Halo Arvin!

Halo Arvin!
Teman Kantor


__ADS_3

“Aku keliatan gendut gak, Vin? Aneh ya bajunya?”


Nara mematut diri di depan cermin walk in closet-nya. Dress brukat berwarna peach selutut tampak cantik ditubuh Nara. Baju tersebut menutup lengan yang menurut Nara sudah berlemak dan tidak enak dipandang. Meskipun demikian, perutnya yang terlihat buncit tetap terlihat.


“Apanya? Perut gendutnya? Hmm.. Keliatan.” Jawab Arvin sekenanya. Wajahnya tampak mulai bosan karena harus menunggu Nara berdandan hampir 1 jam lebih.


“Aneh ya?”


Alis Arvin bertaut, “Maksudnya? Aneh apanya? Kan emang kalau hamil perutnya buncit.”


“Udah ah, ngomong sama kamu gak nyambung. Ga ngerti fashion. Aku nanyain bajunya.” Balas Nara cemberut sambil memasangkan sepatu.


“Orang-orang disana juga banyak yang gak ngerti fashion kayak aku. Ayo cepetan nanti telat. Aku kan tamu VIP masa telat.”


“Iya bawel.”


Perjalanan cukup lancar. Mereka sampai ke parkiran hotel 15 menit sebelum acara dimulai. Setelah mematikan mobil, Nara menahan Arvin untuk tidak turun terlebih dahulu.


“Kamu jangan kemana-mana ya. Jangan ninggalin aku buat ngobrol sama yang lain. Kalau aku ke toilet kamu juga harus ikut.. nunggu diluar maksudnya.” Kata Nara khawatir.


“Kamu takut ya? Kalau kamu masih gak mau ketemu mantan temen kantor, mending sekarang kita pulang aja. Nanti aku yang minta maaf ke Pak Akmal.”


“Ngga. Kita masuk aja. Aku kan gak bisa sembunyi terus.”


“Beneran? Aku gak mau kamu stress loh.”


“Asal bareng kamu, aku gak apa-apa.”


Arvin tersenyum, menggenggam tangan kemudian mencium punggung tangan Nara. “Udah jago gombalin aku ya sekarang?”


“Ih apaan. Ngga!”


Selama bekerja, Nara sering menghadiri acara pernikahan mewah dari petinggi perusahaan sekelas C-Level seperti sekarang. Setiap hadir ke acara seperti ini, Nara selalu membayangkan setidaknya mengalami pernikahan impian dengan dekorasi indah dan tampil dengan cantik.


Ketika merencanakan pernikahan dengan Reza, semua disusun secara hati-hati olehnya. Dia menuangkan semua mimpi dan harapan-harapan masa kecilnya disana. Tapi sayangnya semua itu tak pernah terwujud.


Menatap semua hiasan indah, pengantin yang cantik dan bahagia seperti sekarang membuat Nara sedikit iri. Dia juga ingin punya pengalaman pernikahan yang menyenangkan untuk dikenang. Bukan pernikahan sederhana penuh luka seperti yang diingatnya dulu.


Meskipun saat ini hatinya penuh dan utuh karena berdampingan dengan Arvin. Laki-laki yang memperjuangkannya, merawat lukanya, dan melindunginya. Namun tetap saja, sekali seumur hidupnya dia ingin merasakan menjadi ratu dalam semalam. Seperti yang dialami oleh mempelai yang dilihatnya di depan.


Kursi-kursi bukat sudah disusun di dalam ballroom hotel. Pelayan mempersilakan mereka untuk menempati salah satu meja khusus dengan bendera putih bertuliskan VIP Aditama ditengah meja bersama buket bunga.


Pernikahan dengan konsep sitting dinner/sit down dinner seperti ini memang sedang marak diselenggarakan. Terutama ketika masa pandemi dulu. Menghindarkan banyak kontak seperti halnya buffet/prasmanan. Selain itu pesta terlihat lebih elegan dan teratur.


Nara duduk dimeja yang sudah disediakan bersama Arvin. Angga dan seorang perempuan sudah duduk disana terlebih dahulu. Meskipun duduk satu meja, Arvin tidak menyapa kakaknya tersebut.


“Gimana kabar kamu, Ra? Sehat?” Tanya Angga berbasa-basi. Nara cukup terkejut karena Angga biaa seramah itu padanya. Padahal sebelumnya dia tidak pernah bertanya atau berkomunikasi dengannya.


“Baik kok, Pak.” Jawab Nara canggung. Lebih canggung karena Arvin sama sekali tidak mempedulikan keberadaan Angga.


