
Acara kemarin membuat Nara merasa sangat kelelahan hingga dia tidak mau bangun dari kasur pagi ini. Hanya ingin berbaring saja dan menyimpan energi. Meskipun dia hanya duduk-duduk saja, tapi bertemu orang yang cukup banyak dan mengobrol bersama mereka menguras tenaganya.
“Kamu masih capek, hmm? Sekarang udah jam 5 sore loh. Kamu tidur seharian kayak kukang. Kalau masih lemes, kita ke dokter aja.” Tanya Arvin sambil memeluk Nara yang berbaring.
“Nggak usah. Aku udah baikan kok. Enak aja aku disamain sama kukang!” Protes Nara.
“Habisnya kamu tidur siangnya lama,” Balas Arvin sambil terkekeh. “Mau makan malam apa? Aku masakin yang enak-enak,” lanjutnya mencium puncak kepala Nara.
“Hmm... Soto Betawi kayaknya enak ya. Pake paru dan hati sapi.”
“Oke, Princess. Aku masakin kamu soto Betawi.”
“Hah? Serius kamu bisa bikin? Gofood aja lah.”
“Oh kamu meremehkan kemampuan memasak aku, gitu? Biarpun aku keren, ganteng, berkharisma gini aku jago masak makanan tradisional juga. Bukan cuma makanan western yg gak terlalu berbumbu.”
“Kok bisa? Kamu juga kursus makanan Indonesia?”
“Nggak. Aku belajar sama nenek yang jago masak dan punya usaha catering.”
“Wow!” Ucap Nara takjub.
“Yep. You should say wow, because I’m an amazing husband.” Ucap Arvin berbangga diri.
“Preet.”
“Dih.”
Nara membantu Arvin mengupas bawang putih, bawang merah, dan kentang. Sementara Arvin menyiapkan bumbu lain seperti kapulaga, lengkuas, daun salam, cengkeh, kemiri, jinten, susu cair, dan daging jeroan yang sudah selesai dicuci.
Nara cukup terkejut melihat bumbu dan bahan makanan yang cukup lengkap di dapur mereka. Dia sama sekali tidak tahu apapun soal itu. Bahkan Arvin lah yang selalu berbelanja untuk mengisi keperluan dapur. Apalagi setelah dia bekerja dari rumah. Semua urusan tersebut Arvin yang mengaturnya. Meskipun laki-laki ini sangat payah jika berhadapan dengan perkara bersih-bersih.
Sekarang Nara terlihat bodoh dan tidak berguna di depan Arvin yang luar biasa. Rasanya seperti memenangkan sebuah lotere karena memiliki suami seperti Arvin. Bagaimana bisa dia dulu sangat membencinya? Sepertinya karma sedang bekerja, sekarang Nara tidak ingin kehilangan laki-laki seperti Arvin.
“Kamu sayang aku kan, Vin?” Tanya Nara tiba-tiba sambil memeluk Arvin yang sibuk mengolah makanan dari belakang.
“Ck... Kenapa sih cewek suka nanyain hal yang udah jelas kayak gini?”
“Kan butuh words of affirmation.”
Arvin menghela napas, tangannya sibuk mengaduk soto Betawi agar santannya tidak pecah.
“Aku sayang banget sama kamu, sampe bucin parah. Gak ngerti lagi deh.”
__ADS_1
Nara terkekeh mendengarnya. “Kamu kecewa gak kalau istri kamu gak jago masak kayak aku?”
“Nggak kok. Kan aku bisa. Kalaupun aku lagi gak ada waktu buat masak, kita bisa pesan online. Jangan kayak orang jadul mengkotak-kotakkan pekerjaan rumah buat istri atau suami aja. Aku gak kecewa sama hal-hal kayak gitu, tapi kalau kamu nolak main gulat nikmat aku baru kecewa.”
Nara mencubit perut Arvin, membuatnya terlonjak kaget dan mengaduh.
“Mas Arvin, tolong mesumnya dikurangin!”
“Kamu tadi bilang apa?”
“Apa?”
“Yang tadi. Panggil aku Mas Arvin.”
“Mas Arvin.” Kata Nara sambil tersenyum.
“Aaargh! Gemes. Sekali lagi!”
“Mas Arvin.” Ulang Nara menggoda Arvin.
“Aku jadi pingin tengokin dedek malem ini.”
“Jangan macam-macam ya kamu! Kamu udah janji mau berhenti dulu kalau perut aku udah gede gini.” Nara langsung cemberut mendengar perkataan Arvin.
Nara berjalan menuju depan membukakan pintu. Tubuhnya terpaku menatap siapa yang berdiri di depan pintu. Selama beberapa detik Nara hanya diam, tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
“Kamu sehat, dek?” Tanya Ahmad menatap anak perempuannya.
Seketika itu juga Nara memeluk sosok yang ada di depannya. Menangis sejadinya. Ahmad hanya menepuk-nepuk punggung anaknya itu dengan kaku, tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
“Ayang, siapa yang date—“ Ucap Arvin menyusul Nara, namun langsung terhenti ketika melihat wajah ayah mertuanya.
