
Arvin pulang dengan perasaan yang berat. Melihat kondisi Keysa dan ibunya yang seperti itu membuat hatinya merasa bersalah. Dia juga terkadang menanyakan pada dirinya sendiri, kenapa tak berani menikahi Keysa, memberikan kepastian dan perlindungan untuknya.
Selama ini Arvin terlalu takut untuk sebuah ikatan pernikahan. Dia tidak ingin terkurung dalam hubungan memilukan seperti orang tuanya. Dia tidak ingin Keysa terseret kedalam hubungan dengan keluarganya yang rumit. Keysa akan hancur karena sikap sinis Lena padanya.
Tapi anehnya dia malah bisa memutuskan untuk menikahi Nara dalam waktu yang cepat. Mungkin karena didorong oleh perasaan bersalah yang lebih besar, karena Arvin sudah merenggut sesuatu yang berharga dari Nara. Entahlah dia juga tidak habis pikir mengapa bisa berbuat demikian.
Nara sedang berdiri di dapur. Mengupas buah mangga dan menyimpannya di kotak kontainer makanan, agar siapa saja yang ingin memakannya tak perlu repot-repot lagi.
Arvin memeluknya dari belakang. Membuat Nara terlonjak kaget hingga menjatuhkan pisau ke lantai. Untung saja tidak mengenai kakinya.
“Arvin!” Bentaknya kesal. Kemudian memutar tubuhnya, melepaskan pelukan Arvin, dan menhadapi sosoknya yang menjulang. Tatapannya galak pada laki-laki di depannya. “Lo tuh—“
Arvin kembali memeluknya. Menyandarkan kepalanya dipundak Nara meskipun harus sedikit membungkuk karena perbedaan tinggi mereka yang lumayan menganggu. Arvin sangat lelah, hatinya merasa bersalah pada banyak orang. Dia sedang butuh dihibur.
“Nara , diem!” Perintah Arvin saat Nara terus menggeliat melepaskannya. “Aku lagi capek banget. Ga mau berantem.”
Nara tahu kapan harus diam dan bertingkah dihadapan Arvin. Dia tidak setiap waktu dalam keadaan baik. Terkadang Arvin bisa berubah menjadi orang yang tidak ingin Nara usik. Arvin bisa berbuat kasar, dan Nara tidak menyukainya. Dia akhirnya pasrah saja dipeluk oleh Arvin. Meskipun Nara tidak menyukainya.
“Vin, badan lo panas. Lo sakit?” Tanya Nara saat merasakan tubuh Arvin yang memeluknya terasa panas.
“Hmmm.”
“Ya udah sana mandi air anget terus tidur!”
Arvin mengangguk. Melepaskan pelukannya dari Nara dan pergi ke toilet. Mungkin karena semua beban perasaan bersalah pada Keysa membuatnya tidak enak badan seperti sekarang. Dia tidak bisa menolongnya. Tidak bisa membuatnya bahagia. Arvin merasa bersalah karena meninggalkannya dengan harapan-harapan yang tidak bisa diwujudkannya.
Setelah selesai mandi, Arvin membaringkan diri diatas kasur. Mencoba terlelap meskipun sulit. Entah berapa lama dia hanya berbaring dan menutup mata tanpa bisa tertidur. Tiba-tiba tangan dingin menyentuh wajahnya. Membuatnya terlonjak hingga terbangun.
“Vin, gue bikinin lo nasi tim ayam. Gak gue cobain rasanya, soalnya gue mual nyium baunya.” Kata Nara duduk disisi ranjang dekat Arvin.
Arvin hanya tersenyum dan mengambil makanan tersebut. Menyuapkannya kemulut.
“Enak gak? Keasinan ya?” Tanya Nara penasaran.
__ADS_1
Arvin menggeleng, “Tapi enakan bikinan aku.” Katanya sambil tersenyum.
“Ga usah banyak protes deh lo. Masih untung gue bikinin makanan. Kalau udah beres, cepetan minum obat nih.” Kata Nara sebal mendengar perkataan Arvin, kemudian menyerahkan obat ke genggamannya.
Nara pergi dari kamar. Membiarkan Arvin menyelesaikan makanannya dan meminum obat. Saat kembali 1 jam kemudian Arvin sudah terlelap. Nara belum ingin tidur, masih penasaran dengan novel yang sedang dia baca tadi.
Dia hanya duduk di ranjangnya sambil membaca dengan serius. Nara juga sudah menempelkan plester kompres demam pada Arvin yang tertidur disebelahnya.
“Nara” Panggil Arvin, matanya masih terpejam. Mungkin dia mengigau.
