
Aneh rasanya melihat mantan atasannya begitu lemah dan tak sadarkan diri. Alat bantu menempel ditubuhnya, menjaganya agar tetap stabil entah untuk berapa lama. Padahal dulu sosoknya adalah salah satu orang favorit bagi Nara.
Candra adalah atasan yang baik, pengertian, cerdas, dan berwibawa. Banyak sekali pelajaran yang dia dapatkan selama menjadi bawahannya. Dia pula lah yang sangat membantu karirnya tumbuh diperusahaan tersebut.
Nara tidak begitu mengerti atau mengetahui bagaimana Candra diluar pekerjaannya. Sebagai sosok ayah untuk Arvin ataupun seorang suami bagi Lena. Semua hal yang dia tahu dan dapat pahami adalah Candra sebagai atasannya saja.
Kini laki-laki berusia 60 tahunan tersebut adalah ayah mertuanya. Nara ingin bisa mengerti bagaimana dirinya ditengah keluarga. Pembicaraan tempi hari dengan Candra yang terlalu singkat, mungkin menggambarkan sedikit tentangnya.
Perhatian dan sangat khawatir terhadap anaknya, Arvin. Hal terakhir yang Candra pesankan padanya adalah menjaga dan mendampingi Arvin saat dirinya kelak menjadi penerus keluarga.
Lena memotong buah apel dan menaruhnya pada piring di meja. Menatap Nara dan mengisyaratkannya untuk mengambil salah satu potongan tersebut. Nara mengambilnya untuk berbasa-basi, meskipun sebanarnya dia tidak ingin memakan apapun saat ini.
“Pak Candra kondisinya gimana sekarang, Bu?” Tanya Nara.
“Yaah.. Udah stabil sih kata dokter, tapi masih belum tahu kapan sadarnya. Kemarin setelah operasi pemasangan ring buat lancarin pembuluh di jantung, kirain gak akan ada masalah lagi. Ternyata malah sekarang kena dipembuluh darah otaknya. Mungkin karena usia dan juga banyak pikiran juga.” Kata Lena menjelaskan.
Penampilan Lena hari ini terlihat kacau. Wajah polos dan pucat tanpa riasan, kantung mata bergelayut, matanya yang sembab dan memerah karena menangis, rambut yang digulung asal-asalan kebelakang dan tubuhnya terlihat lebih kurus dibandingkan terakhir kali mereka bertemu. Dengan sweater berwarna broken white dan celana hitam yang lusuh, menegaskan kekalutannya saat suaminya tak sadarkan diri dan dalam perawatan.
Padahal biasanya Lena terlihat sangat modis dan cantik diusianya yang tak lagi muda. Baju-baju anggun dan berkelas selalu dikenakannya, dengan make up yang berani, dan rambut tertata rapi.
Nara selalu mengingat sosok Lena sebagai salah satu contoh istri pengusaha sukses. Dengan karakter yang kuat, cerdas, dan elegan. Saat seperti ini dia terliaht seperti ibu-ibu biasa. Nara juga baru menyadari rambut Lena kini dihinggapi uban yang tak ditutupinya.
“Mikirin soal Arvin?” Tanya Nara berhati-hati.
Lena tersenyum sejenak kemudian menyesap teh di depannya, “Sebagian iya. Akhir-akhir ini pasti kamu tahu juga kan soal masalah Arvin dikantor? Semua rekan usaha dan petinggi bertahan hanya karena Candra masih ada. Arvin gak bisa bikin mereka simpati, meskipun kinerjanya baik. Semua skandalnya jadi highlight dan bikin banyak orang kontra sama dia. Malah sejak awal dia gantiin Candra, kabar soal status Arvin dan skandal Candra ke blow up tiba-tiba. Padahal gak ada yang tahu selain orang-orang tertentu aja, sekarang udah jadi konsumsi orang semua orang.”
