
Nara tidak bisa berhenti memandangi sosok kecil dan ringkih dipelukannya. Setelah 12 hari berada di NICU, akhirnya bayinya bisa segera pulang besok. Meskipun masih terlihat kecil, tapi berat badannya sudah mengalami perbaikan.
Pertama kalinya Nara dan Arvin ditinggalkan bertiga saja di ruangan rawat inap Nara. Tidak ada lagi kaca pemisah saat mereka harus bertemu dengan bayi tersebut. Suara tangisnya yang kuat dan nyaring, bagi mereka terdengar membahagiakan. Dia sudah pintar untuk mencari sumber makanannya dengan menggelendot pada Nara. Menyusu hampir sepanjang hari dan tidak mau melepasnya.
“Perih…” ucap Nara meringis. Arvin tidak bisa berbuat apa-apa untuk meredakannya. Dokter mengatakan mungkin Nara akan merasa kesakitan diawal masa-masa menyusuinya, karena belum melakukannya dengan posisi yang benar karena bayi mereka yang tubuhnya kecil.
“Mau aku pijetin punggungnya?” Arvin menawarkan bantuan. Meskipun belum tentu menghilangkan perasaan sakit yang dialami Nara.
Arvin benar-benar sangat mengkhawatirkan kondisi Nara. Setelah melahirkan, dia harus memulihkan tubuhnya, dalam waktu bersamaan juga harus menyusui dan mengurus bayi. Sebisa mungkin Arvin memberikan bantuan dan meringankan bebannya dengan memijatnya, menyuapinya, membantu semua pergerakannya.
Sebelum ini juga Arvin rajin mengikuti kelas mengasuh bayi bersama Nara selama beberapa sesi yang diadakan khusus oleh rumah sakit. Dia sudah tahu bagaimana dasar-dasar cara merawat bayinya, meskipun belum mempraktekannya sekarang karena anaknya baru saja keluar dari NICU tadi pagi.
Dengan lembut Arvin mengelus punggung Nara dan melihat bayi mungikl dipangkuan istrinya sedang terpejam sambil terus menyusu dengan asyik.
“Radhika cepet pinter ya miminya, biar mama gak sakit lagi,” ucap Arvin lembut pada anaknya, dia mengecup kaki kecil bayi tersebut dan merasakan wangi khas bayi yang menyenangkan.
“Gak apa-apa mama yang sakit asal jangan kamu ya, Dek,” balas Nara.
“Jangan pada sakit dong. Terus aku gimana nanti?”
Nara hanya tertawa mendengarnya. Dia juga tidak berharap ada yang sakit. Dia harus kuat, agar Radhika juga bisa tumbuh kuat. Sakit karena menyusui seperti ini memang luar biasa, tapi Nara akan menghadapinya. Dia sudah pernah mengalami hal yang lebih menyakitkan yaitu kehilangan bayi pertamanya dan hampir kehilangan Radhika juga. Ini belum seberapa dibandingkan patah hati dan terluka yang sembuhnya sangat lama.
“Tangan ya kecil banget ya? Lihat, jempol aku aja lebih gede dari tangannya,” ucap Arvin takjub menelisik jemari Radhika yang sangat imut.
__ADS_1
“Nanti pelan-pelan juga bakalan tambah gede. Sekarang masih mini dan gemesin. Iya kan, dek?”
“Arvin versi mini.”
“Ngga, dia Arvin versi upgrade. Lebih ganteng, lebih keren, lebih pinter. Pokoknya bakal beda sama bapaknya yang ngeselin.”
“Oh jadi ini cowok yang udah merebut hati istri saya? Baru keluar udah berani rebut istri orang!”
Seketika Radhika melepaskan mulutnya dan menangis kencang mendengar suara yang cukup kecang dari Arvin. Hal itu membuat Nara memelototi dengan galak dan menyikut perut suaminya itu.
“Gara-gara suara berisik kamu nih jadi nangis,” ucap Nara kesal. Dia kemudian menepuk-nepuk dan menenangkan Radhika hingga tangisnya hilang. Sekarang itu sudah tertidur kembali dengan nyaman dipangkuan ibunya.
“Kamu cowok nomor satu kesayangan mama kok, Dek. Biarin papa sendiri, soalnya dia ngeselin udah ganggu kam bobo,” bisik Nara.
Nara mencubit lengan Arvin, membuatnya meringis. “Awas aja kamu cari yang baru! Aku cincang kamu hidup-hidup!” ancam Nara.
