Halo Arvin!

Halo Arvin!
Perasaan Aneh


__ADS_3

Malam tadi Nara bermimpi aneh. Mimpi yang gila. Hingga saat terbangun perasaannya juga ikut terasa aneh dan asing. Nara bahkan tak ingin mengingat mimpi itu lagi. Saking terasa nyata, dia terus mengingatnya. Terus merasakannya seakan mengalaminya sendiri.


Dia bermimpi berciuman dengan Arvin.


Gila!


Parah!


Menjijikkan!


Tapi anehnya, ada perasaan menggelitik diperutnya. Bibir Arvin yang lembut dan basah menyentuhnya. Perlahan. Rasanya hangat dan membuat hatinya berbunga.


Wangi citrus dan woody dari parfum Versace eau fraiche yang sering Arvin pakai memenuhi penciumannya. Nara berani bersumpah, mencium wangi laki-laki ini membuatnya limbung. Mungkin karena semalaman dia memeluk Arvin sambil menangis.


Sial!


Iya. Dia memeluk Arvin sambil menangis. Betapa bodoh dan memalukan hidupnya. Mungkin karena itu Nara jadi bermimpi aneh dan sekarang merasa sangat bingung saat melihat Arvin.


“Lo kemarin kenapa? Sakit? Mau diperiksain ke dokter ga?” Tanya Arvin khawatir.


Laki-laki itu sudah mengenakan kemeja, rapi, siap ke kantor dan wangi. Kenapa hidungnya tiba-tiba sangat sensitif dengan bau-bauan. Terutama aroma Arvin yang menyenangkan.


Kali ini sepertinya dia memakai koleksi parfum Jo Malone-nya. Tidak, sepertinya ini dari Byredo.


STOP! NARA FOKUS!


“Gue gak enak badan. Pusing.” Jawab Nara ketus. Dia menuangkan sereal ke mangkuk dan menambahkan susu dingin.


“Gue udah bikinin lo sarapan.”


“Gue ga mau makan nasi. Baunya bikin mual.”


Nara tadi pagi kelaparan. Tapi ketika membayangkan harus memakan nasi, dia merasakan aromanya membuat perutnya bergolak. Membuatnya mual dan ingin muntah. Hari ini Nara hanya ingin mencium aroma menyenangkan dari tubuh Arvin saja.


Tidak. Otaknya sudah tidak waras!


“Ya udah makan lauknya doang. Jangan makan sereal gitu. Tinggi gula. Gizinya dikit.”


“Iyaa bawel. Nanti gue makan. Udah lo sana berangkat kerja aja!”


“Lo beneran ga apa-apa, kan? Kemarin malem lo lemes banget dan keringetan terus. Nanti sore gue bisa pulang duluan kalau lo mau ke dokter.”


Nara menatap galak pada Arvin. “Gue bilang ga apa-apa. Lagian gue mau pergi nanti.”


“Pergi kemana? Sama siapa?”


“Ke Starbucks doang, sama temen SD.”

__ADS_1


“Siapa namanya? Cewe atau cowo? Sampe jam berapa?”


“Arvin! Bawel banget sih lo? Mau gue pergi sama siapa aja ya terserah gue lah.”


“Ga bisa gitu lah. Mau lo benci kayak gimana pun gue suami lo. Harus tau lo main sama siapa, kemana, dan sampe kapan.”


“Gue mau ketemu Atika, temen SD gue, di Starbucks GI.” Teriak Nara kesal.


“Sampe jam berapa? Pokoknya jam 5 sore harus udah pulang. Kalau lo belum pulang gue jemput paksa. Nanti gue chat lo. Jangan dianggurin. Bales.”


Nara sebal mendengar perintah dari Arvin. Sok berkuasa. Untungnya sekarang Arvin sudah pergi. Berangkat ke kantor. Kalau tidak, Nara sudah melemparnya dengan kotak sereal.


...****************...