__ADS_1
Nara juga menyertujuinya. Saat Candra sakit, rumor tentang keluarga Aditama dan juga Arvin sangat kencang terdengar diantara karyawan kantor. Bahkan karyawan level rendah sekalipun. Dulu Nara hanya menganggap itu adalah pembicaraan seru. Tentang status Arvin sebagai anak selingkuhan, tentang perselingkuhan Candra, tentang pertanyaan kenapa Angga tidak menempati posisi CEO, dan banyak lagi gosip yang dia dan teman kantornya bicarakan saat makan siang.
Sebelum Arvin menggantikan Candra, yang semua orang tahu adalah Arvin anak kandung Candra dan Lena, berkuliah di Australia hingga S-2, anak manja yang diberikan fasilitas mewah, dan berandalan yang durhaka. Informasi itu juga menyebar dari mulut ke mulut diantara karyawan, hingga Nara juga mempercayainya.
“Arvin jarang cerita soal masalah kantor.”
“Tapi kamu tau kan apa yang orang-orang omongin soal dia dan keluarga kita?” Lena menatap murung cangkir tehnya.
Nara merasa aneh ketika Lena mengucapkan keluarga kita. Ya, sekarang Nara juga bagian dari keluarga Aditama. Juga menjadi salah satu penyebab semua skandal buruk keluarga ini semakin sering dibicarakan orang lain.
“Kamu juga pasti mikir, kalau saya orang jahat yang misahin Arvin sama ibu kandungnya, sampe mereka berdua gak bisa ketemu seumur hidup kayak gosip yang di denger orang-orang.”
Nara mengangguk canggung. Mengingat semua gosip yang dibicarakan dengan rekan kantornya dulu dan potongan cerita dari Arvin. Lena dan Candra merahasiakan keberadaan ibu kandungnya. Hingga neneknya memohon untuk dipertemukan dengan Arvin. Setelah kedua orang itu bertemu untuk terakhir kali, Arvin tidak pernah pulang lagi ke keluarga Aditama. Nara tidak tahu versi mana yang benar dari cerita tentang masa kecil Arvin.
Baru kali ini Nara mendengar versi lain tentang kehidupan Arvin. Dia mengerjap kaget mengetahui Lena pernah hamil. Padahal Candra pernah menyinggung bahwa Lena tidak bisa punya anak. Semuanya terasa membingungkan untuknya.
“Bu Lena pernah hamil?”
“Ya. Sekali dan juga terakhir kalinya dapat kesempatan itu. Saya berhenti ikut promil setelah mengadopsi Audrey. Berpikir bahwa Candra akan cukup bahagia dengan anak adopsi. Tanpa disangka-sangka saya hamil secara alami, baru tahu setelah usia kandungannya lebih dari 3 bulan. Kehamilan saya gak mudah, usia 7 bulan di diagnosa eklampsia berat. Saat itu juga saya dapet kabar Candra selingkuh sama sekretarisnya, sampe dia hamil. Saya stress dan bayi saya meninggal dalam kandungan di usia 8 bulan. Padahal tinggal menunggu sebentar lagi buat lahir.”
Nara merasakan kepedihan dalam suara Lena yang bergetar. Meskipun terlihat kuat dan baik-baik saja setelah mengatakan ini. Pasti hatinya hancur. Perempuan mana yang tak hancur mengetahui anak yang dinantikannya meninggal dalam kandungan, apalagi ditengah kabar perselingkuhan suaminya. Nara seketika menangis, air mata turun tak terkendali mendengarkan cerita Lena.
“Jangan nangis, nanti bayi kamu ikut sedih. Saya udah baik-baik aja sekarang.” Lena tersenyum melihat menantunya itu terbawa suasana mendengar ceritanya. Segera saja dia ulurkan tisu untuk menyeka air mata Nara.
“Anak kehilangan orang tua bisa disebut yatim piatu. Tapi orangtua yang kehilangan anak, kita gak pernah tahu harus menyebut diri sebagai apa. Patah hati terbesar yang saya alami. Lebih dari kabar soal perselingkuhan Candra.”