Arvin hanya terkekeh mendengarnya. “Ya mana mungkin lah? Aku kan udah bucin gak tertolong sama kamu. Udah akut, gak bisa disembuhin lagi,” ucap Arvin kemudian mengecup pipi Nara.
Mendengar gombalan seperti itu sekarang sudah menjadi makanan sehari-hari untuk Nara. Sudah sangat terbiasa hingga tak ada reaksi lain selain memutar bola mata dan mendengus saja. Tapi mendengarkan ucapan itu seringkali membuat Nara juga menjadi senang dan berbunga-bunga. Ada satu laki-laki di dunia ini yang mencintainya begitu dalam seperti Arvin, membuat dirinya merasa paling beruntung.
Arvin tidak berbohong tentang perasaan cintanya pada Nara yang sudah akut dan tidak bisa tertolong lagi. Malah sekarang perempuan itu adalah prioritas paking tinggi dihidupnya, lebih dari apapun juga. Apalagi setelah melihatnya penuh perjuangan dimasa kehamilan dan melahirkan, hingga sekarang berada ditahap menyusui yang tidak mudah. Arvin akan rela menukarkan nyawanya sendiri untuk kebahagiaan Nara.
Nara sudah memperlihatkan bagaimana perjuangan seorang ibu sekaligus istri padanya. Arvin menghargai dan memberi hormat segala pengorbanan dan kesakitannya yang tidak pernah Arvin rasakan sendiri. Bagaimana mungkin bisa ada laki-laki yang tega mengkhianati perempuan yang sudah berjuang sebegitu besar mengandung dan melahirkan anaknya?
__ADS_1
Ibunya benar, hanya laki-laki pengecut yang berselingkuh. Terlebih saat perempuan yang menjadi pasangannya itu sudah berstatus sebagai ibu, memberinya keturunan yang membanggakan. Arvin setiap hari belajar kembali membangun hubungannya dengan Nara menjadi lebih baik. Dia ingin menjadi suami sempurna yang membantu Nara menjadi ibu yang bahagia.
“Kamu gak mau tidur?” tanya Arvin pada Nara yang berbaring di brankar tapi matanya masih menatap Radhika di dalam box bayi di sebelahnya.
“Gak ngantuk, masih mau liatin Radhika. Aku kangen banget soalnya.”
“Kamu bakal ketemu terus sama dia puluhan tahun, Ra. Sampai kita udah dipanggil sama Allah SWT.”
“Tapi kan bentuknya masih kayak gini cuma sebentar, Vin.”
“Iya sih. Sebentar lagi dia ngereog nangis-nangis minta susu, minta mainan, minta jajan, atau nangis aja tanpa sebab.”
Nara tertawa, “Semoga kita kuat dan dikasih kesabaran deh ngehadapin Radhika yang tumbuh dewasa.”
“Ya harus dong. Kita udah banyak belajar sabar dari kedua orang tua kita. Belajar maafin dan jadi orang tua yang baik kayak mereka. Pasti kita juga bisa sesabar dan sekuat mereka buat hadapin anak kita sendiri, asal jangan berhenti aja belajar sampai tua,”
“Kerjaan seumur hidup baru aja dimulai,”
Nara dan Arvin tertawa bersama. Mereka benar-benar baru membuka gerbang menuju kehidupan sebagai orang tua yang tidak akan semudah yang dibayangkan. Sesiap apapun mereka, pasti ada saja jalan di depan yang penuh cobaan. Mereka hanya berharap bisa diberikan kesabaran dan maaf yang seluas samudera jika kelak anak mereka melakukan kesalahan. Meskipun sebaik mungkin mereka mendidik dan menghindarkannya dari segala hal jahat dan membahayakan di dunia. Sama halnya seperti kedua orang tua mereka yang menjadi panutan.
Kesalahan-kesalahan dimasa lalu akan menjadi pelajaran berharga yang akan mereka ajarkan pada Radhika. Anak ini juga kelak harus mendengar perjalanan kedua orang tuanya dan cara mereka saling menemukan. Hingga dia bisa belajar hal-hal baik dari keduanya.
“Makasih ya, Dek. Kamu udah kuat banget mau berjuang buat lahir ke dunia. Semoga Mama dan Papa gak jadi orangtua yang mengecewakan,” ucap Nara mengakhiri malam itu untuk lekas terlelap.
__ADS_1