“Oh ini ya Nara? Aku Sophie. Salam kenal ya. Kalian dateng kan bulan depan ke acara tunanganku dan Angga?” Kata perempuan disamping Angga memperkenalkan diri dan menjabat tangan Nara.


Nara baru pertama kali melihatnya dan sama sekali tidak tahu tentang kabar pertunangan Angga. Arvin sama sekali tidak pernah bercerita apapun mengenai kabar dari keluarganya.


“Gak akan. Si Arvin mana mau ke acara-acara keluarga kayak gitu, Kak.” Jawab Rivanno tiba-tiba dan bergabung di meja.

__ADS_1


“Sok tau lo.” Balas Arvin.


“Tumben liat lo dateng ke acara gini sama Arvin. Wah kalian udah berani dan terang-terangan sama hubungan kalian ya?”


“Maksud lo apa?” Ucap Arvin dingin.


“Lo udah nyapa temen-temen lama lo belum, Ra? Wah gosip soal lo masih kenceng loh dikantor.”


“Ivan! Kalau lo mau bahas masalah kayak gini disini mendingan pergi aja sekarang.” Kata Angga tegas.


“Iya. Iya. Watch dog-nya Om Candra. Siap.”


Rivanno akhirnya diam. Mereka menikmati appetizer yang dibawakan oleh pelayan ke meja. Prawn cocktails disajikan disana. Meja tersebut sunyi. Sibuk dengan makanan masing-masing. Berbeda dengan meja lain yang cukup ribut penuh obrolan.


Setelah menuntaskan beef tenderloin dan baked rosemary baby potatoes, Nara memberi kode pada Arvin untuk menemaninya ke toilet. Sekarang dia sangat sulit menahan buang air kecil karena kehamilannya sudah semakin besar. Membuatnya tidak bisa menahan diri.


Arvin menunggu diluar toilet, meskipun Nara rasanya ingin membawanya kedalam. Dia tidak mau ditinggalkan sendirian. Mungkin karena trauma saat mendengar orang-orang bergunjing tentangnya ditoilet ketika Arvin tampil diacara band dulu.


Saat masuk ke sana, benar saja yang ditakutkan oleh Nara. Teman-teman lamanya sedang berdiri bersisian, mematut diri di depan cermin. Mereka saling menatap canggung saat Nara muncul.


“Hai, Ra.” Sapa Tiwi.


“Hai.” Jawab Nara kaku, “Gimana kabar kalian?” Lanjutnya.


“Baik kok. Ya kayak biasa. Sibuk kerja, nunggu gajian tapi gak kaya-kaya.” Ucap Dewi “Yaa.. gak kayak lo lah. Udah enak sekarang mah.”


Nara tersenyum canggung, tidak tahu harus merespon apa. Entah itu sebuah sindiran atau bukan, tapi Nara tidak menyukai nada dan intensinya.


“Pasti seneng ya, nikah sama cowok most wanted sekantor.” Ucap Anna yang tidak bisa menutupi sindirannya. “Padahal dulu bilangnya gak mau dan benci banget sama Pak Arvin.”


“Iya berubah cepet banget. Padahal mau kawin sama pacarnya yang dibucinin tiap hari. Ya kalah pesona kali sama Pak Arvin yang tiap hari ketemu.” Ucap Dewi tergelak, disusul oleh Anna. Namun Tiwi hanya tersenyum canggung.


“Gue kalau gatelin Pak Ivan masih ada kesempatan gak ya?”


“Mau juga dong hidup kayak Nara. Dapetin cowok ganteng keluarga Aditama. Pasti seneng deh gak usah susah-susah jadi budak korporat lagi.”


“Mungkin triknya itu jelek-jelekin atasan padahal dibelakang lagi nyari celah buat ngegoda dan tidur bareng. Lumayan kan dapetnya keluarga kaya kalau hamil.”


“Sekalain memperbaiki keturunan dan finansial ya wak. Mau deh gue hamil anak Pak Arvin juga. Harus gue goda juga apa yak? Mau sekalian banting harga diri sih gue.”


Mereka kemudian tertawa keras. Membuat Nara geram. Ternyata memang benar teman-temannya akan melahapnya hidup-hidup dengan gosip dan sindiran murah seperti ini. Dia sudah menduganya, tapi mendengarkan langsung semua itu membuat hatinya tetap terluka.


“Lo kalau—“ Kata Nara membuka mulut.


“Gue yang gak mau.” Ucap Arvin memotong tiba-tiba dari ambang pintu “Kirain kamu kenapa ke toilet lama banget. Cepetan aku tungguin disini.” Lanjut Arvin menatap Nara.


