Halo Arvin!

Halo Arvin!
Sebuah Kabar


__ADS_3

Arvin memarkirkan mobilnya di tempat parkir rumahnya, Pak Toto, satpam yang biasa membukakan gerbang berseru senang melihat anak majikannya pulang. Setelah bertahun-tahun tak melihat pemuda tampan itu.


Dia terdiam sebentar dimobil sebelum memutuskan turun, menghela napas panjang. Sudah lama tidak pulang ke rumah, ketika pulang dia membawa berita buruk pada keluarganya. Hatinya sudah mempersiapkan ini dari lama, bahkan sebelum Nara menghubunginya, mengatakan bahwa dia hamil. Dia tahu akan jadi seperti apa reaksi ibunya.


Keluarga itu sedang makan malam saat Arvin masuk, ada Candra, Lena, Angga, dan Audrey. Mereka kaget dan menatap heran pada Arvin yang tiba-tiba muncul. Tanpa pemberitahuan apapun. Sudah lama mereka tidak melihat wajah si bungsu yang setelah menyelesaikan kuliah S2-nya memilih bersembunyi di penthouse-nya. Tentu saja selain Angga, hampir setiap hari dia bertemu dengan wajah menyebalkan adiknya itu, bahkan mendengarkan semua ocehannya saat meeting.


“Vin, kamu kesini buat jenguk ayah ya?” Ucap Candra sumringah. Melihat anak yang sudah lama tak ditemuinya membuat hatinya sangat senang, “Kamu dari kantor langsung kesini?” Lanjutnya ketika melihat Arvin masih menggunakan kemeja dan celana kerjanya.


Arvin tidak menjawab, hanya duduk dan bergabung di meja makan. Menatap satu persatu anggota keluarganya. Angga menatapnya dengan muka masam. Audrey tersenyum padanya. Dan Lena—ibunya tentu saja tidak mau merepotkan dirinya sendiri dengan mempedulikan keberadaan Arvin. Menyantap makanan dipiringnya tanpa menoleh sedikitpun.


“Mbak Sari, siapain piring lagi buat Arvin.” Kata Audrey pada ART-nya.


“Ga usah. Aku kesini cuma sebentar kok. Mau ngasih tahu sesuatu.” Ucap Arvin. “Aku mau nikahin cewe, gak tau kapan tepatnya..mungkin dalam waktu dekat. Besok aku ke rumahnya buat ngomong sama orang tuanya.”


Semua orang menatap bingung kearah Arvin, bahkan Lena yang sedari tadi menatap piringnya mengalihkan pandangannya.


Menikah? Si anak super cuek pada kehidupan ini ingin menikah? Arvin yang mereka kenal sangat sulit diatur, hidup bebas, tak pernah mematuhi orang tua, dan mengencani banyak wanita. Kenapa dia tiba-tiba mengatakan ingin menikah? Pasti ada yang tidak beres.


“Maksudnya gimana, Vin? Kok tiba-tiba?” Tanya Audrey.


“Aku hamilin cewe dan aku mau bertanggung jawab buat nikahin dia.” Jawab Arvin tenang. Sebenarnya hatinya bergemuruh dan riuh, dia mungkin saja diusir oleh ayahnya. Tapi terserahlah.


“Maksudnya kamu..” Candra kehilangan kata-kata mendengar ucapan anaknya, “Siapa?” Lanjutnya.


“Nara. Sekretarisnya ayah.”


“Gila lo! Lo ngehamilin sekretaris lo sendiri?” Ucap Angga emosi, “Pantesan dia resign. Lo paksa dia buat muasin nafsu bejad lo, hah? Mau ditaruh dimana muka gue kalau orang kantor tau soal ini!”


“Jadi kamu kesini cuma buat ngasih tau skandal dan perilaku bejad kamu doang? Setelah lama gak pulang, kamu cuma dateng bawa masalah ke keluarga ini. Anak tolol!” Kata Lena bersuara, kemarahan meledak didalam pandangan matanya. Arvin sudah terbiasa dicaci maki seperti itu oleh ibunya. Dia tidak terkejut ataupun menggubrisnya.


“Aku dateng kesini buat ngasih tau kalian doang. Terserah mau mikir apa soal aku. Kalau nanti kalian ga dateng ke pernikahanku juga ga masalah. Aku pergi dulu.” Kata Arvin yang masih mempertahankan ketenangannya. Dia beranjak dari kursi dan berniat pergi. Urusannya sudah selesai disini.


“ARVIN!!” Bentak ayahnya. “DUDUK!” Perintahnya tegas.


Terpaksa Arvin duduk kembali menuruti kata-kata ayahnya. Lena melemparkan sendok yang sedari tadi dipegangnya ke piring. Kemudian segera berdiri dari sana.