Nara sudah duduk selama setengah jam di Starbucks, memesan green tea frappuccino dengan additional caramel seperti kesukaannya.


Hari-harinya sangat suram sekarang. Sedikit minuman berkafein dan teman mengobrol akan membuatnya merasa lebih baik.


Arvin pasti akan berkomentar jika tahu dia mengkonsumsi kafein. Tapi jelas Nara tidak peduli pada laki-laki menyebalkan itu. Walaupun seharian dia merasa sangat aneh karena ingin sekali memeluk Arvin, melingkarkan lengannya dileher laki-laki itu sambil mencium aroma samar dari parfum yang dikenakannya.


Sosok yang ditunggu Nara datang. Berdiri canggung dipintu masuk, matanya manatp berkeliling hingga menemukan sosok Nara yang melambaikan tangan.


“Gue ga biasa nongkrong ditempat kayak gini. Biasa juga minum kopi liong punya abah.” Kata Atika berbisik sambil duduk didepan Nara. “lo yang pesenin ah.”


Nara tertawa mendengar kata-kata Atika. Kemudian beranjak dari tempatnya. Memesan Caramel Macchiato, sangat basic. Nara menyimpan minuman tersebut di depan Atika. Melihatnya meminum dengan hati-hati. Air mukanya langsung berubah seketika menjadi cerah.


“Pantes mahal. Enak juga ternyata.” Komentarnya.


“Udah keluar. Encing gue yang tebus. Sekarang dia ikut bantu kerjaan di Priok bareng encing. Makanya gue mau balikin duit lo kemaren.”


“Ga usah. Buat lo aja.”


“Ini duit gede loh, Ra. Masa buat gue sih. Ga ah.”


“Buat lo. Buat buka usaha atau apa kek.”


“Serius kan lo?”


Nara mengangguk. Lagipula itu bukan uangnya. Tapi uang Arvin, dan mungkin Arvin juga tidak peduli sama sekali dengan uang 5 juta yang hilang tanpa disadarinya. Dia bahkan mengeluarkan belasan juta hanya untuk membeli gitar akustiknya. Hanya uang sebesar itu tak ada artinya untuk Arvin.


“Hidup lo udah enak banget ya, Ra. Sampe ngeluarin duit segini aja kayak beli teh poci.”


“Gue ga sebahagia yang lo pikirin sih, Tik.”


“Kenapa sih? Hidup lo kan udah terjamin. Ga akan tuh lo kekurangan, sampe nyopet kayak adik gue.” Kata Atika “Karena lo gak suka sama suami lo? Sampe sekarang lo belum damai tuh sama dia?” Lanjutnya menyelidik.


“Gue ga akan pernah suka sama dia.” Jawab Nara kesal.

__ADS_1


“Pamali. Dia udah jadi suami lo.”


“Dih. Males.”


“Jadi gimana, lo gak jadi gugurin kandungan lo? Gue khawatir loh kemaren pas lo gak bisa dihubungi. Kirain lo meninggal. Soalnya gue baru dapet kabar ada yang meninggal pas lagi aborsi disana, kliniknya ditutup sekarang.”


“Gue di rawat 4 hari. Tapi gak keguguran kok, sampe sekarang gue masih hamil.”


“Bagus dong. Kuat banget berarti orok lo. Dia pingin tetep hidup biar bisa ketemu sama ibu bapaknya.”


“Bisa gak sih, ga ngomongin kehamilan gue terus?”


“Ga bisa. Kehamilan lo aja masih jadi hot news di kampung.”


Hati Nara mencelos. Dia mungkin akan tetap jadi pembicaraan hingga satu tahun kedepan. Pasti yang dikatakan orang-orang itu tentangnya tak jauh beda dari yang dikatakan kumpulan perempuan di toilet Groove Bar. Hatinya terasa sakit kembali.


“Ortu gue gimana? Mereka udah bisa kumpul sama tetangga, kan?” Kata Nara sedih.