“Hmmm..” Jawab Nara tak peduli.
“Cium aku dong.” Lanjut Arvin.
“Hah?”
“Cium aku.”
“Aku gak bisa tidur. Cium aku cepetan.”
“Dih ogah. Biar apaan gue nyium lo?”
“Biar cepat sembuh.”
“Teori dari mana tuh? Ciuman bikin cepet sembuh.”
“Gak ada teorinya. Tapi kalau kamu cium aku, pasti aku cepet sembuh.”
“Udah cepetan tidur. Gak usah banyak request yang aneh-aneh. Gue puk puk aja ya. Kalau masih banyak minta gue gampar lo!”
Tangan kanan Nara mengelus-elus kepal Arvin dengan lembut, sementara tangan kirinya memegang buku yang masih asyik dia baca.
Mungkin beberapa jam sudah berlalu. Nara sudah mencapai halaman terakhir novel yang dibacanya. Tangan kanannya juga sudah pegal mengelus Arvin yang sekarang sudah tidak bersuara. Sepertinya dia memang benar-benar terlelap sekarang.
__ADS_1
Nara masih terduduk diranjang. Menatap Arvin yang tertidur dengan damai. Dia tidak habis pikir dengan permintaan aneh Arvin. Memang laki-laki playboy ini suka mengada-ngada. Memangnya mungkin ciuman bisa cepat menyembuhkan demam?
Nara mendekatkan tubuhnya, membungkuk, menyelipkan rambut yang terurai jatuh saat Nara mengecup singkat bibir Arvin. Tangan kuat Arvin kemudahan membelit pinggangnya. Mengangkatnya hingga Nara berada diatas tubuh Arvin.
Senyuman tipis terulas dibibir Arvin, kini dia sudah bangun sepenuhnya. Menatap Nara yang kaget. Hanya sepersekian detik, Arvin menjatuhkan tubuh Nara ke tempat tidur. Sekarang posisinya terbalik. Arvin berada diatasnya. Masih tersenyum, dengan mata sayu.
Nara tidak sempat bereaksi apa-apa karena terlalu kaget. Yang dia tahu setelahnya adalah lidah Arvin sudah bermain dibibirnya. Memagutnya dengan lembut. Semuanya seakan berubah menjadi adegan-adegan slow motion.
Nara bisa merasakan bibir lembut Arvin terus bermain dan membuatnya limbung. Tangan kanan Arvin berada di pinggangnya, terasa hangat namun lama kelamaan seperti bara yang membakarnya. Tangan kiri Arvin mencengkram kuat lengan Nara, menempatkannya disisi kepala. Dan wangi Arvin menyeruak memenuhi penciumannya.
Menyebalkan!
Kenapa dia begitu menyukai wangi laki-laki ini? Membuat hatinya riuh dan pikirannya penuh. Nara ingin terus menciumnya. Ingin terus merasakan sentuhannya. Apakah ini karena novel romantis yang baru saja selesai dia baca? Semua hal terasa begitu menyenangkan dan membuat hatinya seakan beterbangan.
Arvin melepaskan bibirnya. Menatap lekat Nara yang berada dibawah kuasanya. Melengkungkan senyum yang manis.
Nara bisa melihat wajah Arvin dengan jelas. Kenapa dia bisa setampan itu? Kenapa Nara baru menyadarinya? Tidak. Sebenarnya Nara sudah mengetahui fakta itu sejak dulu. Hanya saja dia selalu menyangkal. Semua rupa indah Arvin tertutup rasa benci Nara padanya.
“Makasih. Habis ini aku pasti sembuh.” Bisiknya.
Arvin kini sudah kembali berbaring disebelah Nara, menggulung badannya dengan selimut dan membelakangi Nara yang masih terlentang. Menatap langit-langit kamar karena masih shock.
Apa yang sudah dia lakukan tadi?
Setelah mengumpulkan kesadaran yang sempat tercecer karena perbuatan Arvin. Nara ingin berteriak. Malu dan kesal. Bisa-bisa dia mencium Arvin! Dan bisa-bisanya laki-laki itu belum tertidur!
Dengan kekuatan penuh Nara menampar punggung Arvin. Tapi Arvin malah tertawa riang. Tanpa menoleh padanya. Nara keluar dari kamar. Berbaring di sofa. Menenangkan pikirannya yang dilanda rasa malu.
Sementara jantungnya tak berhenti melonjak-lonjak tak karuan. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Ini semua salah Arvin, karena mengatakan hal-hal aneh dan gila. Tapi Nara juga sama tidak warasnya dengan mencobanya.
__ADS_1