__ADS_1


“Sana pergi ke nikahan kamu sendiri! Aku ga sudi dateng kesana!” Kata Lena seraya pergi meninggalkan ruang makan. Angga menyusul dibelakangnya. Tersisa Audrey dan ayahnya saja disana.


“Jelasin sama ayah kenapa kamu ngelakuin hal kayak gitu? Kamu ngerasa hebat dengan berbuat kayak gitu sama anak gadis orang?” Tanya ayahnya geram.


“Terus ayah sendiri gimana? Ngerasa hebat gitu punya selingkuhan dan nyakitin cewe?” Balas Arvin tak kalah sengit.


“Arvin! Kasus kamu sama ayah beda.”


“Apa bedanya? Sama-sama ga bermoral, kan?”


“Terus kalau kamu tau kalau itu ga bermoral kenapa kamu contoh hal-hal jelek ayah?”


“Mungkin udah gen. Kalau ayahnya ga bermoral, anaknya juga ikut ga bermoral.”


Candra menghela napas berat, marah dengan perilaku Arvin yang semakin tak terkendali. Dia selama ini sangat abai dalam mendidiknya. Membiarkan anaknya itu lepas dari pengawasannya dengan tinggal di rumah mertuanya.


Dia tidak pernah dekat dengan Arvin. Semua ini kesalahannya. Dia tidak mengira Arvin akan berbuat seperti ini.


“Udah selesai, kan? Ayah ga berencana jadi pembicara buat kuliah umum tentang moral sama aku, kan? Lagian aku gak lari. Aku mau tanggung jawab. Udah selesai urusannya.” Kata Arvin kemudian berdiri dari tempat duduknya.


“Kenapa?” Tanya Arvin setelah menurunkan kaca mobilnya.


“Gue sama ayah bakal dateng ke nikahan lo. Kirim aja nanti lokasinya.”


“Tumben si kumis mau.”


“Lo gak pernah ngerti kalau ayah sayang banget sama lo, Vin? Walaupun kelakuan lo kayak setan.”


Arvin Cuma berdecak kesal mendengar kata-kata Audrey, “Padahal lo sama Angga juga kayak setan kelakuannya. Ga ketauan aja. Apalagi si Angga tuh doyan banget karoke sama cewek-cewek.”


“Ya tapi ga sebodoh lo. Makanya pengaman!” Cibir Audrey sambil menoyor kepala adiknya.


“Sorry gue pemula. Gak pernah persiapan.”


“Bacot lo!”

__ADS_1


...****************...


Suasana rumah Nara sepi. Meskipun sekarang baru jam 20.00 tapi semua penghuni sudah berada di kamar. Mengurung diri dengan kesedihan yang tidak bisa mereka jelaskan.


Besok Arvin akan datang untuk menemui ayahnya, kakaknya pun akan pulang ke Jakarta. Nara berharap kakaknya membunuh Arvin, mencekiknya hingga kehabisan napas. Kebencian tumbuh makin dalam dihatinya.


Nara tidak mau menikah dengan Arvin, yang diinginkannya adalah hidup bersama Reza.


Ah sial!


Hubungannya dengan Reza sudah jelas tidak bisa diselamatkan lagi. Hancur menjadi abu. Api menyulut hubungan mereka hingga tak bersisa. Sekali aja, Nara ingin diberikan kesempatan untuk menjelaskan semuanya pada Reza. Tapi hingga sekarang, Reza tak bisa dihubungi.


Amelia masuk ke kamar Nara tanpa mengetuk pintu. Kemudian memberikan handphonenya pada Nara.


“Nih” Katanya, menyerahkan handphone. Hingga sekarang Nara tidak memegang alat komunikasi apapun semenjak dia membuang handphone-nya. Sebenarnya karena tidak ingin dihubungi oleh rekan kerjanya, dia tidak ingin berurusan dengan kantor itu. Menghindarkan diri dari Arvin.


[Arvin: Lo baik-baik aja, kan?]


Arvin mengirimkan pesan itu ke nomor kakak iparnya. Tanpa tahu itu bukanlah milik Nara. Hanya karena tadi dia menelepon menggunakan nomor itu pada Arvin.


Nara mendorong handphone ke arah Amelia kembali. Tak mau membalas pesan tersebut.


“Gak kamu bales?”


“Ngapain?”


“Dia kayaknya khawatir sama kamu.”


Nara tak menggubris perkataan Amelia. Untuk apa Arvin khawatir padanya? Laki-laki sombong dan kurang ajar itu harusnya mengkhawatirkan dirinya sendiri. Besok tamatlah riwayatnya dihadapan kakaknya, Naufal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa like, komentar, vote, kasih bunga, kasih semangat dan kasihanilah author-nya 😂👌


Arvin abis pulang kerja langsung nge-band begini kira-kira 😂

__ADS_1



__ADS_2