Dia masuk ke dalam dan berdiri di dekat pintu. Menyandarkan punggungnya ke dinding sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Menatap pada teman-teman Nara yang sedang membicarakannya.


“Ngomong depan gue sekarang kalau kalian ada masalah sama kehidupan pribadi gue dan Nara.” Ucap Arvin tegas. Suasana menjadi tak nyaman seketika.


“Ngga kok, Pak. Kita gak ada masalah apa-apa.” Kata Dewi tertunduk.


“Coba ulangi lagi omongan kalian tadi sama Nara! Kalian tuduhin apa sama dia?!”


“Kita gak bilang apa-apa, Pak.”

__ADS_1


“Ayo ngomong! Kita lagi gak dikantor. Gue bukan dalam posisi sebagai atasan lo sekarang. Kenapa diem dan menyangkal terus?”


Mereka saling melirik tidak berani menatap Arvin. Nara yang masih berdiri disana juga tidak berani menatap suaminya itu. Merasa sedang ikut dimarahi. Mengingatkan kembali bagaimana Arvin memperlakukannya saat bekerja dulu.


“Seneng kalian punya kesempatan buat rendahin dan fitnah orang lain? Seneng kalian ngomongin aib orang dan menghakimi? Ayo ngomong sama gue juga, bukan cuma sama Nara aja! Bukan cuma nyudutin satu pihak doang.”


“Kita gak bermaksud—“


“Ya udah kalau gitu lo tutup mulut. Gue tau maksud kalian cuma mau lampiasin ego dengan ngomongin aib orang lain, seakan kalian sendiri udah jadi manusia paling bener. Gue kasih lo peringatan doang sekarang. Kalau sampai lo ngomong kayak gitu lagi sama istri gue, gue pastiin lo dipecat dan blacklist dari banyak perusahaan.”


Mereka berulang kali meminta maaf kepada Arvin dan Nara secara bergantian, kemudian pergi dari toilet terburu-buru. Menghindari masalah semakin besar karena kemarahan Arvin.


“Kok kamu malah diem aja? Katanya pingin pipis.” Kata Arvin lembut pada Nara, karena dia tetap mematung ditempatnya.


Nara baru tersadar dia hanya diam mendengarkan Arvin marah-marah seakan sedang dimarahi juga. Masih merasa kalau Arvin adalah atasannya. Padahal mereka sekarang sudah suami istri.


“Aku tungguin disini.” Ucap Arvin lagi, tak bernajak dari tempatnya.


Mereka sudah duduk didalam mobil menuju perjalanan pulang. Namun Arvin masih belum menyalakan kendaraan tersebut, dia malah menatap Nara yang duduk disampingnya.


“Kamu gak apa-apa kan?” Tanya Arvin.


“Emang aku kenapa? Ada yang aneh ya? Make up aku?”


“Bukan, karena yang tadi di toilet.”


“Gak apa-apa kok.”


“Bener?” Tanya Arvin penuh selidik. Dia takut Nara akan merasa sedih seperti saat orang-orang menghinanya dulu.


Nara mengangguk. Sekarang giliran Nara yang menatap lekat kemata Arvin.


“Untung aku udah resign dan gak jadi bawahan kamu lagi.”


“Hah?”


“Kamu serem kalau lagi marah-marah.”


“Aku bisa marah-marah juga biarpun bukan atasan kamu lagi kok.”  Balas Arvin sambil menyalakan mobil.


“Ngapain kamu marahin aku? Aku kan gak ada salah apa-apa sama kamu.”


“Siapa bilang gak ada salah? Kamu udah nolak buat manjain aku dua hari. Banyak alasan!” Kata Arvin kesal. “Pokoknya gak mau tau, setelah sampe kita langsung bercocok tanam.” Lanjutnya.


“Arvin pleaaase. Jangan hari ini ya? Aku capek. Perut aku gak enak sebelah kanan kenceng banget.” Kata Nara berkilah.


“Ck.. Tuh kan alasan terus. Pantes buat dimarahin.”


“Ayang jangan marah. Aku janji besok mau. Jangan sekarang.” Pinta Nara dengan nada manja.


Baru pertama kali Arvin mendengar Nara berbicara seperti itu. Membuatnya kaget dan menghentikan diri untuk menjalankan mobil keluar parkiran. Dia menatap Nara tidak percaya. Suara manjanya terngiang terus.


Arvin melepaskan seat belt-nya. Kemudian bergeser dan menundukkan wajahnya.


“Ah sial! Aku jadi tambah pingin main sekarang, gimana dong?” Ucapnya sebelum mencium bibir Nara dan memainkan lidahnya dengan agresif. Tidak membiarkan perempuan itu protes.

__ADS_1


 


__ADS_2