Halo Arvin!

Halo Arvin!
Makan Malam Romantis


__ADS_3

Semakin hari Nara semakin sulit untuk menolak Arvin. Anehnya dia juga tidak bisa mengabaikannya. Semenjak ancamannya beberapa waktu lalu sikap Arvin juga berubah. Dia menjadi tidak sabaran dan lebih tegas mengatakan semua keinginannya.


Nara seperti mengingat kembali ketika masih menjadi bawahan Arvin. Sikap yang mendominasi dan selalu ingin menang sendiri. Rasanya Nara merindukan Arvin yang sangat santai dan toleran terhadap kondisinya. Nara tidak menyukai Arvin yang sekarang.


Arvin menarik pinggang Nara agar mendekat. Mendaratkan ciumannya yang hangat dibibir Nara. Seperti yang dulu pernah Arvin katakan, sekali setiap hari sebelum berangkat bekerja. Dia melakukannya dan memaksa Nara mengikuti keinginannya.


“Nanti sore ada yang dateng kesini.” Kata Arvin masih memeluknya.


“Ibu?”


“Bukan. Tungguin aja. Jangan kemana-mana. Nanti sore kamu gak ada jadwal kelas online atau senam hamil, kan?”


Nara menggeleng bingung. Siapa yang akan datang? Ayahnya? Tidak mungkin. Dia tidak ingin berharap berlebihan. Hingga usia 16 minggu kehamilannya. Tak satupun pesan dari ayahnya. Dia masih mengabaikan Nara hingga sekarang.


Untunglah ibu selalu membalas pesannya. Meskipun hanya waktu subuh saja ibunya akan membalas pesan Nara, mungkin masih sembunyi-sembunyi agar ayah tak tahu bahwa ibu sudah berbaikan kembali dengannya.


Tapi tidak apa-apa. Nara sudah sangat bersyukur dengan semua itu. Berkirim dengan ibu membuat hatinya lebih tenang. Tak ayal dia juga sering kali menanyakan saran tentang hubungannya dengan Arvin.


Untuk itu Nara sekarang sedang mencoba melunakkan perasaannya dan mengikuti keinginan Arvin tanpa banyak penolakan. Seperti ciuman sekali sehari yang sangat diinginkan laki-laki itu. Sebagian hatinya jelas enggan dan membenci ide tersebut. Namun sebagian lagi sukit dikendalikan, tiba-tiba dia akan berbunga dan berdesir hebat setiap kali Arvin menyentuhnya.


Bagi ibu, Arvin sekarang seperti salah satu anak kesayangannya. Nara terus dinasehati agar melakukan tugasnya sebagai istri dengan baik. Dia tidak mengerti yang mana. Mengurusnya, kah? Memenuhi kebutuhan biologisnya, kah? Atau Menyayangi dan mencintainya? Tidak ada satupun yang Nara lakukan.


Arvin mencondongkan tubuhnya mencoba mengecup Nara kembali, dengan cepat Nara menahannya. Sebal dengan penolakan tersebut, Arvin melepaskan Nara sambil mendengus.


“Aku berangkat dulu.” Kata Arvin kesal.


...****************...


Bel berbunyi pukul 17.00, seperti yang dikatakan oleh Arvin. Tamunya akan datang sore ini. Nara membuka pintu dan mendapati dua perempuan muda memakai blazer dan celana hitam sedang menunggu. Mereka tersenyum ramah.


“Siang, Bu Nara. Saya Indah dan asisten saya, Novi. Kami kesini atas perintah  Pak Arvin membantu Bu Nara bersiap untuk makan malam nanti pukul 7.” Katanya dengan profesional. Nara teringat kembali bagaimana cara dia berbicara ketika dulu masih bekerja.


“Makan malam apa?” Kata Nara bingung. Terbayang acara dirumah besar milik Candra dalam otaknya. Dia tidak mau melakukannya lagi.

__ADS_1


“Emm..makan malam romantis buat berdua?” Sekarang Indah yang bertanya kembali dengan bingung. Jangan-jangan Arvin tidak memberitahukan tentang ajakan makan malam tersebut.


Nara akhirnya mempersilakan mereka untuk masuk ke dalam. Mereka berbincang sejenak, menjelaskan perintah Arvin pada mereka. Nara yang masih ragu kemudian mengirimkan pesan konfirmasi pada suaminya itu.


[Arvin: Mereka udah dateng? Nanti kita ketemu di View Restaurant Fairmont. Ada yang jemput kamu, tenang aja. Sampai ketemu nanti malam ya, cantik.]


Nara berdeham menghilangkan senyum yang tiba-tiba mengembang karena tersipu dengan pujian Arvin. Dia memang paling jago melakukan gombalan, Nara ingin mengabaikannya tapi hatinya tiba-tiba menjadi senang seketika ketika dipuji. Setelah menenangkan hatinya  dia menghadapi kembali kedua tamu yang menunggu.


Indah dan Novi mulai melakukan pekerjaannya. Membantu Nara tampil cantik untuk acara makan malam dadakan nanti. Meskipun mereka berada di jauh dari salon dan spa, tapi semua pelayanan seperti dipindah ke tempat tersebut.


Nara bisa menikmati mandi dengan bath bomb wangi menenangkan. Campuran lavender dan segar aroma lemon. Rambutnya pun mendapatkan perawatan dan pijatan dikepala yang membuat Nara begitu rileks.


Nara tidak pernah tahu melakukan hal seperti ini ternyata sangat menyenangkan. Seumur hidup tidak pernah merasakan perawatan di salon dan spa sebelumnya. Tidak ada waktu dan membuang uang saja. Nara hanya akan bekerja dan menabung sepanjang waktu tanpa pernah terpikir untuk memanjakan diri seperti sekarang.


