
Setelah lelah mengelilingi mall, membeli beberapa potong baju dan tas. Nara memutuskan untuk beristirahat dan makan malam di Kempideli. Salah satu bake shop yang menyajikan banyak sekali jenis roti, pastries, cakes, hingga pasta dan sandwiches. Dulu ketika masih bekerja, teman-temannya akan mengajaknya kemari sepulang kerja. Bergosip dan bercerita tentang orang-orang kantor. Kegiatan yang benar-benar dirindukan oleh Nara.
Nara tak punya teman untuk bercerita sekarang, hidupnya terisolasi begitu saja karena perasaan malu akibat hamil diluar nikah. Dia memutuskan semua pertemanannya dengan orang-orang kantor lamanya.
Mungkin sekarang mereka juga sudah tahu gosip-gosip tentang Nara dan Arvin. Dilihat dengan bagaimana sulitnya posisi Arvin menghadapi para petinggi sok suci disana, Nara yakin para bawahannya pun sudah menelan habis skandal Arvin dengan dirinya.
Anehnya sekarang Nara tidak begitu takut dengan semua itu. Perasaan malu dan asing karena perbuatan tak baiknya dimasa lalu dan juga kehamilannya, satu persatu perasaan itu coba dia lawan.
Seperti kata ibunya, semua orang punya aib dan kesalahan dimasa lalu. Nara menyadari hidupnya tak begitu buruk ketika bercerita tentang gosip-gosip petinggi di kantor pada Arvin. Semua orang sama saja, sama tak bermoralnya dengan dia.
Mereka menjalani hidup seperti biasa kembali, setelah hujatan dan cemoohan. Semua akan berlalu. Hidup akan terus berjalan dan Nara juga pantas untuk menikmatinya. Kali ini Nara ingin menjadi lebih kuat dan lebih berani juga. Seperti Arvin yang selalu terlihat baik-baik saja meskipun dunia disekitarnya sama hancurnya dengan Nara.
“Ini chicken finger sandwich, minestrone soup with garlic bread, green tea black sesame roll, orange juice dan green bliss mocktail-nya. Silakan dinikmati.” Kata pelayan dengan ramah sambil menghidangkan makanan yang Nara dan Arvin pesan.
“Gue kangen banget sama makanan disini.” Kata Nara bersemangat, terlihat ceria menatap hidangan di depannya.
Arvin tersenyum memperhatikan, akhir-akhir ini mood Nara begitu baik. Dia juga merasakan banyak perubahan perilaku Nara, lebih perhatian dan pengertian padanya. Apakah mungkin karena Nara sudah melewati trimester pertama yang sulit, perubahan hormon selama awal kehamilan membuat dia lebih meledak-ledak dibandingkan sekarang, yang terlihat lebih sehat dan ceria.
“Kamu emang suka makan disini?”
“Hmm..dulu. Sama temen-temen kantor.”
“Kamu udah gak kontak sama mereka lagi sekarang? Ajakin dong ngumpul lagi. Biar kamu gak bosen di apartemen terus.”
“Buat apa? Mereka temen-temen kantor pas kita dalam keadaan baik doang, pas kita lagi kena skandal kayak gue sekarang. Pasti mereka paling duluan yang mencecar dan nyari gosipnya. Lo kan gak tau segimana gue bencinya sama lo dulu. Eh tiba-tiba gue hamil anak lo dan nikah sama lo. Gimana gak akan jadi bahan gunjingan coba?” Nara kemudian menyuapkan sesendok penuh minestrone soup-nya ke mulut.
“Oh. Jadi kamu doyan gosipin aku juga dari belakang?”
“Iya lah. Lo gak inget gimana nyebelinnya lo pas kerja? Tukang nyuruh-nyuruh, ngomongnya asal jeplak, suka ngebentak, suka semaunya. Lo beneran gak banget pas jadi atasan gue. Seumur-umur gak pernah gue dapet bos senyebelin lo.” Nara bersungut-sungut kesal.
“Tapi sekarang ngga, kan? Kamu udah liat aslinya aku kayak gimana. Ganteng, keren, pinter, baik, perhatian, suami idaman—”
__ADS_1
“Jorok, gak rapi, mesum, tukang maksa, tukang tipu, playboy.” Potong Nara.
Arvin tertawa sebelum menyuapkan kembali sandwich-nya. “Kamu beneran gak apa-apa dateng ke nikahannya Pak Akmal? Disana kan nanti banyak temen-temen kantor kamu? Kalau kamu gak mau dateng kesana juga gak apa-apa.” Tanya Arvin khawatir.
Nara tiba-tiba menyetujui untuk ikut ke acara pernikahan anak salah satu petinggi Aditama Corp. dia malah dengan senang hati menawarkan untuk mendampingi Arvin. Sekarang malahan dia sangat bersemangat berbelanja untuk acara tersebut agar terlihat cantik. Arvin dibuat heran sendiri.
“Gak apa-apa kok. Asal lo nemenin gue kayak pas acara makan malam bareng keluarga lo itu. Lagian gue gak bisa sembunyi terus. Biar lo juga gak makin dihina sama mereka karena keacara kayak gitu sendirian.”
