
Sedikit demi sedikit Nara mencoba mengunyah makanannya. Rasanya luar biasa enak, tentu saja. Makanan tersebut dimasak oleh chef sekelas hotel bintang lima yang tak pernah Nara coba sebelumnya.
Meskipun begitu hatinya gusar. Dia ingin cepat pulang. Bukan. Dia ingin melarikan diri dari Arvin. Dimanapun jika itu bersama dengan Arvin semua hasilnya akan sama saja. Nara akan terjebak lagi seperti saat itu.
Sebenarnya Nara beberapa hari ini merasakan Arvin lebih emosional dan mudah sekali kesal. Hanya karena penolakan kecil Nara saat dia menyentuhnya, Arvin akan mendengus sebal dan memasang wajah tak senang.
Mungkin dugaannya benar. Arvin sedang ingin dipuaskan. Seperti yang dikatakan oleh Bi Marni padanya. Laki-laki akan cenderung lebih emosional ketika tidak dipenuhi kebutuhannya.
Nara bergidik sendiri membayangkan kejadian yang pernah dilakukannya di Bandung. Ketika Arvin melucuti pakaiannya dan menyentuh setiap inci tubuhnya. Nara tidak ingin mengulanginya lagi. Dia tidak siap untuk hal itu lagi.
“Kamu sakit?” Tanya Arvin ketika Nara tiba-tiba menjadi sangat diam dan menghindari tatapannya.
“Ngga. Gue cuma pingin pulang aja.”
“Aku udah bilang kita nginep disini malam ini.”
“Gue udah bilang mau pulang pake taksi online aja.”
“Nara, jangan bikin aku kesel! Sekali aja nurut bisa gak sih?” Bentak Arvin.
Nara mengkerut dikursinya. Membenci Arvin yang semakin hari semakin mudah tersulut emosinya. Apalagi sekarang Arvin sepertinya sudah setengah mabuk. Botol red wine-nya sudah hampir kosong. Steak yang berada di piringnya juga sudah tandas.
Setelah menyelesaikan makanan penutup berupa cake cokelat, mereka meninggalkan restoran tersebut dan menaiki lift menuju lantai 31. Kaki Nara terasa berat, seiring langkah mereka memasuki kamar hotel yang luas tersebut.
Kamar tipe One Bedroom Sky Suite tersebut terdiri dari kitchenette, dining area, living area, dan bedroom. Arvin langsung berbaring dikasur setelah melepaskan blazer dan melemparkannya ke sembarang tempat. Terpaksa Nara memungut dan menyimpannya di gantungan dalam lemari.
Lebih dari 10 menit Nara duduk di kursi meja rias, hanya memperhatikan Arvin yang berbaring terlentang dikasur. Dia tidak ingin mengecek apakah Arvin sudah tertidur atau belum. Dia tidak ingin mendekati Arvin yang cukup mabuk, dan membahayakan dirinya sendiri.
Meskipun tidak berjalan sempoyongan, wajah Arvin terlihat memerah, berbicara lambat dan tidak fokus. Sekarang dia malah ambruk di tempat tidur. Tapi Nara tidak mempercayainya. Bisa jadi Arvin hanya pura-pura dan akan melancarkan aksi jahatnya saat Nara mendekat. Dia harus selalu waspada. Tidak ingin berakhir seperti saat menginap di Bandung dulu.
“Kamu mau duduk disana terus? Gak akan tidur?” Tanya Arvin berguling kesamping kemudian menatap Nara.
“Nanti aja. Gue belum mau tidur.”
__ADS_1
“Oke.” Arvin bangkit dan duduk dipinggiran ranjang. “Mau mandi bareng ga?” Lanjut Arvin tersenyum nakal.
Nara hanya menatap galak ke arah Arvin yang sekarang terkekeh dan beranjak ke kamar mandi. Melepaskan semua bajunya sembarangan ke lantai kamar. Dengan terpaksa Nara merapikan pakaian Arvin lagi. Laki-laki ini benar-benar sangat tidak rapi dan jorok.