Nara akhirnya melepaskan pelukannya. Kini mereka duduk bertiga di ruang tamu dengan canggung. Nara masih tersedu, meskipun Arvin sudah merangkul dan menenangkannya. Melihat pemandangan tersebut membuat perasaan Ahmad terasa aneh.
Melihat Nara yang perutnya sudah membuncit, berada dipelukan seorang laki-laki yang masih asing untuknya. Ahmad baru menyadari gadis kecilnya sudah dewasa. Bukan miliknya lagi.
“Maafin bapak kemarin gak ikut acara selamatan,” ucap Ahmad membuka pembicaraan.
Nara menggeleng, tidak mampu berkata-kata. Dia nasih tidak percaya ayahnya datang ke rumah. Sendirian tanpa seorangpun yang mendampinginya. Rasanya hal seperti ini adalah kemustahilan. Tapi nyatanya bukan. Ayahnya benar-benar datang mengunjunginya.
“Gak apa-apa, Pak. Kemarin udah diwakilkan sama ibu dan Kak Naufal.”
Ahmad tersenyum sekilas. “Kalian sehat, kan? Gak ada masalah apa-apa?”
__ADS_1
“Kita semua sehat kok, Pak.” Jawab Arvin lagi.
“Syukur kalau kalian sehat. Bapak kesini mau berkunjung ke rumah baru kalian, sekalian jenguk ka—“
“Aku minta maaf, Pak.” Potong Nara diantara tangisnya. “Maafin aku yang udah bikin malu bapak.” Lanjutnya.
“Bapak juga minta maaf buat banyak hal, karena gak bisa jadi orang tua dan mertua yang bijaksana. Udah gak usah dibahas lagi, bapak tahu kalian menyesal sama perbuatan kalian. Sekarang yang terpenting kalian sudah bertanggung jawab dan hidup lebih baik.” Ucapnya menenangkan.
“Bapak gak benci kita, kan?”
“Bapak kecewa. Tapi gak pernah benci sama kalian.”
Iya. Ahmad tidak bisa membenci anak-anak itu. Tidak mungkin membenci Nara, dia adalah anak yang sangat disayanginya. Ahmad juga tidak mampu membenci Arvin, meskipun kesalahannya sulit dia maafkan, Ahmad mengakui bahwa menantunya itu memperlakukan Nara dengan sangat baik.
“Bapak sendirian dateng kesini?” Tanya Arvin berbasa-basi.
“Dianterin Sobri, terus dia pulang lagi. Bapak gak kuat naik motor sendirian kesini.”
“Emang Kak Naufal kemana? Kenapa gak diantar?”
“Bapak sendirian di rumah. Ibu gak mau pulang karena marah sama bapak. Jadinya habis acara kalian kemarin ibu langsung ikut nginep ke rumah kakaknya Amel di Tangerang bareng Naufal.”
“Jadi bapak dari kemarin sendirian?” Tanya Nara yang sudah menguasai dirinya.
Ahmad mengangguk. “Ibu marah karena bapak kemarin gak mau datang kesini. Hati bapak masih keras kemarin.” Ungkapnya sambil terkekeh.
Entah kenapa sekarang perasaannya lebih lega setelah melihat anak perempuannya baik-baik saja. Seketika hatinya cair begitu saja. Mungkin juga karena kerinduan dan penyesalan karena meninggalkan Nara begitu saja disaat-saat sulit. Bukannya memberi ruang untuk anaknya memperbaiki diri, Ahmad malah seakan menelantarkannya. Memberikan semua tanggung jawab pada Arvin. Padahal harusnya Ahmad juga hadir, menghukum sekaligus mendidik Nara agar menjadi lebih baik.
“Kamu tahu sendiri kan gimana kalau ibu kamu marah. Susah dibujuknya.”
“Nara juga gitu.” Sambar Arvin.
Ahmad tertawa mendengar celotehan menantunya.
“Mungkin udah sifat bawaan dari ibunya.”
Arvin melihat kembali keramahan ayah Nara yang sempat dirasakannya saat pertama kali bertemu. Ayah yang bangga dan menyayangi anak-anaknya. Perasaan menyesal berkumpul dan bertumpuk dihati Arvin. Begitu jahatnya dia membuat laki-laki didepannya terluka, dengan mengambil kehormatan putrinya. Seketika perasaan bersalah menghantamnya. Sepertinya seumur hidup Arvin tidak akan bisa melepaskannya.
Nara merasa sangat bersalah sekarang. Pasti karena dirinya, ibu dan ayahnya bertengkar. Padahal ayahnya sangat bergantung pada ibunya. Sekarang dia harus tinggal sendirian di rumah. Pasti sekarang dia merasa kesepian. Hingga memutuskan untuk menemui Nara.
“Bapak nginep disini aja malam ini, gimana?” Kata Nara menawarkan.
Ahmad tersenyum lantas mengangguk.
__ADS_1
“Bapak juga masih mau ngobrol banyak sama kalian.”