Arvin menopang dagunya diatas satu tangan kemudian menatap Nara sambil tersenyum, “Aku bakal ada disamping kamu terus kok, Sayang. Gak usah khawatir.”
“Gue lagi makan ya. Ga usah bikin gue mual sama gombalan lo. Jijik!”
“Ayang kok ngomong gitu sih?”
“Ayang ayang. Stop mamggil kayak gitu. Geli gue dengernya.” Kata Nara sambil bergidik.
“Kalau gak mau dipanggil ayang.. gimana kalau.. My love? Darling? Honey?”
“Uh please stop. Jijik. Telinga gue bisa berdarah dengernya.” Rengek Nara sambil memegangi telinganya dengan kedua tangannya.
“Gak usah kayak gitu juga. Biasa aja, gue gak mau keliatan suka banget sama lo.”
“Oh jadi kamu sekarang udah suka ya sama aku?”
Nara terdiam beberapa detik, “Siapa bilang?” Tanyanya salah tingkah.
“Kamu. Barusan.” Jawab Arvin tenang.
“Gak usah banyak ngomong. Lagi makan.”
Nara menunduk memfokuskan matanya pada garlic bread dan mencelupkannya ke sup. Arvin masih terus memandangi Nara yang salah tingkah sambil tersenyum. Entah kapan Nara akan jujur dengan perasaannya. Seperti ini saja sudah cukup untuk sekarang.
__ADS_1
Masih ada banyak hal yang harus dia lewati untuk mendapatkan hati Nara seutuhnya, salah satunya membuat Nara bisa memaafkan dan menghilangkan perasaan takut untuk memulai hubungan romantis dengannya.
“Kalau aku sih mau liatin ke orang-orang kalau aku suka banget sama kamu.” Bisik Arvin sambil mencondongkan tubuhnya kedepan. Kemudian mengecup singkat bibir Nara.
...****************...
Nara belum ingin tidur, dia masih membaca novel romantis yang baru saja dibelinya tadi sore dengan Arvin saat di mall. Ceritanya menarik membuatnya terhanyut. Nara sangat menyukai karakter laki-laki di novel tersebut.
Anehnya yang dia bayangkan adalah wajah Arvin. Setiap kali tokoh laki-laki itu mulai mengeluarkan gombalan aneh dan lucunya. Nara seperti melihat Arvin yang melakukannya untuknya. Membuat Nara kehilangan fokus membaca.
Selain membelikannya buku, baju baru, beserta tas dan sepatu, Arvin juga membelikannya sebuah cincin cantik yang sekarang menghias jemari di tangan kiri Nara.
Salah satu koleksi Tiffany & Co dari Jean Schlumberger berupa cincin platinum bertahtakan berlian dan sapphires. Nara sangat menyukainya dan terus memandanginya dari tadi.
Saat Nara sedang sibuk melihat jemarinya menggunakan cincin mahal dan cantik itu, tersengar suara getaran dari ponsel Arvin yang dia simpan di nakas. Nara tak mau memedulikannya. Namun ponsel tersebut terus bergetar menimbulkan suara yang cukup mengganggu.
Arvin masih berada dikamar mandi, membersihkan dirinya. Nara bergeser dari tempat duduknya, mengambil ponsel Arvin, kemudian melihat nama si penelepon dilayar. Sudah kedua kalinya Nara melihat nama ini di ponsel Arvin. Tapi kali ini hatinya tiba-tiba sakit seketika.
‘Keysa’
Begitu yang tertulis disana. Membuat Nara seketika terdiam dan tak tahu harus berpikir apa. Nara hampir melupakan bahwa dia maupun Arvin masih memiliki masa lalu yang belum terselesaikan. Mereka masih menggenggam dekat orang-orang yang pernah mengisi hatinya diwaktu silam.
Nara mendengar suara daun pintu dibuka. Cepat-cepat Nara simpan kembali ponsel yang masih bergetar menyala tersebut dinakas, kemudian membaringkan diri pura-pura tertidur. Entah kenapa dia harus berpura-pura seperti sekarang. Menunjukkan ketidakpedulian pada panggilan tersebut, sementara hatinya saat ini berubah tak karuan.
Arvin yang baru selesai mandi masuk ke kamar. Aroma sabun yang menggairahkan menguar keudara seiring dia masuk. Nara bisa menciumnya bahkan dari jauh dan membelakanginya.
“Ibu kamu sekarang udah ditangani? Kamu sama siapa disana?” Kata Arvin terdengar panik berbicara ditelepon. “Ya udah aku kesana sekarang.” Lanjutnya.
Tanpa berpamitan atau menjelaskan apapun pada Nara, Arvin segera keluar dari kamar dan bergegas menemui Keysa. Nara bisa mendengar suara pintu penthouse menutup dengan bunyi bip dari handle pintu otomatis. Tanpa sepatah katapun Arvin meninggalkan Nara demi memenuhi panggilan Keysa.
Nara tak seharusnya merasa seperti ini. Dia juga belum memberikan hatinya untuk Arvin. Untuk apa merasa kecewa padahal Nara tak punya perasaan apa-apa pada Arvin?
__ADS_1
Iya, kan? Seharusnya begitu, kan?
Tapi kenapa tiba-tiba air matanya turun dan dia mulai terisak sendirian?