Setelah melakukan perawatan tubuh, Nara mulai bersiap untuk di make over. Novi mulai merapikan sedikit potongan rambutnya menjadi soft layer sebahu. Sedangkan Indah merias wajahnya, dengan make up yang natural. Membuatnya terlihat segar dan kembali muda.


Mereka juga menyiapkan beberapa dress yang bisa Nara pakai. Beberapa brand terkenal seperti Givenchy, Missoni, Staud, Monique Lhuillier, serta lainnya sudah mereka bawa pada gantungan dengan clothes cover mahal. Akhirnya Nara memilih salah satu midi dress dari Zimmerman. Celestial Zodiac Star tulle dengan warna champagne. Dipadukan dengan flat shoes dari Roger Vivier. Karena kehamilannya Nara tidak pernah berani menggunakan high heels apalagi stiletto.


Pukul 18.30 mobil sedan hitam sudah menunggu Nara di lobby, siap mengantarnya ke tempat Arvin menunggu. Nara jadi bertanya-tanya, apakah Arvin juga melakukan semua hal ini pada semua mantannya? Perasaan tidak nyaman menyemuti hatinya. Kesal dan iri.


Apakah Nara sekarang terdengar sangat materialistis? Entahlah.


Mobil sudah berhenti di lobby Fairmont Hotel. Nara turun dari sana dan langsung menuju lantai 22 hotel tempat restoran mewah yang Arvin sebutkan berada. Seorang pelayan kemudian mengantarnya pada salah satu spot paling indah disana, semi private, dengan pemandangan Kota Jakarta.


Disalah satu kursi telah duduk Arvin yang mengenakan black suit salah koleksi Giorgio Armani yang membuatnya tampak keren, dengan kemeja putih yang dia biarkan terbuka pada dua kancing teratasnya. Sebenarnya itu pakaian yang sama yang dikenakannya tadi pagi, minus dasinya yang entah terlempar kemana. Gaya rambut half comma-nya pun tetap sama seperti yang dilihat Nara sebelum berangkat. Tapi melihat Arvin disana, berdiri dari kursinya kemudian tersenyum pada Nara membuatnya terkesiap.


Kenapa Arvin bisa setampan ini?


Hatinya menjadi riuh dan tak karuan. Selama beberapa detik Nara terpana melihat suaminya sendiri. Orang yang sama yang dia benci. Nara mengalihkan pandangan pada hiasan bunga dan lilin-lilin di meja saat duduk berhadapan dengan Arvin.


“Ngapain lo ngajak kesini? Kesindir sama omongan gue dulu?” Tanya Nara ketus, mencoba menghentikan detak jantungnya yang berdegup menggila.


Arvin melempar senyum, “Kamu cantik banget. Bajunya cocok sama kamu. Rambut kamu dipendekin ya?” Tatap Arvin tak bisa mengalihkan pandangan dari istrinya.

__ADS_1


“Lo pasti sering ngegombal gitu juga kan ke mantan lo? Ngirim orang buat dandan terus ngajak mereka makan malam kayak gini juga.” Kata Nara kesal. Dia harus mengingatkan dirinya sendiri Arvin sudah melakukan ini puluhan kali dengan perempuan lain. Tidak ada yang istimewa dari perlakuan Arvin.


“Aku emang pernah ngajak beberapa mantanku kesini. Tapi gak pernah ngasih mereka personal stylist kayak ke kamu. Kenapa sih? Cemburu ya?” Tanya Arvin sambil menggenggam tangan Nara, mengelelus lembut dengan ibu jarinya.


Nara mengangkat sebelah bibirnya mencibir. Entahlah, perasaan Nara hanya sebal saja membayangkan Arvin sudah melakukan ini berulang kali dengan mantannya.


“Aku juga cemburu kok sama mantan-mantan kamu”


“Gue gak punya banyak mantan kayak lo ya! Jangan ngomong seakan gue punya banyak mantan kayak lo kira. Gue jarang pacaran.”


“Emang berapa kali?”


“Dua kali.”


“Cowok jelek yang kemarin kamu pacarin itu pacar kedua?”


“Gak usah hina Reza.”


“Ga usah belain dia didepanku.” Balas Arvin tajam. Tidak menyukai Nara begitu protektif terhadap mantannya itu.


“Abis makan kita nginep disini.” Lanjut Arvin kembali ceria.


“Ngapain nginep disini?”


Pelayan datang menyajikan makanan ke meja mereka. Arvin memesankannya Australian Black Angus Beef Ribeye dengan saus black truffle. Kemudian pelayan menuangkan wine di gelas Arvin, tertulis Chateau Latour tahun 2000 dari Prancis di botolnya.


“Aku males nyetir.” Jawab Arvin sambil mengangkat gelas wine kemudian menyesapnya.


“Gue gak bawa baju tidur atau baju ganti. Mending gue pulang aja, atau kita pulang naik taksi online.”


“Gak usah pake baju aja pas tidur.” Goda Arvin sambil tersenyum dan menyesap sedikit demi sedikit sisa red wine di gelasnya.


Tidak. Nara tidak menyukai kombinasi ini. Arvin. Mabuk. Hotel. Dia sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau ikut menginap dengan Arvin malam ini disini. Nara tidak mau melakukannya lagi.

__ADS_1


Apakah Arvin berencana mencoba menjerat Nara lagi karena sempat gagal melakukannya dulu di Bandung?


Nara menatap panik steak di depannya. Dia ingin lari sekarang juga. Sementara Arvin terus tersenyum memandangi Nara, mengagumi kecantikan istrinya.


__ADS_2