Halo Arvin!

Halo Arvin!
Para Pembohong


__ADS_3

Angga dan Arvin turun dari lift di lantai 3, berjalan kearah  kantin rumah sakit. Mereka memesan kopi hitam panas. Duduk di salah satu kursi yang kosong. Suasana kantin sepi, hanya ada beberapa pengunjung yang duduk dan menyantap makanan disana. Beberapa penjual juga sudah bersiap pulang karena jam sudah menunjukkan pukul 20.00.


“Jadi apa yang mau lo omongin? Buruan gue mau jemput Nara pulang.” Kata Arvin memulai pembicaraan dengan malas dan tidak bersemangat.


Angga mengangkat sebelah sudut bibirnya sekilas, “ Gak nyangka lo lumayan awet juga sama dia. Bocah keras kepala dan hati batu kayak lo, gak cocok kawin sebenernya.”


“Jangan banyak omong. Gue udah capek sama kerjaan kantor. Berhenti bikin gue emosi.”


“Lo dari dulu kayak gini, kan? Gak mau dengerin orang dan ngerasa paling tersakiti. Padahal yang sakit bukan lo doang.”


Arvin mendelik sebal. Dia tidak menjawab ejekan dari Angga.


“Sebenernya lo tahu kan kalau ibu sama sekali gak tahu tentang ibu kandung lo yang masih hidup? Dia baru tahu semenjak lo diteror telepon tiap hari sama orang gak dikenal, yang ternyata adalah ibu kandung lo. Tapi lo tetap nyiksa ibu dengan bikin dia ngerasa bersalah karena gak jujur soal itu. Benci dia sampai sekarang.”


“Gue gak pernah ngerasa ngehukum dia dengan perasaan bersalah. Ya dia harusnya ngerasa bersalah karena gak tau apa-apa, dan harusnya si kumis juga ngerasa kayak gitu karena terus diem aja soal keberadaan ibu kandung gue dan baru ngasih tahu sejak didesak nenek.”


“Lo sampai kapan mau bersikap kayak gitu, Vin? Kapan lo sadar kalau mereka sayang banget sama lo?”


“Dengan bohongin gue? Dengan buang gue? Bahkan telepon atau nanyain gue aja selama 8 tahun mereka gak pernah, Ga!”


“Karena semua itu nenek lo yang minta! Nenek lo minta ayah dan ibu buat biarin lo tinggal bareng dia setelah ibu kandung lo meninggal. Sebagai ganti karena anaknya bertahun-tahun masuk RSJ karena lo diambil paksa sama kakek.”


Arvin terdiam. Dia tidak pernah mendengar hal tersebut.

__ADS_1


“Maksud lo apa?”


“Lo tau kan kalau ibu depresi setelah anaknya meninggal dalam kandungan? Setelah ketemu lo, dia sembuh. Tapi malah ibu kandung lo yang jadi gak waras. Selama bertahun-tahun ayah diem dan memenuhi janjinya sama kakek buat gak ngebocorin tentang ibu kandung lo bahkan setelah kakek meninggal dan selama itu juga ibu terobsesi sama lo. Si anak kesayangan, yang sedikit aja gak keliatan langsung dicariin. Mungkin secara gak sadar ibu tau, kalau lo bukan punya dia. Setelah tau ibu kandung lo masih hidup dan nenek lo maksa ngambil lo, ibu kehilangan dunianya, Vin.”


Arvin menatap Angga dengan alis bertaut. Mencoba mencerna apa yang baru didengarnya. Dia baru mengetahui bahwa yang mengambilnya dari ibu kandungnya adalah kakek dari ayah. Orang yang mengambilnya dari keluarga Aditama adalah nenek dari ibunya. Semua orang-orang yang menurutnya baik, yang membekas dihatinya sebagai orang-orang yang sangat menyayanginya sewaktu kecil.


“Setelah perselingkuhan ayah, ibu gak pernah nganggap pernikahannya dengan terlalu serius. Dia cuma fokus sama lo. Bayangin, pas dia harus nyerahin lo buat tinggal sama ibu kandung lo yang sekarat dan dapat tekanan dari nenek  lo buat nyerahin lo tinggal sama dia. Ibu ngerasa bersalah karena bikin cewek lain ngelewatin sakitnya kehilangan anak kayak yang dia rasain dulu. Dia benci sama ayah karena gak jujur. Lo tahu mereka hampir cerai untuk kedua kalinya karena itu? Lo tahu kalau selama 8 tahun ibu tinggal di Malaysia sama adeknya makanya gak pernah ngehubungin lo? Lo tahu ayah juga bertahun-tahun kosultasi sama psikolog karena ngerasa bersalah sama karena perselingkuhannya bawa luka besar kesemua orang termasuk sama lo? Gak cuma lo doang yang menderita, Vin!”


Angga hampir berteriak karena emosi. Matanya berkaca-kaca. Dia tak percaya akan mengatakan ini semua kepada Arvin. Melanggar janjinya sendiri pada Lena yang sangat disayanginya.


“Kalau lo tahu kenapa lo gak bilang dari dulu, Ga? Lo sama Audrey kenapa gak jujur juga soal keadaan keluarga kita sejak gue pergi?”


