Halo Arvin!

Halo Arvin!
Redefining Love 2


__ADS_3

“Lo mikir gak sih kalau semua perhatian lo ke Keysa itu udah gak wajar, Vin?”


Aldi menaruh ampas rokoknya di asbak, sebelum menyesapnya kembali dalam-dalam. Asap putih membumbung tinggi ke udara. Menghilang diantara cahaya lampu gantung cafe yang berwarna kuning dan terang.


“Gue gak tau. Gue sendiri juga bingung kenapa bisa kayak gitu.” Ucap Arvin pasrah.


Sudah seminggu Nara mendiamkannya. Arvin sudah memohon, mencoba berdamai dan berjanji padanya. Tak ada satupun usahanya yang berhasil. Kini rasanya Nara semakin tidak tergapai.


Padahal Arvin sempat senang melihat reaksi Nara yang menunjukkan perasaan cemburu saat itu. Tapi tiba-tiba hal tersebut menjadi bumerang yang menghantamnya kembali. Kemarahan Nara bukan untuk dirayakan. Itu adalah alarm bahaya yang ternyata merusak semua perjuangannya selama beberapa bulan ini untuk meyakinkan Nara bahwa Arvin adalah laki-laki yang layak dicintai.


Padahal Nara begitu takut menyandarkan perasaannya pada Arvin. Dia menemukan celah saat tak sengaja menceritakan semua kesulitannya dikantor tanpa sadar. Berbagi dan jujur tentang semua hal yang terjadi padanya ternyata membuat Nara bersimpati. Menurunkan sedikit kewaspadaan dan perasaan bencinya pada Arvin.


Dengan bodohnya Arvin merusaknya kembali.


Ini bahkan lebih parah daripada pengabaian ketika mereka awal menikah. Tembok tinggi dari rasa benci, kekecewaan, dan amarah Nara bangun kembali. Bertumpuk-tumpuk tak sanggup Arvin robohkan.


“Lo sebenarnya masih sayang kan sama Keysa?”


“Nggak.”


“Jangan bohong sama gue, Vin. Meskipun bentuknya beda sama perasaan lo ke Nara, tapi lo masih terus merasa perlu bertanggung jawab dan melindungi Keysa, kan? Kalau bukan sayang terus itu apa?”

__ADS_1


Arvin menyandarkan punggung dan kepalanya ke kursi. Mendongak menatap langit-langit cafe yang dipenuhi hiasan lampu gantung. Sebenarnya apa yang dia rasakan untuk Keysa? Cinta, kah? Setiap gadis itu mengalami kesulitan, Arvin memang selalu merasa perlu untuk membantunya. Tanpa bertanya pada dirinya sendiri hal itu wajar atau tidak.


Ketika tahu ayahnya meninggal beberapa tahun lalu dan meninggalkan banyak hutang usahanya yang gagal, Arvin datang seperti pahlawan. Menguras isi ATM-nya dan memeras Candra, agar bisa membantu melunasi hutang keluarga Keysa. Membuat Lena seketika murka dan tidak menyetujui hubungan mereka.


Sejak itu Arvin mulai meragukan perasaannya. Dia terus menghindari topik tentang pernikahan dengan Keysa, hingga akhirnya putus begitu saja. Tapi anehnya Arvin tetap selalu peduli padanya dan juga ibunya. Hingga saat ini.


Arvin pikir, setelah menyadari perasaannya pada Nara, akhirnya dia bisa melepaskan masa lalu dan cintanya pada Keysa. Mungkin memang tidak. Gadis itu tetap menempati salah satu sudut istimewa dihatinya.


“Lo gak mau kayak bokap lo kan, Vin? Gak bisa tegas sama perasaannya sendiri dan gak bisa milih mana yang harusnya diprioritaskan. Sampe akhirnya malah nyakitin banyak orang.”


“Gue gak kayak si kumis.”


“Lo sekarang udah kayak bokap lo, Vin. Tanpa sadar kayak gitu. Lo bilang sayang sama Nara, ngejar-ngejar dia, dan maksa dia buat hidup bareng lo. Pas dia udah mulai luluh, lo malah nunjukin sama dia kalau perasaan lo ternyata bercabang ke cewek lain. Asli itu jahat banget, Vin.” Aldi mengembuskan lagi asap putih dari hidungnya.