“Bapak lo sih udah mulai ikut kegiatan sama tetangga, kerja bakti, masih rajin ke mesjid, dan ikut yasinan tiap malem Jumat. Tapi ibu lo jarang ikut pengajian sekarang. Kata ibu gue sih gitu.”


Nara merasa sangat bersalah mendengarnya. Pasti ibu dan bapaknya sangat malu. Dia benar-benar anak yang sangat mengecewakan. Ingin rasanya dia pulang bersujud dikaki kedua orangtuanya. Tapi hingga kini dia benar-benar takut menampilkan muka dihadapan mereka.


Pesan-pesan yang Nara kirimkan dengan rutin pun tak pernah ada balasan hingga sekarang. Mengendap. Entah sampai kapan. Mungkin menunggu hati mereka mencair. Memberikan maaf padanya.


“Tapi bagusnya, ada sebagian yang jadi termotivasi sama lo. Biar kuliah, berpendidikan, masuk perusahaan gede. Biar nanti siapa tau bisa dapetnya bos ganteng, kaya raya, macem suami lo.”


“Ya udah ambil aja suami gue.”


“Hush pamali.. Kalau suami lo beneran diambil cewe lain gimana? Nangis dah lo ntar.”


“Ga akan. Ambil aja. Dia juga udah punya pacar. Paling abis anak ini lahir dia kawin sama pacarnya, atau mungkin dia juga lagi pacaran sekarang sama ceweknya.”


Keysa. Kalau tidak salah itu nama yang didengar Nara kemarin. Pacar Arvin, yang Nara lihat berfoto mesra di ponsel Arvin, yang Nara lihat digandeng Arvin, yang Nara lihat sangat berbahagia dengan Arvin. Semua perlakuan manis Arvin padanya, rasanya jadi semakin memuakkan. Nyatanya dia sudah punya orang istimewa lain dibalik semua perhatian dan tanggung jawabnya terhadap Nara. Dasar pemain wanita!


“Hah maksudnya gimana tuh? Suami sampai sekarang masih pacaran sama pacarnya yang lama?”


“Ga tau ah. Bodo amat.”


“Ya siapa tau pas kawin sama lo. Dia mutusin pacarnya, kan?”


“Gue bilang bodo amat!”


“Eh ngomongin soal pacar, gue jadi inget pacar lo yang ga jadi nikah sama lo itu. Siapa namanya? Reza ya? Kayaknya dia udah move on dari lo deh, Ra.”


Mendengar nama itu, kesedihan tiba-tiba menyerang. Rasanya ingin menangis. Hingga sekarang hatinya masih terlipat rapi untuk Reza. Dia belum bisa berpindah ke hati yang lain. Bayangkan, laki-laki itu sudah menemaninya selama 5 tahun. Mengisi setiap harinya dengan perasaan hangat dan cinta.


“Gue kan sekarang kerja jagain toko grosiran. Anak kokoh tempat gue kerja sekolah di SMK tempat pacar lo ngajar. Gue sering jemput dia, terus liat pacar lo itu bonceng temen kerjanya. Cewek cakep. Kata anaknya si kokoh sih cewenya guru Bahasa Inggris. Sering digosipin sama murid kalau mereka jadian soalnya deket banget.” Kata Atika yang sangat handal dalam membicarakan gosip terhangat.

__ADS_1


Mendengar hal tersebut rasa cemburu Nara tersulut. Bagaimana mungkin Reza melupakannya secepat itu? Sedangkan Nara masih belum bisa membuka hatinya untuk orang lain.


Sepanjang pertemuan itu Nara menjadi tidak fokus. Atika terus mengoceh tentang banyak hal. Tapi yang Nara pikirkan di dalam benaknya hanya Reza. Hingga kini foto-foto Reza masih dia pajang di akun sosial medianya. Tak satupun dia menghapus keberadaan laki-laki itu. Ditempat yang terlihat maupun jauh didasar jiwanya yang tak pernah orang ketahui.


__ADS_2