia berdiri dihadapannya, menatap lekat ke mata Nara yang berembun karena hampir menangis ketakutan tadi. Wajahnya kemudian mendekat, melekatkan bibir lembutnya pada Nara. Memagutnya dengan penuh perasaan, menelusuri bibir Nara dengan lidahnya.
Nara merasakan kelembuatan itu membuatnya limbung. Rasanya bukan pertama kali merasakan hal seperti ini. Seperti mimpi yang sebelumnya Nara alami. Bibir Arvin yang lembut menyentuhnya. Wangi tubuhnya menyeruak ke hidungnya. Membuat perasaan Nara menggila. Jantungnya berdetak tak terkendali. Menghentak-hentak seaakan ingin keluar dari rongganya.
Kenapa Arvin membuatnya merasa seperti ini?
__ADS_1
Kenapa perasaan asing ini muncul dihatinya?