“Gue juga ngerasa jahat banget sama Nara. Baru sekarang gue kayaknya sadar kalau perasaan gue sama dia cuma pelarian doang. Gue sayang sama dia, tapi pas dihadapkan situasi Keysa kayak kemarin bahkan gue gak inget Nara sama sekali.” Ucap Arvin jujur.


Aldi tersenyum, “Kalau gitu lo sanggup gak ceraikan Nara?”


Arvin kaget. Menatap Aldi dengan tatapan marah. “Nggak.”


“Egois lo, Vin! Kalau lo gak bisa cerai sama Nara berarti lo harus mulai tutup mata, mulut, dan telinga lo buat Keysa. Ga peduli dia mau dalam keadaan apa, itu bukan kewajiban lo buat nolongin. Sanggup lo kayak gitu?”

__ADS_1


Arvin menggeleng. Ini juga sulit. Dia belum bisa mengabaikan Keysa. Apalagi sekarang dia sendirian. Ayah dan ibunya sudah meninggal. Meskipun dia tidak akan pernah menikahi Keysa, tapi dia hanya ingin gadis itu dekat. Berada dijangkauannya saat membutuhkan bantuan.


“Vin, kalau lo ngomong ini sama Eka. Dia mungkin bakal kasih solusi yang idealis. Tapi berhubung lo ngomong ini sama gue. Gue mau kasih pandangan realistis dari orang yang udah kawin. Lo harus bertahan sama Nara. Bukan cuma buat dia, tapi buat anak lo. Meskipun sulit buat lepasin masa lalu lo sama Key. Lo harus. Yang main disini bukan cuma soal perasaan doang. Tapi moralitas dan tanggung jawab lo sebagai calon bapak. Lo mampu gitu liat anak lo tau kalau bapaknya ngebagi cinta buat banyak cewek? Lo seenggaknya pernah diposisi itu kan sebelumnya?” Pungkas Aldi.


Setelah mencecar Arvin dengan banyak nasehat, Aldi  beranjak pulang. Meninggalkan Arvin sendirian di cafe yang mulai lengang ditinggalkan pengunjung. Malam sudah mulai larut, diantara jendela cafe terlihat bulan semakin tinggi. Arvin masih enggan pergi dari tempat itu. Tubuhnya berat dan lelah. Sedih dan bingung.


Semua hal yang dibicarakan oleh Aldi memang benar. Arvin mencoba mengendapkannya satu persatu semua nasehatnya.


Padahal selama beberapa bulan ini Arvin sangat yakin sangat mencintai Nara. Mengejarnya seperti hal itu adalah sesuatu yang sangat diinginkannya. Tapi Keysa muncul kembali, menggoyahkan hatinya dan menyita perhatiannya.


Arvin meyakini dirinya adalah laki-laki yang baik dengan menolak semua permintaan Keysa untuk menikahinya. Dia kira dia laki-laki yang baik dengan mengatakan pada Keysa bahwa Arvin tidak bisa meninggalkan Nara. Ternyata tidak. Karena selama itu pula hatinya berbohong. Arvin menginginkan Keysa juga. Hanya karena kewarasannya lah yang menahan dirinya agar tidak melakukannya.


Munafik!


Benar-benar laki-laki munafik dan rendah!


Aldi benar. Sekarang waktunya Arvin memilih untuk melanjutkan hubungan yang mana. Dengan siapa hatinya akan dengan tenang berlabuh, dengan siapa hidupnya harus dia habiskan. Pilihan paling rasional harus dia buat. Agar semua orang bisa bahagia dan melanjutkan hidupnya.


Mungkin saat ini juga waktu yang tepat untuk mendefinisikan kembali cinta dan perasaannya kepada dua wanita yang hadir dihatinya. Dua orang yang posisinya sama kuat dan menyita perhatian Arvin. Tapi hanya satu orang yang harusnya berada disampingnya. Satu orang saja yang sanggup memenuhi kebutuhannya dan memberikannya cinta.


Dia berulangkali bertanya pada dirinya sendiri. Cinta seperti apa yang dia butuhkan. Siapa orang yang mampu memberikannya cinta itu padanya. Kini Arvin sudah menetapkan hati dan memilih satu nama yang akan dia perjuangkan selamanya.

__ADS_1


Arvin mengeluarkan ponselnya dari blazernya. Kemudian mulai mencari satu nama diantara ribuan kontaknya. Dia mulai menekan tombol panggilan. Beberapa detik terdengar suara memanggil sebelum seseorang disebrang sana mengangkatnya.


“Halo Key, kamu gimana kabarnya, udah baikan?”


__ADS_2