“Gue bukan siapa-siapa, Vin. Gue cuma anak adopsi yang hidup karena kasih sayang mereka. Gue pikir dengan diem dan ngikutin mau mereka dengan nutup-nutupi perasaan masing-masing adalah bukti cinta dan terimakasih gue sama mereka. Tapi makin hari, gue ngerasa keluarga kita cuma bohongan karena semua orang berbohong dan terus-terusan menyakiti satu sama lain karena gak bisa saling maafin.”


Arvin yang tidak bisa memaafkan kebohongan orangtuanya tentang ibu kandungnya, dia juga tidak memaafkan pengabaian mereka selama bertahun-tahun karena janji mereka pada neneknya.


Candra yang tidak bisa memaafkan dirinya sendiri karena perselingkuhannya telah menyakiti ibu dan ibu kandungnya. Dia juga tidak bisa memaafkan dirinya sendiri karena membiarkan Arvin tinggal dengan neneknya dan membuat Lena terluka lagi.


Lena yang tidak bisa memaafkan Candra dan perselingkuhannya. Dia juga tidak bisa memaafkan dirinya sendiri karena merebut seorang anak dari jauh dari ibu kandungnya bertahun-tahun karena ketidaktahuannya.


Mereka benar-benar keluarga yang tidak waras. Para pembohong yang menutupi semua perasaan sakit dibalik senyum dan formalitas sebagai keluarga. Mungkin ini sebabnya, Arvin sangat sulit untuk memulai kembali hubungan dengan mereka. Karena masing-masing diantaranya belum bisa saling jujur dan memaafkan.


“Lo tahu, tiap hari selama 8 tahun ayah memohon sama ibu buat balik ke Indonesia. Dia bilang menyesal pernah menyakiti istri kayak ibu, menyesal karena perselingkuhannya bikin hidup semua orang kacau. Termasuk kita. Dan janji bakal bawa lo balik, tapi lo selalu nolak pulang karena terlanjur benci sama ayah. Ibu balik ke Indonesia lagi setelah dapat kabar nenek lo meninggal. Berharap anak kesayangannya pulang ke rumah. Kita bisa kaya dulu lagi. Tapi lo malah memilih terus benci sama kita semua dan gak balik lagi. Terus lo kuliah di luar negeri, ngebiarin semua masalah gak terselesaikan gitu aja sampai sekarang, karena lo selalu menghindar dan gak mau diajak ngomong.”

__ADS_1


Mereka menyelesaikan pembicaraannya, berjalan menuju ruang rawat inap Candra, saling terdiam dan larut dalam pikirannya masing-masing. Angga lega akhirnya bisa mengatakan ini pada Arvin, setelah bertahun-tahun terus memendamnya karena permintaan Lena.


Dia sangat menyayangi Lena, tapi hingga dititik ini ketika Arvin terus saja membencinya, Angga tidak sanggup lagi melihatnya. Dia harus tahu bagaimana sebenaranya perasaan Lena pada Arvin. Satu-satunya anak yang membuat Lena seperti hidup kembali. Setelah kehilangan yang sempat dialaminya dulu.


“Gue abang lo, Vin. Meskipun bukan saudara sedarah. Gue gak benci sama lo, cuma kesel aja sama sikap kurang ajar lo sama ibu dan ayah, padahal lo gak tahu perasaan mereka sebenarnya. Gue mau keluarga kita akur lagi kayak sebelum lo pergi dari rumah.”


Arvin mengabaikan ucapan Angga tersebut. Dia membuka pintu ruang rawat inap yang ditempati oleh Candra. Terlihat ayahnya itu masih terbaring tak sadarkan diri dengan dipenuhi alat bantu. Perasaan sedih menyerang hatinya. Meskipun begitu Arvin tetap memasang wajah tenang dan tak peduli. Bersikap seolah semua hal yang Angga katakan tadi tidak mempengaruhinya.


Audrey dan Nara duduk disofa, sedang berbicara saat Arvin masuk. Melihat Nara setelah seharian bekerja dan berbincang dengan Angga, membuat Arvin merasa tenang kembali. Seperti tombol reset ditekan dikepalanya.


“Ibu mana?” Tanya Angga.


“Gue suruh pulang. Biar gue aja yang jaga malam ini. Lo juga pulang aja, Ga.” Jawab Audrey. “Kamu juga cepetan pulang sama Arvin ya, Ra. Ibu hamil gak bagus lama-lama di rumah sakit.” Lanjut Audrey pada Nara.


Nara dan Arvin pulang lebih dulu. Sementara Angga terus tinggal bersama Audrey. Sepanjang perjalanan Arvin hanya diam. Saat dirumah sakit pun, dia tidak banyak berbicara. Hanya memandangi ayahnya saja yang lemah tak berdaya.


Setelah mendengarkan cerita dari Lena, Nara rasanya ingin mengatakan pada Arvin bahwa dia selama ini tidak sendirian. Selama ini dia tidak pernah kehilangan orangtua dan orang-orang yang dicintainya. Tapi Nara tidak tahu bagaimana cara mengatakannya.


“Ra, aku mau peluk.” Kata Arvin tiba-tiba saat mereka sampai di penthouse.


Nara merentangkan tangannya, menyambut pelukan Arvin. Mendekapnya dengan erat dan hangat. Arvin bisa merasakan kehangatan dari tubuh Nara menjalar ke hatinya, dia menenggelamkan kepala pada rambut Nara yang wangi, menghirup banyak-banyak aromanya. Perasaan nyaman dan tenang memelingkupinya. Nara seperti oase, setelah semua hal membuat pikirannya kacau hari ini.


 

__ADS_1


__ADS_2