Arvin keluar kamar mandi dengan hanya menggunakan bathrob, berjalan menuju kitchenette dan membawa sebotol wine dari deretan minuman disana ke dalam kamar. Dia menuangkannya sedikit ke gelas, menyimpan botolnya di dekat meja dekat Nara duduk.
Arvin membungkuk menatap Nara yang memperhatikan semua gerak-geriknya. Aroma alkohol tercium kuat saat Arvin mendekatkan wajah. Nara berjengit menjauhi Arvin.
“Kamu cantik banget sih. Aku gak bosen liatinnya. Apalagi kalau gak pake baju. Tambah cantik.”
“Ngomong lo udah ngelantur. Bisa stop gak minumnya? Gue gak mau ya sampe lo berbuat kurang ajar sama gue karena mabok.”
“Kurang ajar? Kok jadi aku yang kurang ajar? Aku kan udah minta izin dulu. Terus kamu setuju. Iya, kan?” Arvin memiringkan kepalanya dan tersenyum. “Aku ngerti kok. Waktu itu kamu lagi hor ny kan? Aku juga sering kayak gitu tiap liat kamu tidur. Rasanya pingin aku mainin kayak pas kamu gak sadar dulu. Kamu gak inget rasanya gimana waktu itu?”
“Lo beneran cowok br*ngsek!”
Nara mendorong Arvin menjauh, berdiri dan berjalan meninggalkan laki-laki itu. Tapi Arvin langsung menghentikannya. Memeluk Nara yang menggeliat mencoba melepaskan diri.
“Lo mau ngelakuin hal bejad kayak gitu lagi kan sekarang? Makanya ngajak gue kesini? Dan minum-minum biar lo ada alasan kalau lo lagi gak waras abis ngelakuin hal kotor sama gue. Gue benci sama lo!” Bentak Nara histeris melepaskan belitan tangan Arvin.
Arvin melepaskan pelukannya. Duduk di tepi ranjang, mendongak dan memijat keningnya. Bingung kenapa Nara bisa sampai berpikiran buruk seperti itu terhadap dirinya. Ya mungkin memang kata-katanya kurang terkontrol sejak tadi. Pengaruh dari wine yang diminumnya membuat nya berbicara melantur. Nara jadi salah paham seperti sekarang.
“Aku ngajakin makan malam disini karena pingin kamu nyobain steak-nya. Kan kamu juga mau diajakin fine dining, dan aku minum wine biar bisa tidur kok. Ini cuma bikin tipsy, dan ngantuk. Nanti aku nabrak kalau maksa pulang sambil nyetir.” Kata Arvin menjelaskan. Dia merebahkan punggungnya dikasur.
“Aku lagi banyak pikiran, banyak masalah di kantor gara-gara si kumis masukin si Ivan. Mereka nguji kesabaranku banget. Aku capek. Boleh minta peluk gak?”
Nara hanya berdiri terpaku ditempatnya. Mendengarkan semua racauan Arvin yang setengah sadar dan setengah terlelap. Sepertinya Arvin bicara jujur karena sedang mabuk. Nara juga mengetahui bahwa Arvin mengalami banyak kesulitan di kantor selama beberapa waktu lalu dari Adam.
Meskipun hingga sekarang Arvin tidak pernah membicarakan apapun padanya. Apakah mungkin karena Arvin tidak ingin Nara khawatir? Atau karena Arvin bukan orang yang senang bercerita mengenai kesulitannya? Sama halnya dengan perasaan-perasaan rahasia yang dibagi Arvin untuknya, tentang masa lalunya dan ibunya.
Nara ikut berbaring disebelah Arvin. Menatap laki-laki itu yang sekarang sedang terpejam. Arvin memang jahat, mesum, menyebalkan. Tapi ada bagian dari dirinya yang secara diam-diam Nara sukai juga, seiring berjalannya waktu. Dia hangat, perhatian, dan menyenangkan. Bersama Arvin dia tidak pernah kehilangan topik untuk dibicarakan. Dia punya sejuta pengetahuan aneh di dalam otaknya, beserta lelucon tidak jelas dan gombalan basi.