__ADS_1
Lena menyandarkan tubuhnya ke sofa. Menatap langit-langit kamar rumah sakit yang kelabu. Berharap air matanya tidak ikut jatuh seperti Nara. Puluhan tahun sudah berlalu, tapi rasanya baru kemarin dia menyentuh bayi kecilnya yang dingin dan membiru tak bernyawa.
“Kamu tahu, Ra? Saya depresi berat kehilangan itu. Tapi ayah mertua saya bawa Arvin 2 bulan kemudian. Masih merah dan baru dilahirkan. Dia bilang ibunya meninggal. Saya gak mau sentuh bayi hasil perselingkuhan Candra. Tapi bayi itu terus nangis berhari-hari, sampai muak dengernya. Awalnya pingin saya tutup dia pake bantal biar berhenti, tapi malah saya gendong dan susui. Hari itu saya kayak ketemu harapan hidup lagi. Terus bilang dalam hati hari itu Arvin anakku, selamanya anakku.”
...****************...
Mobil sudah terparkir rapi di basement rumah sakit. Arvin menghela napas berat sebelum turun. Seharian perasaannya kacau saat mendengar ayahnya tak sadarkan diri dan masuk rumah sakit. Dia memang sempat seperti itu, tapi akhirnya bisa terselamatkan setelah mejalani operasi.
Kali ini berbeda, Audrey mengatakan tak ada prosedur operasi untuk penyempitan pembuluh darah di otaknya. Terlalu beresiko karena Candra sudah lanjut usia. Hanya keajaiban yang bisa membuatnya sadar kembali.
Bohong jika Arvin mengatakan dia tidak peduli. Tentu saja dia peduli dengan ayahnya itu. Meskipun banyak hal yang dia benci darinya. Kebohongannya, pengabaiannya, dan bagaimana dia menyakiti Lena dan ibu kandungnya. Hingga hari ini dia tidak tahu bagaimana caranya memaafkan dan meminta maaf kepadanya.
Arvin mulai melangkahkan kaki dari parkiran menuju lift. Tak disangka orang yang dikenalnya juga ikut melakukan hal yang sama. Mereka menunggu lift turun dan membawa ke lantai dimana Candra dirawat. Saling berdiri bersisian namun seperti tak saling mengenal.
“Gue seneng lo akhirnya punya sedikit kewarasan buat jenguk ayah.” Kata Angga memulai pembicaraan. Arvin tidak menanggapinya. “Lo masih kayak bocah. Nganggep diri lo manusia paling tersakiti dibumi.” Lanjutnya.
“Lo gak tahu rasanya, mending diem aja.” Jawab Arvin ketus.
“Lo juga gak tahu rasanya jadi gue yang ngeliat keluarga kita saling diem dan gak jujur sama perasaannya. Gue puluhan tahun kayak penonton doang. Muak sama kalian semua. Lo gak tahu apa-apa soal ibu dan ayah, makanya lo terus bersikap kekanakan dengan jauhin mereka kayak sekarang.”
“Ya udah kalau lo tahu kenapa ga bilang? Ngomong sama gue sekarang!” Tantang Arvin, “Kalau lo diposisi gue yang tiba-tiba dibilang anak selingkuhan bokap lo, disuruh liat ibu kandung lo sekarat, gak pernah diminta balik lagi ke rumah dan gak pernah dihubungi bertahun-tahun. Lo emangnya bakal bersikap sedewasa apa, Ga?”
Lift di depan terbuka. Beberapa orang turun dari sana, menghambur keluar. Arvin dan Angga masuk kedalam. Hanya mereka saja yang berada disana. Arvin mengulurkan tangan memencet angka lantai 6 dimana ayah mereka dirawat. Namun Angga menekan lantai nomor 3 terlebih dahulu.
“Kalau gitu kita omongin sekarang. Hal-hal yang harus lo tahu tentang ayah dan ibu.” Ucapnya sambil menatap sengit Arvin.
__ADS_1