“Lo ada masalah apa di kantor?” Ucap Nara lembut.
__ADS_1
“Banyak. Aku dapat banyak tekanan gara-gara skandal kita, beberapa direksi left company, termasuk beberapa pemilik saham. Si kumis jadi ngawasin aku terus. Selalu ikut campur keputusanku. Apalagi sekarang dia masukin si Ivan ke perusahaan. Pemain cadangan kalau aku gagal. Sebagian keputusan bisnis si kumis percayain sama dia. Aku gak bebas.”
Nara baru mengetahui hal ini, Adam tak menceritakan tentang detail masalah Arvin diperusahaan. Hanya beberapa hal singkat mengenai kesulitannya selama ini. Tapi Arvin selalu terlihat tenang dan tak peduli urusan kantor saat sampai ke rumah. Tak sekalipun menunjukkan masalah pelik yang dia hadapi ditempat kerja.
Apakah selama ini Arvin begitu tersiksa? Hingga akhirnya dia memilih meminum wine malam ini agar pikirannya lebih tenang?
“Kok lo gak pernah cerita ke gue sih, Vin?”
“Kamu gak usah tau hal-hal kayak gini. Ini urusan aku. Kamu cuma perlu jadi sehat dan bahagia aja biar lahiran lancar. Aku kadang juga lupa punya masalah dikantor kalau udah pulang ke rumah. Liat perut kamu makin buncit aku jadi seneng, ga sabar ketemu bayi kita.”
Nara terhenyak mendengarnya. Mengatur napasnya agar tidak menangis mendengar kata-kata Arvin tadi. Nara mengelus rambut Arvin dengan lembut.
“Lo sayang banget sama bayi diperut gue?”
“Hmm... Lebih sayang sama dia daripada diriku sendiri.”
Arvin sejak tadi berbicara sambil terpejam. Tidur diatas kasur saling berhadapan. Lampu kamar yang dibiarkan temaram membuat siluet gelap pada wajah Arvin. Dia terlihat sendu dan kelelahan.
“Nara, maafin aku.” Kata Arvin tiba-tiba saat hening.
Nara tidak menjawabnya.
“Semuanya karena salahku. Bikin kamu jauh dari orang-orang yang kamu sayang. Mungkin emang dari lahir aku selalu bikin masalah buat cewe. Aku bikin ibu jauh dari ayah, bikin mama sakit jiwa, bikin nenek benci sama mama. Sekarang aku bikin hidup kamu menderita.”
Nara masih diam mendengarkan semua ocehan Arvin yang tanpa sadar diceritakannya. Hatinya tiba-tiba melunak melihat Arvin begitu merasa bersalah dan merasa bertanggung jawab atas kesakitan orang-orang disekitarnya.
“Jangan benci aku ya. Tiap hari rasanya mau mati karena ngerasa bersalah sama kamu.”
Nara terisak seketika. Melihat sisi lain Arvin yang ternyata serapuh dirinya. Setiap saat Nara juga membenci Arvin dan nasib buruk yang menimpanya. Seakan siap mati kapan aaja karena kebencian yang ada dihatinya.
Arvin menarik Nara mendekat, memeluknya. Aroma wine tercium seiring napasnya. Meskipun begitu, Nara juga tak ingin melepaskan pelukan Arvin.
“Jangan nangis. Kamu harus terus bahagia. Soalnya aku sayang banget sama kamu.”
__ADS_1
Air mata terus turun tak terkendali. Nara hanya menangis tanpa suara. Keheningan ruangan menelan semua kesedihannya. Entah untuk berapa lama mereka saling mendekatkan tubuh, saling menempelkan kening masing-masing. Hingga Nara tersadar, Arvin sudah benar-benar terlelap. Dia tidak mengeluarkan perkataan apapun lagi, selain suara napasnya yang lembut dan teratur.
“Aku maafin kamu, Vin.” Bisik Nara ditelinga Arvin.